Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
7


__ADS_3

“Kak, kenalkan ini kak Deren kakakku dan kakak ini kak Vio kakaknya Edgar.” Ucap Carra memperkenalkan mereka. Deren memang sudah tahu bahwa adiknya itu memiliki kekasih bahkan Carra sudah memperkenalkan mereka berdua sejak baru menjalin kasih.


Violet pun tersenyum, “Violet!” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Deren yang dari tadi hanya diam saja langsung tersadar lalu membalas uluran tangan Violet, “Deren.” Balasnya.


“Okay, karena kalian sudah saling mengenal. Kak Vio aku tinggal dulu yaa aku harus melayani tamuku yang lain. Kakak aku titip calon kakak iparku ini padamu, jangan di apa-apain.” Ucap Carra berlalu meninggalkan mereka menuju teman-teman kampusnya dan pasti sang kekasih.


Sementara Violet hanya diam saja karena tidak tahu harus melakukan apa dan semakin canggung karena berdekatan dengan presdir perusahaan raksasa di Indonesia bahkan manca Negara. Tidak jauh berbeda dengan Deren dia tetap dengan sikap dinginnya walau di hatinya bergejolak entah karena apa. Akhirnya setelah lama berpikir Violet pergi dari sana untuk mengurangi kecanggungan yang terjadi lagian juga Deren sudah kembali bicara dengan relasi bisnisnya hingga membuat Violet merasa tidak ada. Violet mengambil minuman di meja yang sudah di sediakan.


Sementara Deren yang sudah selesai bicara dengan relasi bisnisnya terlihat mencari seseorang dan begitu dia menemukan siapa yang dia cari dia segera mendekat, “Kenapa kesini tanpa izin dulu? Bukankah Carra sudah menitipkan kau pada saya?” tanya Deren tanpa memandang Violet lalu mengambil minuman yang sama dengan gadis itu.


Violet pun melihat siapa yang bicara padanya, “Maaf tuan saya hanya tidak ingin mengganggumu. Lagian juga saya bisa menjaga diri sendiri. Terima kasih!” ucap Violet.


Deren yang mendengar gadis itu bicara sedikit menyunggingkan senyumnya tapi sesaat kemudian dia kembali ke wajah datarnya sehingga tidak ada yang menyadari senyumnya itu, “Apa kau benar kakaknya Edgar?” tanya Deren memandang gadis di sampingnya sekilas lalu meminum minumannya.


Violet memandang Deren kembali, “Apa anda pikir saya hanya kakak jadi-jadian Edgar? Tuan jika memang anda tidak menyukai Edgar lebih baik anda segera katakan agar saya akan menasehatinya untuk meninggalkan adik anda walau saya tahu berpisah dengan seseorang yang di cintai itu sangat menyakitkan. Tapi kami sadar kami berasal dari keluarga miskin yang tidak pantas bersanding dengan keluarga kalian, Maaf untuk semuanya.” Ucap Violet pedih lalu pergi dari sana meninggalkan Deren.


Deren hanya tersenyum melihat punggung Violet lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Dia pun merogoh ponselnya lalu mencari nama seseorang dan mengirimkan pesan kepada orang itu.


Tidak lama setelah itu perayaan ulang tahun Carra pun di mulai dengan meniup lilin. Semua tamu undangan pun mengelilingi Carra begitu juga dengan Edgar, Violet dan Deren berdiri di dekat Carra.

__ADS_1


Carra pun segera meniup lilin ulang tahunnya lalu segera memotong kuenya dan untuk potongan pertama di berikan kepada Deren sang kakak lalu Edgar dan tidak lupa Violet. Setelah acara itu di lanjutkan dengan acara dansa, Carra dan Edgar pun segera menuju lantai dansa begitupun dengan tamu undangan yang lain.


Violet hanya melihat dari jauh menatap adiknya dan Carra berdansa tiba-tiba, “Nona Violet maukah berdansa denganku?” tanya seseorang.


Violet pun menatap orang itu dan hanya diam saja hingga dia baru tersadar saat pria itu menariknya ke lantai dansa, “Tuan saya tidak bisa berdansa, carilah yang lain.” Ucap Violet.


Tapi Deren mengabaikan ucapannya lalu segera meletakkan tangan Violet di pundaknya dan tangannya di pinggang Violet, “Saya akan mengajarimu.” Bisik Deren.


“Tapi,,” tolak Violet.


Lagi-lagi di abaikan oleh Deren dan dia segera membawa Violet berdansa, mau tidak mau Violet mengikuti gerakkan pria itu dan mereka pun berdansa dengan baik di sana hingga membuat semua orang di sana kagum akan gerakkan kedua orang itu tidak lupa juga hal itu luput dari tatapan Edgar dan Carra. Yah sebenarnya Violet sangat pandai menari dan dia hafal semua gerakan dansa maka dari itu dia sangat pandai. Tapi penolakannya tadi hanya karena tidak ingin berdansa dengan Deren saja yang notebenenya adalah pria yang tergolong kepada orang yang dihindarinya selain itu juga dia tidak ingin menjadi pusat perhatian karena berdansa dengan seorang pria seperti Deren yang pasti memiliki begitu banyak pengagum.


Begitu lagu selesai tepuk tangan mengiringi keduanya, Carra dan Edgar segera mendekati keduanya. Violet yang menyadari kedatangan mereka segera melepas tangannya dari pundak Deren, “Kalian sangat hebat tadi. Aku tidak menyangka kak Violet pandai berdansa.” Puji Carra.


“Yah kakakku memang hebat dalam berdansa.” Ucap Carra.


“Kak, ayo kita pulang. Sayang bisa kan aku lebih dulu pulang.” Ucap Edgar menatap sang kekasih.


Carra hanya diam saja tidak menjawabnya, “Edgar kakak bisa kok pulang sendiri. Kau temani Carra saja dia pasti ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu di hari spesialnya. Temani dia kakak akan pulang sendiri. Kau jangan khawatir.” Ucap Violet menatap sang adik tersenyum.

__ADS_1


“Tapi kak,,”


“Biar saya yang mengantar kakakmu. Kau tenang saja saya akan pastikan dia selamat sampai tujuan. Kamu temani Carra saja. Carra kakak pamit pulang lebih dulu, kau bersenang-senanglah.” Ucap Deren lalu memeluk adiknya itu.


Carra pun tersenyum, “Terima kasih kak.” Bisik Carra lalu di balas senyuman oleh Deren.


“Terima kasih tuan, tolong jaga kakakku. Aku titip dia padamu.” Ucap Edgar lalu di balas oleh Deren dengan anggukan.


“Kak, kau hati-hati.” Ucap Edgar memeluk kakaknya itu.


Violet pun tersenyum, “Tidak apa-apa boy, nikmati pestanya temani Carra.” balas Violet.


Lalu dia segera beralih memeluk Carra, “Kakak pamit Carra, terima kasih atas undangannya. Ohiya hadiah ulang tahunmu ada di rumah nanti kau ambil.” Ucap Violet tersenyum.


“Ahh kakak padahal kau gak perlu memberikannya tapi makasih atas hadiahnya. Tenang saja aku pasti akan mengambil hadiahnya. Kau hati-hati di jalan kak.” Balas Carra. Violet pun hanya mengangguk lalu dia dan Deren segera keluar menuju parkiran.


Begitu tiba di parkiran Deren segera mengambil mobilnya yang memang terparkir di tempat khusus hingga dengan mudah dia segera kembali dengan mobilnya dan berhenti di tempat Violet menunggunya. Dia pun turun lalu membukakan pintu untuk Violet, “Terima kasih!” ucap Violet.


Deren pun hanya mengangguk lalu segera menutup pintu mobil dan segera berputar dan masuk kembali ke kursi kemudi dan segera melajukan mobilnya meninggalkan hotel itu.

__ADS_1


“Apa kau tidak lapar?” tanya Deren tiba-tiba hingga membuat Violet menatap ke arahnya.


“Emm,, gak usah langsung pulang saja.” Jawab Violet tapi tiba-tiba perutnya berbunyi. Deren pun hanya tersenyum mendengarnya sementara Violet malu karena memang benar saat ini dia sedang lapar karena hanya makan siang dan belum makan malam. Di pesta juga dia hanya minum saja.


__ADS_2