Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
49


__ADS_3

Deren selama kepergian sang mommy dia menyibukkan kembali dengan urusan pekerjaan dan memperluas cabang-cabang perusahaannya hingga terhitung dalam kurun waktu tiga bulan ini dia sudah membangun dua cabang perusahaan. Entah apa yang terjadi padanya hingga menjadi seseorang yang kembali gila kerja bahkan lebih gila dari sebelum dia menikah hingga membuat Max bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi pada bosnya itu.


“Bagaimana perkembangan cabang perusahaan kita yang baru saja di bangun Max?” tanya Deren tanpa menatap sang asisten dan tetap fokus dengan dokumen yang dia periksa.


“Semua berjalan dengan baik tuan, tidak ada kendala sedikit pun.” Jawab Max.


“Baiklah. Kalau hotel dan apartemen yang di kelola Carra bagaimana?” tanya Deren lagi.


“I-itu sepertinya hotel yang berada di kota B memiliki sedikit masalah tuan hingga nona Carra sepertinya harus kesana untuk memeriksanya sendiri.” Jawab Max.


Deren lagi-lagi mengangguk mengerti, “Baiklah, biarkan dia pergi memeriksa sendiri hanya sediakan saja pesawat kita untuk mengantarnya dan biarkan dia memutuskan sendiri masalahnya kecuali jika masalah itu sudah tidak bisa dia tangani maka kita harus turun tangan untuk itu. Aku ingin melihatnya memutuskan sendiri tapi tetap saja bodyguard bayangan yang selalu menjaganya tetap harus ada, aku tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada adikku itu.” ujar Deren.


Max mengangguk mengerti, “Baik tuan akan saya kerjakan seperti kemauan anda.” Jawab Max berlalu dari ruangan Deren keluar menuju ruangannya sendiri.


Setelah Max pergi Deren menghela nafasnya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya itu sambil memikirkan sesuatu. Entah masalah apa yang mengganggunya hanya dia sendiri yang tahu karena dia tidak berbagi dengan siapapun bebannya itu.


Siang harinya Deren masih saja sibuk dengan tumpukkan dokumen di hadapannya yang sepertinya tidak akan habis-habis hingga ada seorang office boy yang mengetuk.


Tok tok tok


“Masuk!” ucap Deren.


Office boy itu pun segera masuk begitu mendapat izin, “Selamat siang tuan, maaf sudah mengganggu anda saya hanya ingin mengantarkan titipan makanan untuk anda saja.” ucap Office boy itu menunduk.


Deren yang mendengar titipan makanan langsung memandang office boy itu, “Dari siapa makanan itu?” tanya Deren.


“I-itu dari seorang wanita bernama Vio apa--” ucap Office boy sambil mengingat-ngingat.

__ADS_1


“Di mana wanita itu? Apa dia masih di bawah?” tanya Deren langsung berdiri dan menatap office boy itu.


Office boy yang sedang di tatap oleh bosnya menjadi takut, “I-itu sepertinya wanita itu sudah pergi tuan.” Jawab office boy itu gugup.


Deren yang mendengarnya hanya bisa menghela nafasnya kesal, “Ouh kalau begitu kau pergilah saja, letakkan makanan itu di sana.” Tunjuk Deren ke meja di depan sofa ruangan itu. Office boy itu pun segera melakukan itu lalu segera pamit pergi dari sana Doni, kenapa dia tidak memberitahuku akan kedatangan Vio.” Ucap Deren lalu segera mengambil ponselnya dan menelpon bodyguard yang menjaga Violet itu.


Tidak lama panggilan Deren langsung di jawab oleh Doni.


“Doni, di mana istriku sekarang?” tanya Deren to the point begitu sambungan telepon tersambung.


“I-itu nyonya ada di restoran di depan kantor anda tuan.” Jawab Doni gugup.


“Sejak kapan kalian ada di sini dan kenapa kau tidak memberitahu kepadaku bahwa dia datang ke perusahaanku?” tanya Deren.


“Maaf tuan bukan maksud saya tidak ingin memberitahu anda tapi nyonya sudah melarang saya untuk melaporkannya.” Jawab Doni ragu.


“Anda tuan tapi nyonya--” jawab Doni.


“Ahhh sudahlah aku akan kesana pastikan dia tidak pergi hingga aku tiba di sana awas saja jika dia pergi maka siap-siap saja gajimu bulan ini hangus.” Ancam Deren langsung memutuskan sambungan telepon tanpa mendengar protes dari bodyguardnya itu.


“Kebiasaan!” ucap Doni melihat ponselnya lalu dia kembali mengamati Violet yang sedang menikmati minumannya segelas oreo milkshake.


Sementara Deren langsung keluar dari ruangannya tidak lupa membawa makanan yang tadi di antarkan oleh office boy itu di tangannya. Dia berlari hingga Max yang melihat hal itu bertanya-tanya, “Mau kemana tuan muda?” gumam Max tapi dia segera menggeleng dan masuk kembali ke ruangannya dan menikmati kopi yang baru saja dia bawa dari kantin perusahaan.


Sekitar 10 menit kemudian akhirnya Deren sudah masuk di restoran di depan perusahaannya dan matanya segera menyapu ke seluruh ruangan itu dan begitu dia menemukan siapa yang dia cari dia segera menghampirinya sambil berusaha menormalkan detak jantungnya karena berlari tadi.


“Vio!” panggil Deren.

__ADS_1


Violet yang menunduk sambil menikmati minumannya itu tidak menyadari kedatangan Deren dan begitu mendengar namanya di panggil oleh suara seseorang yang begitu dia kenal dia mengangkat wajahnya lalu tersenyum begitu melihat siapa yang datang, “Kau datang?” tanya Violet sumringah lalu kemudian dia menyadari ekspresinya yang berlebihan itu dan mengutuknya dalam hati.


“Tentu saja aku datang, kenapa kau ke perusahaan tidak bilang padaku?” tanya Deren langsung saja duduk di depan istrinya itu.


“Gak apa-apa kok. Ohiya jangan hukum Doni karena aku yang sudah melarangnya memberitahumu kedatanganku. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu.” Ujar Violet.


“Kau tidak mengganggu pekerjaanku aku tadi sedang tidak sibuk kok.” ucap Deren tidak sesuai fakta karena faktanya tumpukan dokumen itu menantinya di sana.


Violet hanya mengangguk, “Eehh kenapa makanan itu di bawa kesini? Apa kau tidak menyukainya? Ahh maaf aku tidak sempat membuatnya, makanan itu tadi aku beli di restoran dekat sekolahku saat aku tadi berangkat kesini.” ucap Violet.


“Bukan aku tidak menyukainya tapi aku memang belum membukanya dan tentu saja aku tidak marah walau kau hanya membelinya tapi aku sangat senang kau sudah mengantarnya kesini. Aku akan memakan ini bersama denganmu di sini.” Ucap Deren mulai membuka makanan itu.


Violet menahan tangan Deren, “Eehh emang gak masalah makan di sini sedang makanan itu berasal dari luar?” tanya Violet.


Deren tersenyum, “Gak masalah sudah biar aku yang mengatasinya.” Ujar Deren lalu dia memanggil pelayan untuk meminjam piring dan sendok layaknya restoran ini bukanlah restoran bintang lima. Pelayan itu yang mengenali siapa Deren segera mengangguk saja dan tidak lupa Deren memesan cappucino.


“Beres kan?” tanya Deren tersenyum.


“Aku tahu karena mereka segan denganmu, dasar kau memanfaatkan ketenaranmu ini. Ahh kau makanlah aku sudah kenyang lagian itu makanan itu hanya untukmu saja.” ujar Violet.


“Gak, kita makan bersama. Tidak ada penolakan!” ujar Deren.


“Tapi itu hanya satu porsi saja. Ahh begini saja aku akan memesan makanan di sini saja atau kau yang memesan lalu makanan itu biar aku yang makan jadi aku tetap menemanimu makan kan.” Ucap Violet.


Deren menggeleng, “Sudah aku putuskan kita makan makanan ini bersama.” Ucap Deren.


“Terserahlah!” jawab Violet pasrah.

__ADS_1


__ADS_2