
"Halo dek!" ulang Violet dari seberang untuk memastikan apa adiknya itu masih di sana atau tidak.
"Ehh iya kak." ujar Carra bingung karena bimbang harus mengatakan kabar bahagia ini atau tidak. Di sisi lain dia sangat ingin mengatakannya namun di sisi lain juga dia tidak ingin menyakiti Violet.
"Ahh syukurlah kau masih di sana. Kakak pikir sambungan telepon sudah tidak tersambung. Ohiya dek ada apa menelpon kakak? Apa ada yang bisa kakak bantu?" tanya Violet dengan lembut.
"I-itu kak aku--" ucap Carra terpotong karena ponselnya langsung di ambil oleh sang suami.
"Halo kak. Ini aku Edgar." ucap Edgar segera mengambil ponsel sang istri dan dia menepikan mobilnya sebentar.
"Iya ada apa dek?" tanya Violet.
"Maaf yaa kak Carra tidak sengaja menelponmu. Nanti kami akan ke mansion. Sudah dulu yaa kak. Aku tutup. Wassalamu'alaikum." ucap Edgar lalu segera memutuskan sambungan telepon begitu Violet menjawabnya.
Edgar segera menyerahkan ponsel istrinya kembali kepada istrinya itu, "Aku tahu kau ingin berbagi berita bahagia ini dengan kakak dan kakak ipar tapi kita juga tahu kakak baru saja keguguran dan aku yakin dia pasti akan sedih walau dia tidak menunjukkannya kepada kita tapi kita harus peka bahwa dia pasti sedih. Jika memang kita ingin memberitahukan kepada kakak lebih baik secara langsung saja kita akan ke mansion untuk mengatakannya. Kita ke rumah ibu dulu untuk memberitahu dia lebih dulu. Aku bangga padamu sayang walau kau tidak sengaja menelpon kakak tapi kemudian kau sadar bahwa ini akan menyakiti kakak." ucap Edgar sambil mengelus rambut sang istri lembut.
Carra pun menatap suaminya itu dengan tatapan bersalah, "Maaf kak, aku terlalu bahagia hingga lupa kak Vio baru saja keguguran." Ucap Carra.
Edgar tersenyum dan segera mendekat memeluk istrinya itu, "Sudah gak apa-apa. Lebih baik kita ke rumah ibu dulu. Kita beritahu kepada ibu dulu." ucap Edgar.
Carra pun mengangguk lalu Edgar segera menghidupkan kembali mobilnya dan melajukannya ke rumah sang ibu.
***
__ADS_1
Sementara di kantor Violet menatap ponselnya dengan bingung setelah sambungan telepon itu terputus. Deren yang menyadarinya tersenyum, "Ada apa sayang? Kenapa menatap ponsel dengan bingung seperti itu?" tanya Deren bicara namun tidak menatap sang istri.
"Itu aku bingung sama Edgar dan Carra. Mereka seperti ingin mengatakan sesuatu padaku hanya saja menundanya. Aku yakin itu sesuatu yang baik namun kenapa mereka menundanya dan justru mengatakan akan ke mansion. Ada apa yaa?" ujar Violet masih penasaran dengan perkataan Carra yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu namun di potong oleh adiknya.
Deren tersenyum lalu segera menatap sang istri, "Sudahlah gak perlu di pikirkankan. Aku yakin mereka pasti akan mengatakan hal itu kepada kita Kita hanya perlu bersabar saja. Lagian juga mereka akan ke mansion kan hari ini. Aku yakin mereka akan mengatakannya di sana." ucap Deren.
Violet mengangguk, "Tapi jika memang mereka ingin mengatakannya nanti di mansion secara langsung. Kenapa Carra menelponku. Aku yakin dia ingin mengatakan itu namun di halangi oleh Edgar. Kira-kira apa yaa itu suamiku? Aku penasaran. Ahh menyebalkan. Kenapa mereka harus menghubungiku dan membuatku penasaran." ucap Violet lalu segera meletakkan ponselnya dengan kesal.
Deren yang melihat kekesalan istrinya hanya tersenyum, "Sabar sayang. Kau bisa membalas kekesalanmu itu saat mereka datang ke mansion nanti." ucap Deren. Violet pun tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Deren selalu saja mendukung keputusannya jika terkait menindas kedua adik mereka itu tapi jika itu terkait dirinya maka sang suami itu sangat over protektif.
"Kenapa kau selalu menyetujuinya dengan cepat jika terkait menindas adik kita itu suamiku?" ucap Violet bertanya sambil tertawa.
"Karena aku menyukainya sayang. Aku senang melihat wajah mereka yang merasa bersalah." jawab Deren juga ikut tertawa. Pasangan suami istri itu memang satu frekuensi sehingga apapun selalu saja kompak.
***
"Wah, sepertinya mereka sudah tiba suamiku?" ucap Violet begitu menyadari mobil sang adik.
Deren pun hanya mengangguk lalu dia segera menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke dalam rumah, "Mbak, apa Carra dan Edgar ada?" tanya Violet kepada ketua maidnya itu.
Mbak Ratih mengangguk, "Nona Carra dan tuan Edgar ada di kamar nyonya." jawab Mbak Ratih.
"Apa mereka sudah lama di sini?" tanya Deren.
__ADS_1
"Benar tuan. Nona Carra dan tuan Edgar sudah dari siang di sini." jawab mbak Ratih lagi.
Violet dan Deren pun mengangguk mengerti, "Baiklah. Terima kasih mbak." Ucap Violet lalu sepasang suami istri itu segera menuju kamar mereka untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri keduanya kembali turun ke lantai bawah dan mendapati Edgar dan Carra di meja makan sedang makan buah jeruk dengan Edgar yang mengupaskan untuk Carra. Violet dan Deren pun segera mendekati kedua adik mereka itu, "Apa kalian sudah lama tiba?" tanya Violet.
"Sudah dari siang sih kak. Setelah dari rumah ibu kamu segera ke sini." jawab Carra dengan mulutnya yang penuh dengan jeruk.
"Telan dulu sayang baru bicara. Nanti ke sedak loh." ucap Edgar.
Violet tersenyum melihat itu adik iparnya itu tidak pernah berubah, "Carra, kalian apa akan nginap atau pulang?" Tanya Violet kemudian.
Carra dan Edgar saling menatap satu sama lain, "Kami akan menginap kak. Boleh kan?" tanya Carra menatap kakaknya.
"Pertanyaan macam itu Carra. Tentu saja kau bisa menginap. Ini adalah rumahmu juga. Walau kau ingin tinggal di sini pun tidak masalah tapi sepertinya kau itu sudah nyaman dengan rumah pemberian suamimu. Sehingga ke sini pun baru kali ini." ujar Deren menyindir.
Carra yang mendengar ucapan kakaknya bukannya marah tapi tersenyum karena dia tahu di balik perkataan kakaknya itu tersimpan kerinduan dan juga kasih sayang untuknya. Hal itulah yang membuatnya terus bertengkar atau berdebat jika bertemu dengan kakaknya itu karena dalam pertengkaran mereka itu ada kasih sayang yang tercipta di antara dua saudara yang tidak memiliki hubungan darah.
"Kalian akan menginap kan sudah mendapat izin dari kakakmu. Kamu ingin makan apa Carra akan kakak buatkan." ucap Violet.
Carra yang mendengar ucapan kakak iparnya itu pun segera berbinar, "Apa saja kakak ipar. Aku akan makan makanan apapun yang penting kau yang memasaknya. Kau itu chef favoritku. Ayo kita memasak. Aku akan ikut membantu walau mungkin hanya mencuci sayuran saja." ucap Carra cengesan.
Violet pun tersenyum, "Baiklah, ayo!" Ajak Violet. Carra pun segera berdiri dan dia segera menggandeng Violet menuju dapur.
__ADS_1
"Hati-hati sayang. Kau kan--" ucap Edgar terpotong karena sadar hampir saja keceplosan.