
Malam harinya, Violet dan Deren kini sudah ada di kamar sibuk dengan urusan masing-masing. Violet sudah tentu sibuk dengan perawatannya karena saat dia sedih tidak melakukan perawatan sama sekali kecuali mandi. Violet memang layak patung hidup yang hanya diam saja, jika tidak di ajak bicara maka tidak bicara juga sampai membuat Deren khawatir akan kesehatan mental sang istri. Tapi syukurlah Violet sudah kembali kalau tetap saja kadang-kadang dia masih merasa sedih dan kehilangan.
“Sayang, aku mau membicarakan sesuatu.” ucap Deren meletakkan ponselnya dan melihat ke arah istrinya.
Violet pun menatap sekilas sang suami, “Iya, sebentar yaa suamiku. Sedikit lagi.” Ucap Violet.
Deren pun mengangguk tersenyum karena dia sungguh sangat bahagia istrinya telah kembali. Setelah menyelesaikan perawatan wajahnya dia segera menuju ranjang mendekati sang suami, “Ayo katakan! Suamiku ini mau membicarakan apa?” tanya Violet.
Deren yang di pandangi oleh sang istri bukannya menjawab justru menarik Violet dalam pelukannya dan menghirup aroma harum tubuh sang istri, “Wangi sekali istriku ini.” ucap Deren lalu melepas pelukannya.
Violet pun hanya menghela nafas saja karena suaminya itu di tanya ini bukannya di jawab justru melakukan hal lain, “Ayo cepat katakan! Mau bicara apa, gak usah peluk-peluk segala. Lagian yaa suamiku aku ini baru saja memakai rangkaian skin care jadi sudah pasti wangi.” Ucap Violet.
Deren yang melihat ekspresi sang istri menjadi gemes sendiri, “Baiklah, aku akan bicara tapi ingat istri cantikku ini gak boleh protes nanti dengan apa yang aku lakukan.” Ucap Deren lalu dia bersandar dengan baik di pinggiran ranjang. Setelah memastikan posisinya nyaman dia segera menarik sang istri untuk bersandar di dadanya.
Violet pun hanya menurut saja karena dia tidak ingin ada drama lagi jika menolak itu. Deren segera mengambil ponselnya dan membuka sebuah dokumen di sana, “Bacalah!” ucap Deren memberikan ponselnya kepada sang istri.
__ADS_1
Violet pun menerimanya dan mulai membaca dokumen di ponsel suaminya itu. Violet membacanya dengan serius sampai tiba di isi dokumen itu dia kaget dan langsung menatap sang suami seolah bertanya, “Itu dokumen asli sayang. Dokumen fisiknya ada di ruang kerjaku.” Ucap Deren.
Violet pun bangkit dan duduk berhadapan dengan suaminya itu, “Kok bisa? Kenapa kau membeli sekolah itu? Ini bukan karena aku kan?” tanya Violet.
Deren pun tersenyum, “Ini semua demi kamu sayang. Aku mengalihkan sekolah itu menjadi bagian dari sekolah Robert juga ada alasannya. Alasannya yaitu sekolah itu menjadi saksi di mana aku melihatmu pertama kali setelah dewasa dan aku tidak ingin tempat yang bersejarah yang mempertemukan aku dan istriku itu di miliki orang lain. Kau tahu kan sayang, aku ini sangat pencemburu.” Ucap Deren.
“Iss tapi gak harus membeli sekolah juga kan? Lagian aku juga masih mengajar di sana.” Ucap Violet masih tidak percaya dengan yang dilakukan suaminya itu.
“Sayang, sekolah itu milik swasta jadi aku tentu saja bisa membelinya. Kau memang masih mengajar di sana dan aku tidak akan melarangmu untuk itu. Lagian aku percaya bahwa kau akan menepati janjimu untuk tidak bekerja lagi jika kau ingin. Jadi walaupun nanti kau sudah tidak mengajar di sana, kita tetap bisa kesan dengan status sebagai pemilik dan jika kau ingin mengelola sekolah itu juga tidak masalah karena aku membelinya atas nama dirimu. Sekolah itu dalam naungan Robert school yang aku bangun. Jadi mulai saat ini Robert School memiliki semua tingkat sekolah mulai dari TK sampai Senior High School.” Ucap Deren.
“Justru kau membeli atas namaku itu yang menjadi masalah suamiku. Jika kau memang membelinya menjadi bagian Robert School kenapa gak namamu saja.” ucap Violet.
Violet yang mendengar kata terakhir suaminya pun menggeleng lalu memeluk suaminya, “Jangan mengatakan permohonan suamiku. Aku merasa berdosa jika membuat suamiku memohon. Aku senang kau membeli sekolah itu atas namaku hanya saja aku masih merasa bahwa ini tidak pantas aku terima. Bagaimana mungkin aku yang hanya--”
Cup
__ADS_1
“Jangan mengatakan kata hanya karena aku tidak rela jika istriku merendahkan dirinya seperti itu. Kau itu segalanya bagiku sayang. Kau itu hidupku. Jadi tidak ada yang tidak pantas untuk kau terima.” Ucap Deren setelah menutup bibir sang istri dengan kecupan hanya karena tidak ingin mendengar Violet merendahkan dirinya.
Violet pun terharu dan memeluk suaminya itu erat, “Terima kasih suamiku untuk semua cinta dan kasih sayang yang kau berikan untukku. Aku sangat bahagia menjadi istrimu. Aku sudah memutuskan mulai kini tidak akan mengajar lagi. Aku akan mengurus urusan rumah tangga saja sama bisnis peninggalan mommy dan juga sekolah baruku itu.” ucap Violet dalam pelukan suaminya.
Deren yang mendengar itu tentu saja sangat senang tapi dia tidak ingin jika istrinya itu terpaksa melakukannya, “Kau yakin dengan keputusanmu ini sayang? Kau bisa kok tetap mengajar sampai kau tidak ingin lagi.” Ucap Deren.
Violet menggeleng, “Aku sudah memikirkannya akhir-akhir ini suamiku. Sepertinya ini memang sudah keputusan yang tepat. Seperti ucapanmu tadi walau aku sudah tidak mengajar di sana tapi tetap saja masih bisa kesana kan karena kita pemiliknya. Lagian juga Cally akan segera lulus dari sana dan dia akan masuk sekolah dasar. Jadi aku lebih baik berhenti mengajar saja. Aku juga ingin fokus dengan rumah tangga kita.” Ucap Violet.
Deren yang mendengar itu semakin mengeratkan pelukannya, “Aku sangat senang sayang. Kita akan melakukan perpisahan dengan anak-anak TK itu dan juga guru-guru di sana.” Ucap Deren.
Violet pun mengangguk, “Suamiku, bagaimana aku akan mengelola bisnis mommy? Aku memang lulusan manajemen bisnis tapi aku sudah lama gak mempelajari bidang itu. Aku takut akan mengecewakan mommy nanti.” Ucap Violet melepas pelukan mereka.
“Kau ini merendahkan dirimu lagi. Aku tahu bakatmu sayang dan bakat tidak butuh pembelajaran. Belajar hanya untuk menambah wawasan saja dan jika nanti kau pusing tenanglah aku akan bersedia menjadi gurumu 24 jam. Free! Tidak usah di bayar ehh salah bayarannya yaitu kau harus hidup bersamaku gak boleh meninggalkanku ataupun berniat meninggalkanku.” Ucap Deren.
Violet yang mendengar itu tertawa, “Baiklah guru, muridmu ini mohon bimbingannya ke depan untuk mengelola perusahaan mommy. Suamiku, aku mau mengatakan sesuatu.” ucap Violet.
__ADS_1
Deren pun mendekatkan telinganya, “Aku tidak akan meninggalkan sampai kapanpun suamiku. Kau itu segalanya bagiku. Aku harap ke depannya semua akan baik-baik saja. Aku mencintaimu suamiku!” ucap Violet berbisik.
Deren pun tersenyum dan segera menarik istrinya itu kembali ke pelukannya, “Aku juga mencintaimu sayang.” balas Deren.