Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 173 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 1)


__ADS_3

Pranggg


Pranggg


Dua orang gadis yang sedang tertidur pulas di dalam kamar mereka samar-samar terbangun ketika mendengar suara riuh di lantai bawah rumah mereka.


Dia adalah Tania dan Vio. Tania lima tahun lebih tua daripada Vio. Tania terduduk lebih dulu sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.


Dia menengok ke arah jam dinding. Itu masih pukul satu pagi. Malam itu semakin dingin rasanya dinginnya tida seperti biasanya.


 Vio juga ikut terduduk ketika kakak perempuannya mulai terjaga. Sejenak kemudian mereka saling tatap lalu si bungsu Vio mulai berkata,


"Kak, itu apa? Kenapa di bawah ramai sekali?" tanya Vio pada Tania.


Tania menaikkan kedua bahunya. Kemudian dia pun berkata,


"Aku yo ndak tau, tapi kayaknya di bawah kalau gak bapak ya ibuk yang ramai!" ujar Tania.


"Aku mau keluar dulu, lihat!" ucap Tania kemudian beranjak dari atas kasurnya.


Vio membulatkan matanya ketika mendengar apa yang Tania katakan. Entah mengapa hatinya saat ini mengatakan bahwa apa yang terjadi di bawah sana itu adalah satu petaka.


Greppp


"Apa?" tanya Tania ketika pergelangan tangannya ditahan oleh Vio.


Vio menggelengkan kepalanya seakan tidak membolehkan kakak perempuannya itu untuk turun dan memeriksa apa yang ada di bawah sana.


"Jangan! Ini udah malam, kan lebih baik kita tidur lalu tanya ke Bapak sama Ibuk besok?" ujar Vio memberikan opsi kepada kakaknya.


"Wes kamu tenang saja! Aku cuma bentar tok kok!" ujar Tania menenangkan adiknya. Dia juga perlahan menyingkirkan tangan Tania yang menahannya.


Vio menatap pasrah apa yang kakaknya lakukan itu. Kemudian dengan perlahan Tania mulai melangkah ke arah pintu kamarnya.


Ketika dia berdiri tepat di depan pintu kamar itu. Tangannya perlahan mulai membuka gagang pintu itu.


 Gagang pintu yang ketika dibuka maka Tania akan menuju ke lantai bawah. Tempat di mana kamar bapak dan ibuknya berada.


"Aaaaaaa... Aku..."


"Sudah Pak, sudah!"


"Jangan dipaksa lagi! Kasihan anak-anak!"

__ADS_1


"Wah... Kamu tidak tau apa-apa! Miskinmu adalah sengsara bagi mereka!"


"Sudah..."


Suara-suara itu menggema ketika Tania berada di ambang pintu. Hatinya sedikit goyah. Pasalnya itu adalah suara ibunya. Tetapi suara lain yang menyahuti ibunya itu bukan suara bapaknya.


Degggg


Sungguh hatinya bergetar. Tekadnya goyah, suara di balik pintu itu berat. Suaranya seakan bergemuruh menyelimuti rumah tempat mereka tinggal.


Lampu-lampu di dalam rumah mereka tiap malam selalu redup. Memang suatu kebiasaan keluarga mereka. Tetapi tiba-tiba Tania teringat bahwa dahulu ketika mereka masih belum kaya raya.


Keadaan dan seisi rumah mereka tidak sesuram ini. Hingga ketika Sang Bapak berhasil dalam salah satu bisnisnya lalu menjadi besar dan orderan semakin banyak memperkaya mereka.


Hingga kekayaan yang melimpah membuat jarak perlahan di antara mereka. Bahkan bapak dan Ibu mereka yang dahulu kala taqwa. Perlahan mulai jauh dari jalan Tuhan.


Mereka meninggalkan kewajiban seorang muslim, yaitu mendirikan sholat. Tania mencium bau anyir yang cukup menyengat. Dia kemudian mundur dari pintu kamar yang masih belum dia buka.


Vio memperhatikan kakaknya itu. Lalu ketika dia hendak bertanya kepada Tania. Tania menoleh ke arahnya lalu memberi isyarat padanya untuk diam.


Tania berjarak lima langkah dari pintu kamarnya. Suara riuh di bawah sana sudah tidak terdengar lagi. Di bawah celah pintu kamar mereka. Tania melihat bayangan.


Bayangan itu berhenti tepat di depan pintu kamar mereka. Berdetak jantung Tania rasanya ketika melihat dari celah bawah pintu terdapat kuku meruncing keluar dari sana.


Keringat dingin mulai keluar membasahi dahi Tania. Sungguh untuk saat ini dia benar-benar ketakutan. Entah sosok apa yang saat ini berdiri di balik pintu kamarnya itu.


Jari jemari hitam itu mulai menampakkan dirinya. Pertama kali yang membuat kedua gadis ini tercengang adalah jari jemari hitam itu besar bercakar hitam.


Lalu ketika pintu kamar mereka terbuka lebar. Nampaklah sosok itu. Dia mengeram dengan nafas beratnya. Kepala besarnya itu menoleh ke arah Tania dan Vio.


Kepalanya besar dipenuhi dengan bulu. Lidahnya menjulur sampai ke area pusar. Dia tinggi sekali hingga kepalanya hampir menyentuh atap-atap kamar mereka.


Kegelapan di dalam kamar mereka mendukung keberadaan sosok itu. Seakan menciptakan aura tegang dan takut bercampur menjadi satu.


Baik Tania dan Vio mereka berdua ketakutan hingga tidak bisa berkata apapun lagi. Hanya mata mereka yang terbelalak ketika menyaksikan satu sosok seram yang sedang berdiri beberapa langkah di depan mereka.


Kedua matanya seperti mata ular. Bahkan untuk sekedar berteriak meminta tolong pun Tania dan Vio tidak bisa. Karena terlalu takutnya.


Perlahan sosok itu mengerakkan tangannya. Dengan telunjuk besarnya itu dia menunjuk ke arah Tania.


"Tania!" lirih sosok itu bersuara diiringi Geraman.


Setelah mengatakan itu maka sosok itu pun menghilang dari hadapan mereka. Baik Tania dan Vio mereka berdua pun pingsan.

__ADS_1


Apa yang mereka alami itu dilihat melalui kemampuan Mas Suhu. Saat ini Mas Suhu sedang duduk di atas batu besar.


Dia sengaja memang mencari tempat sunyi untuk beberapa hari. Meditasi di alam terbuka itu cukup membantunya untuk mengumpulkan energi kembali.


Tentu saja dia tidak sendiri. Dia berada di hutan salah satu sebuah gunung. Dia bersama Bella.


Tapi, Bella tidak mengikutinya untuk bertapa. Bella lebih memilih tinggal di area camp. Namun sesekali dia juga menghampiri Mas Suhu.


Saat ini Bella berdiri di hadapan Mas Suhu. Pemuda itu mulai membuka matanya. Sudah sekitar sehari dia duduk di sana tanpa makan tanpa minum. Hanya memejamkan matanya layaknya orang bertapa.


"Sudah selesai?" tanya Bella kepada Mas Suhu yang sudah bangun. Bella membawakan beberapa roti dan minuman.


"Iya!" jawab Mas suhu kepadanya.


Mendengar itu Bella pun berjalan mendekat. Ketika dia sudah cukup dekat dengan Mas Suhu maka dia pun menyodorkan makanan dan minuman yang dia bawa kepada Mas Suhu.


"Makanlah!" ucap Bella.


Mas Suhu mengangguk lalu mengambilnya. Kepalanya saat ini dipenuhi oleh apa yang dia lihat di dalam pertapaannya. Dia seperti mengenali kedua anak itu. Tetapi di mana dan siapa, dia benar-benar tidak ingat.


Bella memperhatikan Mas Suhu yang diam saja sejak tadi. Sepertinya ada yang salah dengan Mas Suhu.


"Kamu kenapa?" tanya Bella padanya.


"Huh!" pekik Mas Suhu kemudian menatap Bella.


Mas Suhu lalu menggelengkan kepalanya.


"Ndak papa Bel!" jawab Mas suhu kepadanya.


Mas Suhu kembali menyantap roti yang Bella berikan. Ketika sunyi mulai menyambut. Mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang bapak-bapak yang keluar dari semak-semak.


"Tolong!" pekik Bapak itu lalu tersungkur.


Melihat itu, maka Mas Suhu dan Bella pun langsung menghampirinya. Tempat di mana Mas Suhu bertapa ini jauh dari jalur pendakian.


"Anda kenapa Pak?" tanya Bella padanya.


Mas Suhu memapahnya lalu membawanya ke arah batu tempatnya duduk. Mas Suhu memberikan minumnya kepada bapak itu. Kemudian dengan lahap bapak itu pun meminumnya.


"Kedua putri saya, dalam bahaya Mas! Saya sedang mencari perlindungan untuk anak-anak saya! Tolong saya, Mas!" ujar Bapak itu.


Mas Suhu pun teringat akan apa yang dia lihat sewaktu bertapa tadi. Kemudian khodam miliknya Sang Pangeran itu pun berkata,

__ADS_1


"Suhu, dia lah orang itu! Dia lah pemuja pohon beringin itu. Dia bapak dari dua anak perempuan yang kamu lihat. Keluarganya saat ini sedang terancam oleh sosok yang kamu lihat. Dia datang mencari perlindungan untuk putrinya! Sosok itu akan membunuhnya juga nanti!" ujar Pangeran kepada Mas Suhu.


Tentu saja Bella juga bisa mendengar apa yang Pangeran itu katakan. Pemuja pohon beringin katanya. Artinya ini ada kaitannya dengan keserakahan manusia. Juga terkait kasus pesugihan yang sudah cukup parah.


__ADS_2