Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 25: Gunung Arjuno 1 (Budal)


__ADS_3

Hari pun berganti esok. Seperti yang sudah dikatakan oleh Cak Dika. Bahwa tepat pukul dua belas siang mereka akan berangkat menuju gunung Arjuno.


Saat itu Bella sedang memeriksa beberapa logistik yang ada dalam tas milik saudara-saudaranya. Sedangkan saudaranya saat ini sedang berada di ruang makan.


Tas besar itu sebut saja Carrier. Mereka membawa empat Carrier di sini. Carrier pertama adalah miliknya Cak Dika, berisi perabotan masak juga tenda. Beratnya kira-kira sekitar empat kilo.


Carrier kedua adalah miliknya Rachel, berisi logistik makanan dan air mineral. Carrier ketiga adalah miliknya Marsya, berisikan kotak P3K, selimut, pakaian dan beberapa alat untuk tidur.


Carrier keempat adalah miliknya Bella. Dia membawa camera dan beberapa alat canggih lainnya. Seperti drone, tripod, headlamp dan trekking pole.


Dalam naik gunung keperluan harus dipersiapkan secara matang. Sebab di atas nantinya adalah Belantara luas.


Tidak pedagang gado-gado di sana. Apapun juga bisa saja terjadi. Hewan buas, ular bisa saja ada di sana. Safety itu penting.


Hobi Hiking bukanlah satu hobi yang dilakukan secara asal-asalan.


Sepuluh menit lagi jam tepat menunjukkan pukul dua belas siang. Perjalanan dari rumah Laras menuju ke arah Basecamp Arjuno-welirang memakan waktu sekitar satu jam.


Cak Dika yang baru saja keluar pun masuk ke dalam. Cak Dika baru saja selesai memanaskan mesin mobil yang akan mereka pakai.


Setibanya di ruang tamu dia melihat Bella di sana sedang mengecek satu persatu Carrier. Tepat di samping Bella ada salah satu setan Belanda.


Setan itu melihat ke arah Cak Dika. Setan Belanda ini bernama Albertus Van Colline. Netherland yang mati sebab ditembak berulang kali kepalanya oleh Nippon.


"Mangga Cak!" sapa setan itu pada Cak Dika. Cak Dika yang sudah akrab dengan Albert hanya mengangguk lalu tersenyum. Kemudian ia kembali menatap pada Bella di sana yang masih sibuk.


"Mobilnya Laras udah siap! Arek-arek udah siap juga, kan?" tanya Cak Dika pada Bella di sana.


"Iya, kita baru selesai makan tadi! Tinggal berangkatnya aja!" jawab Bella tanpa mengalihkan tatapannya dari tas Carrier. Dia masih sibuk di sana.


"Yowes, logistik udah aman semua?" tanya Cak Dika lagi.


Bella mengangguk mendengar itu . Seluruh logistik dan barang bawaan sudah aman. Sudah cukup dan pas untuk mendaki dua hari di atas gunung. Sudah saatnya bagi mereka untuk jalan.


"Logistik aman! Ayo berangkat!" teriak Cak Dika setelah melihat anggukan dari Bella.


Mendengar suara Cak Dika yang berteriak. Rachel dan saudara-saudaranya yang masih bercengkrama di meja makan pun sontak berdiri.


Waktu santai mereka sudah habis. Sudah waktunya bagi mereka menyelesaikan tugas. Ah iya, di sini Laras dan Aldo juga ikut serta.

__ADS_1


Jika punggung saudara yang lain membawa beban berupa tas Carrier besar. Maka Aldo, dia menggendong Laras. Karena tidak mungkin membiarkan Laras berjalan seorang diri di antara Belantara gunung.


Netranya melihat saja sudah sangat buram. Jika malam menjelang kekasihnya itu pasti tidak mampu melihat apapun. Aldo yang peka, memilih menggendong Laras saja sampai lokasi yang ingin mereka tuju.


Sambil membawa tas Carrier mereka berjalan ke arah halaman. Satu mobil Alphard terparkir di sana. Itu adalah mobil milik Laras. Lebih tepatnya milik Ayahnya.


Sebelum mereka masuk ke dalam. Marsya melihat Barend di samping Rachel menangis. Tapi air matanya tidak keluar.


"Di sana berbahaya! Kenapa kamu pergi?" tanya Barend di hadapan Rachel.


Rachel yang menunduk memperhatikan setan cilik itu. Lalu dia berseringai. Sebab lucu, karena tangisannya sama sekali tidak mengeluarkan air mata.


"Kenapa dia?" tanya Marsya pada Rachel.


"Gak tau juga? Tiba-tiba muncul terus nangis, kan lucu!" jawab Rachel padanya.


Dari kejauhan Bella nampak memperhatikan itu. Lalu dia menyuruh Albert selaku sesama Belanda untuk menghibur atau setidaknya mengajak Barend ikut bersamanya.


"Ikut saja!" ucap Albert ketika berada tepat di samping Barend yang menangis.


"Tapi di sana banyak setannya!" ucap Barend polos dan masih menangis.


Baik Marsya dan Rachel tertawa mendengar itu. Dia baru saja menyebut nama Setan. Lalu dia ini apa? Padahal dia juga setan di sini.


"Mereka sedang menertawakan kamu! Kamu tenang saja, Nyai Ratu itu tidak akan membiarkan kita dimakan oleh mereka. Dika dan Marsya pasti akan melindungi kita!" jelas Albert pada Barend.


Mendengar itu perlahan Barend pun mengangguk. Dia setuju untuk ikut bersama mengeksplorasi gunung. Setelah itu kedua Netherlands itu menghilang dari hadapan mereka.


Salah satu gunung Jawa yang katanya angker menurut warga sekitar. Bisa dikatakan bahwa Arjuno ini setara dengan Lawu.


Aldo membuka bagasi mobil belakang. Di sana tas-tas Carrier mulai ditaruh.


Setelah seluruh barang bawaan sudah ditata dan memastikan sebentar bahwa tidak ada yang tertinggal. Mereka pun masuk ke dalam mobil.


Kali ini sopirnya adalah Aldo. Dan yang duduk di samping sopir adalah Cak Dika. Laras memilih duduk di belakang bersama dengan saudara-saudaranya.


Mobil mereka berangkat. Cuaca saat itu sangat cerah. Tidak ada awan-awan mendung yang datang menghiasi langit. Altar angkasa itu cerah.


Cahaya matahari yang perkasa siang itu begitu menusuk. Tetapi, ketika mobil mereka mendekati area gunung. Hawa panas perkotaan perlahan tergantikan oleh dinginnya.

__ADS_1


Semakin kita ke atas semakin dingin pula hawanya. Kira-kira mereka sudah hampir sampai. Jam tepat menunjukkan pukul satu siang kurang.


Pepohonan rimbun di samping kanan cukup memanjakan mata mereka. Sedangkan di samping kiri terdapat jurang yang menampakkan perkotaan.


Di dalam mobil sesekali mereka bercengkrama ala kadarnya. Guyonan Jawa, pisuh-pisuhan dan tak jarang mereka juga membahas perihal buyut.


Perlahan mobil mereka mulai masuk dalam sebuah gapura. Tepat di atas gapura itu bertuliskan Pendakian Gunung Arjuno Via Lawang.


Mobil mereka masuk perlahan ke dalam gerbang itu. Ada satu manusia yang berisi di sisi kiri jalan itu. Mobil mereka berhenti sejenak tepat di sisi orang itu. Cak Dika membuka kaca mobil miliknya.


"Assalamualaikum Pak!" sapa Cak Dika sambil tersenyum.


Bapak itu tersenyum juga membalasnya. Kepalanya mengangguk.


"Waalaikumsalam Mas, mau mendaki? Berapa orang mas?" tanya orang itu pada Cak Dika.


"Nggih Mas, mau mendaki! Ada enam orang Mas, dua cowok empat cewek!" jelas Cak Dika padanya.


"Oh Nggih Mas, silahkan ini nanti kalau mau ke parkiran lurus terus aja nanti kelihatan kok!" ucap orang itu.


"Oh baik Mas, terima kasih nggih!" ucap Cak Dika.


Setelah berpamitan pada Bapak itu mereka pun segera masuk lebih jauh ke dalam. Dan benar saja, tak beberapa parkiran pun mulai terlihat.


Di sana Aldo mulai memarkirkan mobil mereka. Rupanya untuk sampai ke Basecamp mereka harus berjalan kaki.


Saat mereka keluar dari dalam mobil. Mereka langsung menuju ke bagasi belakang. Membukanya lalu mengambil satu persatu tas Cartier milik mereka.


Setelah membayar parkir. Mereka pun sudah siap untuk berangkat menuju Basecamp. Seperti biasa, Aldo menggendong Laras di sini.


Keluarga Gautama yang peka terhadap hal-hal ghaib. Kesan pertama mereka ketika berpijak di atas tanah ini adalah. Hawa mistisnya sangat kuat.


Bunyi serangga-serangga kecil mulai terdengar ketika tubuh mereka masuk lebih jauh ke dalam hutan.


Beberapa anak muda dari arah berlawanan menyapa Cak Dika dan rombongannya. Para pendaki memang ramah.


Cukup lama sekitar lima belas menit mereka berjalan. Pada akhirnya basecamp pendakian mulai terlihat. Bella yang sudah biasa naik turun gunung pun mencoba memimpin di sini.


Bella masuk ke dalam basecamp itu untu membayar dan mengurus perijinan. Ketiak seluruh biaya naik sudah dibayar Orang di Basecamp mulai membimbing mereka.

__ADS_1


Sambil membawa selembar peta gunung Arjuno. Orang itu berdiri memperkenalkan satu persatu nama jalur dan pos yang ada di dalam peta itu.


Sekitar setengah jam mereka mendengarkan itu. Sejujurnya Bella sudah pernah kemari bersama rombongannya dulu. Ini gunung yang Bella kunjungi sebelum tragedi matinya Rio.


__ADS_2