
Mereka terus saja berlari mengikuti Marsya dan Rara yang berada di depan. Bunyi pijakan kaki mereka di atas rumput dan daun-daun kering memecah kesunyian.
Nyanyian mbak Kunti yang bertengger di atas Wit Jati juga mengiringi mereka untuk menguak satu fakta perihal satu petak rumah yang berada dalam belantara.
Bau dupa mulai tercium. Suara Gending Jawa sudah tidak mereka dengar lagi. Nafas mereka mulai terengah-engah. Dan mereka mulai mempercepat langkahnya ketika melihat lampu petromax dari kejauhan.
Sebelum mereka mendekatinya. Marsya berhenti agak jauh dari lampu itu. Gubuk itu masih kelihatan. Dan ada banyak sesajen di depan rumah gubuk itu.
Mereka diam sambil mengatur nafas sejenak. Dari dalam gubuk terlihat seorang anak muda berpakaian hitam. itu adalah anak muda yang tadi ada dalam penglihatan Laras.
Sambil membawa keris di tangan kanannya. Lalu sesajen dupa di tangan kirinya. Kedua bola mata penuh kebencian itu menatap ke depan. Ke arah rombongan Cak Dika dan Rachel berada.
"Aku tau kalian di sini Maung!" ujar pemuda itu.
"Huh!" Cak Dika terkejut mendengar itu. Jika orang di sana normal tanpa kemampuan. Maka dia tidak akan bisa melihat Cak Dika dan rombongannya. Sebab jarak mereka cukup jauh.
Tapi, lain lagi jika orang di sana memiliki kemampuan merasakan aura sama sepertinya.
"Kalian kalau ke sini mau mengacau! Tandanya kalian mau nantang aku! Keluar kalian, Maung, Sepuh Gautama!" ujarnya lagi berteriak-teriak.
Ketika Cak Dika hendak maju menghampiri pemuda itu. Rara menahannya, Cak Dika berhenti lalu menoleh ke samping. Ke arah Rara yang masih fokus memperhatikan Pemuda itu.
"Dia itu udah kehabisan akal! Kita gak tau masalahnya apa. Jadi, mending aku aja dulu yang ke sana! Kalo keberadaannya kamu di sini yang paling dirasakan. Berarti jin punyanya dia, cukup terganggu sama maungmu. Aku tanpa khodam, hanya ada kemampuan! Jadi diam, dan dengarkan! Tunggu aba-abaku aja! Mungkin, aku butuh Rachel aja di sini sebagai Sang Maskot asli!" ucap Rara, dia melepas cengkraman tangannya pada Cak Dika lalu menoleh ke belakang ke arah Rachel.
Rachel mengangguk, bersama dengan Rara mereka pun mulai maju mendekati gubuk tua itu. Dari kegelapan mereka berjalan ke arah nyala cahaya petromax.
Kira-kira jaraknya sekitar sepuluh langkah antara Rachel dan Rara dengan pemuda itu berdiri.
"Kamu, mau gagalin Teluhku! Mati kamu di tanganku! Aku gak peduli lagi kalau nanti aku mati di tangan khodammu si Nyai Ratu itu. Ingat satu hal, nyawa dibalas dengan nyawa!" ucap pemuda itu.
Rara dan Rachel mengerutkan keningnya. Mereka benar-benar tidak mengerti apa yang sedang orang ini katakan.
"Kamu bicara apa? Kamu yang duluan bunuh pak Sukirman!" ujar Rara menyangkal.
"Hahahahaha... Aku?!" tanya Pemuda itu sambil tertawa kencang.
Dikatain seperti itu membuat Pemuda itu kembali teringat akan satu hal. Sebut saja, nama Pemuda ini adalah Desta.
Kemudian sambil menatap Rachel dan Rara, Desta mulai bercerita. Dulu, rumah yang ditinggali Pak Sukirman adalah milik buyutnya Desta.
Jaman dulu, surat tanah masih belum ada. Lalu, ketika Sang Buyutnya Desta beserta keluarganya pergi mengunjungi keluarganya di Kalimantan selama sepuluh bulan.
Ketika keluarga Desta kembali. Kediaman milik buyutnya Desta ditinggali buyutnya Sukirman. Di sana, mereka mengklaim bahwa rumah itu milik mereka.
Hal itu memicu api antara keduanya. Salah satu ketua di desa itu juga tidak membela buyutnya Desta. Sebab rumah itu tanahnya sudah dibayar oleh buyutnya Sukirman. Hingga saat ini, rumah itu menjadi milik keluarga Sukirman.
Padahal bangunan itu dibangun oleh jerih payah buyutnya Desta. Saat itu mereka menjadi gelandangan. Satu-satunya tempat mereka berteduh dirampas. Itu benar tidak adil.
Saat itu, mereka menemukan gubuk ini. Di sana mereka mempelajari aliran sesat. Namun gagal berulang kali. Niatnya ingin membunuh anggota keluarga Sukirman. Tapi nyatanya ilmu yang dia miliki tidak cukup untuk melakukan itu.
Satu persatu keluarganya mati. Dan hanya menyisakan anak pertamanya dengan istri anaknya yang sedang mengandung.
Saat itu, ada salah satu warga yang melapor tentang kelakuan buyutnya Desta yang seperti pemuja setan. Hal itu membawa beberapa warga datang lalu membunuh buyutnya Desta saat itu juga.
Sebelum mati, buyutnya Desta mengatakan pada seluruh warga yang bangsat itu.
"Sukirman! Kelak salah satu pewarisku nanti akan memeganggal kepala anakmu! Apa tidak cukup bagimu merampas hartaku hah! Aku tidak akan mati semudah itu Sukirman, jiwaku akan terus menuntut balas dendam dan haus kepala keluargamu!" teriak buyutnya Desta.
Kemudian kepala itu dipenggal. Saat itu, buyutnya Desta dibunuh tepat digubuk ini. Mendengar itu, perlahan keluarga Sukirman mulai ketakutan.
Dua anaknya saat itu mati. Dan hanya menyisakan satu putra dan istri dari anaknya yang sedang mengandung.
Kematian anak pertamanya itu sama sekali tidak wajar. Kemudian anak terakhir juga tidak wajar matinya. Saat itu ketakutan Sukirman bercampur dengan amarah.
Sambil membawa parang dia mendatangi gubuk tempat tinggal buyutnya Desta dulu. Di mana di dalam gubuk itu masih ada keturunan dari buyutnya Desta.
Dibunuhlah satu-satunya anaknya buyut Desta yang tersisa. Kepalanya dipenggal. Lalu Sukirman mengambil potongan kepala itu dan menancapkannya di depan gubuk itu.
__ADS_1
"Kejam kau! Aku tau ini ulahmu, membunuhi anak-anakku! Sekarang tidak tersisa satupun keturunanmu!" teriak Sukirman sambil menangis menatap gelapnya langit malam.
Tangannya berdarah-darah. Saat itu, istri dari anaknya buyutnya Desta adalah neneknya Desta. Jadi setelah anak itu lahir, lalu menikah dan punya anak lagi. Itulah Desta.
Dialah yang berhasil menguasai ilmu pemanggilan Teluh Jawa. Setelah turun temurun dari generasi ke generasi lainnya. Hanya Desta saja yang mampu.
Ibunya yang diracuni dendam oleh leluhurnya. Menceritakan segalanya pada Desta. Hingga akhirnya dendam itu juga memburuh mendarah daging dalam dirinya.
Keluarga Sukirman pada akhirnya juga memilih jalur sesat demi melindungi raga mereka sendiri dari buyutnya Desta. Mereka menggunakan ajian rawa Rontek agar tidak mudah dibunuh.
Dalam gubuk itu juga Desta mulai belajar dan belajar. Suara-suara bisikan setan menguasainya. Hingga membuatnya mampu mengirim Teluh kuat untuk keluarganya Sukirman.
Dan sekarang dia berhasil memeganggal satu kepala dari keluarga Sukirman. Dalam hati Desta, dia ingin membunuhi seluruh keluarganya Sukirman tanpa ampun.
Mendengar seluruh cerita itu hati Rara bergetar. Perlahan sosok buyut Desta itu muncul dari balik tubuh Desta. Dia tidak sendirian, juga ada putranya di sana.
"Jangan hentikan saya!" ucap Desta lagi pada mereka.
Rachel menunduk dia mengepalkan tangannya kuat. memang yang terjadi pada kehidupan keluarga Desta dulu tidak adil. Tapi untuk generasi yang sekarang ini rasanya dendam itu seharusnya sudah tidak berlaku.
Rara mencoba mendekati Desta di sana. Namun Rachel menahannya. Dia menatap penuh ke arah Rara. Melihat tatapan itu bukan tatapan Rachel. Rara pun memilih mundur.
Kemudian Rachel memanggil Nyai Ratu untuk datang masuk ke dalam tubuhnya. Maungnya, Senopatinya juga ikut bersamanya. Abahnya Rachel, dan Sepuh Gautama mereka ikut berjalan di belakang Rachel.
"Jangan mendekat!" ujar Desta. Tapi itu bukan Rachel yang mendekatinya. Melainkan Nyai Ratu beserta seluruh pasukannya.
"Le, aku ngerti sampean pasti loro ati! Ikhlasno Le, opo sing wis kedaden. Iku wingi, darahe Sukirman wis banjir nak kene. Ajianmu Kuwi sing mateni, dadi mandek Le! Cukup!" ujar Nyai Ratu berhenti tepatvdi hadapan Desta.
(Nak, saya tau kamu pasti sakit hati! Ikhlaskan apa yang sudah terjadi. Itu kemarin, darahnya Sukirman sudah tumpah di sini Ajian kamu yang membunuhnya. Jadi berhenti nak, cukup!)
Desta menunduk. Entah kenapa hatinya sedikit diberi pencerahan. Cara Nyai Ratu berbicara padanya cukup menenangkan.
Keris dan dupa itu jatuh begitu saja di atas tanah. Lalu Desta bersimpuh. Dia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang.
"Pripun Nyai Ratu, Kulo mboten saget mandekno Iki! Yen keturunane sampean saget, tulong sampean mandekno Iki! Kulo Niki nggih pun pegel sakjane, Nyai!" ujar Desta sambil menunduk.
Nyai Ratu dalam tubuh Rachel tersenyum. Lalu dia berbalik menatap ke arah Cak Dika. Cuma maungnya dan cucunya yang bisa menangkal Teluh itu.
Cak Dika mengangguk memberi hormatnya pada Sang Nyai. Kemudian dia di sana mulai memberi aba-aba untuk berjalan mendekati Rachel dan Rara.
"Nggih Nyai!" ujar Cak Dika sambil menatap Nyai Ratu.
"Maung, tolong nggih!" ucap Nyai Ratu kemudian keluar dari dalam tubuhnya Rachel.
"Jadi, di mana letaknya?" tanya Cak Dika pada Desta di sana.
"Aku kubur itu di dalam gubuk! Ayo ikut!" ucap Desta pada Cak Dika.
Desta berdiri lalu masuk ke dalam gubuknya. Di sana dengan cangkul Cak Dika mulai menggali area yang Desta tunjuk.
Setengah jam menggali akhirnya mulai nampak kain putih, itu adalah kain kafan. Sambil membaca doa-doa seluruh anggota Gautama mulai mencium jimatnya.
Cak Dika mengambil bungkusan kain kafan itu. Lalu membukanya. Bau busuk menguar seketika. Di dalam kain kafan itu, ada tujuh butir telur jawa dan kertas bahasa atap Pegon.
"Ini apa Cak?" tanya Aldo sambil membulatkan mata melihat isi bungkusan itu.
Sambil menutup hidung, Cak Dika pun menjawab.
"Ini Teluh Jawa, Teluh yang sangat sulit untuk dibasmi!" jawab Cak Dika.
Cak Dika menyuruh Desta untuk mengambilkan obor. Cak Dika mengambil keris dan dupa milik Desta.
Lalu di buang jadi satu ke depan bersama dengan bungkusan kain kafan itu. Ketika obor itu siap, Cak Dika pun membakarnya.
Suara erangan terdengar begitu keras. Suaranya dari atas pohon jati. Suara erangan itu membuat Desta bersimpuh sambil terbatuk-batuk.
Rachel yang berada di sampingnya pun sontak ikut bersimpuh mengusap-usap punggung Desta sambil memberi energi padanya. Desta memekik kesakitan. Tubuhnya seperti ditusuk-tusuk rasanya.
__ADS_1
Setan Samber Nyowo itu masuk ke dalam tubuhnya Desta sekarang. Ketika bola mata Desta memutih, Rachel pun segera menjauh. Desta mengeram sambil menatap ke arah Cak Dika.
"Maung, leburlah aku!" ujar Desta padanya.
Setan sialan ini benar-benar membuat Cak Dika kesal.
"Tobatlah kamu, tobatlah pada Tuhan yang Maha Tinggi!" ucap Cak Dika mencoba mengingatkan pada Setan itu bahwa dia hanyalah ciptaan.
"Leburlah aku Maung, tapi ingat aku tidak bisa mati!" ujar setan Samber Nyowo dalam tubuh Desta.
Suaranya semakin keras sambil tertawa-tawa. Di sana Cak Dika menyuruh seluruhnya untuk berdoa. Sekitar tiga jam, pada akhirnya setan itu pun keluar dari tubuh Desta.
"Makasih Cak!" ucap Desta pada Cak Dika.
Cak Dika mengulurkan tangannya membantu Desta berdiri. Di sana Cak Dika berkata,
"Imanmu iku tebelono! Ben barang Alus jahat kae gak nemplok nak awakmu! Ileng Gusti Allah terus ae!" tutur Cak Dika.
(Imanmu itu tebalkan! Biar barang halus jahat tidak akan nempel di kamu! Ingat Allah terus saja!)
Desta mengangguk. Tugas mereka menghentikan korban jiwa lain selesai. Saatnya bagi mereka untuk kembali. Saat itu Rara menawarkan pada mereka untuk tidur di rumahnya.
Sehari mereka bermalam di sana. Ketika esok paginya mereka akan pulang. Cak Dika setelah berpamitan pada Pak Bambang bergegas pergi.
Namun rupanya di luar Rara sedang duduk sambil melipat tangannya. Keberadaan Rara itu membuat Cak Dika berhenti. Sambil tersenyum Rara menatapnya, sekilas dia menatap Bapaknya di belakang.
"Ibuk, Bapak, aku merantau nggih! Semalam pun sampean ijini toh?" ujar Rara pada orang tuanya.
(Ibu, bapak, aku merantau ya! Semalam sudah kalian izinkan, kan?"
Kedua orang tuanya itu mengangguk. Cak Dika terkejut mendengar itu. Dia semakin terkejut dan jantungnya tak karuan ketika Rara mendekatinya.
"Cak, aku ikut kamu! Sebagai laki-laki, tolong bawain ini!" ucap Rara sambil menyerahkan barang bawaannya pada Cak Dika.
Rara berbalik menghampiri Rachel dan Bella lalu merangkulnya. Kemudian mengajaknya berjalan ke dahulu Cak Dika.
"Cacakmu itu, keren semalam! Aku suka!" ucap Rara pada Bella dan Rachel.
"Huh!" pekik Bella dan Rachel. Kemudian mereka terkekeh.
Cak Dika berbalik kembali menatap kedua orang tua Rara.
"Kita pamit buk, pak! Assalamualaikum!" ucap Cak Dika.
"Nggih nak, tolong jaga Rara ya!" ucap keduanya.
Cak Dika tersenyum dan mengangguk. Mereka pun pergi dari sana. Raut wajah Cak Dika nampak sumringah tiap kali melihat Rara di depan matanya.
______
Hallo dulur! 😄 Akhirnya bisa up double rek. Aku cuma mau bilang, kalau kalian mau request tempat jelajah selanjutnya boleh nih. Silahkan request di kolom komentar.
Kalo bisa yang area Jawa ya tempatnya. Entah itu Jawa Barat, Jawa Timur atau Jawa Tengah. Bisa kalian request nih.
Beberapa kisah dalam bab-bab novel ini sejarahnya itu kisah nyata ya! Seperti ninja Banyuwangi. Itu nyata guys, tahun 1998, itu tragedi berdarah. Para ninja itu ngincar dukun-dukun santet.
Kisah kisah itu juga ada kalau kalian search google. Buat kalian yang kepo tragedi berdarah ninja Banyuwangi tahun 1998, bisa dicari di Google ya! 😄
Terus untuk Alas Purwo, Gunung Arjuno (Alas Lali Jiwo) dan gunung Lawu. Itu keangkerannya juga nyata guys! Tapi jangan takut sama mereka ya!
Kalian Manusia, kalian jauh lebih baik dibandingkan mereka. 🏃 Tak tumbas bus sek rek gae rombongan e Cak Dika! 🏃💰💰
Alas Purwo 👇
Alas baluran 👇 Nek pagi bagus rek! Nek malam, wuihhh suram. 🤣
__ADS_1