Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
123


__ADS_3

Hampir magrib, kini Deren baru saja tiba di mansion dan dia tersenyum melihat sang istri yang menyambutnya di pintu mansion. Deren segera melangkah cepat mendekati istrinya karena sepertinya istrinya itu sudah kembali. Dia segera memeluk Violet dan mengecup puncak kepala sang istri berulang kali sampai Violet protes akan apa yang di lakukan suaminya, "Mas!" protes Violet.


Deren tersenyum, "Aku sangat senang sayang kau sudah kembali. Seketika rasa lelahku hilang melihat senyumanmu menyambutmu. Jangan sedih lagi yaa sayang." ucap Deren langsung menggandeng istrinya masuk.


Violet yang mendengar penuturan suaminya menjadi merasa bersalah karena sudah selama seminggu ini dia hanya bersedih kehilangan janinnya hingga melupakan suaminya, "Maaf yaa suamiku karena sudah mengabaikanmu beberapa hari ini." ucap Violet menatap sang suami di sampingnya.


Deren yang mendengar itu langsung mengecup bibir sang istri tidak memedulikan jika ada para maid yang melihat itu, "Jangan bicara begitu. Aku tidak masalah sayang tapi aku hanya gak mau kau terlalu berlarut dalam kesedihan. Jadi jangan sedih lagi yaa, ikhlaskan dia, semoga dia akan menjadi penolong kita nanti." Ucap Deren melepas kecupannya.


Violet pun mengangguk karena memang dia tadi saat tidur setelah menonton bermimpi bertemu dengan seorang anak kecil yang sangat tampan. Anak kecil itu persis copyan Deren, dia menggenggam tangan Violet dan menghapus air mata Violet yang menggenang di pipinya karena terharu bertemu dengan anaknya, "Jangan menangis mommy, aku akan sedih nanti. Aku baik-baik saja di sini bersama kakek dan nenek, mereka menjagaku dengan baik. Mommy gak boleh sedih terlalu lama, sudah cukup mami menangis beberapa hari ini. Kasihan daddy dia jadi ikutan sedih melihat mommy yang hanya terus menangis kehilanganku. Aku senang memilikimu sebagai mommyku walau aku hanya sebulan bersamamu tapi aku sangat senang. Jadi jangan tangisi kepergianku mom. Aku janji akan selalu datang dalam mimpimu sampai adikku lahir nanti dan mommy tidak akan sedih lagi akan kepergianku. Jadi tersenyumlah mom, aku akan selalu datang nanti." ucap anak kecil itu lalu melepas genggamannya dari tangan Violet lalu setelah itu dia menghilang dari pandangan bersamaan dengan itu Violet terbangun.


Violet terbangun dengan wajah yang dipenuhi air mata, dia menatap tangannya yang tadi di mimpinya jari-jarinya di genggam oleh tangan kecil itu. Mimpi itu terasa sangat nyata seolah-olah dia memang baru saja bertemu dengan putranya bahkan genggaman anak kecil tampan itu masih terasa di jarinya. Setelah Violet memikirkan perkataan anak kecil yang dia anggap sebagai putranya itu dia memutuskan untuk mengakhiri kesedihannya.


"Mas, tadi aku membuat brownis. Apa kamu mau memakannya?" tanya Violet yang memang mengetahui bahwa suaminya itu tidak begitu menyukai coklat seperti dirinya.


Deren mengangguk, "Yakin mau mencobanya?" tanya Violet setelah melihat suaminya mengangguk.

__ADS_1


"Iya sayang. Apapun masakan buatanmu aku pasti menyukainya. Jadi sajikan untuk suamimu ini, aku ingin memastikan rasanya apakah telah berubah atau tidak." ucap Deren.


Violet yang mendengar itu pun hanya menatap kesal suaminya, "Apa kau baru saja meragukan kemampuan memasakku?" Tanya Violet.


Deren tersenyum, "Bukan begitu sayang. Hanya saja kau sudah lama memasak. Siapa tahu aja kemampuan memasakmu menurun." ujar Deren lalu mencuri kecupan lagi di bibit sang istri.


Violet yang kesal karena suaminya itu sudah mencuri kecupan dua kali pun menatap suaminya tajam, "Iss lihat tempat suamiku. Jangan main nyosor aja." Ucap Violet.


Deren pun tertawa melihat kekesalan di wajah istrinya itu. Dia lebih suka istrinya itu memarahinya daripada menangis dan diam seperti beberapa hari ini, "Maaf sayang. Lagian mereka juga gak lihat kok dan jika lihat pun maka sepertinya tidak masalah. Sudah lebih baik kau siapkan dulu kuenya. Aku mandi dulu yaa sayang. Sudah bau kayaknya." Ucap Deren mengakhiri percakapannya dengan sang istri.


"Tumben sadar diri!" ucap Violet lalu segera meninggalkan Deren menuju dapur.


***


Sekitar setengah jam kemudian, Deren keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya menutup tubuh bagian bawahnya lalu ada air yang masih menetes di tubuhnya di tambah lagi dengan rambut basahnya, memang terlihat sangat sexy.

__ADS_1


Deren tersenyum melihat pakaiannya yang sudah terletak di ranjang, "Istriku benar-benar telah kembali." gumam Deren sambil mencari di mana keberadaan istrinya itu tapi sepertinya berada di bawah. Deren segera memakai pakaiannya lalu segera melaksanakan sholat magrib karena memang sudah waktu magrib. Dia tidak mengajak istrinya karena dia tahu istrinya itu masih sedang nifas karena keguguran.


Selepas sholat Deren segera turun ke bawah dan di sana dia segera menuju meja makan di mana sang istri sedang sibuk menata makanan, "Kok banyak sayang?" tanya Deren yang baru menyadari bahwa banyak makanan serta ada beberapa piring juga di sana.


Violet hanya mengangguk saja dan tetap sibuk menata makanan mengabaikan suaminya. Deren yang kesal di abaikan segera mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang, "Jangan mengabaikan aku lagi sayang. Lebih baik kau marah-marah padaku tapi jangan mendiamkanku. Itu seperti hukuman saja." Bisik Deren hingga tidak menyadari bahwa ada yang datang.


Ehem


Deren segera melepas pelukannya dan melihat siapa yang datang mengganggunya, "Iss kak jika mau mesra-mesraan bukan di sini loh. Kami datang saja gak di sadari." Ucap Carra yang langsung menyopot sayur kesukaannya.


Ibu Anggi dan Edgar yang datang bersama Carra hanya tersenyum melihat Deren yang bermanja pada istrinya, "Ibu!" Ucap Violet segera menyalami ibunya di susul Deren.


Setelah itu mereka segera duduk di meja makan untuk makan malam bersama. Yah tadi sebelum menyiapkan pakaian untuk suaminya dia menelpon ibunya, Edgar dan Carra untuk makan malam bersama. Mereka menikmati makan malam itu dengan hikmat walau kadang-kadang di selingi dengan perdebatan kecil Deren dan Carra. Itu menjadi hiburan tersendiri untuk mereka. Tapi yang membuat suasana makan malam itu terasa sangat membahagiakan karena Violet mereka kembali. Ibu Anggi tersenyum melihat putrynya yang sudah kembali. Dia sangat bersyukur akan hal itu.


Selepas makan malam itu di saat para wanita sibuk membereskan bekas makanan. Deren mengajak Edgar bicara berdua di ruang kerjanya, "Edgar datanglah ke kantorku besok karena ada sesuatu yang harus aku bicarakan." ucap Deren.

__ADS_1


"Terkait apa kakak ipar?" tanya Edgar penasaran.


"Kau akan tahu nanti setelah di sana yang pasti ini sesuatu yang berkaitan dengan keluarga kalian. Aku belum mengatakan ini kepada Violet karena kondisinya yang kamu tahu kan. Selain itu juga aku baru mengetahuinya. Jangan bertanya-tanya tentang itu karena kau pasti akan mengetahuinya." ucap Deren lalu kedua pria itu segera keluar dari sana. Deren memang sudah memutuskan untuk mengatakan dulu kepada Edgar sebelum kepada sang istri karena dia yakin Violet tidak akan mempermasalahkan hal ini.


__ADS_2