
Setelah kejadian di goa itu sekarang Cak Dika dan rombongannya berada di dalam satu villa.
Villa ini adalah fasilitas dari polisi. Sebab mereka sudah membantu maka polisi menyediakan villa untuk mereka istirahat.
Villa ini didominasi dengan gaya yang cukup elegan. Dilihat dari fasilitas juga segala yang ada di dalam pola ini sepertinya bila ini cukup mahal.
Kira-kira sudah sekitar dua minggu mereka di sana. Mereka masih tidak beranjak dari zona nyaman mereka tidak ada kasus yang akan dikerjakan dan panggilan sementara waktu di pending.
Tubuh mereka yang lebih mereka biarkan Tidur nyaman mungkin istirahat senyaman mungkin menikmati fasilitas villa senyaman mungkin.
Bersama dengan kopi yang ada di dalam genggaman tangannya Cak Dika menangkap tepat ke arah satu gunung di depan sana yang cukup mudah pagi ini.
Dari balik kaca tepatnya di dapur sekarang terlihat Rara sedang memperhatikan sosok Pemuda Bongsor itu.
Sebenarnya mau dilihat dari segi manapun Cak Dika itu tampan. Darah yang kebetulan seorang diri di sana yang saat ini sedang mengaduk teh kemudian dia tersenyum lebar.
"Mau dilihat dari segi manapun kamu ini tampan juga ya?" lirih Rara sambil mengaduk teh hangat yang baru saja dia buat.
Nampak tiga sosok hantu kecil berada tepat duduk di atas lemari es. Mereka adalah Baren, Melissa dan Albert. Ketiganya menatap heran ke arah Rara yang sedang tersenyum.
"Ada apa dengannya?" tanya Albert pada Melissa dan Barend.
Yang jelas saja mereka tidak tahu. Umur mereka saat mati belum cukup mengenal cinta.
"Kadang manusia gila juga ya? Tersenyum tanpa alasan. Kita yang hantu saja jarang tersenyum! Menyedihkan sekali!" jawab Melissa dia menatap miris ke arah Rara.
Barend sedikit menemukan ide jahil. Kemudian dia mulai berunding dengan kedua temannya itu.
"Aku ada ide!" ujar Barend memberi usul.
Lantas baik Melissa dan Albert pun mulai mendengarkannya.
"Ide apa itu?" tanya Melissa dan Albert bersamaan.
"Bagaimana jika kita takuti dia! Kita kagetkan dia supaya sadar!" ujar Barend memberi usul.
Melissa mengerakkan tangannya. Tanpa aba-aba dia menggerakkan salah satu gelas yang ada di rak piring itu.
"Ya Allah!" pekik Rara ketika melihat gelas yang tersusun rapi di atas Rak piring itu mendadak keluar dari zonanya.
__ADS_1
"Kok bisa seh!" ujar Rara. Dia masih belum sadar kehadiran tiga sosok setan kecil yang jahil di sana.
Melihat Rara yang masih belum sadar perihal kedatangan mereka. Mereka tertawa terkikik kecil.
Ketika gelas itu dikembalikan lagi dan Rara kembali menatap Cak Dika. Lagi dan lagi mereka kembali menjahilinya.
Kali ini Barend yang menggerakkan gelas kaca itu. Bola mata Rara kembali menangkap pergerakkan itu. Dan dia pada akhirnya mendengar suara beberapa bocah yang terkikik di belakangnya.
Rara kemudian menoleh ke belakang dan benar tiga sosok setan Belanda itu duduk tepat di atas lemari es.
"Hai Rara!" ucap mereka bertiga dengan senyuman. Mereka menyapa Rara.
"Kenapa kalian menggangguku?" tanya Rara padanya.
"Kami hanya khawatir padamu, Ra! Kamu nampak tidak sehat hari ini. Kamu sendirian di dapur dan tersenyum sendiri!" jawab Barend dengan polosnya.
Jawaban itu lantas membuat Rara bersemu. Ah.. Beruntung rasanya ketiga setan ini tidak tahu menahu perihal percintaan.
"Aku hanya sedang ingat masa kecilku dulu! Ada hal lucu dan aku teringat itu. Makannya aku tertawa. Wajar bukan?" jawab Rara mencoba mencari alasan.
"Ah.. iya itu wajar!" jawab Albert pada Rara.
Rara tersenyum tipis. Kemudian dia menaruh sendok yang baru saja dia gunakan untuk mengaduk itu ke dalam wastafel. Tehnya sudah jadi. Saatnya menikmati tehnya sekarang.
Ketika Rara melewati ruang tamu. Nampak di sana Rachel dan Thariq sedang duduk bersama. Mereka menikmati acara televisi pagi itu.
"Kenapa Ndak Spongebob?" tanya Rachel pada Thariq.
"Yo aku Ndak suka loh! Lihat berita aja udah!" jawab Thariq pada Rachel.
Mereka sedang beradu debat perihal apa yang ingin mereka nikmati pagi ini. Melissa dan Gelanda duduk sambil memandangi mereka dengan tatapan malas.
"Ndak enak berita itu! Ndak bisa buat tertawa. Kita ini sudah sumpek gara-gara setan masih lihat berita. Yang bisa buat plong lah!" ujar Rachel menjelaskan.
"Yo tapi kan sore bisa lihat Spongebob lagi!" jawab Thariq mencoba membujuk Rachel.
Thariq mengangkat atas-atas remote televisi itu supaya Rachel tidak mampu menggapainya. Tinggi tubuh Rachel memang jauh di bawahnya. Sehingga meraihnya adalah hal sulit bagi Rachel.
"Kemarikan itu!" protes Rachel pada Thariq.
__ADS_1
"Ndak mau!" ucap Thariq yang masih setia mempertahankan remotenya.
"Heh sudahlah! Berikan itu ke Rachel, Thar!" ucap Melissa yang kesal pada akhirnya.
"Ngalahlah sama cewek Thar!" ucap Rara menuturkan. Dia duduk di salah satu sofa sambil menyeruput teh hangatnya.
Rachel menoleh ke arah Rara. Teh hangat itu cukup melegakan sepertinya.
"Kamu buat cuma satu, Ra?" tanya Rachel pada Rara. Telunjuknya menunjuk tepat ke arah gelas yang saat ini sedang Rara minum.
"Iyo, aku buat cuma satu, Hel! Kenapa? Kamu mau?" tanya Rara padanya.
"Iyo Mbak, enak iku pagi-pagi!" ujar Rachel pada Rara.
"Nyoh!" ucap Rara memberikan gelas tehnya pada Rachel barangkali Rachel ingin incip.
"Wih boleh ini! Tau ae kamu nek aku lah mager!" ucap Rachel menerima pemberian Rara.
Lalu Rachel juga menyeruput teh itu. Mereka bercengkrama satu sama lain hingga Rachel lupa perdebatannya dengan Thariq perihal televisi.
Obrolan dengan Rara saat itu melarutkannya. Sampai obrolan itu berhenti ketika mendengar suara langkah kaki dari luar mulai masuk ke dalam.
"Ada berita!!!" teriak Cak Dika setengah berlari ke arah rombongannya.
Sontak baik Rachel, Rara dan yang lainnya pun menoleh ke arah pintu masuk. Mereka menatap heran ke arah Cak Dika yang datang setengah berlari itu.
Tangan kanannya membawa sepucuk surat. Setibanya di sana Rara langsung bertanya,
"Ono opo toh, Cak? Kok sampe keplayon ngene?" tanya Rara pada Cak Dika.
Wajah Cak Dika sumringah dia kemudian memberikan sepucuk surat itu pada Rara. Rara mengambil sepucuk surat itu. Kemudian dia mengeluarkannya.
Rara membaca isi surat itu kemudian dia tersenyum. Bahagia rasanya sungguh. Salah satu dari mereka sudah pasti menuju jenjang pernikahan.
"Ini surat dari Laras dan Aldo! Mereka akan menikah!" ucap Rara membacakan isi dari surat itu.
Rachel terkejut, dia juga bahagia rasanya. Sungguh salah satu dari mereka akan menempuh hidup baru setelah ini.
"Alhamdulillah!" ucap mereka yang ada di ruang tamu itu serentak.
__ADS_1
"Akhirnya ada yang sold out! Semoga nanti aku cepat nyusul juga!" ucap Cak Dika mengatupkan tangannya sambil mendongak ke atas.
Setelah ucapan syukur dan doa itu dipanjatkan. Bola mata Can Dika tak sengaja menangkap bola mata Rara yang menatapnya. Detik ketika pandangan mereka terkunci keduanya pun tersenyum.