Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
121


__ADS_3

Setelah sarapan bersama dengan Deren menyuapi Violet, lebih tepatnya Deren yang memaksa Violet sarapan karena jika tidak dipaksa Violet pasti tidak akan makan.


"Suamiku, bisakah aku menemui Ronal dan Doni?" izin Violet setelah Deren selesai merapikan bekas sarapan mereka.


Deren yang mendengar permintaan sang istri segera duduk kembali di sisi ranjang Violet, "Kau yakin akan bertemu dengan mereka?" tanya Deren memastikan.


Violet mengangguk, "Iya, kasihan mereka. Mereka sudah menyelamatkan aku bahkan mereka sampai terluka parah." ucap Violet.


Deren yang mendengar itu tentu saja terharu karena sang istri masih saja mempedulikan orang lain padahal dia sendiri sedang sedih, "Baiklah, aku akan meminta mereka kesini." Ujar Deren.


Violet menggeleng, "Gak, aku mau kesana melihat mereka." tolak Violet.


"Sayang, mereka sudah gak apa-apa kok. Doni saja dia tidak melakukan perawatan hanya mengobati lukanya sedangkan Ronal dia juga sudah sadar dari kemarin. Jadi lebih baik mereka yang datang ke sini. Gak usah menolak." Ucap Deren.


Violet pun hanya bisa mengangguk jika sang suami sudah memutuskan karena dia yakin keputusan suaminya pasti benar walau untuk beberapa saat yang lalu dia merasa kecewa akan suaminya terlebih kepada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga diri dan calon anaknya.


Deren yang melihat Violet menangis langsung saja menghapus air matanya istrinya itu, dia yakin sang istri masih sangat terluka dengan semuanya hanya saja berusaha menyembunyikannya, "Jangan menangis sayang. Aku yang merasakan sakit jika kau menangis. Aku tidak suka melihat air mata di pipimu." Ucap Deren.


Violet hanya diam saja dan justru memeluk suaminya erat, Deren pun membalas pelukan istrinya itu, "Suamiku, bagaimana dengan Cally?" Tanya Violet setelah melepas pelukannya, dia baru ingat kenapa dia datang dan masuk jebakan Siska.


"Dia baik-baik saja, dia sudah bersama dengan orang tuanya, dia hanya digunakan untuk memancingmu datang." jelas Deren.

__ADS_1


"Syukurlah jika dia baik-baik saja." ucap Violet.


Tidak lama masuklah Ronal dan Doni ke dalam ruangan Violet setelah mendapat izin keduanya. Doni masuk bersama Ronal dengan Ronal yang duduk di kursi roda dan Doni yang mendorongnya.


Violet menatap asisten suaminya dan bodyguardnya itu yang di sana ada bekas luka di wajah keduanya, "Apa kalian baik-baik saja?" tanya Violet bersuara.


Doni dan Ronal mengangguk, "Kami baik-baik saja, nyonya." jawab Ronal dan Doni bersamaan. Kedua bawahan Deren itu merasa sangat bersalah karena tidak becus bekerja hingga nyonya mereka harus mengalami keguguran.


"Syukurlah, jika kalian baik-baik saja. Saya mengucapkan terima kasih banyak karena sudah menyelamatkan saya." Ucap Violet tulus.


"Tidak perlu berterima kasih nyonya, itu sudah tugas kami. Selain itu juga kami tidak berhasil--" ucap Doni tidak melanjutkan perkataannya karena takut Violet akan sedih kembali walau dia yakin nyonya mereka itu masih sangat sedih.


"Maafkan kami nyonya. Ini semua terjadi karena kelalaian saya menerima Riki menjadi bodyguard bayangan anda. Maafkan saya nyonya!" ucap Ronal tidak sanggup melihat nyonya-nya yang sangat penyayang dan perhatian kepada mereka kini harus menanggung rasa sakit kehilangan.


"Ini bukan salah kalian kok, saya saja yang tidak bisa menjaganya." ujar Violet menahan air matanya untuk tidak jatuh lagi.


"Sayang, jangan ngomong begitu. Jika menentukan siapa yang salah maka akulah yang salah karena lalai menjagamu. Kita ikhlaskan dia." Ucap Deren tidak ingin sang istri menangis lagi.


"Doni, Ronal kembalilah ke ruang perawatan kalian." perintah Deren. Kedua bawahan itu pun segera pergi dari sana meninggalkan Violet dan Deren di sana.


Setelah kedua bawahan Deren itu pergi Violet langsung memeluk suaminya, "Suamiku kenapa sangat sulit mengikhlaskannya. Aku sudah berusaha tapi selalu saja wajahnya dalam mimpiku selalu ku ingat. Aku tidak bisa suamiku--" ucap Violet kembali menangis.

__ADS_1


Deren diam saja dan hanya memeluk istrinya. Dia paham bagaimana perasaan istrinya itu hanya saja dia juga tidak ingin jika ini akan mengganggu kejiwaan istrinya. Dia sudah menanyakan ini kepada dokter dan mereka mengatakan ini masih wajar dia merasa sangat kehilangan tapi jika nanti sudah sangat parah maka harus mendatangi dokter.


***


Tiga hari berlalu dengan sangat cepat, kini Violet sudah pulang ke mansion begitu juga dengan Ronal dna Doni yang sudah pulang dan bahkan sudah masuk kerja. Sebelum Violet keluar Deren meminta dokter kejiwaan untuk memastikan mental sang istri. Violet memang sudah jarang menangis tapi dia hanya diam saja layak patung. Jika tidak di ajak bicara maka dia akan diam saja hingga membuat Deren sangat khawatir.


Deren selama tiga hari ini tidak masuk kantor dan hanya mengawasi dari rumah sakit. Orang-orang yang terlibat dengan penculikan Violet sudah di amankan. Sebenarnya Deren ingin mengakhiri nyawa mereka saja tapi dia hanya menyerahkannya kepada pihak berwajib dan perusahaan Morgan dan perusahaan keluarga Siska hanya di buat sahamnya turun nyaris bangkrut. Deren tidak mengampuni mereka sama sekali. Nyonya Carlos juga yang ikut terlibat sedang di proses oleh pihak berwajib.


Sementara Morgan yang mengetahui bahwa ibu dan istrinya terlibat hanya bersikap biasa saja bahkan perusahaan yang hampir bangkrut tak dia pedulikan untung saja masih ada tuan Carlos yang mengatasinya. Morgan tidak peduli dengan yang terjadi, salah mereka sendiri berurusan dengan Deren. Selain itu juga dia tidak membenarkan apa yang dilakukan istri dan ibunya yang merencanakan penculikan hanya karena dendam, di tambah lagi dia masih mencintai Violet. Yah, perasaan itu masih ada sulit untuk dia lupakan.


Deren juga tidak menyeret Morgan karena dia sudah menyelidiki bahwa mantan kekasih istrinya itu tidak terlibat dengan penculikan yang di rencanakan istri dan ibunya untuk itu dia memaafkan Morgan.


"Sayang, makanlah!" ucap Deren sambil membawa makanan di tangannya.


Violet yang sedang duduk di balkon menatap kosong langit di depannya hanya menatap sekilas ke arah sang suami, "Aku belum lapar suamiku." jawab Violet kembali menatap langit.


Deren hanya menghela nafasnya melihat itu, istrinya itu sejak pulang hanya diam saja di kamar dan memandangi langit dan mengabaikan makan. Para maid sampai ikut mengkhawatirkan keadaannya.


Deren segera mendekati Violet dengan makanan di tangannya, "Setidaknya makanlah sayang. Kau dari tadi belum makan. Kau memang tidak merasa lapar karena sedih tapi organ tubuhmu butuh energi untuk melakukan tugasnya jadi makan ya. Aku tidak mau kau sakit sayang." ucap Deren mulai menyuapi Violet.


Violet pun mau tak mau menerima suapan itu dengan air mata yang menetes. Deren segera menghapus air mata istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2