Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
133


__ADS_3

Keesokkan paginya, kini Violet, Deren dan Carra sedang ada di meja makan bertiga, "Dek, jam berapa semalam kau pulang? Kok kami gak tahu?" Tanya Violet.


Carra menatap kakak iparnya itu, "Semalam aku pulang jam sepuluh lewat kayaknya dan mbak Ratih yang masih bangun mengatakan kakak dan kakak ipar sudah beristirahat makanya aku tidak ingin membangunkan kalian." jawab Carra.


Violet pun mengangguk, "Ohiya, apa kamarmu bersih? Kakak gak tahu kamu pulang makanya kakak belum sempat memeriksa kamarmu." ucap Violet.


"Tenang kakak ipar. Kamarku itu sangatlah bersih." jawab Carra.


"Benar bersih kan kamu gak bohong?" tanya Violet memastikan.


Carra mengangguk, "Beneran kakak ipar. Jika kau tidak percaya kau bisa memeriksanya sendiri." jawab Carra jujur karena dia memang semalam langsung tidur.


Violet pun mengangguk mengerti dan dia pun segera duduk sarapan lalu tiba-tiba dia melihat jari manis sang adik ipar yang terpasang cincin saat adiknya itu itu mengambil lauk. Violet langsung menahan tangan adiknya, "Ini cincin apa dek?" Tanya Violet. Carra memang sering memakai cincin tapi biasanya bukan di jari manis hanya antara telunjuk dan jari tengahnya makanya saat adik iparnya itu memakai cincin di jari manis dia kaget.


Deren yang dari tadi hanya diam saja memperhatikan dan mendengar istri dan adiknya itu bicara mengalihkan pandangannya ke arah jari sang adik begitu mendengar Violet mengatakan cincin.


Carra mengatupkan bibirnya lalu menarik tangannya yang di pegang oleh Violet. Dia bukan ingin menyembunyikan ini dari kedua kakaknya itu hanya saja dia ingin nanti bersama Edgar mengatakan itu tapi seperti kakak iparnya itu memiliki mata yang tajam, "Cincin apa itu dek?" ulang Violet.


Carra pun menelan ludahnya kasar seperti ketahuan melakukan sesuatu yang buruk. Dia menghela nafasnya sebelum mulai bicara sepertinya dia harus menceritakan semuanya karena jika tidak dia yakin kedua kakaknya itu tetap akan mencecarnya sampai dia mau cerita, "Ini cincin dari kak Edgar." ucap Carra.


"Maksudnya?" tanya Violet bingung. Entah kenapa dia loading untuk menerjemahkan ucapan adik iparnya itu.

__ADS_1


"Dia di lamar sayang. Itu pemberian adikmu. Aku yakin itu makanya dia pulang ke mansion semalam pasti berhubungan dengan ini. Benar kan?" tebak Deren menatap adiknya itu. Begitu juga dengan Violet langsung menatap Carra seolah meminta jawaban apa benar yang di ucapkan suaminya.


Carra pun mengangguk pelan. Violet yang melihat anggukan dari adik iparnya itu tersenyum senang lalu dia berdiri mendekati Carra dan memeluknya, "Selamat sayang. Akhirnya adikku itu sudah tidak kecil lagi. Sudah bisa melamar seseorang. Sudah bisa meminta seorang gadis untuk menjadi istrinya. Selamat dek. Kakak senang kau akan menjadi adik iparku lagi." Ucap Violet.


Carra yang mendengar itu pun tersenyum senang, "Terima kasih kak. Kita memang sudah menjadi ipar dan akan menjadi ipar lagi untuk kedua kalinya. Aku senang menjadi adikmu kak." ucap Carra memegang kedua tangan Violet yang memeluknya dari belakang itu.


"Terus kapan dia akan melamarmu secara resmi?" Tanya Deren memecahkan suasana haru antara adik dan istrinya.


"Secepatnya kakak ipar. Aku harap kau merestuiku." ucap Edgar yang tiba-tiba masuk ke meja makan itu.


Ketiga orang di meja makan itu segera menatap ke arah Edgar yang langsung duduk di samping Carra.


Deren menatap Edgar sekilas lalu segera melanjutkan sarapannya, "Tergantung." ucap Deren lalu kembali serius dengan sarapannya.


Edgar pun mengangguk lalu tanpa di minta Carra langsung mengambilkan sarapan untuk Edgar. Edgar pun tersenyum menerimanya. Begitu juga dengan Violet ternyata adik iparnya itu berusaha belajar dengan baik untuk menjadi istri, sepertinya kedua adiknya itu sudah siap untuk membina rumah tangga walau di usia yang masih terbilang muda. Memang keduanya sudah legal untuk menikah tapi usia mereka masih tergolong muda.


Violet menggenggam tangan suaminya lalu tersenyum. Ke empat orang itu pun menikmati sarapan dengan suasana yang bahagia.


***


Dua hari berlalu dengan sangat cepat, kini Deren dan Violet seperti biasa selalu pergi bersama baik ke kantor maupun pulang lagi ke mansion.

__ADS_1


"Sayang!" Panggil Deren kepada sang istri yang sedang duduk membaca serius dokumen di hadapannya.


Violet yang mendengar panggilan suaminya pun segera mengangkat wajahnya dan menatap suaminya, "Edgar sudah mengatakan kepadaku bahwa dia akan datang melamar Carra lusa malam." ucap Deren.


Violet yang mendengar itu kaget pasalnya adik laki-lakinya itu tidak mengatakan apapun kepadanya, "Kok aku gak tahu? Apa dia tidak menganggapku kakak lagi sehingga tidak memberitahuku?" tanya Violet dengan wajah kesal.


Deren yang melihat kekesalan wajah istrinya tersenyum, "Sayang, mungkin adikmu itu tahu jika sudah mengatakan padaku maka sama saja mengatakan padamu. Kita itu satu kan? Selain itu juga kau memang kakak kandungnya tapi kau tidak boleh mendampinginya. Kau itu menjadi tuan rumah yang akan menyambut kedatangannya. Kau itu istriku." Ucap Deren.


Violet yang mendengar itu masih saja kesal karena tetap belum menerima keputusan adiknya yang tidak mengatakan apapun padanya, "Aku tahu itu suamiku tapi tetap saja dia harus mengatakannya padaku walau aku tidak bisa mendampinginya sebagai kakak kandungnya dan hanya akan menjadi tuan rumah yang akan menyambutnya. Ahh aku kesal dengannya. Aku harus menelponnya." ucap Violet meraih ponselnya.


"Gak usah di hubungi sayang. Mereka sedang sibuk saat ini melakukan fitting untuk lamaran mereka." ucap Deren.


Violet yang mendengar itu lagi-lagi hanya bisa melongo tidak percaya bahwa suaminya mengetahui itu sementara dia tidak tahu apapun, "Kok, kamu tahu lagi tentang ini? Kenapa aku merasa jadi orang bodoh dan kakak yang tidak peka sehingga tidak tahu sama sekali hal ini." Ucap Violet.


Deren tersenyum, "Soal ini bukan mereka yang mengatakannya padaku tapi aku yang meminta pengawal mengikuti mereka dan pengawalku yang memberi tahu padaku. Jadi jangan pernah merasa bahwa kau itu adalah kakak yang buruk karena kau itu adalah kakak terbaik. Selain itu juga aku paham kenapa mereka tidak meminta bantuan kita karena mereka ingin melakukan sendiri dan merasakan bagaimana rasanya mempersiapkan rangkaian pernikahan mereka." ucap Deren.


Violet pun mengangguk mengerti, "Aku mengerti suamiku. Seperti kita yang juga ingin turut andil dalam pernikahan kita waktu itu maka mereka juga ingin melakukannya sendiri." ucap Violet.


Deren pun mengangguk tersenyum, "Kita hanya perlu mendukung apa yang sudah menjadi keputusan mereka. Carra dan Edgar sepakat untuk melakukan lamaran di mansion dan nanti pernikahan di adakan di hotel. Jadi kita hanya perlu membantu itu saja." Ucap Deren.


Violet pun mengangguk, "Kalau begitu aku akan menghubungi pihak WO dulu." ucap Violet.

__ADS_1


"Tidak perlu. Max sudah melakukannya sayang." ujar Deren.


Violet pun akhirnya hanya mengangguk saja lalu pasangan suami istri itu kembali fokus dengan dokumen di hadapan mereka.


__ADS_2