
Deren dan Violet terbangun setelah hampir sekitar dua jam tertidur bahkan waktu ashar sudah hampir habis. Deren yang lebih dulu terbangun bukannya segera beranjak bangun untuk bersiap sholat justru menatap Violet yang masih damai dalam tidurnya, "Cantik!" ucap Deren yanh selalu tidak bosan mengatakan itu karena baginya istrinya adalah wanita paling cantik yang tidak akan membuatnya bosan.
Violet yang sepertinya sudah terbangun membuka matanya perlahan lalu dia tersenyum melihat sang suami yang juga menatapnya, "Jam berapa ini suamiku?" tanya Violet dengan suara khas bangun tidur.
Deren mengambil ponselnya dan mengatakan dengan santai, "Pukul empat lewat sedikit." jawab Deren.
Violet yang mendengar itu segera membelalakkan matanya, "Astaga suamiku kita belum sholat, ayo bangun." ucap Violet segera bangun dengan cepat dan turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Deren yang melihat itu tersenyum lalu dia juga segera turun dari ranjang mengikuti sang istri menuju kamar mandi. Violet keluar dari kamar mandi sambil mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan suami yang tidak membangunkannya padahal suaminya itu sudah terbangun lebih dulu.
"Jangan cemberut sayang." Ucap Deren memakai sarung untuk sholat.
"Bagaimana mas udah bangun dari tadi tapi gak bangunin aku." balas Violet.
"Mas? Apa itu panggilan untukku?" tanya Deren layak orang bodoh karena memang panggilan itu untuk siapa lagi jika bukan untuknya. Orang mereka hanya berdua dalam ruangan itu.
__ADS_1
Violet hanya menghela nafasnya dan segera menggelar sejadah untuknya dan sang suami. Deren yang melihat itu pun hanya tersenyum lalu dia segera menuju sejadah yang di siapkan sang istri dan memulai sholat karena jika tidak dia yakin istrinya itu akan mengamuk sebab dia yang lama dan waktu sholat habis yang akan berujung membuat sang istri kesal.
Setelah selesai sholat, "Sayang, kita menginap di sini atau pulang?" tanya Deren walaupun sebenarnya dia ingin menginap di hotel ini bahkan dia sudah memesan kamar untuk mereka menghabiskan malam pertama di pernikahan kedua ini tapi dia tidak ingin egois dan ingin meminta pendapat sang istri. Jika Violet menolak menginap dan memilih pulang maka sudah pasti dia akan melakukan apa yang di ingin istrinya.
Violet segera menatap suaminya dan berjalan mendekati sang suami yang sedang duduk di ranjang dengan tidak ada rasa bersalah sedikit pun dia segera duduk di pangkuan sang suami, "Menurutmu bagaimana suamiku? Apa kita harus menginap atau pulang?" tanya Violet dengan lembut namun terdengar menggoda di telinga Deren.
Deren tersenyum lalu segera memeluk istrinya itu erat agar tidak jatuh dari pangkuannya walau itu tidak mungkin terjadi, "Kau menggodaku sayang." ucap Deren.
Violet terkekeh, "Bagian mana kalimatku yang menggodamu suamiku?" Tanya Violet sambil menyentuh rambut sang suami.
Violet tersenyum mendengar kata malam pertama keluar dari mulut sang suami karena ini bukanlah malam pertama mereka sebab walaupun keduanya tidak melakukan hubungan intim tapi tetap berbagi ranjang selama hampir enam bulan ini. Jadi di mana letak malam pertama itu?
"Malam pertama? Kau tidak salah kan suamiku? Kita sudah biasa berbagi ranjang selama ini. Jadi di mana letak malam pertamanya?" Tanya Violet tertawa.
Deren juga ikut tertawa mendengar kalimat sang istri. Memang benar mereka sudah berbagi ranjang selama ini tapi tidak ada hubungan intim sama sekali yang terjadi di antara mereka selain ciuman dan pelukan tentunya, "Malam pertama di akad kedua kita sayang. Selain itu juga walau kita selama ini sudah berbagi ranjang tapi kita belum berbagi peluh. Jadi belum ada malam pertama di antara kita. Mau yaa menginap di sini?" Ucap Deren.
__ADS_1
Violet lagi-lagi tersenyum, "Apa aku menolaknya?" tanya balik Violet.
Deren yang mendengar jawaban istrinya itu tersenyum menang karena merasa telah mendapatkan lampu hijau walau dia masih harus merayu sang istri agar malam pertama mereka untuk kali ini berjalan lancar. Deren yang gemas dengan tingkah istrinya akhirnya tidak tahan untuk melabuhkan ciuman di bibir sang istri yang memang sudah menjadi candunya.
Violet menerima dan membalas ciuman suaminya itu walau masih amatir. Deren tersenyum merasakan balasan ciuman itu dari sang istri hingga ciuman yang awalnya lembut itu perlahan-lahan mulai berubah menjadi panas dan semakin panas bahkan kini Violet yang ada dalam pangkuan sang suami sudah terbaring di ranjang dengan Deren yang menindihnya dan mereka masih berciuman panas. Deren yang hasratnya mulai naik bukan hanya ciuman saja tapi tangannya sudah turun ke bagian dada sang istri dan mulai meremas dengan lembut dua bukit milik istrinya itu yang masih tertutup dengan lapisan kain.
Violet seketika tersadar dengan apa yang terjadi dan segera menghentikan ciuman mereka dan juga memindahkan tangan sang suaminya dari dadanya, "Jangan dulu yaa nanti kita lanjutkan malam. Jangan sekarang yang ada jadi sore pertama bukan malam pertama." Ujar Violet tersenyum walau hasratnya sudah naik tapi dia juga ingin melakukan hal itu untuk pertama kali malam bukan sekarang masih sore.
Deren tersenyum mengangguk ucapan istrinya walau dia harus menenangkan gairahnya yang sudah sempat naik tapi dia akan menuruti istrinya yang terpenting lampu hijau itu sudah dia dapatkan karena gairahnya ternyata tidak lebih besar dari cintanya untuk istri cantiknya itu.
"Apakah perkataanmu itu bisa aku artikan sebagai persetujuanmu memberikan--"
Violet mengangguk dan langsung memberikan kecupan di bibir sang suami hingga ucapan Deren terpotong. Yah Violet memang sudah bersiap untuk hal ini. Dia akan memberikan hak sang suami dan menjadi istri dalam arti sebenarnya untuk laki-laki yang membuatnya jatuh cinta dengan segala yang di miliki pria itu.
Deren tersenyum mendengar anggukan sang istri dan percayalah hatinya sangat bahagia saat ini karena mereka sebentar lagi akan saling memberikan nafkah batin satu sama lain. Mereka akan saling memiliki serta memiliki arti berbagi ranjang sebenarnya. Deren sangat bahagia hingga dia mulai mendekatkan wajahnya dengan sang istri untuk kembali mencium bibir merah muda milik sang istri yang sudah menjadi candunya karena terasa sangat manis tapi saat tinggal beberapa senti bibirnya bertemu dengan bibit sang istri tiba-tiba ada tangan yang menghalanginya, "Kenapa?" Tanya Deren menatap lembut mata istrinya.
__ADS_1
"Hanya ciuman aja yaa jangan menyentuh yang lain." ucap Violet. Deren terkekeh mendengar hal itu dan segera mengangguk mengiyakan lalu kembali mendekatkan bibir keduanya dan terjadilah ciuman lembut dan panas itu. Percayalah Violet mengatakan itu hanya untuk menjaga kewarasannya agar tetap waras dan gairahnya jangan sampai naik walau ciuman itupun bisa membangkitkan gairahnya tapi sebisa mungkin dia akan mencoba mengendalikan gairahnya.