
Tik
Tok
Tik
Tok
Bunyi jam berdetak berirama sejak tadi. Saat ini Cak Dika, Rara, dan Marsya Sedang masuk ke dalam dimensi sebelah.
Ini sudah lama bagi mereka berjalan menyusuri satu lorong gelap tanpa ujung. Di sini sangatlah sunyi. Tidak ada suara selain suara mereka.
"Ini tempat apa sih? Kenapa ndak ada ujungnya gini?" ujar Marsya yang mulai kesal saat ini.
"Kita jalan aja terus pasti nanti bakalan ketemu jalan keluarnya!" ucap Cak Dika berusaha menenangkan adiknya yang mulai frustasi.
Sebab Cak Dika ingat. Jika manusia sampai frustasi dan marah itu adalah sumber energinya setan.
Rara sebenarnya sejak tadi juga sudah cukup jenuh. Hanya saja dia mencoba untuk tetap tenang.
Hingga ketika mereka berjalan lagi dan lagi. Nampak di depan sana ada satu cahaya.
"Sepertinya itu jalannya!" ucap Cak Dika sambil menunjuk ke arah cahaya putih itu.
Kedua saudaranya tentu saja langsung memperhatikan cahaya itu. Cal Dika berlari dan itu diikuti oleh Marsya dan Rara.
Ketika mereka hampir sampai. Cak Dika pun mulai memelankan langkahnya. Ternyata itu seorang manusia berpakaian serba putih dan bersorban.
"Siapa kamu?" tanya Cak Dika pada sosok itu.
Sosok itu diam tidak menjawab apa yang Cak Dika tanyakan. Sosok itu membelakangi mereka sehingga mereka tidak mengenalinya.
"Siapa kamu?" tanya Cak Dika lagi padanya.
Pertanyaan kedua itu lantas membuat sosok itu berpaling. Ketika sosok itu berpaling menatap ketiganya. Cak dika dan Marsya pun bersimpuh.
"Simbah!" ucap Cak Dika dan Marsya bersamaan.
Rara yang mendengar itu pun juga sontak saja ikut bersimpuh.
"Anakku!" ucap Simbah Gautama.
"Jika kamu ingin menyelamatkan Rachel beserta yang lainnya maka kamu harus membantu Nyai Ratu!" ucap Simbah Gautama memberi tahu Cak Dika.
Cak Dika menaikkan salah satu alisnya. Dia tidak mengerti apa yang Simbah Gautama katakan. Kepalanya masih tertunduk. Sosok di depannya ini begitu mereka hormati.
__ADS_1
"Maksudnya gimana mbah?" tanya Rara kali ini mewakili rasa penasarn Cak Dika beserta Marsya.
Simbah Gautama menganggukkan kepalanya. Kemudian dia pun berkata,
"Nyai Ratu sedang berhadapan dengan seorang Pangeran yang dahulu dia tolak cintanya. Pangeran ini kesaktiannya sama seperti Nyai Ratu. Itulah kenapa Rachel dapat dipindahkan semudah itu olehnya kemari. Di dalam diri Rachel bersemayam Nyai Ratu! Salah satu panglima Pangeran ini adalah Genderuwo. Rachel sedang berhadapan dengannya. Dan Nyai Ratu, sedang berhadapan dengan pangeran itu. Sedangkan anak kecil yang kalian cari saat ini sedang dijaga oleh rombongan wewe gombel!" jelas Simbah Gautama.
"Bagaimana cara kami menyelamatkan mereka Simbah?" tanya Cak Dika pada Simbah Gautama.
Mendengar pertanyaan itu Simbah Gautama pun tersenyum. Dia memperhatikan cucunya yang memiliki jimat darinya.
"Anak-anakku! Kalian terhubung dengan kami! Pemegang jimat dariku ikutlah bersamaku. Dan kamu.." ucap Simbah Gautama sembari masih tersenyum menatap ke arah Rara.
"Tolong selamatkan anak kecil itu, nak! Lalu jika bisa setelah menyelamatkannya. Larilah sampai kamu menemukan sebuah pintu. Bukalah, maka di sana kamu akan menemukan Rachel. Tolong bantu dia!" ujar Simbah Gautama menjelaskan.
Rara mengangguk mengerti mendengar itu. Cak Dika dan Marsya mendekat ke arah Simbahnya. Kemudian mereka pun menghilang begitu saja dari sana meninggalkan Rara yang seorang diri.
Berat memang bagi Cak Dika meninggalkan Raranya. Tetapi, dia yakin Rara mampu. Rara adalah gadis pemberani. Dia pasti berhasil.
Ketika Rara sendirian di sana. Suasana yang tadinya sunyi sekejap mulai berubah. Suara-suara nyanyian dan gamelan berkumandang.
Sosok-sosok anak kecil mulai berlarian. Tapi, Rara tidak takut. Sungguh dia sudah terbiasa untuk hal-hal semacam ini.
"Takuti aku semau kalian! Aku tidak akan takut pada kalian. Aku hanya akan takut pada penciptaku! Bukan kalian!" ujar Rara lalu melangkahkan kakinya untuk terus berjalan menyusuri lorong gelap itu.
Mulutnya komat-kamit tak henti-hentinya membaca doa. Hingga beberapa lama berjalan Rara melihat rombongan Mbak Kunti menghadangnya.
"Kenapa kamu datang kemari anak manusia?" tanya para kunti itu.
Rara diam saja tidak menanggapinya. Ketika dia akan maju. Tawa sosok itu semakin kencang. Itu membuat Rara kaget sontak melompat.
Sedangkan Mbak kunti itu malah tertawa kencang melihat reaksi Rara. Mereka pikir Rara takut pada mereka.
Rara diam sejenak. Kemudian dia menatap benci ke arah rombongan itu. Rara yang kesal pun melepas sandalnya. Dua-duanya dia lepaskan.
Dengan penuh amarah dia pun melampar sekuat tenaga sandalnya ke arah Mbak Kunti itu.
Hingga mereka berteriak lalu menghilang. Ketika rombongan itu menghilang. Rara diperlihatkan sebuah pintu kayu.
Rara yakin di sinilah anak kecil itu saat ini disembunyikan. Rara mendekati pintu itu lalu membukanya. Sungguh sangat muda.
Ketika pintu itu terbuka Rara pun masuk ke dalam sebuah belantara dengan pepohonannya yang cukup tinggi.
Rumput yang Rara pijaki masih sangat segar. Tidak ada rumput kering di sana. Tanamannya seakan terawat. Langitnya memang masih gelap. Dan keadaan di sana sunyi.
Ketika Rara masuk lebih jauh. Dia mendengar suara anak kecil sedang membaca sebuah ayat suci Alquran.
__ADS_1
Rara menghentikan kakinya lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tidak ditemukan siapapun di sana.
Rara mencoba mengikuti suara itu. Hingga dia menemukan satu sosok besar yang sedang membelakanginya.
Rara melihat di depan sosok itu saat ini anak kecil itu duduk bersila sambil memejamkan mata. Dia tidak berhenti membaca ayat kursi juga asma Allah.
"Kami pasti kesulitan mendekatinya bukan?" ujar Rara.
Suara Rara itu tentu saja membuat sosom besar itu menoleh ke arahnya. Itulah wewe gombel.
Ketika wewe gombel itu menatap benci ke arah Rara. Rara pun melakukan hal yang sama. Yaitu ikut membaca ayat kursi.
Tak hanya satu ada banyak Wewe gombel. Panas rasanya ketika beradu kekuatan dengan mereka. Itu membuat Rara merasa sangat lemas.
Namun ketika Rara yakin bahwa kekuatan Tuhan yang mampu menolongnya. Para wewe gombel itu pun hilang dari sana.
Secepatnya Rara pun langsung menghampiri anak itu. Anak kecil itu membuka matanya. Dia bertanya pada Rara siapakah dia? Dan apakah dia manusia?
Mendengar itu Rara pun menganggukkan kepalanya. Merasa yakin jika Rara manusia. Anak kecil itu pun ikut serta bersama Rara ketika Rara mengajaknya.
Seperti apa yang Simbah Gautama katakan padanya. Setelah anak itu bersamanya maka Rara harus segera pergi menemukan pintu.
Beberapa lama berjalan dia pun menemuka pintu. Dan ketika dibuka pintu itu dia melihat Rachel dengan lima Genderuwo yang saat ini menyerangnya.
Rachel dibantu oleh para setan Belanda. Mereka adu kekuatan di sana.
"Hel!" panggil Rara pada Rachel di sana.
Rachel menoleh sebentar lalu fokus kembali kepada para Genderuwo itu.
"Ra ayo Ra! Bantai Ra, sialan iki Ra! Main-main mereka, Ra!" ujar Rachel.
Rara terkekeh mendengar itu. Dia masih menggandeng anak itu.
"Dek, kamu jangan berhenti berdoa! Kalau takut tutup matamu sampai aku bilang buka!" tutur Rara pada anak kecil itu.
Anak kecil itu tentu saja mengangguk. Dia menuruti apa yang Rara ucapkan. Rara pun menghampiri Rachel di sana. Mencoba membantu Rachel untuk push rank mengalahkan kelima Genderuwo.
_______
Warning++++++++
Telah lahir anak baruku yang berjudul CERMIN (Dia yang Datang di dalam cermin). Mohon dukungannya yaa rek! 🤣🤣🤣
__ADS_1
Karya ini di karang untuk ikut partisipasi dalam lomba novel horor. Terima kasih bagi yang sudah membaca dan mendukung. Semoga selalu suka sama ceritanya. 👻👻👻