Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
137


__ADS_3

Edgar memandangi Carra yang kini sudah tiba di hadapannya lalu keduanya saling tersenyum satu sama lain. Tidak lama prosesi lamaran itu dimulai dan semuanya berjalan lancar tanpa kendala sama sekali. Kini tinggal acara santai saja dan juga pengambilan foto.


Singkat cerita, kini tetap sebelum zuhur seluruh prosesi lamaran itu selesai. Para tamu juga sudah pulang tinggal beberapa kerabat dan tetangga yang di undang saja yang masih di saja serta pihak WO dan vendor yang kini melaksanakan tugas mereka.


Keluarga inti kini mereka di sibuk makan siang bersama di dalam mansion setelah melakukan sholat dan semua tamu sudah pulang, "Dek, kapan kalian merencanakan pernikahannya?" Tanya Violet menatap kedua adiknya itu.


"Terserah ibu saja atau bagaimana pendapat kakak." Ucap Carra.


"Edgar bagaimana menurutmu?" tanya Violet menatap adiknya karena dia yakin adiknya itu pasti sudah punya rencana sendiri.


Edgar pun menatap kakaknya, "Aku sebenarnya ingin pernikahannya tiga minggu lagi." jawab Edgar yakin.


"Itu sangat lama. Kita buat dua minggu lagi." ucap Deren menimpali.


"Apa itu tidak kecepatan kakak ipar? Masalahnya gaun Carra kemungkinan belum jadi saat itu." ucap Edgar.


"Pasti bisa. Butik itu adalah langganan mommy. Jadi sudah pasti mereka akan menyelesaikannya tepat waktu." ucap Deren.


"Mas, apa kamu pikir semudah itu membuatnya. Sudahlah kita ikuti rencana Edgar saja. Tiga minggu lagi agar persiapannya juga maksimal. Kalian ingin mengadakannya dimana?" ucap Violet memutuskan. Deren pun hanya bisa mengikuti saja jika sang istri sudah membuat keputusan.


"Kami akan mengadakannya di hotel kak." ucap Carra.

__ADS_1


"Baiklah. Kami yang akan mempersiapkan WO dan Vendornya. Kalian urus saja undangan pernikahan dan pakaian yang akan kalian gunakan." ucap Violet.


Edgar dan Carra pun mengangguk setuju dengan ucapan Violet. Setelah itu semua orang sibuk menikmati makan siang bersama.


***


Dua minggu berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa tinggal seminggu lagi pernikahan Edgar dan Carra akan di laksanakan. Semua persiapan hampir rampung tinggal menyebar undangan dan melakukan fitting akhir untuk gaun dan kebaya Carra. Setelah itu tinggal menunggu hari H saja. Edgar dan Carra juga sudah mengambil foto prawedding dengan dua kali outdoor dan dua kali juga di indoor dengan tema yang berbeda juga tentunya.


"Mas, coba lihat ini laporannya? Kok kaya ada yang salah. Aku sudah memeriksa berulang kali dan hasilnya tetap sama." ucap Violet mendekati meja kerja sang suami dengan dokumen laporan keuangan salah satu usaha sang ibu mertua di tangannya.


Deren yang mendengar itu pun segera menghentikan pekerjaannya dan memeriksa dokumen yang dimaksud oleh sang istri, "Iya ini kesalahan. Sepertinya ada yang mengambil keuntungan secara diam-diam. Ini gak boleh di biarkan. Sudah kita akan menyelidikinya." Ucap Deren setelah menemukan kejanggalan.


Violet pun mengangguk mengiyakan dan segera meminta Arini untuk meminta agar penanggung jawab keuangan untuk datang kesini. Arini pun segera melakukan itu.


Violet mengangguk lalu segera berdiri mendekati kembali sang suami lalu dia segera duduk di pangkuan sang suami dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, "Kira-kira kapan aku hamil lagi yaa Mas?" ucap Violet lirih. Sejujurnya dia merasa kesepian hanya saja dia mencoba untuk tidak sedih lagi dan melampiaskannya ke pekerjaan namun tetap saja kadang-kadang hatinya merasa kosong seperti saat ini.


Deren yang mendengar ucapan lirih sang istri sebenarnya sedih juga namun dia tidak boleh memperlihatkan kesedihannya itu. Dia hanya segera memeluk pinggang sang istri, "Jika sudah saatnya pasti kita akan di beri. Sabar yaa sayang." ucap Deren.


Violet pun mengangguk walau dia sangat mengharapkan akan segera hamil lagi. Violet masih meletakkan kepalanya di bahu sang suami. Deren pun membiarkan istrinya itu dalam pangkuannya karena Violet itu sangat jarang jika bermanja kepadanya. Selain itu juga dia sangat senang jika istrinya itu bermanja padanya.


Setelah sekitar 10 menit Violet berada di pangkuan sang suami dia pun segera turun tapi di tahan oleh Deren, "Mau kemana? Duduk saja gak apa-apa." ucap Deren lembut sambil memandangi sang istri lekat.

__ADS_1


Violet menggeleng, "Jika aku gak turun bagaimana suamiku ini menyelesaikan pekerjaannya. Aku sebagai istri yang baik tidak akan menunda pekerjaan suaminya." ucap Violet segera turun.


Deren pun tersenyum, "Padahal gak apa-apa sayang. Aku gak masalah kok." Ucap Deren masih menggenggam tangan sang istri.


Violet uang mendengar itu langsung tersenyum lalu dia mendekati sang suami kembali dan melabuhkan kecupan di kening suaminya itu, "Selamat bekerja yaa suamiku. Aku mau istirahat dulu." ucap Violet lalu dia segera menuju kamar yang ada di ruangan itu untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Deren yang melihat itu hanya tersenyum, "Kenapa sih dia bisa menggemaskan seperti itu. Ahh Yaa Allah kabulkan keinginan istriku. Segera beri dia anak kembali. Aku juga menantikannya yaa Allah." ucap Deren lalu kembali memfokuskan diri di dokumen di hadapannya.


Deren memang membebaskan istrinya itu istirahat tidak ada larangan bagi Violet. Bagi Deren yang terpenting istrinya itu bekerja di hadapannya dan selalu dalam pandangannya. Mau Violet bekerja atau pun tidak itu tidak masalah. Katakanlah dia memanjakan sang istri yah memang itu yang dia lakukan karena baginya istri kita itu harus di manjakan. Orang tua mereka selalu memanjakan anaknya sebelum menikah lalu kenapa saat orang tuanya menikahkan anaknya tidak diperlakukan dengan sama.


***


Tidak terasa tinggal tiga hari lagi pernikahan Edgar dan Carra di laksanakan. Semua persiapan sudah rampung dan selesai bahkan gaun dan kebaya Carra sudah selesai dan sudah melakukan fitting akhir. Undangan pernikahan pun sudah di sebar.


"Kalian akan berbulan madu kemana?" tanya Deren saat kini mereka sedang duduk di ruang keluarga berempat. Edgar dan Carra baru saja kembali dari luar menghabiskan waktu bersama sebelum mereka tidak di izinkan untuk saling bertemu langsung di ajak Violet dan Deren bicara di ruang tamu. Violet dan Deren entah kenapa menonton di ruang tamu seperti memang sedang menunggu kedatangan Edgar dan Carra.


Edgar menatap Carra begitu mendengar pertanyaan Deren, "Kami akan ke Swiss kak." jawab Carra. Yah memang Edgar dan Carra sudah memutuskan untuk ke Swiss dan berhubung juga saat ini di Swiss sedang musim salju.


Deren pun mengangguk, "Kami akan ikut dengan kalian." ucap Deren.


Violet yang mendengar itu menatap suaminya, "Untuk apa kita ikut suamiku?" tanya Violet.

__ADS_1


"Tentu saja menepati janji yang sudah kita buat. Bukankah kita aku sudah mengatakan saat kita akan berbulan madu ke Paris nanti saat Carra dan Edgar menikah kita akan mereka ke Swiss." ucap Deren.


Violet pun mengerutkan keningnya sambil mengingat, "Kamu sudah melupakannya?" Tanya Deren tersenyum melihat ekspresi imut yang di tunjukan sang istri.


__ADS_2