
Sebulan berlalu dengan sangat cepat, hubungan Deren dan Violet semakin romantis tiap harinya. Tiada waktu yang mereka lewati tanpa keromantisan satu sama lain. Keduanya tidak malu lagi menunjukkan keromantisan di depan orang tapi dalam catatan hanya orang terdekat yaa maksudnya di depan keluarga mereka dan juga orang-orang mansion.
"Sayang, besok aku harus pergi ke luar kota." ucap Deren begitu keduanya sedang ada dalam kamar untuk siap-siap tidur.
Violet yang sedang perawatan di meja riasnya kaget mendengar ucapan suaminya, "Kok, tiba-tiba?" Tanya Violet tanpa menatap sang suami.
Deren yang sedang berbaring di ranjang segera beranjak dan berjalan mendekati sang istri lalu memeluknya dari belakang, "Maaf sayang aku juga baru dapat infonya tadi sore saat akan pulang. Maaf yaa!" Bisik Deren lembut.
Violet segera menyelesaikan perawatannya dan berbalik hingga kini keduanya saling menatap, "Aku gak keberatan suamiku kau akan pergi ke luar kota hanya saja aku kaget tadi mendengarnya dengan tiba-tiba. Berapa hari di sana?" Tanya Violet.
"Paling lama dua hari paling cepat besok malam selesai." Balas Deren.
Violet pun mengangguk mengerti, "Baiklah jika begitu. Mau di siapkan pakaian berapa?" tanya Violet beranjak dari kursinya berlalu menuju walk in closet.
Deren segera menyusul sang istri lalu keduanya menyiapkan pakaian untuk Deren bawa.
***
Keesokkan paginya setelah sholat subuh, Max sudah ada di mansion untuk menjemput Deren ke bandara karena memang rapat yang akan mereka hadiri pukul 08.00 dan ke sana membutuhkan waktu 90 menit dengan menggunakan pesawat.
"Sayang, aku pamit!" ucap Deren.
Violet hanya diam saja karena entah kenapa dia merasa tidak ingin ditinggalkan sang suami, "Aku janji akan segera pulang jika rapatnya selesai." Ucap Deren yang bisa membaca kekhawatiran di wajah sang istri.
__ADS_1
Violet pun akhirnya menatap sang suami, "Baiklah. Hati-hati dan lekaslah pulang." ucap Violet lalu menyalami tangan sang suami.
Deren tersenyum lalu dia mengecup kening sang istri lembut, "Selalu ajak Doni kemanapun kau pergi. Jangan pergi sendiri. Jaga diri baik-baik, aku akan lekas pulang." pesan Deren yang juga sebenarnya mengkhawatirkan istrinya di tinggalkan sendiri. Dia khawatir jika mereka akan melakukan hal buruk pada istrinya tapi rapat ini juga tak bisa dia tinggalkan. Dia hanya bisa berharap rapatnya segera selesai dan dia cepat pulang kesini.
Violet tersenyum mendengar pesan sang suami, "Emang gak cemburu aku pergi dengan Doni?" tanya Violet.
Deren yang mendengar itu memeluk istrinya, "Sebenarnya cemburu tapi hanya dia bodyguard yang bisa menjagamu." ucap Deren.
Violet mendengar itu terharu karena suami posesifnya itu bisa meletakkan keposesifannya di saat-saat tertentu, "Tidak bisakah kau tidak pergi? Aku merasa tidak tenang sama sekali. Maaf aku egois." Ucap Violet lirih.
Deren semakin mengeratkan pelukannya, "Aku janji akan cepat kembali. Jika kau khawatir hari ini cuti dulu. Di mansion saja telpon Carra dan ibu minta kesini menemanimu." Ucap Deren.
Violet melepas pelukannya karena jika tidak dia yakin suaminya itu tidak akan dia izinkan pergi, "Suamiku pergilah sebelum aku berubah pikiran untuk menahanmu di sini." ujar Violet menunduk.
Deren pun segera berlalu menuju mobilnya dengan langkah berat, "Doni jaga istriku baik-baik. Jangan biarkan dia terluka sedikit pun." Pesan Deren kepada bodyguard yang dia minta untuk menjaga sang istri.
Doni mengangguk yakin, "Saya akan menjaga nyonya dengan baik tuan." jawab Doni.
Deren hanya mengangguk lalu segera menuju mobilnya tanpa menengok ke belakang lagi untuk melihat sang istri sebelum pergi karena dia tidak ingin perasaan tidak teganya akan membuatnya membatalkan untuk hadir di rapat penting itu. Dia segera masuk ke mobilnya, "Jalan Max." Perintah Deren. Max pun hanya mengangguk dan segera melajukan mobil itu meninggalkan mansion.
Violet yang melihat mobil sang suami sudah hilang di balik gerbang mansion entah kenapa meneteskan air matanya sambil memegang dadanya. Para maid yang melihat itu khawatir, "Nyonya anda baik-baik saja?" tanya mbak Ratih segera menopang bahu Violet jika nanti terjatuh.
"Aku baik-baik saja mbak hanya sedikit pusing. Bisa antarkan aku ke kamar." Pinta Violet.
__ADS_1
Mbak Ratih pun mengangguk dan segera memapah Violet menuju kamar. Mbak Ratih segera memberikan kode kepada para maid untuk mengantarkan susu dan sarapan untuk Violet ke kamar yang langsung di angguki oleh mereka.
"Makasih mbak." ucap Violet.
Mbak Ratih hanya mengangguk lalu tidak lama ada maid yang masuk mengantarkan makanan.
"Nyonya silahkan anda sarapan dulu." ucap mbak Ratih.
Violet yang menutup matanya segera membuka matanya, "Mbak letakkan saja di sana aku belum ingin makan." Balas Violet lemah. Entah kenapa hati ini dia merasa sangat lelah dan lemah untuk beraktivitas. Selain itu juga entah kenapa dia tidak tenang di tinggalkan Deren. Seolah-olah ada sesuatu yang besar yang akan terjadi tapi dia tidak tahu apa itu.
Violet tiba-tiba merasa mual, dia segera bangkit dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi lalu muntah di sana tapi tidak ada makanan sama sekali yang dia muntahkan hanya air liur saja namun entah kenapa dia sangat mual. Mbak Ratih yang memang belum keluar dari kamar itu segera menyusul Violet ke kamar mandi lalu memijat tengkuk Violet lembut.
Violet setelah merasa mualnya sudah berkurang, Violet segera keluar dari kamar mandi dengan di bantu oleh mbak Ratih sampai berbaring kembali di ranjang, "Nyonya apa mau saya hubungi saja tuan?" tanya mbak Ratih khawatir karena melihat wajah Violet yang pucat.
Violet menggeleng, "Jangan mbak, kasihan dia. Pesawatnya juga mungkin sudah lepas landas. Jadi biar saja mungkin sebentar lagi juga sakitnya akan reda." Jawab Violet lemah. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa lemah seperti ini dan merasakan mual tapi saat akan muntah gak ada sama sekali yang keluar selain air liur.
Mbak Ratih pun mengangguk saja, "Nyonya, apa saya telpon saja ibu nyonya? Minta kesini?" tanya mbak Ratih lagi karena dia memang mengkhawatirkan Violet.
Violet yang mendengar itu mencoba tersenyum, "Gak usah mbak, Vio gak apa-apa. Mungkin Vio mual karena belum sarapan saja." jawab Violet menolak.
"Kalau begitu nyonya mau sarapan apa? Biar kami masakin?" tanya mbak Ratih.
"Gak usah mbak, lebih baik tolong Vio untuk mengambil sarapan itu." tunjuk Violet pada sarapan yang tadi di bawakan oleh maid.
__ADS_1
Mbak Ratih pun segera mengambilkan sarapan itu dan Violet menerimanya dan mulai makan tapi baru suapan ketiga tiba-tiba dia merasa mual kembali. Violet pun segera ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang baru saja dia makan. Entah kenapa dia hari ini begini padahal kemarin-kemarin biasa aja.