
“Tidak akan, aku tidak akan melupakannya. Kau harus merasakan apa yang aku rasakan.” Siska mengatakan itu dengan wajah memerah marah.
Violet mencoba meredam emosinya berhadapan dengan Siska, sedikit tidaknya dia tahu bahwa Siska itu orangnya nekat. Violet sebenarnya memiliki ilmu dasar beladiri jika saja tidak mengingat saat ini dia sedang mengandung buah hatinya sudah pasti dia melawan Siska dengan kenekatannya tapi Violet tidak ingin melakukan hal yang dapat membahayakan kandungannya.
Jadi Violet lebih memilih jalan diskusi dengan wanita itu walau dia tahu bahwa peluang berjalannya diskusi ini tidak akan menyelesaikan masalah tapi setidaknya dia sudah berusaha mengulur waktu. Dia yakin anak buah suaminya pasti saat ini sedang berusaha menolongnya dan mungkin saja suaminya saat ini sedang dalam perjalanan.
“Lalu sekarang apa maumu? Apa kau ingin aku membangkitkan Raka kembali?” tanya Violet.
Siska yang mendengar nama orang yang di cintainya di sebut segera mendekat ke arah Violet lalu dia memegang dagu Violet dengan tangannya, “Jangan pernah sebut nama Raka dengan mulut kotormu itu, aku membawamu kesini memang untuk membalas dendam kematian Raka, nyawa di tukar dengan nyawa. Aku akan membunuhmu. Setidaknya akan ada dua orang yang sedih akan kematianmu yaitu suamimu dan suamiku. Hahahh, sungguh miris bukan suamiku saja sepertinya hanya akan menangisi kematianmu dan bukan kematianku. Tapi gak apa-apa setidaknya jika aku tidak bisa membuatmu merasakan kesedihan di tinggal orang yang di cintai setidaknya orang-orang yang mencintaimu akan merasa sedih kau tinggalkan. Aku muak dengan wajahmu ini Vio.” Ucap Siska lalu melepas tangannya dari dagu Violet.
Violet mencoba menahan sakit akibat tekanan tangan Siska itu, “Siska, apa dengan kematianku kau bisa hidup bahagia? Apa kau sudah menjamin hal itu. Perlu kau ingat Siska jika pun nanti aku mati walau aku percaya itu tak mungkin karena suamiku pasti akan datang menolongku, jika aku mati orang pertama yang akan aku ambil adalah dirimu. Aku bersumpah untuk itu.” balas Violet mulai tidak bisa mengontrol emosinya.
Siska tertawa miris, “Wah, suami? Bagus aku mau lihat bagaimana suami kebanggaanmu itu bisa menyelamatkanmu dari kematian. Aku akan buktikan bahwa kepercayaanmu kepada suamimu akan hancur karena dia tidak akan datang menolongmu.” Ucap Siska.
Violet menggeleng mendengar itu, dia yakin suaminya akan datang menolongnya walau kini dia akui bahwa dia sangat takut, “Wah, apa kau gemetar. Tenang Vio ini belum waktunya kematianmu. Aku ingin bermain-main dulu. Dulu kau di puji dan populer karena wajah cantikmu ini kan, aku akan lihat bagaimana reaksi mereka saat melihat wajahmu hancur, apakah mereka akan tetap mencintaimu.” Ucap Siska duduk di kursinya dan mendekat kearah Violet.
__ADS_1
Siska menengok kepada orang di sampingnya seolah memberi kode dan tidak lama kemudian mulut Violet langsung di beri lakban hingga tidak bisa bicara serta tangan dan kakinya di tambah ikatannya. Violet hanya bisa menatap marah kepada wanita di depannya, “Hahahh, kenapa Vio apa kamu mau bicara? Mau bicara apa?” ucap Siska tertawa. Violet hanya bisa berdoa dan berharap semoga ada keajaiban yang datang.
“Apa kau sudah pasrah sekarang menerima kematianmu? Huh, kasihan kau Vio sekarang kau menderita di sini sementara suamimu di luar kota yang entah sedang apa sekarang mungkin saja dia sedang bersenang-senang dengan wanita lain wanita yang lebih cantik darimu.” Ucap Siska tertawa lalu segera menengahkan tangannya kearah bodyguard di samping yang tadi mengikat Violet. Bodyguard itu segera memberikan sebuah silet baru kepada Siska.
“Vio, bagian mana wajahmu yang ingin ku beri tanda pertama kali.” Ucap Siska. Violet menggeleng dan menjauhkan wajahnya.
“Hahahahh, tenang Vio gak akan sakit mungkin hanya akan berdarah sedikit saja. Tenanglah! Permainan ini baru di mulai.” Ucap Siska tertawa.
Sementara Violet sudah semakin takut karena dia baru menyadari bahwa wanita yang berhadapan dengannya ini bukanlah manusia tapi psikopat. Violet di tengah keputusasaannya melihat kearah pintu ruangan itu dan seketika secercah harapan masuk ke lubuk hatinya begitu mengetahui siapa yang masuk. Violet ingin bersuara tapi langsung di beri isyarat untuk diam, Violet pun hanya bisa diam, “Hey, kau melihat ke mana? Lihat aku!” teriak Siska emosi karena Violet tidak melihatnya.
Siska mencoba bangun sementara Ronal mencoba membantu Violet melepas ikatannya, “Wah, wah bagus ada pahlawan rupanya. Sepertinya keyakinanmu bisa juga Vio.” Ucap Siska menatap Violet dan Ronal marah. Ronal membantu Violet berdiri dan kini mereka sudah ada di tengah-tengah pasukan Siska.
Ronal melihat sekeliling, dia dan Violet saling membelakangi, “Jangan khawatir nyonya, kami akan menyelamatkan anda.” Ucap Ronal mencoba meyakinkan Violet walau dia sendiri tak yakin bisa melawan sepuluh bodyguard yang sudah mengelilingi mereka saat ini.
“Sudah cukup bicaranya, serang mereka.” perintah Siska dan ke sepuluh bodyguard itu segera melakukan serangan, Ronal mencoba melindungi dirinya dan Violet dan karena itulah dia kena tinjuan dan tendangan pasukan Siska.
__ADS_1
Violet yang melihat itu tidak tinggal diam, “Nyonya anda keluarlah, carilah jalan keluar.” Perintah Ronal.
Violet menggeleng, “Gak, aku akan tetap di sini. Biarkan aku mencoba melindungi diriku sendiri asisten Ronal.” Ucap Violet.
“Tapi--” tolak Ronal yang menangkis pukulan bodyguard.
Violet tidak mendengarkan Ronal dan mencoba melawan satu bodyguard yang hendak menyerangnya dengan tendangannya. Siska dan Riki yang melihat itu segera meminta Riki menarik Violet, “Hentikan, jika kau tidak ingin nyawa nyonyamu habis di tanganku.” Teriak Riki.
Ronal pun menghentikan serangannya begitu melihat Violet yang di tangan Riki dengan sebuah pisau di lehernya. Ronal pun segera berlutut, “Lepaskan nyonya. Kalian bisa membawaku, aku menukar nyawaku dengan nyawanya.” Ucap Ronal.
Violet yang mendengar itu menggeleng, “Wah kau sangat loyalitas. Aku sangat bangga bisa bertemu dengan bawahan loyalitas sepertimu. Tuan Deren sangat beruntung memilikimu.” Ucap Siska.
“Jangan sebut nama tuanku dengan mulut kotormu itu.” ucap Ronal.
Emosi Siska pun terpancing dia segera berdiri, “Sialan kau. Kau berani mengataiku.” Teriak Siska emosi.
__ADS_1
Ronal menatap ke arah lain tidak menatap Siska hingga membuat emosi Siska makin naik pitam, “Bunuh dia lebih dulu. Aku ingin melihat sebelum Vio mati dia melihat asisten kepercayaan suaminya mati di hadapannya.” Perintah Siska segera duduk kembali dikursinya.