
Begitu Carra dan Edgar masuk langsung melihat Vioket dan Deren makan siang dengan saling menyuapi satu sama lain bahkan tidak menyadari kedatangan mereka. Carra dan Edgar yang melihat itu pun saling memandang lalu tersenyum ikut bahagia dengan kebahagiaan kedua kakak mereka. Carra dan Edgar segera mendekat ke meja makan di mana kedua kakak mereka berada.
"Ehm, apa kami bisa ikut bergabung?" tanya Carra.
Violet yang kebetulan membelakangi Carra menengok dan tersenyum, "Tentu saja dek. Ayo ikut kami makan." ajak Violet.
Carra mengangguk tapi kemudian dia menatap sang kakak yang tidak menatapnya, "Kakak, apa kami bisa ikut bergabung? Kau tidak keberatan kan?" tanya Carra kepada sang kakak.
Deren hanya menatap adiknya itu sinis, "Kakak tahu walaupun aku menolaknya kau tetap akan ikut. Jadi lebih baik sekarang duduklah dan ikut. Jangan basa basi." Ujar Deren.
Carra yang mendengar itu tertawa, "Wah kau hebat sekali kak sudah bisa memahamiku. Baiklah kami akan ikut makan dengan kalian dan mengganggu keromantisan kalian itu. Jangan panas yaa kak, kalian bisa romantis-romantis lagi di Paris. Itu tempat yang cocok untuk melakukan kegiatan romantis karena kotanya memang mendapatkan julukan itu. Untuk saat ini di tunda dulu kasihanilah kami yang belum menikah." ucap Carra ikut duduk di meja makan itu, begitu juga dengan Edgar yang dari tadi hanya menyimak saja.
Carra segera mengambil makanan yang ingin dia makan dan sedikit membantu Edgar juga. Setelah itu ke empat orang itu makan siang bersama walau ada perdebatan yang terjadi antara Deren dan Carra. Selalu saja ada yang mereka ributkan tapi Violet dan Edgar tidak mempermasalahkannya karena akan terasa aneh jika hal itu tidak terjadi.
***
Setelah makan siang bersama ke empat orang itu berkumpul di ruang keluarga, "Ada apa kalian datang kesini? Kakak yakin kalian datang kesini gak mungkin tidak punya tujuan kan?" tanya Deren menatap Carra dan Edgar sambil dia sedang makan jeruk di suapi sang istri.
"Kami datang ke sini memang gak punya tujuan selain menanyakan rencana kalian bulan madu." ucap Carra yang juga sedang makan jeruk.
"Kami memang akan bulan madu, apa itu masalah untuk kalian?" Tanya Deren yang langsung mendapat cubitan kecil dari sang istri di pinggangnya.
__ADS_1
Deren menatap istrinya, "Sakit sayang." ucap Deren.
"Makanya bicara jangan begitu sayang." timpal Violet lalu menyuapi jeruk lagi pada suaminya.
Carra dan Edgar yang melihat itu hanya tersenyum, "Kalian akan berbulan madu ke mana kak?" tanya Edgar memastikan apa yang dia dengar dari sang ibu yang mengatakan kakaknya akan berbulan madu di Paris padahal dia tahu kakaknya itu memiliki tempat impian lain.
"Kakak iparmu sudah merencanakannya kami akan ke Paris dek." jawab Violet lembut.
Edgar mengangguk saja, "Bukankah waktu kau remaja ingin ke Swiss kak?" Tanya Edgar.
Deren yang mendengar ucapan adik iparnya segera menatap sang istri karena sebelumnya istrinya itu mengatakan tidak ada negara yang dia inginkan untuk di kunjungi. Violet mengerti arti tatapan sang suami, dia tersenyum lalu segera menggenggam tangan suaminya, "Kau benar Edgar, aku memang ingin ke Swiss saat itu tapi bagiku itu semua sudah tidak penting lagi karena kemanapun aku pergi akan tetap menyenangkan yang penting aku pergi bersama suamiku. Selain itu juga kami bisa pergi kesana nanti. Suamiku sudah mengatakan akan mengajakku ke manapun. Jadi tidak masalah jika untuk bulan madu kali ini ke Paris karena Paris juga sangat indah dan memiliki julukan kota romantis jadi sepertinya momen bulan madu sangat cocok di sana." ucap Violet tersenyum menatap sang suami yang sepertinya terharu dengannya.
"Tentu saja sayang, kita akan kesana nanti." timpal Edgar tersenyum menatap sang kekasih.
"Edgar tenanglah aku pasti akan mewujudkan impian kakakmu ke Swiss." ucap Deren.
Edgar menatap kakak iparnya itu, "Kakak ipar kau jangan tersinggung dengan ucapanku karena aku tahu kau sangat menyayangi kakak yang pastinya akan mewujudkan apapun yang dia inginkan. Lagian juga kakak ingin melihat Paris dulu bersamamu sebelum ke Swiss." ucap Edgar.
Deren tertawa mendengar ucapan adik iparnya itu yang mengira dia tersinggung, "Aku tidak tersinggung Edgar." Ujar Deren lalu keempat orang itu segera tertawa bersama. Setelah itu Carra dan Edgar segera pamit dan mereka saling berpelukan.
"Kak Vio aku harap setelah kau pulang nanti sudah ada calon keponakanku di sini." ucap Carra sambil mengusap perut Violet setelah dia melepas pelukannya.
__ADS_1
Violet tersenyum mendengar perkataan adik iparnya itu, "Doakan saja yaa." ucap Violet yang langsung mendapat jawaban tentu dari adik iparnya itu.
Setelah selesai berpamitan Carra dan Edgar segera berlalu karena keduanya memang harus bekerja.
***
Sepeninggal Carra dan Edgar, Violet dan Deren kini berada di kamar mereka sambil merapikan pakaian yang akan mereka bawa lebih tepatnya hanya Violet yang mengaturnya di koper karena sang suami sibuk dengan ponselnya, "Jangan membawa banyak sayang. Kita bisa membelinya di sana nanti." ucap Deren yang tiba-tiba sudah ada di belakang Violet dan memeluknya.
Violet mengangguk saja dan membiarkan suaminya itu memeluknya karena percuma melarangnya jika suaminya tidak akan mendengarkannya.
"Sayang, katakan lagi padaku kau yakin berbulan madu di Paris dan bukan Swiss? Kita bisa mengubahnya kesana. Jika kau ingin." ucap Deren segera mengajar sang istri kembali ke kamar dan duduk di ranjang dengan Violet di pangkuannya.
Violet tersenyum mendengar ucapan suaminya itu yang sepertinya terganggu dengan ucapan Edgar tadi. Violet segera mengecup bibir sang suami sekilas, "Aku sudah mengatakannya dengan yakin suamiku bahwa aku ingin ke Paris. Aku memang memiliki keinginan untuk ke Swiss tapi bukankah itu bisa dilakukan lain kali. Sudahlah suamiku jangan pikirkan apa yang di katakan Edgar karena aku bahagia dimanapun berada selama bersama denganmu." ucap Violet.
Deren tersenyum setelah benar-benar yakin bahwa istrinya memang dengan ingin ke Paris bukan karena tidak ingin merusak rencana yang sudah di buatnya tapi karena istrinya itu menginginkannya, "Aku beruntung memilikimu sayang. Aku sangat mencintaimu." ucap Deren.
Violet langsung menutup mulut suaminya, "Jangan bicara begitu karena sebenarnya akulah yang beruntung karena sang di cintai olehmu sebegitunya. Aku adalah wanita paling beruntung." ucap Violet.
Deren tersenyum lalu mengecup bibir sang istri sekilas, "Kita sama-sama beruntung sayang. Selain itu cinta kita sudah di takdirkan sejak kecil." ucap Deren.
"Kau benar suamiku." balas Violet.
__ADS_1