Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 103: Gedung Tua Hampir Terbengkalai


__ADS_3

Seorang lelaki dengan topi khas tulang bangunan melempar lembaran kertas. Dia lalu jatuh bersimpuh di hadapan gedung tua yang cukup tinggi itu.


Lelaki itu mencengkram tanah. Pasir di bawah sana masuk ke sela jarinya mengotorinya. Lelaki ini bernama Bayu, seorang kontraktor.


Dan beradanya dia di sini adalah membuat gedung tinggi itu menjadi bangunan layak huni dan digunakan semestinya.


Kontraktor adalah Penyedia Jasa Konstruksi. Kontraktor adalah perorangan atau badan hukum yang dikontrak atau disewa oleh pemilik proyek untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan perjanjian kontrak yang telah disepakati dan sesuai dengan keahliannya.


Namun tenggat waktu perjanjian hampir habis. Banyak sekali para pekerjanya yang sering jatuh kecelakaan di sini.


Akibatnya gedung ini tidak bisa selesai pembangunannya dengan cepat. Banyak sekali orang pintar yang dibawa kemari. Namun tidak satu pun orang pintar yang datang mampu mengatasi masalah yang ada di sana.


"Sialan sekali kuyangnya ya, Pak?" ujar satu suara dari balik punggung Pak Bayu.


Mendengar suara manusia lain di sana. Pak Bayi pun lekas menoleh. Berdirilah Rachel di sana bersama dengan Thariq di sampingnya.


Thariq hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah pada Pak Bayu. Sedangkan Rachel, dia tidak menatap Pak Bayu.


Rachel menatap leka ke arah gedung yang berdiri megah di depannya itu. Perkiraan Rachel gedung ini ada sekitar dua puluh lantai.


"Kalian siapa?" tanya Pak Bayu yang langsung berdiri.


Thariq menghampiri Pak Bayu lalu mengulurkan tangannya mengajaknya berkenalan.


"Saya Thariq, Pak! Dan ini adalah Rachel! Apa bapak tau Gautama Family? Kita berdua ini salah satu dari mereka!" jelas Thariq pada Pak Bayu.


"Ya Allah!" pekik Pak Bayu dengan kedua mata berbinar.


"Benar kamu yang ada di YouTube itu, nak?" tanya Pak Bayu pada Thariq, dia masih belum percaya.


Rachel yang sejak tadi berdiri di sana sambil memejamkan kedua matanya pun mulai merasakan kehadiran sesuatu. Letaknya ada di lantai lima belas.


"Ada sesuatu di lantai lima belas! Thariq, bisa kita ke sana?" tanya Rachel membuka kedua matanya lalu menoleh ke arah Thariq dan Pak Bayu yang sedang berbincang.


Thariq tersenyum tipis lalu dia mengangguk. Sebelum mereka berdua bergegas masuk. Pak Bayu menahan pergelangan tangan Thariq. Itu membuat Thariq dan Rachel menoleh menatapnya.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" tanya Thariq pada Pak Bayu.


Nampak di sana raut wajah Pak Bayu begitu khawatir.


"Nak, di atas sana sangat seram! Laporan dari para pegawaiku yang jatuh kecelakaan. Mereka sering diganggu ketika bekerja. Gangguan di atas sana sangat ekstrim. Aku mungkin akan mengalami kebangkrutan sebab rekonstruksi bangunan ini tidak selesai sebelum deadline. Tapi, sudah banyak nyawa yang terancam akibat sesuatu yang ada di atas gedung ini!" jelas Pak Bayu pada mereka.


Rachel tersenyum tipis mendengar itu. Dia adalah maskot. Kemampuannya tidak sama seperti yang dulu.


Jika dulu dia hanya mampu berlindung di belakang tubuh Cak Dika. Maka sekarang dia bisa seperti Cak Dika.


"Tenang saja Pak! Saya akan berusaha membantu Bapak! Jika bapak takut, Bapak tunggu saja di sini! Kami akan naik!" ujar Rachel meyakinkan.


Sejenak Pak Bayu menatap Rachel. Terpancar tekad kuat ada dalam diri Rachel. Itu membuat Pak Bayu yakin bahwa baik Rachel dan Thariq keduanya mampu melakukan itu.


"Baiklah nak, tolong hati-hati ya!" ucap Pak Bayu mengingatkan.


Thariq dan Rachel pun mengacungkan kedua jempolnya. Dengan bacaan Basmallah. Keduanya pun masuk ke dalam gedung yang hampir terbengkalai itu.


Sebenarnya jika kita bicara perihal gedung kosong dan kuburan. Para indigo akan mengatakan bahwa gedung itu lebih seram dibandingkan dengan kuburan.


Sebab mereka yang berada di kuburan. Makhluknya akan sibuk dengan urusan masing-masing. Berbeda dengan mereka yang ada di dalam gedung. Makhluknya akan senang mengganggu dan akan ekstrim gangguannya.


Awal pertama kali mereka berpijak di lantai paling dasar ini mereka disambut dengan rombongan bidadari ghaib.


Beberapa dari mereka tertawa melihat kehadiran Rachel dan Thariq. Namun tak ada satupun dari mereka yang berani mendekat.


"Rachel!" sapa Barend yang lagi-lagi muncul secara tiba-tiba dari bawah kaki Rachel.


"Astaghfirullah... Anak setan ini!" ucap Rachel sambil menunduk melihat wajah Barend yang menyembul dari dalam tanah.


Barend tertawa mendengar itu. Kemudian dia kembali terbang hingga berhadapan langsung dengan Rachel.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Thariq pada Barend yang saat ini ada di hadapan mereka.


"Aku tidak mau kamu naik ke atas! Di sana berbahaya, di sana pusat ritual!" jelas Barend padanya.

__ADS_1


Rachel menaikkan salah satu alisnya.


"Pusat ritual?" tanya Rachel padanya.


Barend mengangguk dengan polosnya. Tak lama beberapa hantu Belanda yang lain juga ikut menampakkan diri. Ada Melissa, Gelanda dan Albert.


"Kalian rombongan!" ucap Rachel tersenyum tipis tak percaya melihat kehadiran mereka.


"Iya Hel! Kami ingin menemuimu sebelum pulang! Tapi, kamu malah terjebak di sini demi untuk menolong orang lagi!" jelas Melissa padanya.


"Iya, aku merasa kasihan dengan beberapa korban yang jatuh akibat ulah dari setan di atas sana!" jelas Rachel padanya.


Melissa mengangguk dia ini hantu tertua di antara Barend, Albert, dan Gelanda. Semakin tua umur hantu maka semakin sakti pula dia.


"Aku akan menemanimu Rachel!" ujar Melissa.


Setelah Melissa mengatakan itu beberapa hantu Belanda lainnya pun menghilang. Rachel mengangguk kemudian dengan tour guide Melissa. Mereka berjalan masuk semakin dalam menuju ke atas gedung.


Ragam hantu bertenggeran di sana. Banyak material yang berceceran. Tidak tersusun rapi. Ini lantai lima dan di sini kosong tak ada siapapun.


Bahkan penghuni di lantai lima ini pun tidak ada. Benar-benar bersih kosong. Sejak tadi di belakang pun Thariq sama sekali tidak mendapatkan gambaran.


Biasanya jika ada sesuatu yang aneh di dalam sebuah gedung. Sesuatu yang cukup tragis pernah menimpa sebuah bangunan. Maka Thariq akan mampu masuk mendapatkan gambaran perihal masa lalu gedung itu.


"Aku gak ngerasain apa-apa hel!" ujar Thariq pada Rachel.


Rachel hanya menoleh sekilas lalu mengangguk. Jauh di lantai lima belas tiga orang paruh baya sedang memejamkan kedua matanya.


Keberadaan Rachel di dalam gedung ini mereka tau. Salah satu di antara mereka terbujur kaku. Kedua matanya terbuka sambil menatap langit-langit gedung.


Dia yang terbujur ini lebih tua daripada dua orang paruh baya ini.


"Sang Maskot! Bakalan tak akhiri koe nak kene!" ujar salah satu di antara mereka.


(Sang Maskot! Akan ku akhiri kamu di sini!)

__ADS_1


Dia seorang wanita dengan sesajen di depannya. Ya, ketiga orang ini adalah keluarganya Aldo. Dendam mereka saat itu masih belum usai.


__ADS_2