
Ada satu rumah mewah yang sudah usang bangunannya. Tanahnya luas sekali membentang.
Namun ketika pemilik tanah itu telah tiada. Tidak satupun pengusaha yang berani mengambil atau membeli tanah itu.
Padahal apabila dilihat dari letaknya itu cukup strategis untuk membuka sebuah usaha. Tanah itu letaknya dekat dengan jalan raya besar.
Jalan itu jalan umum dan tentu saja banyak manusia yang berlalu lalang melewati tanah dan bangunan yang sudah lama tak terawat itu.
Terlihat seorang bocah sedang mengobrak-abrik tempat sampah. Tangan kirinya membawa sebuah karung yang dia tumpukan di atas bahunya.
Sedang tangan kanannya sibuk mencari sesuatu di dalam sampah itu. Letak sampah itu berada di seberang bangunan rumah mewah yang terbengkalai.
"Ah.. Akhirnya!" ucap bocah lelaki itu gembira ketika menemukan beberapa botol Aqua.
Kedua tangannya kemudian dan mulai memungut beberapa botol Aqua yang berada di dalam sampah.
Bocah bernama Dandi. Usianya sekitar delapan tahun sudah menjadi pekerjaannya setiap hari memulung di area itu.
Dandi mencari beberapa botol Aqua beberapa ini di tempat itu. Sebab botol Aqua harganya cukup mahal apabila didapatkan oleh seorang pemulung ketika setoran nanti.
"Akhirnya aku mendapatkan cukup banyak hari ini!" ucap Dandi begitu bersyukur.
Demi mendapatkan sesuap nasi untuk hidup. Anak ini harus merelakan waktu bermainnya untuk belajar.
Dandi adalah anak yatim piatu yang baru saja ditinggalkan oleh neneknya. Beberapa bulan lalu neneknya sudah tutup usia.
Menyisakan dirinya seorang bernafas sendirian di dalam gubuk tua tempat di mana dahulu dia dibesarkan oleh neneknya.
Ketika botol-botol itu sudah dia masukkan ke dalam karungnya. Dandi sejenak mengusap keringat yang ada di keningnya.
Terik matahari siang itu cukup panas. Membuat dirinya mandi keringat. Suara klakson mobil dan motor menjadi irama yang selalu menemaninya ketika memulung di sana.
Ketika selesai Dandi mengusap keringat. Tak sengaja kedua matanya menangkap satu sosok perempuan yang berdiri menghadapnya.
Dari kejauhan itu Dandi pun mulai menyipitkan kedua matanya. Dia benar tidak salah. Perempuan itu jelas menatapnya.
Siapa dia? Kenapa dia menatapku kayak gitu ya?. Tanya Dandi dalam benaknya.
Perempuan itu berdiri dengan wajah datarnya. Kemudian sosoknya berbalik pergi lalu menghilang.
Sosok itu berada di salah satu jendela rumah mewah yang terbengkalai. Sungguh, jika Dandi mengerti maka apa yang dilihatnya adalah bukan manusia.
Pukkkk
"Dan!" panggil salah seorang teman pemulungnya. Sebut saja namanya Paijo.
Merasakan tepukan di bahunya. Dandi terkejut lalu dia menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Ijo? Kamu nganggetin aku ae!" ucap Dandi padanya.
Paijo tersenyum tipis mendengar itu. Kemudian bola mata Paijo melirik ke arah rumah mewah yang sudah terbengkalai itu.
"Kamu lihat apa di sana?" tanya Paijo pada Dandi. Dia tidak menoleh ketika menanyakan itu.
Mendengar pertanyaan itu Dandi pun mengangguk. Dia tidak biasa berbohong. Dandi pun memutuskan untuk jujur mengatakan apa yang sudah dia lihat tadi di sana.
"Aku lihat tadi ada perempuan!" jawab Dandi.
Paijo terkejut mendengar jawaban itu. Kemudian dia menoleh ke arah temannya itu. Dengan penuh perasaan khawatir Paijo pun memegang kedua bahu temannya itu.
"Kamu nanti malam mau mulung?" tanya Paijo padanya.
Ekspresi wajah Paijo yang aneh itu membuat Dandi tak mengerti.
"Iya, kenapa?" tanya Dandi padanya.
Kemudian pertanyaan itu disambut dengan gelengan kepala cepat dari Dandi.
"Kamu tau apa yang kamu lihat tadi?" tanya Paijo padanya.
Dandi menggelengkan kepalanya menanggapi apa yang Paijo katakan.
"Cuma seorang perempuan, Jo!" jawab Dandi dengan polosnya.
"Bukan!" jawab Paijo cepat.
"Kalau kamu nanti malam mau mulung! Usahakan jangan lewat sini!" ucap Paijo memperingatkan.
"Kenapa.."
"Jo! Ayo setoran!" teriak seorang bapak-bapak pengemis tak jauh dari tempat mereka.
Belum sempat menjelaskan perkataannya. Bapak Pengemis itu memotong pembicaraan antara Paijo dan Dandi.
Paijo menoleh kebelakang. Pengemis itu adalah ayahnya. Dan dia tidak pernah menunda apabila ayahnya memanggil.
Sebelum pergi Paijo kembali memperingatkan Dandi. Untuk tidak memulung lagi nanti malam di depan rumah mewah itu.
Dandi menatap kepergian Paijo dengan penuh pertanyaan. Sebenarnya apa maksudnya? Sungguh Dandi benar-benar tak tau.
Tetapi ucapan Paijo hanya Dandi anggap candaan. Lagi pula, tiap malam doa berangkat memulung lagi. Tidak pernah terjadi apapun padanya.
Hatinya yang sesumbar itu membuatnya tidak menganggap ucapan Paijo menjadi serius. Di atas pohon besar. Barend dan Albert yang sejak tadi duduk di sana memperhatikan Paijo.
Kemudian mereka melihat ke arah rumah tua yang terbengkalai itu. Di sana mereka melihat jelas sosok perempuan dengan baju putih penuh bercak darah sedang berseringai menatap ke arah Paijo.
__ADS_1
"Anak itu seumuranmu Barend?" tanya Albert pada Barend di sampingnya.
Barend diam tak menjawab itu. Dia merasa kasihan pada Paijo sekarang.
"Albert, mari kita beritahu Rachel dan Thariq!" ajak Barend pada Albert.
"Kamu merasa iba adik kecil?" tanya Melissa yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
Mendengar itu bocah setan itupun menganggukkan kepalanya.
"Ya! Aku ingat dahulu ketika Anna melarangku untuk tidak pergi! Aku menentangnya, lalu aku menjadi seperti ini bersama kalian di sini!" jawab Barend dengan polosnya.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Geng kita ini harus segera memberitahu Rachel secepatnya!" ucap Gelanda yang baru saja datang.
Baren mengangguk diikuti dengan Albert. Gengster Astral itupun perlahan mulai menghilang dari sana.
Dari pohon itu mereka menuju ke sebuah penginapan. Ini adalah Villa tempat di mana Gautama Family bernaung sementara.
Sudah seminggu mereka berada di sana. Menyelesaikan tiap masalah yang berhubungan dengan astral.
Rachel di dapurnya sedang mengaduk secangkir kopi. Ketika merasa adukkannya sudah cukup. Dia pun mulai membawa kopi itu bersamanya.
"Akhirnya selesai juga!" ucap Rachel berbalik.
"Hel!" panggil Barend padanya tiba-tiba.
"Hah!!!" teriak Rachel terkejut sontak melepaskan genggaman gelasnya.
Pyarr
"Astaghfirullah!" ucap Rachel beristighfar sambil mengelus dadanya.
Rachel memperhatikan kopinya yang tumpah itu. Kemudian dengan raut wajah kesalnya dia menatap Bocil setan yang terbang sejajar tinggi dengan wajahnya.
"Ada apa? Aku udah bilang berulang kali! Kamu kalau mau ngomong sama aku jangan datang secara tiba-tiba! Bisa Ndak?" tanya Rachel murka sembari menjelaskan.
Nampak tiga sosok setan kecil lainnya duduk di atas lemari es sambil tertawa. Barend menunduk. Melihat itu Rachel pun membuang kasar nafasnya.
"Baiklah Barend, ada apa?" tanya Rachel melembut kali ini bicaranya.
Sembari masih menunduk. Barend pun mulai menceritakannya pada Rachel.
"Hantu di rumah besar terbengkalai itu! Dia menginginkan anak seusiaku untuk dijadikan mainan! Malam ini jika anak kecil itu keluar dan berjalan di depan rumah itu. Kecohan setan itu pasti akan menjebaknya! Aku kasihan, tolong bantu dia!" jelas Barend menangis namun tak mengeluarkan air mata.
Ya wajar, dia sudah mati! Itulah kenapa air matanya tak keluar sekalipun dia menangis. Cak Dika yang sejak tadi berada di ambang pintu juga mendengar itu. Dia kemudian menghampiri Rachel dan Barend.
"Baiklah adik kecil, nanti malam kita tolong dia!" ucap Cak Dika.
__ADS_1
"Terima kasih, Maung!" ucap Barend sumringah.
Sontak Barend pun mengangkat kepalanya lalu tersenyum.