
"Huh!" pekik Rachel dan Thariq bersamaan ketika dimensi mulai berubah.
Mereka tadinya melihat jalanan juga bangunan-bangunan. Tapi ketika mata mereka terpejam lalu mereka buka kembali.
Dalam sekejap pemandangan berubah menjadi belantara kiri kanannya. Tidak ada sama sekali bangunan di sana. Hanya aspas yang saat ini menjadi altar mereka berpijak.
"Di mana kita?" tanya Thariq kiri sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Rachel memperhatikan sekitar. Laku dia menunduk memperhatikan jalanan yang saat ini sedang mereka pijak.
Rachel menggerakkan telapak tangan kanannya menyentuh aspal itu. Dingin sekali aspalnya.
"Yang aku tahu, kita masih berada di tempat yang sama! Ini masih jalan raya Daendels! Hanya saja tempo waktunya mundur karena kemampuanmu menjelajahi masa lalu. Aku bukan penjelajah masa lalu sepertimu. Tapi karena tanganmu dan aku terpaut ketika kamu mendapatkan penglihatan. Maka aku tertarik kemari!" jelas Rachel.
Kemudian Rachel berdiri. Thariq yang masih bersimpuh itu pun mengikutinya.
Sepasang mata hitam memperhatikan mereka. Mata itu memakai pakaian serba hitam. Normalnya apabila manusia. Maka bola matanya akan ada bagian putih.
Tapi dia tidak memiliki itu. Saat ini di salah satu pohon besar dia bertengger. Dari sana dia memperhatikan Thariq dan Rachel yang baru saja masuk ke dalam dimensi alam sebelah.
Tidak ada suara kicauan burung di sini. Bahkan jika ini rimba maka biasanya akan ada suara jangkrik ataupun binatang-binatang yang bernyanyi tiap malam.
Namun nyatanya di sini sangatlah sunyi. Hanya ada suara nafas Rachel dan Thariq. Sesekali sambil menyusuri jalan mereka berdua melontarkan obrolan.
Jalan berjalan cukup lama. Menghabiskan detik demi detik hingga menjadi menit. Di ujung sana Rachel berhenti ketika matanya menangkap satu sosok manusia yang membelakanginya.
Kira-kira jarak mereka ini sekitar lima belas langkah. Melihat Gadis yang dia cintai berhenti.
Thariq pun juga ikut berhenti. Ketika Thariq akan melontarkan pertanyaan. Dia diam ketika melihat satu sosok yang berdiri tepat menghalangi jalan mereka.
"Siapa kamu?" tanya Rachel padanya.
Sosok itu berseringai. Namun jelas saja Rachel dan Thariq tidak tau bahwa dia sedang berseringai.
"Siapa kamu? Kenapa kamu di sana? Kenapa kamu menghalangi jalan kami? Jika ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan. Berbaliklah, dan katakan pada kami! Namun jika tidak ada maka pergilah kamu!" jelas Rachel padanya.
Perlahan sosok itu menarik sudut bibirnya. Membentuk sebuah senyuman dengan gigi-gigi taringnya.
Perlahan di antara kegelapan malam itu sosok itu berbalik. Rachel dan Thariq memperhatikan itu. Ketika sosok itu berbalik mereka disambut dengan wajah seramnya.
"Hihihi..." tawanya meledak melengking. Suaranya berat seperti genderuwo.
Ketika dia tertawa sepasang mata hitam muncul secara serentak dan banyak di antara Belantara.
"Kalian makhluk yang belum mati! Kenapa kalian harus datang kemari. Kalian ingin mati? Jadi santapan kami?" tanyanya.
Sosok itu adalah dia yang tadi bertengger di pepohonan besar. Wajahnya hitam hangus kulitnya melepuh. Kedua matanya hitam. Dan dia berpakaian hitam.
Tangannya dipenuhi luka. Dan kakinya dilumuri darah. Lidah dari sosok itu bergerak menatap ke arah Thariq dan Rachel penuh dengan nafsu.
Walaupun suasana di sana saat itu mencekam. Baik Rachel dan Thariq. Mereka sama sekali tidak berlari.
__ADS_1
"Nyalimu boleh juga!" ujar sosok itu pada Rachel.
"Kenapa aku harus takut pada makhluk jenaka sepertimu! Rasa takutku adalah kesenanganmu nanti. Dan jika aku takut maka kau akan lebih kuat dariku!" ujar Rachel padanya.
"Sialan!" ujar sosok itu.
Perlahan sosok Genderuwo mulai muncul dari balik belantara. Dia mengeram mengaung mendekati Rachel dan Thariq.
Namun tetap saja mereka tidak beranjak dari sana. Ketika sosok Genderuwo itu akan mengulurkan tangannya.
"Arghhhhhhh!!!" teriak Genderuwo itu mundur ketika sosok Nyai Ratu datang tepat dari balik tubuh Rachel.
Mahkota kerajaan yang cemerlang itu membuat sosok yang berdiri di hadapan Rachel saat itu terdiam sejenak.
Dia merasakan kehadiran sakti daripadanya di sana. Sungguh aura dari sosok Nyai Ratu itu sangatlah kuat. Sehingga rasanya untuk memandangnya saja sosok itu tak mampu.
Pandangannya turun otomatis. Kedua tangannya bergetar hebat. Dia ketakutan ketika sosok Nyai Ratu itu mulai menampakkan dirinya.
"Kalian bodoh!" ujar Nyai Ratu pada mereka. Dia tidak menoleh ke arah sosok yang saat ini berdiri di hadapan Rachel.
Nyai ratu itu menatap lekat ke arah banyaknya mata merah yang tertuju padanya saat ini.
"Kalian ini orang-orang pribumi! Jalan itu milik kita. Jalan itu bukan milik Netherlands. Dia di bangun di atas tanah ini. Dan yang membangun adalah Pribumi. Sewaktu kalian hidup kalian curahkan tenaga dan waktu terpaksa untuk membangun jalan ini. Jadi kenapa kalian ketika mati justru masih menjadi budak mereka. Memberi mereka makan dengan tumbal!" tutur Nyai Ratu.
Serentak seluruh sepasang mata merah itu mulai menampakkan wujudnya. Ya, wujud mereka manusia. Mereka saat ini sedang mengelilingi Rachel dan Thariq.
Di depan Nyai Ratu mereka yang berdiri mulai bersimpuh. Benar apa yang dikatakan oleh Nyi Ratu.
Sosok Nyai ratu itu selalu datang di waktu yang tepat. Setelah petuah itu datang dari Nyai Ratu.
Perlahan di sampingnya Rachel. Muncul seorang lelaki tua berpakaian serba putih. Dia adalah Simbah Gautama.
Rachel menoleh ke samping ketika kehadiran Simbah besar itu mereka rasakan. Di sana mereka memberi hormat.
"Simbah, selamat datang!" ucap Rachel dan Thariq serentak.
Simbah Gautama hanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. Kedua matanya kembali menatap ke arah satu sosok yang saat ini berdiri di hadapan Rachel.
"Dia adalah Rachel Gautama! Salah satu darahku, anakku! Dia datang kemari atas tujuan baik. Maka, tolong tuntun dia ke arah tujuannya itu!" ujar Simbah Gautama.
Sosok itu tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Semua sudah terkendali Yo, Nduk!" ucap Nyai Ratu di belakang tubuh Rachel.
"Nggeh Nyai, Matur Nuwun!" ucap Rachel padanya.
Simbah Gautama dan Nyai Ratu pun menghilang dari sana. Begitupun dengan banyaknya sepasang mata merah di Belantara. Meninggalkan Thariq dan Rachel di sana bersama dengan sosok hitam itu.
Perlahan wujud sosok itu berubah menjadi seorang manusia bersih tidak terluka. Wajah itu adalah wajah yang Thariq kenali.
Wajah hangus yang Thariq lihat pertama kali memasuki rumah Rudi. Wajah itu terangkat menatap mereka. Kemudian dia berdiri.
__ADS_1
"Aku Riko! Pemilik motor sebelum Rudi. Aku mati di sini akibat balap liar. Aku terpental dari motorku. Wajahku saat itu seperti sedang diparut di aspal. Wajah itu ketika aku mati rusak. Seram sekali, itu sakit dan terjadi sangat cepat! Aku tidak rela ketika motorku menjadi milik orang lain selainku. Dan jika ada yang memilikinya, maka dia harus bernasib sama sepertiku. Tapi kau benar, itu adalah kesalahanku. Tidak seharusnya aku menuruti mereka para penjajah bangsa lain yang ingin nyawa manusia lagi!" ujar Riko menyesal.
"Jadi, di mana kau letakkan Redi?" tanya Rachel padanya.
Riko mengangguk mendengar itu. Dia kemudian berdiri lalu berbalik. Dia menuntun Rachel dan Thariq masuk semakin jauh ke dalam Belantara meninggalkan jalan raya.
Masuk dan masuk hingga mereka menemuka Redi di sana yang sedang meringkuk. Riko menunjuk ke arah Redi. Di situ dia perlahan mulai menghilang.
"Alhamdulillah!" ucap Thariq dan Rachel bersamaan.
Mereka berdua pun menghampiri Redi yang meringkuk di sana. Ketika mereka menepuk pekan tubuh Redi. Redi terkejut.
"Siapa kalian?!" ucapnya terkejut dengan kedua mata yang membulat.
"Semua sudah selesai! Ikutlah dengan kami!" ucap Thariq pada Redi.
Thariq mengulurkan tangan kanannya supaya Redi menggenggamnya. Di sana entah kenapa ketika menatap mata Thariq. Redi benar-benar yakin bahwa Rachel dan Thariq datang untuk menolongnya.
Ketika tangan mereka bersentuhan. Ketiganya pun memejamkan mata. Dengan bacaan basmalah. Mereka pun kembali berhasil masuk ke dalam tubuh mereka masing-masing.
"Heh!!!" teriak Cak Dika menarik tubuh Redi yang akan nyemplung melompat ke laut.
"Hah!" pekik Redi terkejut ketika tubuhnya menabrak tubuh seseorang.
"Dancuk, setan Herex Iki rek!" umpat Cak Dika kesal sebab dibuat jantungan dengan aksinya.
Ketika Redi menjauhkan tubuhnya dari Cak Dika. Di sana Cak Dika diam. Cak Dika memperhatikan mata Redi menatapnya lekat seperti menatap seorang kekasih. Dan di sana Cak Dika tersenyum.
"Dia sudah kembali!" ucap Cak Dika senang.
_________
Hallo Rek! Terima kasih sudah datang dan selalu dukung karyaku Yo 😁😀. Tanpa kalian penulis bukan apa-apa rek.
Penulis mana seh yang Ndak mau karyanya dibaca, diapresiasi? Jadi makasih seba selalu ada dan dukung.
Aku buat karya baru lagi Rek, yang insyaallah gak kalah seru sama yang ini. Judulnya Sang Pemenggal. Mangga mampir baca Rek! 😁
...Arwah itu menyuruhku merendam sepuluh potong kepala manusia di dalam Aquarium kaca....
...Aku Radhian Siregar menyimpan dendam kesumat dalam dadaku. Asahan pedangku saat itu kutempa bersama satu sosok arwah seorang pembunuh....
...Luka yang membara dalam hatiku memberi peluang bagi arwah itu mengendalikan diriku....
...Bersamanya kurencanakan perburuan sepuluh potong kepala manusia berdasi....
...Dendamku yang membuncah mempertemukanku dengan dia, Tressya Lorensa. Seorang detektif cantik yang memiliki mata batin luar biasa....
...Sehingga dia mampu melihat sosok arwah yang selama ini membantuku. Aku menyebut arwah ini sebagai, Papa....
__ADS_1