
Mbak Ratih pun hanya bisa menghela nafasnya karena ternyata nyonya barunya ini sangat keras kepala mirip sang tuan, “Baiklah!”
Violet pun tersenyum lalu langsung memeluk ketua pelayan itu, “Terima kasih mbak! Ayo kita ke dapur!” ucap Violet lalu melepaskan pelukannya. Sementara mbak Ratih hanya berdoa semoga Deren gak melihat Violet memeluknya karena dia tidak ingin tuan mudanya itu marah karena itu. Mereka memang tidak di izinkan untung sembarangan menyentuh majikan mereka kecuali pelayan itu yang memang sudah di tugaskan secara khusus menjaga.
“Nyonya tapi anda harus--” ucap Mbak Ratih.
“Tenang saja mbak. Aku akan mempertanggungjawabkan permintaanku ini.” ucap Violet tersenyum. Mbak Ratih pun hanya menghela nafasnya walaupun dia yakin bahwa Deren mungkin akan memarahi mereka karena sudah mengizinkan Violet masuk ke dapur.
Begitu tiba di dapur pelayan di sana menunduk hormat kepadanya, “Jangan menghormati saya seperti itu. Jangan menunduk saya tidak terbiasa.” Ucap Violet.
“Ohiya saya Violet!” lanjut Violet ramah.
Lalu dia segera memasak dengan di bantu oleh pelayan di sana. Sekitar satu jam akhirnya dia selesai memasak dan segera menata makanan di atas meja makan walau di larang oleh pelayan tapi bukan Violet jika tidak keras kepala.
“Selesai! Aku harus menelpon Carra!” ucap Violet berlari ke kamar Deren untuk mengambil ponselnya. Sementara pelayan yang melihat itu hanya menghela nafas mereka karena mereka takut akan mendapat amukan dari Deren nanti.
“Masakan nyonya sangat lezat yaa!” ucap pelayan yang sempat mencicipi masakan Violet.
“Iya ternyata istri tuan sangat ramah. Selain itu cantik, berpendidikan dan pintar memasak.” Ucap pelayan yang lain.
“Istri tuan unik! Aku pikir istri tuan akan memiliki sifat sombong dan angkuh seperti nyonya-nyonya kebanyakan.” Timpal yang lain.
“Sudah-sudah jangan ribut. Ayo kita kerja yang lain.” Ucap Mbak Ratih. Para pelayan itu pun segera mengangguk lalu segera menuju tugasnya masing-masing.
***
Deren setelah mengadakan rapat dengan kliennya segera pulang menuju Mansion untuk melihat Violet sekaligus makan siang bersama karena dia tahu Violet pasti merasa kesepian sendiri di sana. Kini dia sudah masuk Mansion dan para pelayan begitu melihat tuannya datang segera berbaris, “Di mana istriku?” tanya Deren.
“Nyonya ada di kamar tuan.” Jawab Mbak Ratih.
“Apa dia tidak keluar dari kamarnya?” tanya Deren.
Para pelayan itu diam saja lalu saat mbak Ratih ingin menjawab Violet segera turun dengan tersenyum, “Kamu sudah pulang? Aku pikir aku akan makan siang sendiri karena Carra sibuk dengan skripsinya.” Ucap Violet.
__ADS_1
Deren pun segera mendekati sang istri lalu mengecup keningnya, “Kamu baik-baik kan di rumah?” tanya Deren.
Violet pun hanya mengangguk karena dia masih merasa canggung jika Deren mengecup keningnya seperti itu, “Kamu bau apa? Kok bau bumbu dapur?” tanya Deren.
Para pelayan yang memang masih ada di sana pun semakin takut dan gugup sementara Violet merutuki kebodohannya yang tidak mandi setelah memasak, “I-itu..” ucap Violet.
“Apa kau memasak?” tanya Deren menatap Violet lalu segera menatap para pelayannya.
“Jangan memarahi mereka, aku yang memaksa untuk ikut memasak! Jika kau ingin menghukum maka itu aku, mereka gak salah!” ucap Violet.
Deren pun mengalihkan pandangan matanya lalu menatap dalam sang istri, “Kenapa kamu memasak? Apa makanan yang mereka buat kurang enak atau apa?” tanya Deren.
“Bukan seperti itu hanya saja aku bosan di kamar karena tidak ada yang aku kerjakan.” Jawab Violet jujur.
Deren pun tersenyum lalu mengacak rambut istrinya, “Jika bosan maka tidur sayang bukan memasak. Kamu harus di hukum begitu juga dengan mereka yang sudah membiarkanmu memasak!” ucap Deren.
“Gak kamu gak boleh menghukum mereka sayang. Aku yang salah, itu kemauanku sendiri yang ingin memasak jadi jangan hukum mereka. Please!” ucap Violet memohon.
Violet pun mengangguk pasrah, “Okay, kita setujui begitu. Ayo kita makan siang dulu!” ucap Deren lalu langsung menggandeng Violet menuju meja makan.
Mereka segera makan berdua sementara pelayan masih tetap berada di tempat mereka, “Deren, kenapa mereka tetap seperti itu?” tanya Violet pelan menujuk para pelayan.
“Biarkan saja mereka.” Balas Deren.
“Gak bisa begitu Deren kasihan mereka. Mereka juga pasti butuh makan siang lebih baik suru mereka bubar dan makan. Ohiya makanan kita juga kan banyak bisa kan kita bagi dengan mereka?” izin Violet.
“Baiklah terserah padamu saja sayang. Sekarang kamu adalah nyonya rumah ini jadi terserah padamu tapi ingat jangan selalu memasak biarkan pelayan melakukan itu. Aku tidak ingin jika mommy dan Carra tahu kau memasak mereka akan memarahiku karena menjadikanmu pelayan.” Ucap Deren.
“Jadi apa bisa aku membagi makanan ini dengan mereka?” tanya Violet berbinar dan Deren hanya mengangguk.
Violet pun segera menyuruh pelayan membagi makanan itu dengan pelayan dan bodyguard, “Jangan yang itu!” tunjuk Deren pada ikan bakar yang di masak Violet.
“Kenapa?” tanya Violet.
__ADS_1
“I-itu masakanmu kan? Aku ingin memakannya.” Ucap Deren. Violet pun mengangguk lalu segera membagi makanan itu dengan pelayan.
“Terima kasih nyonya!” ucap pelayan itu bersama-sama.
Violet hanya tersenyum, “Ohiya jika kalian ingin makan ikan bakar seperti itu ambillah yang ada di lemari. Itu untuk kalian!” ucap Violet lalu para pelayan itu segera mengangguk dan pergi ke tempat makan mereka dan makan bersama di sana dengan para bodyguard.
“Wow, ternyata benar-benar lezat masakan nyonya!” ucap mereka mencicipi ikan bakar yang di masak Violet.
“Nyonya ternyata sangat baik!” ucap mereka.
“Kita harus mensyukuri ini.” ucap mbak Ratih tersenyum lalu mereka segera makan siang bersama.
Uhuk uhuk uhuk
“Pelan-pelan!” ucap Violet memberikan segelas air untuk Deren.
Deren pun tersenyum menerimanya, “Jika kamu ingin memasak lagi masaklah hanya untuk kita makan! Aku tidak rela kau membagi masakanmu dengan mereka.” Ucap Deren. Violet yang mendengarnya hanya menatap Deren heran.
“Kenapa?” tanya Violet.
“Pokoknya begitu saja. Anggap saja itu hukuman untukmu karena memasak tanpa seizinku.” Ucap Deren lalu menghabiskan bakar itu.
“Baiklah aku menerimanya!” ucap Violet.
Deren pun tersenyum lalu kembali makan. Di lubuk hatinya paling dalam dia bangga dengan apa yang di lakukan Violet karena ternyata Violet wanita yang sangat baik dan penyayang, “Aku memang tidak salah memilihmu!” batin Deren sambil menatap Violet.
Setelah makan siang, “Apa kamu akan ke kembali ke kantor?” tanya Violet.
“Kenapa? Apa kau ingin aku temani di sini?” tanya Deren.
“Gak kok. Kau pergilah bekerja!” ucap Violet.
“Baiklah aku akan pergi karena masih ada rapat yang harus aku hadiri. Ohiya kamarku aku serahkan padamu. Terserah mau kau atur bagaimana. Aku tahu kau belum merapikan pakaianmu kan. Jadi aturlah sesuai keinginanmu. Aku menyerahkannya kepadamu! Aku pergi! Jangan lelah!” ucap Deren lalu segera mendekati Violet dan mengecup keningnya.
__ADS_1