
“Kakak Ipar!” panggil Carra.
Violet pun segera duduk kembali di ranjang Carra, “Ada apa?” tanya Violet.
Carra menatap Violet serius, “Kakak ipar hari ini aku ingin bicara mengenai kakak.” Ujar Carra.
Violet pun mengangkat alisnya tidak mengerti, “Ada apa dengan kakakmu?” tanya Violet.
“Kakak ipar aku tahu pasti menurutmu kak Deren tidak terlihat sedih atas kepergian mommy tapi percayalah dialah orang yang paling sedih atas kepergian mommy.” Ucap Carra yang semakin membuat Violet bingung karena pasalnya selama tiga hari ini dia tidak pernah melihat pria itu menangis hanya wajah datar dan dinginnya saja yang tampak bahkan pria itu tak dia lihat menangis saat kematian ibu mertuanya.
“Kakak pasti bingung kan dengan sikapnya tapi percayalah sifat yang dia perlihatkan sekarang hanyalah sifat untuk menyembunyikan kesedihannya. Sikap yang dia tunjukkan ini sama persis saat daddy pergi tapi untunglah saat itu masih ada mommy hingga kesedihannya tidak berlarut-larut dan dia kembali hangat dengan keluarganya walau di luar dia terlihat tidak tersentuh. Percayalah kak dia hanya menyembunyikan kesedihannya sendiri dengan cover wajah datar dan dinginnya tapi dialah orang yang paling terluka. Aku harap kau bisa mengurangi kesedihannya kak! Aku menyayanginya seperti kakak kandungku walau kami tidak memiliki ikatan darah. Aku juga sangat berterima kasih padamu karena dengan adanya kau yang menerima kakak untuk menikah aku tidak harus menikah dengannya dan bisa menikah dengan laki-laki yang ku cintai. Aku tahu kakak pasti sudah tahu semua ini kan?” ucap Carra.
Violet pun mengangguk, “Jadi kau juga tahu akan pernikahanmu dengan Deren jika dia tidak menikah?” tanya Violet.
Carra mengangguk, “Yah aku tahu kak karena mommy sudah mengatakannya padaku. Awalnya aku syok mendengarnya karena bagaimana mungkin aku menikah dengan seseorang yang sudah ku anggap kakakku walau kami tidak punya hubungan darah tapi tetap saja dia adalah kakak bagiku. Saat itu aku hanya bisa mengiyakan permintaan mommy karena aku tidak ingin membuatnya kecewa sambil berdoa dalam hati agar kakak bisa menemukan seseorang yang dia cintai dan nikahi karena baik aku dan kakak kami tidak memiliki perasaan lebih selain sebagai kakak dan adik.” Jelas Carra.
Violet lagi-lagi mengangguk mengerti sambil terus bertanya berapa banyak sebenarnya yang belum dia ketahui tentang keluarga ini, “Kak Vio aku sangat senang kau menjadi kakak iparku. Aku mohon jagalah kakakku dengan baik. Dia sebenarnya orang yang hangat hanya saja keadaan yang merubahnya. Mana di umurnya yang masih muda dia sudah di tuntut oleh daddy untuk mengelola perusahaan dan saat dia baru saja lulus dia sudah mengambil alih perusahaan. Dia tidak pernah menolak apa keputusan daddy dan mommy karena baginya perintah mereka mutlak di lakukan.” Lanjut Carra.
__ADS_1
Violet tersenyum lalu menggenggam tangan Carra, “Kakak janji padamu Carra, kakak akan selalu ada untuk kakakmu. Kakak tidak akan meninggalkannya.” Ucap Violet sambil di batinnya melanjutkan, “Jika kakakmu tidak meninggalkan kakak duluan.” Batinnya.
Carra tersenyum mendengar perkataan Violet, “Aku berdoa pernikahan kalian akan abadi selamanya kak dan semoga saja kau segera hamil agar aku bisa menjadi aunty.” Balas Carra. Violet hanya tersenyum menanggapinya.
***
Tidak terasa kematian mommy Grysia sudah seminggu berlalu keadaan Mansion pun sudah mulai kembali baik bahkan Carra pun sudah kembali ceria. Dia dan Edgar sibuk dengan wisuda mereka yang akan di lakukan tiga hari lagi. Dia sudah tidak lagi sedih akan kepergian mommy Grysia, dia sudah terlihat kuat dan sudah bisa menerima kepergian sang mommy dan tentu saja hal ini berkat adanya Edgar yang selalu ada di sampingnya yang selalu menyemangatinya.
Sementara Violet dan Deren mereka masih saja saling diam-diaman walau Violet sudah berusaha untuk bicara dengan sang suami mencoba memahaminya tapi Deren hanya menjawab seadanya saja. Violet pun tidak marah karena dia tahu bahwa suaminya itu masih sedih walau tidak dia ucapkan. Seperti saat ini Violet meletakkan pakaian untuk suaminya ke kantor tapi laki-laki itu hanya mengucapkan terima kasih saja.
Deren yang mendengar panggilan itu pun menengok ke arah istrinya, “Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?” tanya Deren.
Violet menggeleng, “Aku gak butuh apapun tapi bisakah kau cerita padaku apa yang sedang kau rasakan? Berbagilah dengan yang lain jangan menyimpan kesedihan sendiri dan jangan bertingkah seolah-olah kau kuat. Jika memang kau sedih menangislah karena tidak ada yang akan memarahimu menangis untuk meluapkan kesedihanmu tapi menangis hanya sekali saja setelah itu jangan lagi.” Ucap Violet.
Deren hanya mengangkat alisnya, “Aku tahu kau menyembunyikan kesedihanmu sendiri tapi setidaknya berbagilah denganku. Bukankah aku ini adalah istrimu?” tanya Violet menatap Deren.
Deren tersenyum mendengarnya lalu mendekati Violet dan meletakkan pakaian yang di pegangnya kembali ke ranjang dan dia segera memeluk Violet, “Kau memang istriku tapi seperti perkataanmu terakhir kali pernikahan ini hanyalah berdasarkan perjanjian. Apa aku memiliki hak sebagai suamimu?” tanya Deren balik menatap mata hazel milik sang istri.
__ADS_1
“I-itu--” ucap Violet gugup.
Deren yang menyadari kegugupan istrinya hanya tersenyum lalu mengecup kening Violet dengan lembut dan lama.
“Kita bicarakan ini setelah aku kembali dari kantor tapi sekarang aku harus pergi ke kantor karena harus menghadiri meeting penting.” Ucap Deren setelah selesai mengecup kening istrinya lalu kembali mengambil pakaiannya menuju walk in closet meninggalkan Violet dengan wajah yang merah merona. Entah kenapa saat Deren mengecup keningnya hatinya berdebar. Apakah dia sudah mencintai laki-laki itu?
“Gak, gak Vio kamu gak boleh jatuh ke pesonanya. Ingat pernikahan ini hanyalah perjanjian yang bisa kapan saja berakhir apalagi mommy alasan kalian menikah sudah pergi.” gumam Violet lirih sambil menggelengkan kepalanya lalu dia beranjak dari kamar itu menuju dapur untuk membantu menyiapkan sarapan untuk mereka.
***
Sore harinya Violet berkutat di dapur memasak, entah kenapa hari ini dia sangat bersemangat untuk memasak makanan kesukaan suaminya yaitu steak sirloin. Violet mengetahui suaminya itu suka makanan itu dari ibu mertuanya tentunya dan dia sudah belajar sedikit mengenai bahan-bahan masakan itu dari ibu mertuanya saat mereka berbagi resep sebelum ibu mertuanya itu pergi dan hari ini untuk pertama kalinya dia ingin mencoba resep dari ibu mertuanya itu.
“Nyonya, apa ada yang bisa kami bantu?” tanya mbak Ratih.
Violet tersenyum lalu menggeleng, “Aku gak butuh apapun mbak, hari ini aku ingin memasak steak ini dengan tanganku sendiri.” Balas Violet.
Mbak Ratih dan para maid yang dari tadi menemani Violet pun hanya melihat saja karena Violet memang tidak ingin di bantu oleh mereka. Setelah lebih satu jam Violet memasak akhirnya dia selesai memasak steak serta beberapa hidangan indo lainnya sebagai pelengkap. Setelah itu Violet segera menatanya di meja makan lalu setelah semuanya siap dia segera kembali ke kamar untuk membersihkan dirinya menyambut suaminya pulang. Entahlah kenapa dia sangat bersemangat menunggu Deren pulang hari ini.
__ADS_1