
Violet sudah berada di ruang operasi dengan di temani Deren. Operasi sudah mulai di lakukan sekitar lima menit yang lalu. Violet sudah di bius. Violet selama proses operasi berjalan dia selalu beristiqfar begitu juga Deren yang menemaninya.
Tidak lama akhirnya anak pertama mereka segera di angkat dan langsung menangis memenuhi seluruh ruangan lalu di susul oleh anak kedua dan ketiga. Kelahiran mereka tak ada drama sama sekali. Semua normal dan sehat serta langsung menangis begitu di keluarkan dari rahim Violet. Semua kemungkinan buruk tadi yang sempat di khawatirkan tidak terjadi karena langsung mendapat penanganan yang baik. Tapi jika Violet masih bersikeras untuk melahirkan normal mungkin semua itu terjadi. Kadang-kadang kita memang harus mengalah dengan takdir dan merelakan rencana yang sudah kita buat. Karena pada hakikatnya kita hanya bisa berencana namun yang menentukan tetap sang penentu takdir.
Violet dan Deren segera mengucap syukur begitu ketiga anak mereka itu sudah lahir dengan selamat. Violet walaupun keinginannya yang ingin melahirkan normal tidak terwujud namun dia tetap senang menyambut kelahirkan ketiga buah hatinya yang sehat dan normal itu. Sementara Deren jangan tanya betapa bahagianya dirinya karena dia lah yang lebih bahagia sampai menghujani istrinya itu dengan kecupan di seluruh sambil terus mengucap syukur.
“Dokter lakukan operasi bersih sekalian.” Ucap Violet setelah plasenta di keluarkan. Deren dan para dokter serta tenaga medis yang berada di ruangan itu pun saling menatap.
“Kamu yakin sayang mau melakukan itu?” tanya Deren menatap Violet lembut.
Violet mengangguk, “Aku yakin mas.” Jawab Violet tersenyum.
“Lakukan dokter.” Ucap Deren begitu yakin bahwa istrinya itu tidak terpaksa. Deren memang sudah mengatakan bahwa tiga anak cukup untuknya dan dia ingin Violet melakukan operasi steril saat melahirkan nanti. Namun Violet menolaknya mentah-mentah dan kini istrinya itu justru memintanya sendiri. Jadi Deren ragu dengan keputusan istrinya itu. Jangan sampai istrinya terpaksa.
Para dokter pun segera melakukan operasi tubektomi kepada Violet lalu setelah selesai dengan operasi itu mereka pun segera menyelesaikan operasi itu dan segera menjahitnya.
***
Sementara di luar, ibu Anggi mondar mandir di depan ruang operasi. Dia ingin tahu apa ketiga cucunya sudah lahir atau belum namun sekali lagi dia hanya bisa berdoa dan menunggu. Tidak lama kemudian para perawat keluar dengan membawa tiga bayi masing-masing di gendongan mereka.
“Nyonya, silahkan ikut kami. Tolong temani ketiga cucu anda karena nyonya Violet masih sementara di lakukan operasi bersih.” Ajak salah satu perawat.
Ibu Anggi pun segera mengangguk dan mengikuti ketiga perawat itu ke ruangan yang sudah di sediakan Deren untuk istrinya dan ketiga buah hatinya. Ibu Anggi mengikuti walaupun dengan perasaan bertanya-tanya karena Violet melakukan operasi bersih padahal sebelumnya putrinya itu menolak dengan keras. Namun sepertinya putrinya itu berubah pikiran.
__ADS_1
Sekitar setengah jam kemudian. Violet segera di pindahkan ke ruang perawatan setelah operasinya selesai. Deren selalu menemani istrinya itu sampai di ruang perawatan di mana ketiga anak mereka sudah berada dan ibu Anggi juga sudah menunggu.
Ibu Anggi tersenyum melihat putrinya yang di dorong di bed pasien itu. Violet tersenyum menatap sang ibu lalu meminta ibu Anggi mendekatinya. Ibu Anggi pun menurut dan mendekati putrinya itu, “Terima kasih bu sudah melahirkanku ke dunia ini.” ucap Violet terharu karena hari ini dia merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan buah hatinya. Memang dia melahirkan secara operasi dan tidak secara normal namun sungguh rasa sakit itu kini mulai terasa karena biusnya sudah mulai hilang.
Ibu Anggi tersenyum mendengar ucapan putrinya, “Ibu bangga padamu nak. Selamat atas kelahiran ketiga buah hatimu. Mereka sangat menggemaskan.” Ucap ibu Anggi lalu mengecup kening putrinya itu.
Violet tersenyum, “Mereka cantik dan tampan kan bu?” tanya Violet menatap box bayi di samping bednya itu.
Ibu Anggi mengangguk, “Apa jenis kelamin mereka nak?” tanya ibu Anggi.
Violet tersenyum lalu menatap suaminya, “Dua cowok satu cewek bu.” Jawab Deren.
“Wah yang mana yang cewek nak?” tanya ibu Anggi segera mendekati box bayi besar itu di mana ada ketiga cucunya sedang terlelap.
“Apa yang memakai yang pink ini?” tanya ibu Anggi dan Violet pun mengangguk.
“Wah sangat cantik.” Ujar ibu Anggi mengagumi kecantikan cucunya itu.
“Assalamu’alaikum kak.” Ucap Carra dengan hebohnya dan masuk bersama Edgar yang sepertinya sedang tertekan itu.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati dek.” ucap Violet.
Carra tidak mempedulikan hal itu dan segera mendekati Violet, “Kakak jahat masa iya aku ingin segera kesini menunggu kakak ipar melahirkan justru di larang.” Ujar Carra menatap Deren dan suaminya kesal.
__ADS_1
“Kami melakukan itu untuk kebaikanmu dek. Kau sedang hamil dan rumah sakit tidak baik untuk seorang ibu hamil.” Ucap Deren membela diri.
“Huh, bilang saja jika kakak tidak ingin aku ada di sini melihat keponakanku lahir.” ucap Carra mendelik ke arah kakaknya itu.
Deren pun hanya bisa menghela nafas dan hari ini moodnya sedang tidak ingin berdebat dan lebih memilih mengalah saja. Dia tidak ingin berdebat dengan adiknya itu karena sangat senang akan kelahiran ketiga buah hatinya.
“Aku hari ini malas berdebat denganmu dek. Aku lagi bahagia dengan kelahiran ketiga anakku.” Ucap Deren.
“Tuh lihat kakak ipar. Kakak meledekku lagi.” Ucap Carra.
Violet pun tersenyum mendengar ucapan adik iparnya itu, “Sudah jangan bertengkar. Lebih baik sana lihatlah ketiga keponakanmu tapi hati-hati kau juga harus menjaga keponakanku ini dengan baik. Kasihan dia jika harus mendengar maminya berdebat terus dan bergerak terus.” ucap Violet mengelus perut buncit Carra.
“Kakak ipar dia merespon ucapanmu seolah membenarkan apa yang kau ucapkan.” Ucap Carra karena anaknya itu bergerak.
Violet pun tersenyum melihat itu, “Tenang sayang ada aunty yang akan membelamu dari sikap bar-bar ibumu ini.” ucap Violet.
Carra pun tersenyum lalu ikut mengusap perutnya, “Maafkan mami nak. Mami hanya senang kesal dengan papi dan unclemu saja. Lagian kamu juga mau melihat ketiga kakakmu juga kan tapi mereka menghalangi mami sayang.” ucap Carra melapor kepada anaknya itu. Edgar dan Deren sebagai tersangka hanya bisa menghela nafas saja dan lebih memilih melihat ketiga bayi mungil yang masih terlelap itu.
“Sudah. Mereka melakukan itu demi kebaikanmu dek.” ucap Violet lembut.
“Aku tahu kakak ipar. Tapi biasalah aku ini tidak bisa hidup tanpa drama dalam sehari. Aku akan melihat keponakanku saja.” ucap Carra lalu segera mendekati ketiga keponakannya yang masih terlelap.
“Wah para keponakanku ini sangat tampan dan cantik. Apa keponakanku ini dua cowok dan satu cewek kak?” tanya Carra dan Deren mengangguk. Carra mengamati ketiga bayi itu dengan berbinar sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
“Siapa nama ketiga keponakanku ini kak?”