
Cak Dika dan Rachel saat ini sudah sampai di kediaman Deni. Di sana mereka sedang berbincang perihal Rahman, kakak dari Deni.
Deni menceritakan pada Cak Dika. Bahwa Rahman bersikap aneh semenjak kematian Bapaknya. Keluarga ini muslim secara KTP. Tapi, nyatanya mereka sekeluarga sama sekali tidak melaksanakan sholat.
Deni juga mengatakan bahwa Rahman bersikap aneh itu ada waktunya. Tiap tengah malam. Cak Dika manggut-manggut mendengar itu. Sesekali netranya menatap pada Rahman yang masih tak sadarkan diri.
Rachel berjalan mendekati Rahman melepas diri dari perbincangan Deni dan Cak Dika sejenak. Di sana Rachel memandangi tubuh itu.
Rachel ingat betul bahwa salah satu saudaranya bisa melihat masa lalu. Penjelajah ghaib itu adalah Laras. Dialah yang dibekali kemampuan mundur dan melihat masa lalu.
"Kita harus panggil Laras kesini!" ucap Rachel ketika mengingat kemampuan Laras. Rachel menoleh ke belakang tepat ke arah Cak Dika dan Deni. .
Sejenak Cak Dika diam sambil memperhatikan Rachel di sana. Lalu ketika Rachel kembali menatap Rahman, sepasang tangan mencekik lehernya. Dan itu adalah tangannya Rahman.
"Arghhhhhhhh!!!" pekik Rachel sambil meronta-ronta.
Melihat itu baik Cak Dika dan Deni terkejut. Mereka berdua pun bergerak cepat mencoba memisahkan Rahman dari Rachel saat itu juga.
"Heh! Lepasin adekku!" perintah Cak Dika geram sambil menatap sorot mata Rahman tajam.
Namun nihil, tidak ada respon apapun di sana. Rahman masih tetap mencekiknya. Cak Dika memperhatikan sorot mata itu. Ini adalah siluman.
Sosok yang bersemayam dalam tubuhnya Rahman adalah siluman. Lama dia terus berusaha mencekik Rachel.
Usaha jahatnya itu berhenti ketika Nyai Ratu datang masuk ke dalam tubuh Rachel. Nyai Ratu saat itu datang masuk ke dalam tubuhnya, menggerakkan kedua tangan Rachel memegang kepalanya Rahman.
Sebelum makhluk itu lepas dari dalam tubuhnya. Kedua bola mata Rahman memutih. Dia kejang untuk beberapa saat lalu muntah.
Rachel yang sadar pun segera mundur dari Rahman yang saat ini masih muntah di sana. Dia muntah air putih.
"Mas, kamu gapapa kan?" tanya Deni sambil mengusap-usap punggung Rahman berharap bisa meredakan muntahannya.
__ADS_1
"Uhukkk... Uhukkk..." hanya suara batuk itu saja yang mampu menjawab pertanyaan Deni.
Sampai ketika batuk itu berhenti. Rahman kembali muntah. Namun kali ini bukan air yang dia muntahkan. Melainkan, darah. Pekat sekali darah itu dan cukup banyak keluarnya.
Ketika muntahnya sudah berhenti. Terlihat Rahman di sana terengah-engah. Wajahnya nampak begitu letih. Cak Dika dan Rachel masih memperhatikan ke arah darah yang baru saja Rahman muntahkan.
"Mas kamu gapapa, kan?" tanya Deni lagi yang saat ini sangat mengkhawatirkan kakaknya.
Rahman yang lemah hanya mampu menggeleng. Tak ada tenaga rasanya untuk sekedar menjawab. Tubuhnya benar-benar letih. Tulang-tulang dalam tubuhnya seakan diremuk.
"Kalian siapa?" tanya Rahman pelan pada Rachel dan Cak Dika yang masih melamun menatap ke arah muntahan itu.
"Kamu lihat apa, Cak?" tanya Deni penasaran ketika melihat Cak Dika dan Rachel yang masih diam. Padahal Rahman baru saja melontarkan pertanyaan.
"Cak?" tanya Deni lagi sedikit meninggikan suaranya.
Saat itu juga baik Rachel dan Cak Dika menunjuk ke arah benda kecil berwarna putih yang baru saja dimuntahkan Rahman.
Deni memutar bola matanya ke arah apa yang sedang mereka tunjuk. Dan di sanalah, Deni dan Rahlan dibuat terkejut.
Setelah yakin sudah cukup bersih. Barulah dia kembali lagi ke kamarnya Rahman. Di sana dia menunjukkan itu pada Cak Dika. Benda itu masih ada dalam genggaman Deni.
"Ini kafan, Cak?" tanya Deni sambil masih memandangi buntalan kain putih itu.
Cak Dik mendekatinya lalu mengambil benda itu dari tangan Deni sambil membaca Basmallah. Segala sisi benda itu Cak Dika perhatikan. Benar apa yang dikatakan oleh Deni. Ini adalah kain kafan.
Dan di dalamnya seperti terdapat dia benda lagi. Entah apa itu, dia tidak tau. Yang lebih menakutkan lagi adalah. Benda ini, muncul dalam muntahan Rahman beriringan dengan darah.
Cak Dika lalu menatap Rachel di sampingnya. Ajian semacam ini, adalah salah satu pesugihan. Jikalau orang tidak berilmu atau tau hal-hal ghaib mencoba menghancurkan atau membakar ini. Maka orang itu akan celaka.
"Ajian pesugihan? Sejak kapan kalian memakai benda semacam ini?" tanya Cak Dika pada Rahman dan Deni.
__ADS_1
Mereka yang ditanya semacam itu jelas saja bingung. Sebab mereka sama sekali tidak merasa memakai itu. Bahkan, jika hari ini mereka disumpah atas nama Tuhan. Mereka tidak takut.
"Kami, gak ngerasa pakai ajian semacam itu Mas!" jawab Rahman mantap pada Cak Dika.
Cak Dika kembali memutar otaknya. Lalu, dia ingat akan perkataan Rachel. Di mana dia mengatakan bahwa mereka harus membawa Laras.
"Sepertinya tanpa bantuan Laras, kita gak mungkin tau siapa yang pakai ini?" ujar Cak Dika sambil berseringai.
Rachel di sampingnya yang mendengar itupun terkekeh. Rachel lalu mengeluarkan ponselnya. Di sana dia mulai menghubungi Marsya yang saat ini pasti sedang bersantai di rumah Cak Dika bersama Bella.
"Assalamualaikum, dek! Kamu bisa kesini, urgent! Di rumahnya Pak Eko, juragan sate. Ajak Laras dan Aldo, kita ada job ini!" ucap Rachel langsung tanpa berbasa-basi.
"Oalah, okeh mbak! Laksanakan!" jawab Marsya riang lalu menutup teleponnya.
"Gimana dek?" tanya Cak Dika pada Rachel di sana.
"Iya, mereka bakalan datang kok! Tenang aja!" jawab Rachel mantap.
"Sip!" ujar Cak Dika tersenyum lalu mengacungkan kedua jempolnya pada Rachel.
Saat ini memang seluruh keluarga Gautama sedang berkumpul di sebuah kampung. Kampung ini adalah kampung tempat Cak Dika tinggal bersama dengan Bella.
Keluarga Cak Dika juga memiliki pengaruh di sini. Dan keluarga mereka sangat dihormati juga di sini. Sepertinya memang keturunan buyut Gautama akan selalu disanjung kemanapun mereka berada.
Sambil menunggu Laras dan saudara lainnya datang. Deni menuntun mereka untuk duduk di ruang tamu bersama dengan Rahman.
Deni menyuguhkan beberapa jamuan minuman dan makanan sambil mendengarkan apa yang Cak Dika katakan perihal pesugihan.
Tapi di sana baik Rahman dan Deni tetap saja menyangkal. Bahwa keluarga mereka tidak mungkin memakai benda seperti itu.
Cak Dika tidak mampu mendebat itu. Karena aura mereka juga mengatakan bahwa mereka memang tidak memakainya.
__ADS_1
Jalan satu-satunya saat ini adalah melihat ke belakang sebelum Pak Eko mati. Laras adalah jawaban atas segala teka-teki ini.
Jelajah waktu lampaunya itu selalu membuka dan menjawab tiap jawaban yang berputar di atas kepala mereka.