Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
70


__ADS_3

Deren hanya tersenyum melihat istrinya itu lalu segera menyusul istrinya tidak lupa membawa tas kerjanya dan ponsel serta tabletnya.


Begitu tiba di halaman luar sudah ada istrinya yang menunggu, "Doni keluarkan mobilku. Ohiya kau tidak perlu mengantar istriku hari ini karena dia akan ikut denganku tapi kau tetap harus melakukan tugasmu." ucap Deren kepada bodyguard istrinya itu.


Violet hanya menatap Deren sekilas karena dia masih kesal atau lebih tepat pura-pura kesal karena ingin mengerjai suaminya balik, "Maaf sayang. Aku janji tidak akan melakukannya lagi tapi kau juga jangan memakai lipstik seperti itu lagi." ucap Deren tepat di samping istrinya.


Violet yang mendengar itu seketika kembali kesal karena hampir saja ucapan suaminya itu di dengar oleh Doni yang mengeluarkan mobil suaminya, "Bisa gak ucapannya di jaga. Jangan bicara sembarangan tanpa melihat tempat." ujar Violet.


Deren pun segera menutup mulutnya begitu menyadari bahwa dia salah ngomong karena berada di tempat yang salah. Dia mengerti istrinya itu tidak ingin hal seperti itu di dengar oleh orang lain cukup mereka saja yang tahu akan hal itu, "Maaf sayang." ucap Deren.


Violet tidak menjawabnya dan justru segera masuk ke mobil suaminya yang sudah dikeluarkan oleh Doni. Deren yang di tinggalkan pun segera menyusul istrinya masuk ke mobil di depan kemudi, "Kami pamit!" ujar Deren lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya.


Doni mengangguk, "Hati-hati tuan, nyonya!" balasnya.


Deren dan Violet hanya mengangguk lalu mobil mereka segera berlalu keluar meninggalkan mansion itu.


Di dalam perjalanan kedua orang itu hanya diam saja hingga tidak terasa kini sudah tiba di TK Melati. Deren segera menghentikan mobilnya, Violet pun segera mengambil tasnya lalu mengarahkan tangannya ke suaminya untuk menyalaminya walau dia sedang kesal tapi dia tidak mungkin melupakan hal yang di ajarkan oleh kedua orang tuanya untuk menghormati suaminya. Deren pun mengarahkan tangannya dan Violet segera menyalaminya lalu hendak membuka pintu mobil tapi sayang Deren menguncinya.


Violet pun menghela nafasnya dan menatap suaminya, "Buka suamiku, aku akan terlambat." ucap Violet memandangi jam tangannya yang menunjukkan pukul 07.32.

__ADS_1


"Aku akan membukanya tapi setelah kau memaafkan aku. Jadi maafkan aku yaa sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji tidak akan menghapus lipstikmu lagi dan juga tidak akan membiarkan urusan pribadi kita dengan orang lain dan di sembarang tempat." Ucap Deren merasa bersalah.


Violet yang melihat itu hanya tersenyum karena dia memang tidak benar-benar marah pada suaminya itu dia hanya ingin mengerjai suaminya apalagi setelah mendengar ucapan suaminya yang tahu dimana letak kesalahannya tentu saja tidak ada alasan baginya untuk tidak memaafkan suaminya itu, "Aku tidak marah padamu suamiku. Mana mungkin aku marah pada suamiku sendiri. Aku sudah memaafkanmu. Tapi tetap saja kau harus menukar lipstikku." ucap Violet tak mau rugi.


Deren yang mendengar hal itu tersenyum lalu menggenggam tangan istrinya, "Kita akan pergi bersama untuk membelinya. Kau bisa membeli berapapun yang kau inginkan tapi jangan yang terlalu merah sayang. Aku bukan tidak menyukainya hanya saja itu membuatmu terlihat semakin cantik dan seksi. Aku tidak rela kecantikan istriku di nikmati orang lain cukup aku saja." Ucap Deren.


"Dasar sangat posesif tapi aku maklumi. Emm aku hanya ingin membeli satu saja suamiku. Aku sudah menginginkannya sejak lama tapi harganya mahal hingga aku harus menabung dulu untuk membelinya dan sampai sekarang belum ke beli. Aku hanya ingin membeli itu saja, tenang saja warna lipstik itu tidak mencolok karena aku memang tidak menyukai warna seperti itu." ujar Violet.


Deren yang mendengar itu sedih karena dia pikir dia sudah memenuhi sebuah kebutuhan istrinya ternyata tidak, "Kenapa tidak membelinya sayang. Aku kan sudah memberimu kartu tapi kau sama sekali tidak menggunakannya. Mulai sekarang kau harus menggunakannya terserah padamu mau membeli apa. Awas saja jika tidak digunakan aku akan marah padamu." Ujar Deren.


Violet merasa bersalah pada suaminya itu, "Maaf suamiku a-aku--"


Violet pun mengangguk, "Kalau begitu pergilah. Kau akan terlambat nanti. Aku akan menjemputmu saat pulang sekolah dan kita sama-sama mengunjungi ibu untuk membicarakan masalah kita." Ucap Deren mengucap lembut kepala istrinya.


Violet lagi-lagi mengangguk, "Yaa sudah aku turun suamiku. Kau pergilah bekerja juga." balas Violet lalu dia kembali menyalami tangan suaminya dan Deren membalas dengan memberikan kecupan di kening istrinya. Setelah itu Violet segera turun dan segera pergi ke pintu gerbang sekolahnya lalu melambai ke arah suaminya sambil tersenyum.


Deren pun membalasnya dengan senyuman lalu dia segera melajukan mobilnya meninggalkan sekolah itu karena jika tidak maka dia yakin dia akan berubah pikiran dan lebih memilih menemani istrinya daripada masuk kantor tapi hari ini dia harus k kantor karena ada meeting penting hari ini dengan kliennya yang tidak bisa di tinggalkan. Mungkin lain kali dia akan menemani istrinya itu.


Violet segera masuk ke sekolah begitu mobil suaminya tidak lagi terlihat oleh kedua matanya. Benar-benar definisi bucin sebenarnya.

__ADS_1


***


Singkat cerita, kini Deren berjalan memasuki ruangannya bersama Max sang asisten setelah kembali dari meeting bersama klien.


Deren segera duduk di kursi kebesarannya, "Apa jadwalku setelah ini?" tanya Deren.


Max pun segera memeriksa jadwal bosnya itu, "Emm tuan gak memiliki jadwal keluar lagi hari ini. Taun hanya perlu memeriksa dan menandatangani dokumen-dokumen itu." Ucap Max sambil menunjuk dokumen di atas meja kerja Deren.


Deren pun mengangguk, "Baiklah jika begitu. Aku akan mengerjakan dokumen ini di rumah. Segera kirimkan ke Mansion karena hari ini aku harus menemui ibu mertuaku dan juga Edgar dan Carra." Ucap Deren.


"Menemui ibu mertua? Untuk apa tuan? Apa ibunya nyonya sakit?" tanya Max heran pasalnya dia tidak menerima laporan apapun dari orang yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi ibu mertua bosnya itu.


"Jaga bicaramu. Ibu mertuaku baik-baik saja hanya saja kami memang ingin membicarakan sesuatu." balas Deren.


"Ohiya, aku memberimu perintah agar kau segera menyiapkan akad keduaku." lanjut Deren.


Max yang mendengar hal itu kaget sampai melotot, "Akad kedua? Apa tuan ingin menikah lagi? Bersama siapa? Wah anda sangat tega tuan dengan nyonya Vio. Kenapa anda ingin menikah lagi? Apa kurangnya nona Vio?" ujar Max.


Deren yang mendengar ucapan asistennya itu hanya bisa menggeram kesal lalu dia menatap asistennya itu tajam, "Kau ini kenapa selalu berpikiran buruk padaku. Jika saja kau bukan asisten kepercayaanku dan tidak memiliki kemampuan untuk menjadi asistenku maka sudah lama aku memecatmu. Aku itu akan menikah kembali dengan istriku, Arelia Violetta Smith. Kau mendengarnya dengan jelas kan?" ujar Deren kesal.

__ADS_1


Max mencoba mencerna ucapan bosnya itu, "Maksud tuan kalian akan melakukan akad lagi begitu?" tanyanya kaget.


__ADS_2