
Sehari yang lalu setelah Laras bertemu dengan Simbah Gautama juga tragedi Joko. Sekarang dia sedang duduk bersama dengan Aldo.
Mereka duduk di ruang tamu dikelilingi oleh para saudara yang lain. Cak Dika bersandar di salah satu lemari yang ada di sana.
Cak Dika melipat kedua tangannya sambil berpikir. Rupanya salah satu dari mereka ada yang pensiun. Siapa lagi kalau bukan Laras.
"Jadi Simbah datang nolong aku! Dia ambil jimatku lalu ketika jimat itu hilang. Aku tidak bisa lagi merasakan kehadiran mereka para makhluk astral. Termasuk Gelanda, Melissa, Barend dan Albert yang katamu sedang di sini bersama dengan kita!" jelas Laras pada mereka semua.
Rachel tersenyum mendengar itu. Tentu saja semuanya ada batas waktunya. Ada durasi di mana mereka tidak akan menjadi seorang pawang ghaib lagi.
"Ya... Mau gimana lagi? Kamu menyesal gak?" tanya Rachel pada Laras di sampingnya.
"Nggak," Laras menggeleng pelan.
"Karena ada lembaran baru yang akan kutempuh sebentar lagi!" jawab Laras meneruskan kalimatnya.
Cak Dika beserta seluruh orang di dalam ruang tamu itu menatap heran ke arah Laras. Mereka tidak tahu apa maksud Laras di sini.
Mereka tidak tahu bahwa Laras dan Aldo pergi ke mall saat itu untuk membeli sepasang cincin pernikahan. Niat mereka ingin memberitahu dalam waktu yang tepat.
Namun rupanya tragedi kelam justru datang menimpa mereka. Membuat Laras harus kehilangan kemampuannya. Tapi memang sepertinya manusia tidak akan pernah luput dari
"Lembaran baru?" tanya Thariq pada Laras.
Di sana Laras mengangguk. Sedangkan Aldo sudah tau jawabannya hanya tersenyum. Keluarga Laras ini memang sedikit kaku perihal cinta. Sepertinya Aldo harus memperjelas jawaban Laras.
Aldo lalu berdiri, dia menghampiri Laras. Sembari berjalan tangan kanannya merogoh saku celananya. Mengeluarkan satu kotak perhiasan berbentuk hati berwarna merah.
Tibanya dirinya di hadapan Laras yang masih duduk itu. Aldo bersimpuh, kemudian dia meraih tangan Laras lalu menggenggamnya.
"Hari ini di depan keluargamu, Sayang!" ucap Aldo padanya.
Cak Dika yang melihat itu tertegun. Dia memperhatikan Aldo serius kali ini begitupun dengan Rara yang ada di sampingnya.
"Cak..." lirih Aldo lalu menoleh ke arah Cak Dika.
"Aku mau meminang adekmu! Karena kamu yang paling tua di sini. Jadi aku lamar Larasku di hadapan kamu. Bantu kami naik ke pelaminan Cak! Selalu dukung kami Cak!" ujar Aldo padanya.
Cak Dika terkejut mendengar itu. Yang lain tentunya juga terkejut. Tapi ini adalah berita bahagia. Rasa kejut yang sempat ada dalam hati mereka kini berubah menjadi sebuah senyuman.
Ketika Aldo mendapatkan jawaban dari Cak Dika berupa anggukan. Aldo pun kembali menatap Larasnya. Mata buta itu selalu kosong. Tapi Aldo tau Laras sedang menatapnya.
__ADS_1
"Sayang, aku memilihmu sebagai pendamping hidupku. Bersediakah kau menjadi bagian dari diriku. Melengkapi cerita hidupku selagi aku bernafas?" tanya Aldo padanya sambil menggenggam kedua tangan Laras.
Laras memberikan satu senyumannya pada Aldo. Kemudian tanpa sepatah katapun darinya dia pun mengangguk.
Aldo tersenyum melihat itu. Perlahan dia mulai memasukkan satu cincin yang mereka beli saat di mall itu ke pada jari Laras.
Ketika cincin itu bersemayam di jari Laras. Suara tepukan tangan dari Gautama Family itu mulai riuh memeriahkan suasana.
"Wah selamat ya, Laras! Wih kawin dia!" ucap Marsya pada Laras.
"Aku terharu, Ras! Koe kok rabi disek toh?" ujar Rachel menimpali.
Laras tersenyum kemudian dia mengangkat kedua jarinya pada Rachel dan Marsya di sana.
"Dadah, Jomblo!" ujar Laras mengejek mereka.
Raut wajah Marsya yang tadinya sumringah langsung berubah. Tapi tidak dengan Rachel. Mendengar ejekan itu. Ekor matanya melirik tepat ke arah Thariq yang saat itu menatapnya.
Rachel terdiam menatap kedua mata Thariq. Dan dengan penuh kebahagian ketika menemukan kedua mata Rachel menatapnya. Thariq pun melempar senyum. Di situ Rachel langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Senyumannya itu kenapa seh?. Pikir Rachel.
Sementara Rachel yang berusaha menghindari senyuman Thariq. Sejak tadi Cak Dika juga menatap ke arah Rara. Yang letaknya saat ini berada di sampingnya.
Rara menoleh ke samping setelah Cak Dika berbisik padanya. Namun dengan cepat Cak Dika mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
"Kamu ngomong sesuatu Cak?" tanya Rara padanya.
"Hmmm?" tanya Cak Dika menoleh ke arah Rara.
"Ndak ada dek! Kayaknya emang waktunya belum tepat!" jawab Cak Dika pada Rara.
Mendengar itu Rara pun menaikkan satu alisnya. Sungguh aneh rasanya pemuda bongsor di sampingnya itu.
"Aneh!" ujar Rara padanya.
Sebenarnya sejak tadi Bella memperhatikan keduanya. Di samping kanan kirinya juga terdapat Barend CS.
Lantas Gelanda pun berbisik pada Bella saat itu perihal Cak Dika dan Rara. Hanya Gelanda yang tau persoalan apa yang saat ini menyangkut keduanya.
"Padahal hatinya itu saling menyukai! Tapi mereka terlalu dungu dan takut untuk saling mengucap!" ujar Gelanda pada Bella.
__ADS_1
Bella menarik sudut bibirnya. Dia juga tau bahwa Cak Dika sangat menyayangi Rara.
"Ini masalah hati! Jadi agak susah mengucapkannya! Harus benar-benar siapkan mental!" ucap Bella menjelaskan pada Gelanda.
"Rumit!" ujar Gelanda pada Bella.
Di sana Bella hanya menanggapinya dengan satu ulasan senyum. Di tengah kemeriahan itu. Dering ponsel Rahman mulai terdengar.
"Aku angkat telpon dulu!" ucap Rahman lalu menjauh dari mereka.
Ketika telpon di angkat. Rahman familiar sekali dengan suara manusia di seberang sana yang saat ini sedang menelponnya.
"Assalamualaikum!"
Ucap Rahman mulai menyapa orang itu dengan salam.
"Waalaikumsalam nak! Nak, ini ibu dari Bella dan Rachel. Bisa tolong kalian ke kediaman saya! Ada sesuatu yang butuhkan bantuan dan kemampuan kalian!"
Mendengar itu tentu saja Rahman tersenyum senang. Sebuah Job ada di depan mata. Sekarang waktunya bagi mereka untuk menghasilkan uang lagi.
"*Tentu boleh, Buk! Kami akan segera ke sana secepatnya!"
"Wah terimakasih ya nak! Assalamualaikum*!"
Tutttttt
Panggilan tertutup. Saat itu juga Rahman memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku. Lalu dia berbalik me dekati Gautama Family.
"Ada berita baru!" ujar Rahman pada mereka.
Mereka yang ada di ruang itu seketika terfokus pada Rahman.
"Ada apa?" tanya Cak Dika padanya.
"Job baru dari ibunya Rachel dan Marsya!" jawab Rahman pada mereka.
"Job apa itu?" tanya Rachel dan Marsya serentak.
"Kalau kita tidak pulang gimana kita bisa tau? Laras sudah kehilangan kemampuannya. Tapi pekerjaan kita harus tetap lanjut! Jadi, ibu kalian meminta kalian pulang untuk mengatasi masalah!" ucap Rahman menjelaskan.
"Oke... Gak masalah kok!" ucap Rachel mengiyakan apa yang Rahman katakan.
__ADS_1
Serentak pada saat itu Cak Dika dan yang lain langsung menghela nafas berat.
Ini melelahkan!. Itulah yang saat ini berada dalam pikiran mereka.