Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
77


__ADS_3

“Melihat langsung apa?” tanya Violet.


Deren yang mendengar pertanyaan sang istri tersenyum lalu dia menunjuk bagian tubuh sang istri yang dia maksud, “Dasar mesum!” ujar Violet memerah malu begitu mengetahui apa yang dimaksud sang suami. Kenapa otaknya itu mendadak lemot hingga tidak memahami perkataan suaminya dan justru bertanya.


Deren terkekeh, “Sayang, kamu gak usah pindah yaa! Please!” ucap Deren masih berusaha membujuk sang istri agar merubah keputusannya.


Violet menghela nafasnya dan meletakkan tas make up di ranjang lalu dia segera mengalungkan tangannya di bahu sang suami, “Gak bisa suamiku ini sudah jadi keputusanku daripada kau merengek dan berusaha membujukku mengubah keputusan lebih baik gunakan kecerdasan dan kekuasaanmu agar aku bisa cepat kembali ke sini.” Ucap Violet lalu melepas tangannya.


Deren tersenyum begitu memahami maksud sang istri, “Aku akan mempercepat akad kedua kita agar kau cepat kembali ke sini.” Ucap Deren memeluk Violet dari belakang.


Violet tersenyum lalu memutar tubuhnya untuk menghadap sang suami hingga kini mereka saling berhadapan dan Deren semakin mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak di antara mereka. Saat dia hendak mencium bibir sang istri Violet menghadap arah lain hingga membuat Deren kesal dan melepaskan pelukannya.


Violet tersenyum melihat suaminya itu yang sedang kesal dia membiarkannya sendiri dan kembali merapikan barang yang hendak dia bawa sambil mengingat apa ada yang dia lupakan atau tidak. Setelah memastikan semuanya sudah siap dan tidak ada yang terlupakan dia melihat sang suami yang sedang duduk di sofa dengan wajah kesalnya sambil menatap ponselnya.


Violet tersenyum lalu segera mendekati sang suami dan duduk di pangkuan suaminya lalu dia mengambil ponsel suaminya dia letakkan di meja. Setelah itu dia langsung mengecup bibir sang suami sekilas, “Jangan cemberut suamiku!” ucap Violet lalu kembali mengecup bibir sang suami.

__ADS_1


Deren sebenarnya tidak marah bagaimana mungkin dia marah kepada istrinya itu di saat dia sangat mencintai istrinya hingga saat istrinya melabuhkan kecupan yang kedua Deren segera menahan tengkuk sang istri dan memperdalam ciuman mereka. Violet pun membalas ciuman suaminya itu hingga keduanya larut dalam ciuman yang penuh gairah. Ciuman itu baru terlepas saat keduanya merasa asupan oksigen tinggal sedikit. Setelah keduanya mengambil oksigen sebanyak-banyaknya Deren ingin mencium istrinya itu kembali tapi di tahan Violet, “Sudah cukup, aku bukan tidak ingin memberikannya hanya saja aku tidak ingin menyiksamu.” Ucap Violet lembut lalu melabuhkan kecupan di kening sang suami lalu dia segera berdiri dari pangkuan suaminya itu.


Deren menghela nafasnya mengerti karena memang benar hasratnya sudah naik dan dia tidak bisa menjamin bisa menahannya lebih lama lagi. Untuk kali ini dia memaafkan istrinya itu tapi tidak lain kali, “Baiklah untuk hari ini cukup walau aku merasa kurang. Aku akan menagih semuanya nanti setelah kita menikah lagi. Aku tidak akan mengampunimu sayang.” ucap Deren.


Violet tersenyum mendengarnya, “Aku menunggu hal itu suamiku.” Ucap Violet menggoda lalu dia segera keluar kamar karena sebenarnya dia malu mengatakan hal itu tapi tidak ada salahnya kan menggoda suami sendiri.


“Kau memancingku sayang. Tunggu saja pembalasanku, aku membuatmu tidak bisa bangun dari ranjang nanti.” Ucapnya hingga membuat Violet bergidik ngeri mendengarnya. Deren segera keluar menyusul sang istri ke bawa.


Carra yang melihat kedatangan Violet dan Deren itu menatap dengan sinis, “Iss ngapain sih di dalam kamar. Lama banget deh.” Ucap Carra.


Deren mengabaikan ucapan adiknya itu dan lebih memilih duduk di samping Edgar, sementara Violet malu mendengar hal itu. Carra yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Violet tersenyum menggoda, “Jangan bilang kalian melakukan itu--” tebaknya.


“Iss aku hanya menebak saja kak. Sensi banget sih kau kak. Bukan begini juga nie jika akan tinggal terpisah dengan istri tercinta.” Goda Carra.


“Ini semua karena ide gilamu itu. Aku pasti akan mengingat ini dalam otakku agar nanti tidak lupa untuk membalas nanti saat kalian menikah.” Ucap Deren.

__ADS_1


Edgar yang mendengar ancaman itu hanya menghela nafasnya, “Sudahlah lebih baik kita segera pergi. Semua sudah siap kan kak?” tanya Edgar menatap kakaknya dan Violet mengangguk. Setelah itu ke empat orang itu segera menuju mobil Carra yang akan membawa mereka pulang.


Carra dan Edgar hanya bisa menghela nafasnya melihat Deren yang masih menggenggam tangan Violet hingga membuat mobil tidak bergerak, “Kakak gak usah lebay deh. Kakak ipar tidak akan pergi jauh dan kalian juga tidak akan berpisah lama. Selain itu juga kau bisa menemuinya kapan saja, tidak ada yang melarangmu untuk menemui istrimu. Jadi stop lebay dan menunjukkan wajah sedihmu itu. Aku muak melihatnya.” Ucap Carra sinis.


Deren yang mendengar ucapan adiknya seketika tersenyum karena terlintas sebuah ide di otaknya, “Jangan berpikiran untuk kau menginap di rumah ibu yaa kak. Kau memang tidak di larang untuk menemui kak Vio tapi jika menginap itu gak boleh dan kau pun punya batas waktu untuk menemui kaka ipar yaitu hanya dua jam dalam satu hari tidak boleh lebih dari itu.” ucap Carra yang sepertinya bisa membaca apa yang di pikirkan kakaknya itu.


Deren pun hanya bisa menghela nafasnya karena idenya bisa dengan mudah terbaca oleh adik liciknya itu, “Carra kau menyiksa kakak, peraturan dari mana itu melarang suami istri tinggal bersama dan menemui istri sendiri pun punya batas waktu seperti itu. Aku akan menuntut yang membuat peraturan bodoh itu.” ucap Deren.


“Oug God kakak tidak ada yang melarangmu menemui kakak ipar dan tinggal bersama dengannya tapi nanti setelah kalian melakukan akad lagi. Salah sendiri mengulang akad.” Ucap Carra kesal dengan tingkah kakaknya itu. Entah kenapa kakaknya itu berubah dari sosok didik menjadi sosok bucin seperti itu ternyata memang benar cinta itu bisa mengubah segalanya.


“Aku bersumpah akan mempercepat akad kedua kami agar kalian tidak memiliki kesempatan untuk melakukan ini pada kami.” Ucap Deren.


Violet yang mendengar itu hanya tersenyum lalu dia menggenggam tangan suaminya, “Kita bisa saling telponan kapanpun kau mau tidak ada batas waktu. Tidak ada yang bisa mengubah keputusan itu. Jadi sekarang izinkan aku pergi yaa suamiku. Kau jaga dirimu dengan baik, kau bisa datang sarapan di sana.” Ucap Violet lembut.


Deren tersenyum mendengar istrinya itu, “Baiklah istriku aku akan menelponmu setiap lima menit sekali dan kau harus menjawabnya.” Ucap Deren.

__ADS_1


Violet hanya tersenyum lalu dia memegang kedua sisi wajah sang suami lalu melabuhkan kecupan di kening suaminya itu yang di balas Deren dengan kecupan di kedua pipi sang istri.


Edgar dan Carra yang melihat itu hanya tersenyum karena ternyata memang kedua kakak mereka itu sudah saling mencintai. Akhirnya setelah drama perpisahan panjang kini Violet di izinkan pergi.


__ADS_2