Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 39: Saling Kontraksi


__ADS_3

Cak Dika dan Bella sudah berada tepat di depan pintu kayu itu. Cak Dika dan Bella memejamkan mata sejenak. Lalu Bella membuka kameranya dan Cak Dika membuka pintu itu dengan bacaan Basmallah.


Ketika pintu itu terbuka mereka di perlihatkan ruangan dengan nuansa cat merah. Penerangannya minim. Hanya ada satu tepat di atas mereka. Sebuah lampu kuning.


Ruangan itu luas sekali. Pusaka-pusaka berjajar rapi di sana. Ini seperti ruangan bapaknya Rahman dan Deni. Mereka jadi nostalgia lagi ke titik itu.


Cak Dika memutuskan untuk masuk lebih dalam. Di sana mereka sama sekali tidak melihat apapun. Hanya ada aura kelam saja di sana. Namun sosok-sosok menyeramkan sama sekali tidak mereka temukan di sana.


Langkah demi langkah membawa mereka masuk semakin jauh ke dalam. Sampai ketika bau dupa tercium. Mereka memutuskan untuk berhenti.


Ada satu tirai berwarna hitam. Tirai itu terbuka sedikit. Di sana Cak Dika bisa melihat adanya seorang yang sedang bertapa di hadapan dupa.


"Kamu di belakangku aja, dek!" ujar Cak Dika pada Bella. Tanpa mengalihkan tatapannya pada manusia yang bertapa di sana.


Cak Dika mulai mengeluarkan kalung jimat keluarganya. Itu adalah kalung jimat yang sama seperti milik Rachel. Keluarga Gautama memiliki lima jimat turun temurun.


Dua kalung, yang akan diwariskan pada pemegang khodam Maung dan Nyai Ratu. Dan tiga cincin, yang akan diberikan kepada para Senopatinya Nyai Ratu.


Jimat itu selalu mereka bawa kemanapun mereka pergi. Cak Dika komat kamit sejak tadi. Setelah baginya cukup merapal doa-doa. Tangannya dengan mantap membuka tirai itu.


"Maung..." geram satu suara dari dalam ruangan itu.


"Kenapa ada maung?" ujar suara itu lagi.


Di depan dupa itu ada beberapa sesajen. Kembang tujuh rupa dan keris. Manusia yang sedang bertapa itupun berbalik menatap ke arah Cak Dika.


Murka rasanya saat ini dia. Ritual sakralnya malam ini gagal. Dan benar saja, manusia yang sedang bertapa itu adalah Pak Tarno.


"Kurang ajar kalian! Kenapa kalian bisa sampai kemari?" tanya Pak Tarno pada mereka. Raut wajah keriputnya itu nampak begitu kesal.


Cak Dika yang ditatap seperti itupun juga murka. Dia kesal setengah mati rasanya.


"Heh tua bangka, dengar ya! Berhenti, dan jangan sakiti keluargaku!" jawab Cak Dika sambil menunjuk-nunjuk wajah Pak Tarno.


Sopan santun mati rasanya di depan lelaki tua ini. Tidak ada penghormatan lagi untuk biadab semacam dia bagi Cak Dika. Orang yang berani membunuh orang lain demi kepuasan itu goblok.


"Kamu pikir aku takut hah? Kamu datang kemari artinya bunuh diri!" ujar Pak Tarno sesumbar.


Pak Tarno mulai memejamkan kedua matanya. Dia memanggil beberapa anak buahnya. Tak lama beberapa sosok setan yang ada di luar berdatangan masuk ke area itu.


Ada sepuluh anak kecil dengan wajah yang rusak. Tubuh mereka tidak utuh. Sosok kuntilanak merah datang juga ke arah mereka. Tak lupa, Genderuwo yang tadi ada di luar juga ikut masuk.


Bella menyipitkan matanya. Aura mistis di sini semakin menebal. Bella tidak sekuat Cak Dika dan Pak Tarno di sini. Panas sekali auranya ketika para pasukan setan itu berdatangan kemari.


"Gimana, mau apa kamu? Kamu di sini sendirian, gak bakalan mampu melawan anak buahku!" ujar Pak Tarno sesumbar lagi.

__ADS_1


Cak Dika berseringai mendengar itu. Rasanya dia ingin meninju tua bangka ini sekarang. Andai hukum tidak berlaku mungkin tangannya bisa puas memukuli tua Bangka ini bak samsak tinju.


"Buyut, sepuh, lan Nyai Ratu! Maung niki butuhne sampean!" ujar Cak Dika lirih memanggil ketiganya.


Panggilan itu membawa dua sosok leluhur datang. Dari belakang tubuh Cak Dika sosok buyut dan sepuhnya Gautama mulai muncul.


Kemunculan mereka membuat Pak Tarno terbelalak. Tak lupa, Cak Dika juga memanggil dua khodam Maung yang masih ada di dalam tubuhnya.


"Bocah sialan!" ujar Pak Tarno menggerakan tangannya mencoba mencelakai Cak Dika dengan ilmunya.


Para leluhur mencoba melindungi Cak Dika dan Bella. Sedangkan Pak Tarno di sana dengan ajiannya berusaha keras menghalau upaya Cak Dika untuk mengalahkannya.


Namun sayangnya ajian pesugihan Pak Tarno bukan tandingan Cak Dika. Kekuatan Pak Tarno semakin melemah sampai membuat dia jatuh bersimpuh lalu terbatuk-batuk.


"Kan aku wis ngomong mandek!" ucap Cak Dika memperingati.


Pak Tarno yang jatuh bersimpuh itu terengah-engah. Batuk darah keluar dari dalam mulutnya. Dia dikalahkan hari ini oleh anak muda yang sakti menurutnya.


"Kamu siapa? Kenapa ilmumu kuat sekali?" tanya Pak Tarno pada Cak Dika.


"Aku cuma orang biasa! Hamba Allah, seorang manusia. Gak lebih dari itu!" jawab Cak Dika padanya.


Bella tersenyum mendengar itu. Ada kalanya Cacaknya ini berkharisma. Ada juga saatnya dia terlalu bodoh.


"Mbak, ini apa?" tanya Marsya pada Rachel yang masih menatap ke arah cahaya itu.


"Sepertinya ini portalnya!" jawab Rachel.


Mendengar itu Marsya pun menatap Rachel. Keduanya saling tatap sejenak. Lalu Rachel tersenyum lalu mengangguk. Jari mereka mulai mencoba meraih cahaya api itu.


Detik ketika jari mereka menyentuhnya. Sekejap dimensi mereka berubah. Saat ini mereka sudah berada di dalam bus. Bus yang sedang berjalan entah kemana arah tujuannya.


"Huwahhhhhhh!!!" suara teriakan manusia yang cukup kencang membuat Marsya dan Rachel mengalihkan perhatiannya.


Ketika mereka berbalik, nampak Rahman dan Deni yang sedang berdiri berdua di atas kursi penumpang. Mereka sedang menyaksikan maungnya Cak Dika yang berusaha melindungi mereka dari sosok hantu wanita tua.


Rachel yang sudah cukup muak pun memutuskan untuk menghampirinya. Dia berjalan sambil mengeluarkan kalung jimatnya lalu menciumnya.


"Koe macem-macem! Lawan aku sini!" ujar Rachel yang diambil alih oleh Nyai Ratu.


Hantu pesugihan itu pun terkejut merasakan aura mistis yang liar biasa pada tubuh Rachel. Perlahan sosok itu mundur dan mundur.


Rachel dan Marsya saat ini sudah berdiri di samping Rahman dan Deni.


"Heh kamu bawa apa?" tanya Marsya pada Rahman yang masih berdiri di atas kursi penumpang.

__ADS_1


Rahman berpikir sejenak mendengar pertanyaan Marsya. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang dia bawa. Tak lama dia tau apa yang Marsya maksudkan di sana.


Rahman mengeluarkan benda yang Marsya maksud itu. Sebuah cincin emas dari Pak Tarno, kemudian Rahman memberikan itu pada Marsya.


Rachel menoleh ke arah cincin yang sedang Marsya pegang. Tubuhnya masih dirasuki Nyai Ratu.


"Pegang cincin itu bersama!" perintah Rachel pada mereka.


Mereka pun mengangguk. Tangan mereka mulai bersatu memegang cincin itu.


"Tutup mata kalian!" perintah Rachel lagi pada mereka.


Ketika mereka menutup mata. Nyai Ratu dengan kemampuannya membawa keluar mereka dari alam sebelah.


Sepoi angin yang tadinya tidak terasa mulai berhembus menerpa wajah mereka. Hembusan itu membuat mereka kembali membuka mata. Lalu mendengar ramainya klakson mobil dari kejauhan.


"Ya Allah, Alhamdulillah mbak!" ujar Rahman lalu sujud sukur.


Deni yang lemas pun hanya mampu bersimpuh tak percaya bahwa dia bisa keluar dari dalam bus setan itu.


"Kalian gapapa, kan?" tanya Marsya pada mereka.


"Gapapa mbak, makasih loh mbak!" jawab Rahman lalu menarik tangan Marsya dan menciumnya.


Rachel yang baru saja sadar langsung menjauhkan kepala Rahman dari tangan Marsya.


"Tak santap kamu nanti! Kok bisa cium tangan adikku loh!" ujar Rachel.


Rahman terkekeh mendengar itu. Mereka pun berdiri kemudian. Lelahnya tubuh saat itu membuat mereka duduk di kursi panjang bersama-sama.


Malam semakin larut, akibat lelah yang menerpa membuat mereka saat itu juga terlelap dalam posisi duduk di bangku panjang halte.


Pemandangan itu dari kejauhan disaksikan oleh Aldo dan Cak Dika yang baru saja selesai dengan tugasnya. Dari dalam mobil Cak Dika tertawa melihat Rachel dan Marsya tertidur pulas di sana.


"Wah, bakalan meditasi lagi kayaknya dia!" ujar Cak Dika.


"Sampai ketiduran gitu loh!" ujar Bella menimpali dia juga terkekeh di sana.


"Udah kamu vidioin semua dek?" tanya Cak Dika pada Bella.


Mendengar itu Bella pun langsung mengangkat kameranya memamerkannya.


"Semuanya aman, di sini!" jawab Bella mantap.


Cak Dika mengangguk. Dokumentasi itu akan segera dia serahkan nanti pada Rahman dan Deni. Mereka lah nanti yang akan mengelola hasil dokumentasi itu.

__ADS_1


__ADS_2