Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 122: Rumah Duka (Ruang Nomor 2)


__ADS_3

Saat ini rombongan Cak Dika sudah sampai di kota tempat kelahiran Rachel dan Marsya.Tempat mereka juga besar di sana.


Stasiunnya cukup padat siang ini. Terik mentari di atas sana masih gagah menerpa kota itu. Laras tidak ikut dengan mereka.


Katanya, mereka sedang sibuk menyusun acara pertunangan. Anggota mereka berkurang dua orang sekarang.


"Jan... Panas men Mas!" ujar Rahman melepas topi yang dia kenakan lalu mengkipas dirinya menggunakan topi itu.


"Iyolah! Panas sekali Iki!" timpal Mas'ud.


Cak Dika tersenyum mendengar itu. Dia menghampiri keduanya lalu merangkulnya. Ini adalah panggilan dari Ibunda Rachel. Cak Dika sangat dekat dengan Ibundanya Rachel. Sudah seperti Ibunya sendiri rasanya.


"Semangat! Iki Mamak sing jalok!" ucap Cak Dika memberi keduanya semangat.


"Huh... Iyowes gas lah!" ujar Rahman pada Cak Dika.


Kemudian ketiga pemuda itu berjalan lebih dulu meninggalkan para gadis di belakang yang sejak tadi memperhatikan tingkah mereka.


"Cak Dika itu tiap kali mama kalian yang minta tolong kenapa selalu semangat?" tanya Rara pada Rachel dan Marsya.


Kedua mata Rara tidak lepas dari punggung Cak Dika yang membelakanginya. Pertanyaan itu tentu membuat dua saudara kandung yaitu Marsya dan Rachel sejenak saling tatap. Setelah itu keduanya pun tersenyum.


"Karena dulu kami tinggal satu rumah lama sekali. Cak Dika dan Bella dekat sekali dengan Ibunda kami. Cak Dika belajar mengendalikan kemampuannya juga atas bantuan Ibunda!" jelas Rachel padanya.


Rara tersenyum mendengar itu. Melissa di belakang mereka sejak tadi hanya bisa mendengar percakapan itu. Ketika mereka sampai di stasiun ini. Hawa mistis di sini sangat kuat.


Melissa dapat melihat beberapa kuntilanak berterbangan di atas atap stasiun. Sedangkan di samping Melissa ada Bella. Yang sejak tadi sibuk memotret atap stasiun.


"Kenapa kamu memotret mereka?" tanya Melissa pada Bella di sampingnya.


"Bagus ini! Mana tau nanti bisa aku comblangkan salah satunya sama penghuni rumahnya Ibunya Rachel!" jawab Bella asal.


Jawaban itu tentu membuat Melissa menggelengkan kepalanya. Sungguh random sekali Bella ini menurutnya.


"Terus gimana nikahnya?" tanya Melissa padanya.


Bella hanya tersenyum. Kemudian dia mendahului Melissa. Dia tidak menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


Mereka kini sudah tiba di depan stasiun. Beberapa waktu lalu saat di Kereta. Ibunda Rachel sudah mengirimkan lokasi di mana dia saat ini.


Mereka sedang menunggu jemputan Gojek yang sudah mereka pesan beberapa saat lalu. Sekian lama menunggu. Akhirnya gojek itu pun datang.


Ada tiga mobil gojek yang mereka pesan. Ketika mobil itu sampai tepat di hadapan mereka. Mereka pun masuk ke dalam. Perjalanan pun di mulai menuju ke tempat di mana Ibunda Rachel mengirimkan lokasi.


Mobil mereka bergerak dengan kecepatan sedang. Mereka menikmati jalanan melalui kaca mobil. Selang empat puluh lima menit. Mobil mereka hampir sampai menuju lokasi yang diberikan oleh Ibundanya Rachel.


Rachel dan Marsya menyipitkan matanya kala itu. Tak hanya mereka yang dibuat terkejut di sana. Sebuah bangunan putih besar.


Bangunan itu adalah tempat di mana mayat di kremasi. Tempat peristirahatan mayat.


"Kenapa Ibunda manggil kita kemari?" tanya Marsya sambil memperhatikan bangunan besar itu dari balik kaca.


"Bukannya orang Islam itu tidak perlu di kremasi ya?" tanya Melissa pada semua orang yang ada di mobilnya.


Hanya Melissa saja di sini yang agamanya beda dengan mereka. Tapi Melissa tau bahwa orang Muslim itu tidak perlu di kremasi.


Setelah pertanyaan itu diajukan. Barend CS di sampingnya mulai menampakkan diri. Di sana mereka juga menatap lama bangunan itu. Lantas Barend sosok setan Belanda yang paling muda itu berkata,


"Banyak orang asing di sana! Inlander minim di sana. Aku lihat ada beberapa Nippon juga berkeliaran!" ujar Barend menjelaskan.


Ketika mobil mereka berhenti. Untuk menjawab keraguan mereka. Mau tak mau mereka semua pun turun dari dalam mobil. Mereka bergerombol dan masih menatap bangunan itu.


"Seingatku Ibunda hanya seorang pemandu Jenazah! Ini rumah duka. Biasa untuk kremasi. Orang non muslim yang di kremasi di sini!" ujar Rachel.


Thariq melipat kedua tangannya mendengar itu. Thariq mencoba memejamkan kedua matanya. Dia mulai mendapatkan satu gambaran.


Gambaran itu menuntun dia menelusuri lorong yang teramat sangat tepi. Sekelebat bayangan di ujung lorong sana menyita perhatiannya. Lantas dia pun menengok ke arah ujung lorong itu.


"Anak-anak Belanda itu mencoba menuntunku!" ujar Thariq masih terpejam.


Suara baritonenya membuat Gautama Tim lantas memperhatikannya. Mereka saat ini sedang berdiri di depan pintu masuk gedung itu.


Mereka diam memperhatikan Thariq yang terpejam. Setelah Laras hanya Thariq saja yang mampu menjelajahi masa lalu.


"Aku dituntun masuk ke dalam lorong! Remang pencahayaannya. Kiri kanan lorong itu ada banyak pintu. Di depannya bertuliskan Ruang satu... Ruang dua... Ruang tiga dan seterusnya!" jelas Thariq.

__ADS_1


Di dalam penjelajahannya. Barend dan Albert berhenti tepat di sebuah pintu. Ini ujung lorong. Pintu itu bertuliskan Ruang Nomor Dua (Jenazah yang Tidak Ingin Mati).


Di sana Barend dan Albert yang memunggungi Thariq pun berbalik. Wajah mereka yang biasanya bersih Thariq lihat.


Di sana dalam penglihatannya. Wajah itu menjadi sangat kacau. Ya, itu adalah rupa ketika mereka mati. Sedangkan wajah yang biasanya Thariq lihat adalah wajah semasa mereka hidup.


Walaupun wajah itu pucat tapi masih layak di pandang. Tidak seperti saat ini. Bersimbah darah penuh dengan luka.


"Thariq!" panggil Barend padanya.


"Ya?" tanya Thariq padanya.


"Kami tidak ingin masuk ke dalam sana! Sebab ada dendam yang membara. Kami takut masuk ke sana. Tetapi di sana ada manusia yang mati karena dibunuh. Arwahnya marah! Dia menyeramkan!" jawab Barend menjelaskan.


"Thariq, jika kau masuk ke dalam kau akan diceritakan perihal kenapa dia bisa mati! Sejak datang pria tua itu terus menyuruh kami untuk membawamu kemari. Maka lihatlah dia!" jelas Albert.


Kemudian kedua anak setan itu hilang sekejap. Meninggalkan Thariq seorang diri di sana. Thariq memberanikan kakinya maju.


Sebelum dia melanjutkan aksinya. Thariq membaca basmallah dalam hatinya. Lalu telapak tangan kanannya di letakkan tepat di depan pintu itu.


"Thariq!"


Panggil satu suara. Dalam sekejap, Thariq melihat satu kejadian. Di mana seorang kakek tua dibentak oleh seorang perempuan.


Sambil membawa surat di tangannya entah surat apa itu. Perempuan itu terus berteriak memakinya. Kakek tua itu tak berdaya bersandar di kepala ranjangnya.


Dengan penuh air mata dia menangis memohon kepada perempuan itu untuk tidak menganiayanya lagi.


Namun sayang, setan itu menguasainya. Perempuan itu menampar bahkan memukulnya. Bibir kakek tua itu berdarah.


Sebab sudah tidak tahan pada akhirnya kakek tua itu pun menanda tangani surat itu. Adegan beralih ke sebuah panti asuhan. Di mana kakek tua itu berada di sana saat ini. Pandangannya kosong sedih wajahnya.


Mendadak api muncul. Thariq memperhatikan sekitar. Semua yang ada di sana adalah orang tua. Yang artinya itu adalah panti jompo. Dan kakek tua itu sepertinya mengalami nasib buruk.


Api membakar habis ruangan itu. Kakek tua itu masih di sana. Thariq melihat tubuh kakek tua itu terbakar. Lantas dengan tubuh berapi-api. Kakek tua yang membelakangi Thariq itu pun berbalik.


Tubuh itu berjalan ke arah Thariq dengan api yang mulai memudar. Ketika mereka saling berhadapan. Di sini lah Thariq dapat melihat wajah kakek tua itu.

__ADS_1


"Nak... Saya dibuang oleh anak saya. Saya dipaksa menjual rumah saya. Saya sakit hati nak! Dia saya besarkan sepenuh hati. Dia anak tunggal tetapi meninggalkan saya seorang diri di dalam panti asuhan hingga mati terbakar. Jika suaminya saat ini ingin Tasya anak saya segera di makamkan. Maka bawalah jenazahku juga. Makamkan kami berdampingan!" jelas kakek tua itu.


Ketika Kakek tua itu menjabat tangan Thariq. Thariq melihat Tasya yang mati sebab ledakan tabung gas. Dan itu ada hubungannya dengan cerita ibundanya Rachel.


__ADS_2