
Sehari setelah kejadian di Lawang Sewu. Rachel memutuskan untuk melakukan meditasi. Sehari penuh dia di dalam kamar dan tidak keluar sama sekali demi untuk memulihkan lagi energinya yang terkuras.
Hal itu juga sama seperti Laras. Keduanya melakukan meditasi itu bersama di dalam kamarnya. Tentunya hal itu membuat Thariq dan Aldo tidak tenang.
Kedua gadis yang menawan dan anggun di mata mereka itu. Kedua gadis yang sudah menyentil hatinya sampai kesemsem itu. Membuat mereka bertanya-tanya pada Cak Dika sekarang.
Mereka sedang menikmati sarapan pagi ini bersama. Hanya tinggal Cak Dika dan Rara yang duduk saling berdampingan sambil menghadap Aldo dan Thariq yang sejak tadi diam setelah melontarkan banyak sekali pertanyaan.
"Kenapa lama banget dia gak keluar dari kamar Cak?" tanya Aldo pada Cak Dika di depannya.
Cak Dika mengunyah sisa kerupuk yang masih ada di dalam mulutnya lalu menelannya. Itu adalah kerupuk terakhir kepunyaannya.
"Pie jajal Iki dek?" tanya Cak Dika menghela nafas lalu menatap Rara di sampingnya.
(Gimana coba ini dek?)
"Jelasno wae Mas! Nek ora mudeng dijelasne mending taboken dandang wae wong loro Iki!" jawab Rara asal sambil melipat tangannya menatap ke arah Aldo dan Thariq.
(Jelaskan aja Mas! Kalau masih gak paham setelah dijelaskan mending tabokin dandang aja dua orang ini!)
Buat kalian yang belum tau tentang dandang. Itu adalah piranti memasak tradisional yang biasanya digunakan untuk memasak nasi.
Jawaban Rara membuat Thariq memegang kepalanya sendiri. Agak ngeri juga memang mbak Rara ini. Seekstrim Cak Dika.
"Ojo toh, koe kampleng dandang benjot sirah! Ora ganteng mane rupaku!" ujar Thariq menjawab Rara.
(Jangan ta, kamu tabok dandang benjol kepalaku! Gak ganteng lagi mukaku!)
"Hah.." lirih Rara sambil berseringai menatap Thariq.
"Lagek Iki aku wero awakmu sebut-sebut ganteng awakmu dewe! Yen ganteng koe kudue wis payuh akeh, Riq! Tapi koe ijek pancet jomblo wae ora enek sing digandeng!" jawab Rara padanya.
(Baru tau aku kamu menyebut ganteng dirimu sendiri! Kalau ganteng kamu harusnya udah laku banyak, Riq! Tapi kamu masih tetap jomblo aja gak ada yang digandeng.)
Aldo yang sejak tadi diam sambil memperhatikan pun tertawa mendengar itu begitupun dengan Cak Dika.
"Halah, uwong sing ngoceh wae Yo pancet jomblo ngenes!" ujar Thariq membela dirinya dari ucapan Rara.
(Halah, orang yang kebanyakan omong ya masih jomblo ngenes!)
Rara tertawa mendengar pembelaan itu. Namun Cak Dika yang sigap sambil tertawa langsung meraih salah satu tangan Rara lalu memamerkan pautan tangan itu pada Thariq dan Aldo di depannya.
"Bocah ngawur koe, dek Rara Iki bojoku mbesok!" jawab Cak Dika membela.
(Bocah, ngawur kamu, dek rara ini istriku besok!)
Tentunya jawaban itu membuat Rara melongo. Bisa-bisanya wong Iki menyebut Rara sebagai calon istrinya besok.
__ADS_1
"Iki pisan! Podo ae, halu tok! Wes ora usah maido wae koe mas!" ucap Rara menarik tangannya dari genggaman tangan Cak Dika.
(Iki lagi! Sama aja, halu! Udah gak usah bohong aja kamu mas!)
"Ya... Cacak ditolak, Cacak!" ucap Thariq mengompori keduanya ketika Rara kembali menarik tangannya itu.
Sambil menggelengkan kepalanya Cak Dika masih tersenyum.
"Wis angel jan ngolehno wong Banyuwangi Iki!" ucap Cak Dika cengengesan.
(Udah sulit banget dapatin orang Banyuwangi ini!)
Canda tawa mereka menggema. Banyak obrolan yang mereka lontarkan di sana. Sambil sesekali menyantap habis makanan manis yang masih ada di atas piring mereka.
Sedangkan di kamarnya Rachel mulai membuka matanya. Dia yang seharian duduk seperti orang tapa itu lesu rasanya.
Rachel menguap lalu menoleh ke samping. Di sana terlihat Laras yang tidur sambil memeluk gulingnya. Sepertinya meditasi yang selesai duluan adalah meditasinya si Laras.
Rachel turun dari ranjangnya lalu menghampiri Laras yang tidur di ranjang sampingnya. Rachel berusaha membangunkan Laras di sana.
Panggilan rendah, dia tidak bangun. Intonasi dinaikkan beberapa oktaf dan dia tetap tidak bangun. Ketika intonasi meninggi dan Rachel semakin brutal menggerakan tubuhnya.
Laras melempar gulingnya tepat ke arah Rachel. Tapi dengan cepat Rachel menghindarinya.
"Yek ora kenek yek!" ucap Rachel mengejeknya.
"Duh, kamu ini!" gerutu Laras kemudian merubah posisinya menjadi duduk.
Matanya yang baru saja bangun itu dipaksa untuk pulih secepatnya. Dia mengerjap beberapa kali kemudian menunduk dan menguap.
"Apasih? Kenapa kamu bangunin aku?" tanya Laras kesal pada Rachel.
Rachel tersenyum di sana.
"Kamu selesai sejak kapan? Malah langsung tidur loh, kalau udah selesai meditasi itu langsung makan. Udah tau perut kosong seharian juga! Mau bunuh diri kalem-kalem ta kamu? Wong Aldo belom mok nikahi kok udah ada pikiran ke sana?" ujar Rachel pada Laras.
"Sttttttttt..." ucap Laras lalu menempatkan ujung jarinya di bibirnya sendiri.
"Koe ki dungaren isuk-isuk ngene wis ngecepret wae? Nek lambemu kae akeh ngocehe, berarti koe luwe! Iyo toh?" tanya Laras yang mulai kesal pada Rachel di depannya.
(Kamu ini tumben pagi-pagi gini udah ngomel aja? Kalau mulutmu ini banyak omong, berarti kamu lapar? Iya, kan?)
Laras benar-benar sangat mengenali pribadinya Rachel yang sama randomnya dengan Marsya dan Cak Dika.
Rachel diam, dengan polos dia mulai mengangguk. Kedua tangannya mengusap perut miliknya yang rata dan mulai berbunyi.
"Ah, tempe mendoan! Wis aku tak minggat ae saka kamar! Kape golek badokan sek aku! Koe melu ora?" tanya Rachel berjalan menuju lemari lalu mengambil jaket miliknya.
__ADS_1
(Ah, tempe mendoan! Udah aku keluar dulu aja dari kamar! Mau cari makanan dulu aku! Kamu ikut gak?)
Sejujurnya Laras saat ini juga sangat lapar. Tapi dia juga sangat lelah. Tapi jika lelahnya dituruti. Maka asam lambungnya nanti bisa kumat.
"Iyo wis, aku melulah!" jawab Laras pasrah lalu berdiri dan mengambil jaket miliknya juga yang ada di dalam lemari.
Ketika keduanya sudah siap. Mereka pun mulai berjalan ke arah pintu. Ketika mereka membukanya dan keluar secara bersamaan.
Tubuh mereka yang masih lemah itu menabrak dua tubuh manusia yang saat ini sedang berdiri tepat di depan pintu kamar mereka.
"Duh..." lirih keduanya meringis kecil.
Ketika mereka sama-sama mendongak. Rachel melihat wajah Thariq yang melongo tak percaya menatapnya. Sedangkan Laras, dia memang tidak bisa melihat. Tapi dia langsung disambut dekapan hangat dari kekasihnya, yaitu Aldo.
"Kamu tidur lama banget, Sayang!" ucap Aldo padanya.
Laras tersenyum lalu mengusap-usap punggung kekar Aldo.
Berbeda dengan Thariq yang tidak tau akan melakukan apa pada Rachel. Dia rindu, jujur saja. Tapi, dia tidak berhak memeluknya.
Thariq lalu tersenyum pada Rachel. Mereka berdua sama-sama mundur sambil menoleh ke samping mencoba menutupi kecanggungan yang baru saja terjadi.
Tapi itu hanya berlaku sejenak. Thariq kemudian mengulurkan bungkusan makanan yang sengaja dia bawa tadi untuk Rachel.
"Dimakan ya, jaga kesehatan!" ucap Thariq lembut, meraih tangan Rachel memaksanya untuk mengambil bungkusan itu.
Rachel memperhatikan bungkusan itu lalu dia tersenyum. Kemudian dia menatap Thariq. Dengan gemas Rachel mencubit salah satu sisi wajahnya dan berkata,
"Makasih, kamu emang yang paling ngerti kalau aku butuh Tempe mendoan!" ucap Rachel pada Thariq.
Rachel lalu berbalik dan masuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Aldo, dia mengajak Laras untuk makan di luar bersamanya.
Thariq yang hanya seorang diri di sana hanya mampu menatap pintu kamar Rachel. Tangannya meraba wajahnya yang tadi dicubit gemas oleh Rachel.
Dancuk, jantungku meh minggat rasane! Wong wedok kok manis ngunu!. Ujar Thariq dalam hatinya.
Dia melompat girang. Untung saja lorong hotel itu sepi tak ada siapapun kecuali dirinya. Setelah itu, dia pun juga pergi dari sana.
"Kenapa dia?" tanya Barend sang setan Belanda kecil pada Albert di sampingnya.
"Entahlah, manusia memang selalu gila!" jawab Albert di sampingnya.
Mereka berdua sejak tadi berada tepat di atas Rachel. Kepalanya tembus dari langit-langit memperhatikan pembicaraan yang terjadi di sana.
"Rachel mendapatkan bungkusan sedap sepertinya! Aku ingin mencicipinya!" ujar Barend lalu pergi dari samping Albert.
"Dasar hantu, kamu mungkin akan dimarahi oleh Rachel jika mengganggunya!" ujar Albert memperingatkan.
__ADS_1
Tapi mustahil memperingatkan Barend bukan? Dia masih kecil dan tidak akan mendengarkan siapapun. Alhasil, Albert pun terpaksa mengikutinya.