Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
147


__ADS_3

Max yang mengetahui bahwa Deren dan Violet sudah tiba pun keluar hendak menyambut tuan dan nyonya bosnya justru terpaku melihat penampilan baru Violet, “Tuan, nyonya--”


Deren yang menyadari tatapan terpukau dari asistennya kepada sang istri segera berdehem, "Max, jaga pandanganmu dengan baik jika kau masih ingin melihat indahnya dunia ini dan membiarkan matamu masih ada pada tempatnya." ucap Deren tegas.


Max yang mendengar itu segera tersadar dan langsung menunduk merasa bersalah karena sudah memandang nyonya bosnya dengan kagum, "Maaf tuan." ucap Max masih menunduk. Dia lupa bahwa nyonya bosnya itu memiliki suami yang tingkat keposesifannya sangat tinggi. Tapi jika itu dia pun pasti akan melakukan hal yang sama dengan tuan bosnya jika memiliki istri secantik dan seanggun nyonya bosnya itu. Jujur saja nyonya bosnya itu layak bidadari saja mana di tambah dengan memakai hijab sudah sangat terlihat seperti bidadari sangat cantik hingga membuatnya tidak sadar mengagumi dan memandangi nyonya bosnya itu.


"Kau di maafkan tapi awas saja jika kau mengulanginya lagi." ucap Deren.


Violet hanya menggelengkankan kepalanya tanda dia pusing. Dia segera meninggalkan suaminya yang masih berdebat dengan asistennya dan segera masuk ke ruangan suaminya. Deren yang sudah di tinggalkan istrinya pun segera menyusul masuk ke ruangannya, "Max, ngapain kau diam saja di sana. Cepat bacakan jadwalku hari ini." ucap Deren melihat ke belakang dan mendapati asistennya itu diam saja di tempatnya hingga membuatnya kesal.


Max yang mendengar itu pun segera bergerak dan ikut masuk bersama tuannya ke dalam ruangan. Violet yang sudah duduk di balik meja kerjanya menatap suaminya dan asisten suaminya itu yang masuk berbarengan, "Apa sudah selesai perdebatannya?" tanya Violet. Sebenarnya dia menyindir suaminya itu.


Deren yang di sindir hanya tersenyum sementara Max yang juga merasa tersindir hanya menunduk, "Maaf nyonya." ucap Max.


Violet hanya mengangkat bahunya tanda dia malas ikut dalam drama yang di ciptakan suaminya itu. Violet lebih memilih membaca dokumen di hadapannya itu dan membiarkan suaminya sedang bicara dengan asistennya.

__ADS_1


Tidak lama Violet meminta Arini ke ruangannya karena ada sesuatu yang ingin Violet tanyakan dan seperti Max dan para karyawan yang lain hal itu juga yang terjadi pada Arini. Begitu dia masuk langsung saja terdiam saat menatap Violet dengan penampilan barunya, "Rini, apa ada yang salah?" tanya Violet kepada asistennya itu yang hanya diam saja sambil menatapnya.


Arini yang mendengar itu langsung tersadar, "Ah, maaf nyonya saya melamun tapi nyonya sangat cantik dengan penampilan ini." ucap Arini jujur.


Violet hanya tersenyum mendengarnya, "Kau ini bisa aja. Bukankah kau sudah tahu saya membeli pakaian begini kemarin tapi kenapa kau masih kaget? Apa aneh yaa saya berpakaian begini?" tanya Violet.


Arini dengan cepat menggeleng, "Gak aneh sama sekali nyonya. Anda sangat cantik dengan penampilan ini. Jika saja anda adalah model atau selebriti maka percayalah saya akan menjadi ketua fansclub anda." ucap Arini. Jujur saja dia sangat terpesona dengan penampilan baru Violet itu. Memang benar dia kemarin pergi dan menemani nyonya-nya itu belanja hanya saja dia tidak menyangka bahwa nyonya-nya itu akan memakainya hari ini dan menciptakan perubahan yang sangat signifikan hingga membuatnya saja pangling melihat penampilan baru nyonya bosnya itu.


Violet lagi-lagi terkekeh mendengar ucapan asistennya itu, "Kau bisa saja. Kau sangat berlebihan mendeskripsikannya." ucap Violet.


Violet menatap suaminya yang kini menatap dirinya sambil tersenyum, "Apa yang membuatmu tersenyum suamiku?" tanya Violet.


Deren menggeleng dan kembali menatap dokumen di hadapannya masih dengan ekspresi tersenyumnya, "Mas, kenapa tersenyum? Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Violet lagi. Dia penasaran apa yang membuat suaminya itu tersenyum.


Deren segera menatap Violet, "Gak ada yang aneh dengan penampilanmu sayang justru penampilanmu sekarang ini membuat semua orang makin terpesona dan mengagumimu membuatku ingin marah saja. Aku tertawa karena mengingat perkataan asistenmu itu yang mengatakan dia akan menjadi ketua fansclubmu jika kau model atau selebriti. Tidakkah dia sadar bahwa dia sudah menjadi ketua fansclubmu itu saat ini. Semua artikel yang dia keluarkan semua tentangmu. Ahh dasar aneh dia." Ucap Deren tertawa.

__ADS_1


Violet yang mendengar ucapan suaminya pun tertawa karena membenarkan apa yang di katakan suaminya bahwa asistennya itu aneh. Masa iya mau menjadi ketua fansclubnya.


***


Sebulan berlalu dengan sangat cepat tidak terasa pernikahan Edgar dan Carra sudah hampir dua bulan. Rumah tangga Edgar dan Carra berjalan dengan sangat harmonis. Tidak ada pertengkaran satu sama lain. Keduanya saling memahami satu sama lain mungkin juga hal ini dipengaruhi oleh hubungan lama yang sudah terjalin antara mereka sebelum menikah sehingga sudah saling mengenal dan saling memahami sifat satu sama lain. Dalam menjalani rumah tangga tidak hanya cukup dengan cinta saja karena selain cinta dalam rumah tangga hal yang paling utama itu komunikasi, saling percaya, saling terbuka dan saling mengalah satu sama lain jika ada masalah. Gak boleh mementingkan ego sendiri.


Untuk rumah tangga Violet dan Deren sendiri pun berjalan dengan sangat harmonis dan semua keluarga sudah tahu Violet yang berhijab dan memantapkan hatinya untuk istiqamah menutup auratnya secara sempurna. Carra yang melihat Violet memakai pakaian tertutup dan penampilan baru kakak iparnya itu pun memiliki keinginan yang sama untuk ikut. Dia juga sudah mendapat izin dari Edgar untuk melakukannya tapi sama seperti Deren dia juga tidak ingin memaksa Carra melakukannya dan menyerahkan semua keputusan kepada istrinya itu. Carra sendiri juga sebelum memutuskan untuk berhijab dia masih memantapkan niatnya dan mentalnya nanti karena dia juga tidak ingin mempermainkan hal yang berbau agama.


"Kak, aku gak ikut yaa ke kantor hari ini. Aku pusing. Aku di rumah aja deh." ucap Carra yang entah kenapa sejak bangun tadi dia merasa pusing dan meriang.


Edgar yang sedang bersiap begitu mendengar ucapan istrinya segera mendekati Carra yang ada di ranjang. Dia segera menempelkan tangannya di dahi sang istri, "Gak panas." ucap Edgar.


Carra tersenyum lalu segera memegang tangan suaminya, "Aku gak demam kak hanya pusing saja." ucap Carra.


"Kita ke rumah sakit. Aku gak mau kau kenapa-kenapa sayang." ucap Edgar.

__ADS_1


Carra menggeleng, "Aku baik-baik saja kak. Beristirahat saja pasti akan sembuh. Mungkin aku hanya kelelahan." ucap Carra mencoba meyakinkan suaminya agar tidak khawatir.


__ADS_2