Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
131


__ADS_3

Sebulan berlalu dengan sangat cepat, semuanya kembali normal. Deren sibuk dengan urusannya di perusahan, Violet juga sama sibuk mengelola bisnis mommy Grysia dan seperti aturan Deren, Violet hanya mengunjungi usaha mommy Grysia itu dan Violet bekerja di perusahaan Deren tepatnya di ruang kerja Deren. Pasangan suami istri itu pergi pulang bersama dan bekerja pun bersama.


Tidak jauh berbeda dengan Deren dan Violet, kehidupan Edgar dan Carra pun berjalan dengan baik. Bisnis Edgar di terima dengan baik dan perusahaannya berjalan lancar. Carra juga sibuk mengelola usaha hotel dan apartemennya. Pasangan kekasih itu pun walau sibuk dengan urusan mereka masing-masing tapi tetap saja menyempatkan untuk pergi pulang bersama.


Edgar kini sedang melakukan rapat untuk menu baru yang akan dia adakan di cafe dan restorannya. Sekitar 90 menit rapat itu berlangsung dan kini Edgar sedang menuju ruangannya dengan di belakang sekretarisnya mengikuti. Gedung perusahaan Edgar itu baru empat lantai tapi itu sudah lebih dari cukup, "Apa yang saya minta untuk kau lakukan sudah kau kerjakan?" tanya Edgar kepada sekretarisnya.


"Sudah tuan." jawab Karan. Yah Edgar menggunakan sekretaris laki-laki.


Edgar pun mengangguk mengerti, "Okay terima kasih." ucap Edgar lalu dia segera duduk di kursi kerjanya.


Karan pun segera keluar dari ruangan itu dan kembali ke tempatnya.


***


Di sisi lain Violet dan Deren kini baru saja bangun karena lelah setelah selesai melakukan sholat Zuhur di lanjutkan dengan berbagi peluh bersama. Tentu saja Deren-lah pelaku utamanya. Memang Deren itu kadang-kadang langsung mengajak istrinya bercinta di kamar yang memang berada di ruangannya, "Honey, bangun! Sudah mau ashar loh." ucap Violet sambil meniup mata sang suami.


Deren yang sebenarnya sudah bangun itu pun mengeratkan pelukannya, "Jangan menggodaku sayang." ucap Deren.


"Menggoda? Emang iya?" tanya Violet tertawa.


Deren yang gemas pun akhirnya menindih istrinya dan menciumi wajah istrinya. Pada akhirnya terjadi lagi apa yang memang harus terjadi sebelum ashar itu.


Setelah sama-sama meraih kepuasan satu sama lain. Deren langsung membawa istrinya itu menuju kamar mandi yang tersedia di ruangan itu dan keduanya segera mandi bersama, hanya mandi bersama karena pantang bagi mereka melakukan hubungan itu di kamar mandi. Bagi Deren di ranjang saja sudah cukup puas dan dia tidak ingin melakukan hal itu di tempat lain apalagi kamar mandi.


Kini Violet sedang mengeringkan rambutnya, "Suamiku, lihatlah waktu ashar udah hampir selesai kan." ucap Violet cemberut.

__ADS_1


"Maaf sayang. Aku tidak bisa menahannya." ucap Deren.


"Tidak bisa menahan namun tetap saja tahu waktu suamiku." ucap Violet.


"Maaf sayang." ucap Deren lalu segera mengambil alih mengeringkan rambut sang istri. Setelah rambut Violet kering dia segera mematikan hair dryer itu.


Violet segera berdiri dan mendudukan suaminya dan bergantian dia yang mengeringkan rambut suaminya, "Rambut itu harus di keringkan suamiku. Emang kamu mau anak buahmu itu melihatnya dan menduga yang tidak-tidak." Ucap Violet masih kesal.


Deren tersenyum, "Gak apa-apa sayang. Mereka pasti mengerti kok. Lagian pun mereka tetap akan mengetahuinya karena lihat pakaian kita sudah beda." ucap Deren.


Violet pun baru menyadarinya dan memandangi pakaiannya, "Huh, kau benar suamiku makanya jangan lakukan ini di kantor." ucap Violet.


"Jangan sayang. Lagian juga tidak masalah mereka gak akan mempermasalahkannya." Ucap Deren membujuk karena bisa bahaya jika istrinya itu tidak mau di ajak bercinta di kantor. Bagaimana jika dia tidak bisa menahannya kan bisa berabe nanti.


Deren pun segera ikut keluar dan menuju meja kerjanya dengan ekspresi bahagia tentunya karena baru saja mendapat energi yang cukup.


Tok tok tok


"Masuk!" Ucap Deren.


Max dan Arini pun masuk, kedua asisten yang bekerja untuk Deren dan Violet itu pun masuk. Max segera menuju Deren dan Arini menuju meja kerja Violet. Yah, Arini selain dia sebagai penulis artikel perusahaan dia juga bekerja sebagai asisten Violet.


Max dan Arini yang menyadari pakaian tuan dan nyonya mereka sudah berubah pun mengerti apa yang terjadi pada pasangan suami istri itu. Lagian juga tadi mereka kesini hanya ruangan kosong yang mereka temui. Sungguh jiwa jomblo Max dan Arini meronta-ronta memikirkan apa yang terjadi pada tuan dan nyonya mereka itu.


"Apa yang ingin kau katakan Max?" tanya Deren setelah asistennya itu hanya diam saja dari tadi.

__ADS_1


Max pun segera tersadar dan segera menjelaskan apa tujuannya datang kemari. Arini juga segera menyerahkan dokumen yang dia bawa untuk di periksa Violet.


Lalu setelah urusan kedua asisten itu selesai mereka segera keluar dari ruangan tuan dan nyonya mereka. Deren dan Violet yang di tinggalkan di dalam fokus dengan dokumen di hadapan mereka dan hanya saling bicara jika ada sesuatu yang memerlukan saran sama lain. Pasangan suami istri itu tiba di mansion saat magrib.


Violet dan Deren memilih sholat terlebih dahulu karena memang mereka baru saja mandi tadi dan juga belum berkeringat.


Setelah melakukan sholat magrib bersama Violet melepas mukenahnya dan meletakkan di ranjang, "Mas, kamu mau makan apa atau mau di masakin apa?" tanya Violet.


Deren segera menatap istrinya itu, "Gak usah memasak sayang. Aku gak mau kamu lelah. Kita makan apa yang sudah di buat mereka saja." ucap Deren.


"Aku ingin memasak suamiku. Lagian sudah lama juga aku gak memasak. Jadi hari ini aku ingin memasak dan jangan larang aku." ucap Violet. Yah, semenjak Violet mengurus bisnis mommy Grysia Violet jarang memasak dan mungkin dalam sebulan ini hanya tiga kali dia memasak itu pun hanya saat weekend saja karena Deren tidak mengizinkan Violet memasak. Dia tidak mau istrinya itu kelelahan.


Deren pun hanya bisa menyetujuinya saja jika memang istrinya sudah memaksa, "Baiklah jika kau ingin memasak. Aku juga akan ikut membantu. Sepertinya memasak berdua juga seru." ucap Deren.


Violet pun mengangguk mengiyakan lalu keduanya segera turun ke bawah untuk memasak makan malam mereka.


"Mbak, apa kalian sudah memasak?" tanya Violet.


"Sudah nyonya." jawab para maid serempak.


Violet dan Deren pun tersenyum mendengar itu, "Kalau begitu kalian makanlah makanan itu karena saya akan memasak untuk kami makan." ucap Violet.


Para maid pun mengangguk dan segera berlalu dari dapur karena mereka tahu sepertinya tuan dan nyonya mereka ingin memasak bersama.


Violet segera mengeksekusi bumbu masakan yang akan dia buat sementara Deren membersihkan ikan yang harus di masak. Suami istri itu memasak bersama dengan bahagia dan menikmati makan malam pun dengan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2