
Violet segera di bawa ke aula begitu akad selesai dengan di apit oleh sang ibu dan Carra tentunya. Semua tamu undangan terpana melihat Violet terlebih Deren yang menatap kedatangan istri cantiknya dengan tatapan terharu. Istrinya sangat cantik benar-benar cantik. Para bodyguard dan pelayan di mansion ada yang meneteskan air mata mereka melihat Violet karena saking terharunya. Yah, mereka sudah tahu alasan dari pernikahan pertama majikannya itu karena Deren sudah mengatakan kepada mereka saat meminta bantuan mereka untuk membantu melamar Violet.
“Ahh nyonya sangat cantik.” Ucap salah satu maid sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya.
“Kau benar nyonya sangat cantik.” Timpal yang lain.
Violet yang memang lewat di hadapan mereka dan mendengar sayup-sayup suara itu tersenyum melihat mereka sekilas seolah mengatakan terima kasih kepada mereka.
Tidak lama akhirnya Violet sampai di hadapan Deren yang langsung di sambutnya dengan senyuman. Violet segera menyalami sang suami dan Deren membalasnya dengan kecupan di kening sekitar 15 detik. Entah kenapa jantung Violet berdetak dengan cepat padahal Deren sudah biasa melakukan itu tapi entah kenapa hari ini terasa berbeda.
Setelah itu keduanya saling memasangkan cincin nikah dan sudah pasti itu cincin yang baru. Cincin itu adalah cincin pilihan Carra lalu keduanya berfoto sambil memegang buku nikah mereka. Setelah itu selesai mereka melakukan prosesi sungkeman kepada ibu Anggi satu-satunya tetua yang mereka miliki. Lalu kembali di lanjutkan dengan foto bersama dengan seluruh tamu undangan yang hadir dalam akad itu.
Saat tiba giliran para maid dan bodyguard, “Nyonya anda sangat cantik.” Ucap para maid karena para bodyguard takut mengatakan hal itu karena ada singa jantan yang pasti akan marah. Jadi mereka diam saja.
Violet tersenyum, “Terima kasih para mbak.” Jawab Violet ramah.
Sekitar setengah jam akhirnya sesi foto itu selesai. Deren dan Violet segera kembali ke ruangan mereka masing-masing untuk mempersiapkan diri untuk acara resepsi yang akan dilakukan beberapa menit lagi. Para bawahan Deren segera menyingkirkan meja akad untuk persiapan resepsi. Deren dan Violet walau sudah menikah kembali mereka tidak mengganti pakaian di ruangan yang sama. Mereka tetap menggunakan ruangan yang tadi saat belum akad. Deren melakukan itu untuk menjaga kewarasannya karena jika tidak sudah pasti semua akan kacau.
***
Para tamu undangan yang di dominasi oleh kalangan atas itu mulai berdatangan menghadiri pesta pernikahan yang sangat di tunggu-tunggu. Kebanyakan dari relasi bisnis Deren datang karena ingin tahu siapa gadis beruntung yang menaklukan Deren apalagi relasi bisnis Deren yang pernah berniat menjodohkan putri mereka dengannya sudah pasti ingin tahu sosok istri Deren yang masih menjadi misteri.
Semua tamu undangan yang hadir sangatlah terpesona dengan aula resepsi pernikahan itu yang sangatlah megah. Ada beberapa dari mereka menduga kira-kira pesta pernikahan ini menghabiskan berapa miliar.
__ADS_1
“Papi, aku juga kalau menikah ingin pesta seperti ini.” ucap salah satu gadis kepada ayahnya.
Sementara di sisi lain ada seorang gadis yang sedang sibuk dengan kameranya yang mulai mengambil beberapa foto hingga tanpa sengaja kameranya sangat dekat dengan wajah seseorang dan terpotret, “Kau ini memotret apa sebenarnya?” tanyanya setelah menghapus fotonya yang sangatlah jelek, bagaimana tidak hanya dagunya yang terpotret.
Arini hanya mendengus kesal menatap orang di hadapannya itu, “Kenapa sih saya selalu sial jika ketemu anda?” protes Arini menatap pria yang membuatnya kesal itu.
“Kamu yang sial? Bukannya kebalik itu yang ada saya yang sial jika ketemu kamu gadis kecil.” Balas Doni tidak kalah kesal. Yah, pria itu adalah Doni.
“Sudahlah jangan bertengkar. Arini lebih baik lakukan tugasmu dengan benar. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun dan kau Doni kenapa suka sekali berdebat dengan wanita.” Ucap Ronal yang entah kenapa sudah ada di dekat mereka.
“Terima kasih tuan.” Ucap Arini ramah kepada Ronal dan mendelik kesal kepada Doni.
Doni pun hanya bisa menghela nafasnya kasar, “Kenapa aku bisa orang yang menemukannya dan membawanya Ronal.” Ucap Doni mengeluh.
“Apa yang kalian ributkan? Kok sepertinya seru.” Ucap Max yang tiba-tiba ikut bergabung dengan kedua temannya itu.
Doni dan Ronal hanya mengangkat bahu mereka bersamaan hingga membuat Max kesal.
***
Tidak lama akhirnya acara yang di tunggu-tunggu tiba yaitu kedatangan kedua mempelai menuju pelaminan. Semua tamu undangan segera melihat ke arah pintu masuk di mana di sana Deren dan Violet masuk menggunakan kereta layaknya raja dan ratu.
Deren turun terlebih dahulu lalu segera mengulurkan tangannya untuk menyambut sang istri. Violet tersenyum menerima tangan suaminya itu lalu dia segera turun begitu mereka mulai berjalan semua orang langsung terpana akan kehadiran mereka terlebih relasi bisnis Deren yang pernah berniat menjodohkan putri mereka dengan Deren. Saat ini mereka hanya bisa terdiam karena ternyata gadis yang di pilih Deren itu bagai bidadari yang kecantikannya nyaris sempurna. Kecantikan yang di miliki Violet tidak membuat orang bosan memandangnya. Semua tamu undangan terpana apalagi para relasi bisnis Deren yang seumuran dengannya atau mungkin di bawanya, “Sayang, jangan tersenyum.” bisik Deren cemburu.
__ADS_1
Violet yang mendengar itu bukannya berhenti tersenyum justru semakin tersenyum hingga dia terlihat seperti tertawa, “Wah nyonya sangat cantik. Apa yang ku lihat ini masih nyonya atau bidadari? Kenapa sangat cantik sekali.” Puji Arini sambil terus mengambil gambar.
Setelah cukup lama berjalan akhirnya Deren dan Violet tiba di pelaminan dan keduanya segera duduk di pelaminan. Acara inti pun di mulai. Acara demi acara di mulai dan para relasi bisnis Deren atau beberapa tamu undangan lain mulai naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
Violet tersenyum melihat siapa yang datang menuju pelaminan, “Albert!” panggil Violet ramah.
“Hi girl, aku bahagia melihatmu. Selamat berbahagia girl.” Ucap Albert.
“Kakak kau sangat cantik.” Puji putri Albert.
“Kau juga cantik sayang.” balas Violet.
Istri Albert pun segera memberi selamat. Dia tahu Violet adalah pelanggan café di mana sang suami bekerja sama seperti Albert dia juga menganggap Violet seperti adiknya maka tidak ada sedikit pun cemburu di hatinya melihat kedekatan yang terjalin antara suaminya dan Violet.
“Tuan, jaga dia baik-baik.” ucap Albert.
“Tentu saja. Terima kasih Albert.” Ucap Deren.
Albert hanya mengangguk lalu setelah selesai memberi selamat mereka segera turun dari pelaminan karena sudah ada beberapa relasi bisnis Deren mengantri untuk memberi selamat juga.
“Sayang, apa kau pegal?” tanya Deren begitu tidak ada yang mengantri untuk memberi selamat kepada mereka.
Violet menggeleng, “Aku bahagia. Terima kasih sudah memberikan pesta pernikahan megah ini untukku.” Ucap Violet.
__ADS_1