Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
10


__ADS_3

Siang harinya seperti perjanjian Deren sebelumnya, kini dia sudah ada di depan TK Melati saat Violet baru saja selesai mengajar. Dia datang sendiri karena Max dia tinggal di perusahaan untuk mengurus urusan perusahaan.


Violet segera keluar seperti biasa dia selalu memastikan bahwa anak didiknya sudah di jemput lalu dia kaget melihat Deren yang sudah ada sambil bersandar di mobilnya dan tersenyum ke arahnya. Violet pun segera mendekati Deren, “Tuan, anda sudah tiba? Bukankah ini belum jam makan siang? Apa anda sudah lama tiba?” tanya Violet sambil menatap jam tangannya.


“Hmm,, baru saja kok dan memang benar ini belum jam makan siang tapi saya hanya ingin segera membicarakan masalah ini dengan cepat.” Ucap Deren.


Violet pun mengangguk mengerti, “Emm,, tuan bisa kan menunggu sedikit lagi soalnya saya harus menemani anak didik saya sampai dia di jemput orang tuanya.” Izin Violet.


Deren pun mengangguk, “Jika begitu ayo kita duduk di sana dulu atau tuan mau menunggu di mobil juga gak apa-apa.” Ucap Violet.


“Saya ikut kau saja.” Ucap Deren lalu segera mengekori Violet menuju tempat di mana anak-anak TK itu menunggu jemputan mereka.


Tidak lama mereka menunggu akhirnya anak didik Violet sudah di jemput oleh orang tua mereka, “Apa masih ada lagi?” tanya Deren.


“Hmm sudah gak ada kok. Ayo kita pergi biar tuan duluan saya akan mengikuti dari belakang.” Ucap Violet.


“Gak usah ee maksud saya kamu ikut bersama saya di mobil. Vespamu biar anak buah saya yang akan mengantarnya ke rumahmu. Mau kan?” tanya Deren.


Violet pun hanya bisa mengangguk lalu tidak lama ada bodyguard Deren segera mendekat dan Violet pun segera memberikan kunci vespanya kepada bodyguard Deren itu lalu dia segera ikut Deren ke mobilnya.


Singkat cerita kini mereka sudah di perjalanan, “Tuan sebenarnya hal penting apa yang harus anda bicarakan mengenai hubungan adik saya dan adik anda?” tanya Violet memecahkan keheningan sekaligus dia juga penasaran sebenarnya apa yang di inginkan oleh Deren.


“Kita akan membicarakannya nanti jika sudah tiba. Biarkan saya fokus menyetir.” Jawab Deren.

__ADS_1


Violet pun kembali diam dan mengalihkan pandangan ke arah jalanan tiba-tiba mereka melewati jalan malam itu jalan di mana anak jalanan yang biasa dia bantu berkumpul. Deren menyadari arah tatapan Violet, “Tenang saja mereka sudah aman dan sudah belajar dengan baik. Mereka tinggal di asrama sekolah, jika kau ingin mengunjungi mereka nanti kita kesana.” Ucap Deren.


Violet pun memandang Deren, “Terima kasih sudah membantu mewujudkan mimpi mereka.” Ucap Violet.


“Tidak perlu berterima kasih saya hanya melakukan yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka.” Ucap Deren lalu suasana itu kembali hening.


Tidak lama mereka sudah tiba di restoran tapi bukan restoran yang malam itu mereka datangi, ini restoran berbeda tapi namanya masih sama dan Violet sudah bisa menduganya bahwa restoran ini pasti cabang lain dari restoran milik keluarga Robert.


Seperti malam itu kini Deren pun segera masuk ke ruang privat, Violet lagi-lagi hanya mengikutinya dari belakang, “Kita makan siang dulu saya sudah lapar.” Ucap Deren begitu mereka duduk lalu langsung memanggil pelayan.


“Iya tuan ingin pesan apa?” tanya pelayan itu lembut karena dia tahu yang sedang dia layani ini adalah bos besar mereka.


Deren tidak menjawab tapi melihat ke arah Violet. Pelayan itu pun menatap Violet, Violet yang menyadarinya segera membuka buku menu di hadapannya lalu segera menyebutkan pesanannya, “Samakan saja dengan punya dia.” Ucap Deren begitu pelayan itu menatapnya.


“Cappucino-Oreo Milkshake.” Jawab Deren dan Violet bersamaan. Seketika mereka saling melihat sementara pelayan itu hanya tersenyum lalu segera mencatat pesanan mereka dan segera berlalu dari sana meninggalkan Deren dan Violet.


“Tuan, apa sekarang sudah bisa saya tahu apa sebenarnya yang ingin anda bicarakan dengan saya?” tanya Violet hati-hati.


“Nanti setelah kita makan.” Balas Deren terlihat mengulur waktu dan memang benar dia melakukan itu untuk mengulur waktu karena entah kenapa dia melakukan itu hanya saja dia ingin melakukan itu. Dia yang biasanya to the point tidak suka basa basi kini entah kenapa menjadi seseorang yang suka basa basi terlebih dahulu.


Violet pun hanya mengangguk diam lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi yang ternyata panggilan dari sang adik, “Halo, iya kenapa dek?” tanya Violet begitu dia menjawab ponselnya tapi sebelum itu dia sudah meminta izin kepada Deren untuk menjawab panggilan Edgar karena tidak ingin mengganggu Deren.


“Apanya yang kenapa kak. Kau ada di mana? Kenapa hanya vespamu yang ada di rumah sedang kau tidak ada.” Ucap Edgar khawatir.

__ADS_1


“Tenang dek kakak baik-baik aja kok. Kakak hanya sedang pergi dengan teman kakak saja. Kau jangan khawatir kakak akan segera pulang nanti. Tolong bilang ke ibu juga yaa agar dia tidak ikutan khawatir.” Ucap Violet tidak bermaksud berbohong bahwa saat ini dia bersama Deren hanya saja dia tidak ingin sang adik dan ibunya berpikiran yang tidak-tidak nanti terhadapnya dan Deren.


“Emm baiklah. Jaga diri baik-baik jika ada apa-apa telepon aku.” Ucap Edgar dari sana lalu sambungan telepon antara mereka pun segera terputus dan percakapan kakak beradik itu tidak luput dari pendengaran Deren.


“Apa kau sangat menyayangi adikmu?” tanya Deren.


Violet pun memandang Deren sambil mengangkat sebelah alisnya, “Yah begitulah. Ibu dan Edgar adalah harga terbesar saya.” ucap Violet.


“Bagaimana jika suatu saat nanti ada seseorang yang bermaksud tidak baik pada mereka?” tanya Deren.


“Maksudnya?” tanya Violet tidak mengerti.


“Gak saya hanya berandai saja dan meminta pendapatmu tentang hal itu.” Ucap Deren.


“Saya akan berdiri paling depan untuk melindung mereka. Jadi jika tuan memang ingin memisahkan Carra dan Edgar maka langsung katakan kepada saya.” ucap Violet.


Deren pun terkekeh, “Kenapa kau selalu berpikiran buruk kepada saya? Perlu kau tahu saya sangat menyukai Edgar terlebih lagi dia adalah pria yang sangat di cintai oleh Carra adik kesayangan saya. Jadi bagaimana mungkin saya tega membuat mereka berpisah.” Ucap Deren.


“Lalu apa sebenarnya yang anda inginkan?” tanya Violet.


Deren ingin menjawab tapi terhenti dengan pelayan yang mengantar pesanan mereka hingga membuat mereka pun menghentikan pembicaraan mereka dan fokus dengan makanan di hadapan mereka.


Sekitar kurang lebih 30 menit mereka menikmati makan siang mereka dengan damai dan keheningan hanya denting sendok, garpu dan pisau yang terdengar. Setelah selesai makan pelayan segera membawa bekas makanan mereka.

__ADS_1


“Kamu pasti menginginkan jawaban untuk pertanyaanmu dan hanya satu yang saya inginkan yaitu menikahimu.” Ucap Deren setelah menghabiskan minumannya hingga membuat Violet terbelalak dan terbatuk karena dia sedang minum.


__ADS_2