
"Wahhhhhhhh!!!" teriak Albian meronta-ronta ketika Cak Dika berusaha mengeluarkan sosok jin itu dari dalam tubuhnya.
Yang memegangi Albian ada Marsya, Melissa, dan Bella. Mereka bertiga susah payah menahan tubuh Albian agar tidak berontak. Tubuh itu seorang ingin pergi dari tempat itu.
Kondisinya masih sama. Kedua bola mata memutih. Mulutnya berbusa dan yang paling tidak masuk akal adalah kedua tangannya saat ini tertarik ke belakang.
Albian seakan tidak bertulang. Dia merubah posisi tubuhnya dengan mudah menjadi kayang saat ini.
Rachel menggenggam tangan Thariq di sampingnya. Dia membulatkan mata tak percaya melihat kejadian di depannya.
Sungguh bunyi-bunyi tulang itu terdengar jelas tiap kali Albian bergerak. Ngeri rasanya sungguh!
"Mbak Ra!" panggil Rachel pada Rara di depannya.
Rara menoleh ke belakang menatap Rachel.
"Mbak Ra, ikut aku!" ujar Rachel pada Rara.
"Ke mana? Di sini lagi genting gini, hel! Kamu mau ke mana?" tanya Rara pada Rachel.
Dengan tangan kirinya tanpa menjawab pertanyaan Rara. Rachel pun menggandeng begitu saja tangan Rara lalu membawanya ikut bersamanya.
Thariq juga dia bawa ikut bersamanya. Baik Thariq dan Rara keduanya bingung melihat sikap Rachel yang tiba-tiba ini.
Sementara Cak Dika beserta saudaranya yang lain sibuk. Rachel justru memilih beralih dari sana dan masuk ke salah satu kamar.
"Hel, kamu kenapa?" tanya Rara dan Thariq bersamaan ketika Rachel berhenti tepat di sebuah lemari kayu kuno.
Rahel terdiam sejenak memandangi atas dari lemari itu. Tertinggal keberadaan ghaib di atas sana. Rachel ingat bahwa dia sedang membawa Thariq bersamanya.
Thariq pemilik kemampuan menembus masa lalu. Rachel menunjuk ke arah atas lemari itu. Di sana lah baik Thariq dan Rara langsung menatap ke arah yang Rachel tunjuk.
"Aku tidak melihat apapun di sana! Tapi, rasanya tidak lama sebelum ini ada seseorang yang sempat duduk di sana!" ujar Rara memaparkan apa yang dia rasakan.
Rachel mengangguk mendengar apa yang Rara katakan.
"Kamu benar, Ra! Aku pun tidak melihat apapun. Tapi dia yang duduk di sana auranya masih tertinggal! Entah bagaimana sosoknya aku tidak tau?" ujar Rachel.
"Sosok itu tinggi! Dia dibalut pakaian hitam. Dia yang sekarang sedang bersemayam di dalam tubuhnya Albian. Sosok itu seorang wanita! Dia tinggal lama di tempat ini dengan seorang anak kecil!" jelas Thariq.
__ADS_1
Gambaran demi gambaran mulai dia dapatkan. Melihat Thariq yang bereaksi dengan gerbang ghaib. Maka Rara langsung mengambil posisi di belakang tubuh Thariq.
Rara meletakkan telapak tangan kanannya di punggung Thariq yang lebar. Ini adalah aliran energi supaya Thariq mampu menjangkau lebih jauh perihal histori rumah ini.
Sementara Rachel dia memilih untuk terdiam dan mendengarkan tiap apa yang Thariq katakan.
"Masuklah lebih jauh, Riq! Gali petunjuknya maka aku akan mengambilnya nanti!" ujar Rachel lirih di dekat daun telinga Thariq.
Thariq mulai fokus memejamkan kedua matanya. Dia melihat tubuhnya sedang berada di sebuah halaman. Halamannya cukup besar.
Thariq melihat ada seorang wanita keluar dari sebuah rumah. Wanita itu menggandeng seorang gadis.
Mereka bermain bersama di depan halaman. Suasananya begitu bahagia. Bahkan Thariq sendiri juga ikut bahagia ketika melihat keduanya bermain.
Pemandangan pun berubah menjadi gelap. Beberapa manusia membawa obor berbondong-bondong mendekati rumah itu.
Pemilik rumah ini dahulu adalah orang Belanda juga. Wanita itu dan bocah perempuan itu adalah warga Belanda juga.
Ketika Jepang mulai datang kemari. Maka lunturlah penjajahan Belanda kala itu. Jepang lebih dominan dan para orang kulit putih dibunuhi. Halal rasanya bagi para Inlander saat itu membunuhi orang kulit putih.
Hukum dahulu belum seketat sekarang. Thariq melihat orang-orang bangsanya memaksa masuk ke dalam rumah itu.
Ketika pintu rumah berhasil didobrak. Maka larilah anak kecil itu ke atas. Dari atas sana dia melihat perlakuan para pribumi terhadap wanita itu.
Anak itu menutup mulutnya tak percaya. Wanita tua yang merupakan ibu angkatnya itu dipukuli begitu sadis dengan batu.
Anak kecil yang ketakutan itu sontak berlari ke kamarnya. Dia membuka lemari pakaian. Di sana ada tempat persembunyiannya.
Ada lorong lain di dalam lemari itu yang hanya bisa anak kecil itu masuki. Lorong itu juga bisa ditutup. Sehingga ketika lemari itu dibuka maka orang-orang itu tidak bisa menemukannya.
Anak kecil itu bersembunyi di sana cukup lama. Bahkan berhari-hari. Dia tidak keluar dari dalam sana sampai nafasnya berhenti.
Ketakutan membuatnya enggan keluar. Ketakutan yang teramat membuatnya rela mendekam di dalam sana hingga mati sesak.
Setelah mendapatkan gambaran itu. Thariq pun kembali membuka kedua matanya. Dari situlah Thariq bisa menyimpulkan bahwasannya jasad dari bocah itu masih ada di sini.
Jasad itu belum disentuh oleh siapapun. Bocah itu mati terjepit di dalam lemari. Ketika Thariq membuka matanya.
Orang pertama yang dia lihat adalah Rachel. Thariq yang tau Rachel seakan meminta jawaban pun berkata,
__ADS_1
"Mayat dari anak gadis itu masih ada di sini! Dan itu masih belum dimakamkan. Mungkin inilah yang membuat arwahnya tidak tenang. Kita harus menguburkan dia dengan layak!" ujar Thariq pada Rachel.
Rara dan Rachel pun mengangguk. Kali ini gilirannya Rachel mencari tau keberadaan dari gadis itu.
"Barend!" panggil Rachel kepada adik astralnya.
Mendengar panggilan Rachel Barend pun muncul tepat di depannya bersama dengan setan Belanda lainnya.
"Aku tau apa yang kamu cari, Rachel!" ujar Barend.
Rachel mengangguk sembari tersenyum. Barend bersama dengan rombongannya berjalan keluar dari dalam kamar itu. Mereka menuju ke lantai paling atas. Thariq dan Rara tentu saja menemani Rachel.
Mereka tiba di sebuah kamar berpintu putih. Perlahan Rachel pun membuka pintunya. Ketika dia membuka pintunya maka duduklah di ranjang itu seorang gadis.
Gadis Belanda yang menatap Rachel dengan tatapan kosong. Rachel membalas tatapan gadis itu.
"Kamu tenang saja! Kami bukan mereka yang datang dengan niat membunuh. Kami di sini datang untuk menolongmu! Bukankah kamu ingin penguburan yang layak?" tanya Rachel padanya.
Sejenak gadis itu menangis tersedu-sedu dan Rachel membiarkan itu.
"Kamu tenang saja! Kami tidak jahat, Rachel dan teman-temannya orang baik. Jadi, tolong katakan pada ibumu agar pergi dari tubuhnya Albian!" ucap Barend memberitahu.
Gadis itu berhenti dari tangisannya. Dia mengangkat kepalanya kemudian mengangguk. Gadis itu menunjukan ke arah lemari lalu menghilang.
Rachel kembali berjalan ke arah lemari itu lalu membukanya. Dia menyingkirkan baju-baju yang di gantung. Rachel mengetuk-ngetuk dinding lemari itu. Betul saja, di sana ada ruangan.
"Thariq, di sini dia!" ucap Rachel.
Mendengar itu Thariq pun langsung mendekati Rachel. Dia berusaha membuka dinding lemari itu dengan cara menggesernya.
Ketika dinding itu berhasil terbuka ada satu lorong yang hanya bisa dimasuki oleh anak kecil. Thariq memasukkan kepalanya di sana. Dengan cahaya dari ponselnya dia melihat ke dalam.
Betul saja apa yang dilihatnya itu. Di dalam sana jasad gadis itu masih duduk. Jasadnya sudah tinggal tengkorak.
Ketika jasad itu ditemukan maka Albian pun kembali tersadar. Rara turun ke bawah memanggil Cak Dika. Dia memberitahu apa yang Rachel dan Thariq temukan.
Semua orang berbondong-bondong ke atas. Dibantu dengan Cak Dika dan yang lainnya. Mereka akhirnya berhasil mengambil jasad itu. Jasad itupun dikuburkan di dekat rumah itu.
Setelah kejadian itu maka tidak ada lagi gangguan yang didapatkan oleh keluarga Colline. Ketika Cek upah
__ADS_1