
Beberapa setelah tugas dari Ibunda Rachel terpenuhi. Gautama Family ini memilih untuk beristirahat di kediaman Ibundanya Rachel.
Jika dihitung ini sudah sekitar satu Minggu mereka berada di sana. Mereka di sana tidak hanya bersantai saja Namun beberapa orang kampung berdatangan ke sana.
Beberapa dari mereka ingin melihat artis You Tube yang terkenal itu. Beberapa dari mereka ada juga yang datang untuk berobat.
Atasan mereka juga mengijinkan mereka untuk istirahat sejenak. Sebab salah satu Vidio yang mereka upload saat itu tenar. Mereka meraup banyak penghasilan dari sana.
Siang ini Rara dan Cak Dika duduk di sebuah pos gubuk desa. Pos gubuk itu terletak di dekat sawah tepatnya di jalanan poros.
Mereka baru saja pergi ke kota untuk berbelanja sesuatu tadi. Ketika mereka akan pulang. Cak Dika meminta Rara untuk menemaninya menikmati alam.
Ya, jika dia pulang cepat maka di kediaman Rachel akan ada banyak sekali manusia yang mengantri.
"Laposeh Cak, Ndak langsung moleh ae?" tanya Rara pada Cak Dika yang masih menikmati area persawahan yang hijau padinya.
(Kenapa sih Cak, gak langsung pulang aja?)
"Pie Yo? Nek aku moleh akeh wong antri! Aku butuh istirahat dek Yoan!" jawab Cak Dika pada Rara.
(Gimana ya? Kalau aku pulang banyak orang antri! Aku butuh istirahat juga dek!)
Rara terkekeh mendengar itu. Tawa renyahnya mengundang Cak Dika mengalihkan pandangannya ke arah Rara.
Sepoi angin siang itu menyibak rambut sebahu milik Rara. Membiarkan rambut itu berkibar ke sana ke mari tanpa arah. Satu kata dalam pikiran Cak Dika saat ini.
Cantik!. Pikirnya sambil tersenyum melirik Rara.
Ketika tawa itu selesai. Rara juga mengalihkan pandangannya ke samping. Dan dia melihat itu. Cak Dika menatapnya sambil tersenyum.
Rara menaikkan salah satu alisnya. Sedangkan Cak Dika masih setia menatapnya tak bergeming sama sekali bagaikan orang yang terhipnotis.
"Hei!" panggil Rara padanya.
Namun tak ada jawaban dari Cak Dika. Ketika Rara melambaikan kedua tangannya di depan Cak Dika sambil memanggil-manggil namannya. Cak Dika pun tersadar dari lamunannya.
"Astaghfirullah!" pekik Cak Dika mengalihkan pandangannya ke depan.
Rara menatap aneh ke arah Cak Dika saat itu. Manusia itu benar-benar aneh menurutnya.
"Kamu lagi lihatin opo, Cak?" tanya Rara padanya.
Cak Dika diam mendengar itu.
__ADS_1
"Dia sedang melihatmu, Ra!" ujar satu suara anak kecil di sampingnya.
Rara menoleh ke samping. ditemukannya Albert yang duduk melayang di sampingnya. Sejak kapan hantu Belanda ini berada di sini? Bukankah biasanya mereka rombongan?
"Kamu sejak kapan di sini?" tanya Rara padanya.
Cak Dika mengalihkan netranya ke samping. Dia juga melihat itu. Albertus Van Colline sedang berada bersama mereka. Entah sejak kapan setan Belanda itu ikut bersama mereka.
"Cak Dika!" panggil Albert padanya.
Cak Dika hanya menaikkan salah satu alisnya mendengar itu. Dia tidak menjawab dan hanya memberikan isyarat. Lantas Albert pun tersenyum.
"Aku datang membawa sebuah pesan untuk kalian!" ujar Albert padanya.
Keduanya lantas menatap ke arah Albert. Raut wajah penuh pertanyaan itu membuat Albert sumringah.
"Pesan ini dari orang rumah yang sedang menunggu kepulangan kalian!" ujar Albert lagi.
"Ada satu kasus baru! Perihal sebuah motor bekas orang mati. Saat ini motor itu ada di tangan salah satu anak muda. Di mana anak muda itu terjebak pada keinginan setan pemilik motor itu!" jelas Albert padanya.
"Maksudnya?" tanya Rara tak paham.
Albert mengangguk mendengarnya.
"Ya... Pemilik motor itu sebelumnya mati. Dan motor itu dibeli oleh seorang pemuda. Ketika motor itu bersamanya dia banyak mengalami kejadian aneh. Dan mendapat ancaman. Jika dia tidak melakukan balapan maka dia akan terancam mati! Seperti pemilik motor sebelum dia!" jelas Albert padanya.
Sudah waktunya bagi mereka untuk mengembara lagi. Membantu mereka yang mendapat gangguan oleh makhluk tak kasat mata.
"Baiklah! Makasih informasinya! Kami akan segera kembali!" ucap Cak Dika pada Albert.
Albert mengangguk mendengar itu. Perlahan tubuh itu mulai memudar dan hilang dari sana.
Bersamaan dengan itu nampak dua orang pemuda datang sambil mengendarai motor. Cak Dika tersenyum.
Sepertinya dia tidak perlu memesan gojek di sini. Sebab pak ojek sudah datang secara manual.
"Wah Ndak perlu buka hp ini dek!" ujar Cak Dika sambil memperhatikan dua motor yang datang mendekat ke arah mereka.
"Iyo, Ndak perlu. Alhamdulillah!" ucap Rara.
Ketika motor itu semakin dekat ke arah mereka. Mereka pun melambaikan tangan ke arah dua orang pengemudi itu.
Benar saja pengemudi itu adalah ojek. Dengan senang hati mereka mengantar Cak Dika dan Rara pada alamat yang mereka inginkan.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian mereka pun sampai tepat di kediaman Ibundanya Rachel. Rumah itu sepi.
"Wih tumben kok sepi?" tanya Cak Dika entah pada siapa.
Aneh rasanya ketika melihat halaman rumah itu sepi. Biasanya akan ada banyak sekali para manusia yang mengantri.
Rara juga sedikit heran di sana. Namun ketika matanya mulai mencari-cari sumber kehidupan. Matanya berhenti menatap ke arah satu papan bertuliskan Koset.
Di situ Rara menaikkan salah satu alisnya. Koset, adalah Keset. Dalam bahasa Jawa mereka membacanya Koset.
"Kok Koset Cak?" ujar Rara sambil menunjuk ke arah papan yang diletakkan tepat di depan pintu.
Cak Dika mengikuti arah tunjuk Rara dan di sana dia terkekeh. Cak Dika hafal sekali itu tulisan siapa. Itu adalah tulisan ibundanya Rachel.
Dia tau sekarang apa maksud dari papan itu. Mungkin Ibundanya Rachel kesal sebab rumahnya selalu ramai. Itulah mengapa papan itu berada di sana.
"Kamu tau Ndak dek apa maksud e iku?" tanya Cak Dika susah payah menahan tawanya yang ingin meledak.
"Apa?" tanya Rara bingung ketika melihat Cak Dika begitu bahagia menatap ke arah papan itu.
"Ya Allah... Gak sanggup aku!" ujar Cak Dika. Tawanya pun meledak juga.
Dan di sana Rara semakin menatapnya aneh.
"Nek opo Cak?" tanya Rara padanya.
"Ibuk e Rachel iku! Pingin nulis Closed. Karena Ibunda orang Jawa. Jadilah tulisannya menjadi Koset! Masyaallah... Humorku!' ujar Cak Dika pada Rara.
Rara yang mendengar penjelasan itu tentu saja ngakak setelahnya. Keduanya pun dengan bahak tawa berjalan ke arah pintu masuk.
Membuka pintu lalu masuk ke dalam. Di dalam mereka berhenti tertawa ketika melihat banyak sorot mata menatapnya.
"Kenapa kalian menatap kami seperti itu?" tanya Cak Dika padanya.
Seluruh rekan yang tengah sibuk membahas kasus selanjutnya itu pun serentak berkata,
"Kon iku pacaran ae!" ucap mereka serentak.
Baik Cak Dika dan Rara keduanya langsung memerah. Namun itu hanya beberapa saat. Rara masuk ke arah dapur untuk menaruh barang belanjaan
Ketika barang belanjaan sudah ditaruh dia pun kembali ke ruang tamu. Mereka sama-sama membahas perihal problem baru yang akan mereka selesaikan.
"Jadi besok kita ke Tuban! Masalah ini berhubungan dengan balap liar!" ucap Rahman menjelaskan.
__ADS_1
"Oke!" ucap semuanya menyepakati.
Ada kasus sama dengan healing. Misteri perihal Setan Herex akan segera mereka kuak di Tuban.