Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
118


__ADS_3

Para bodyguard pun segere melakukan serangan bersamaan kepada Ronal akibatnya dia terdesak. Violet yang melihat itu menangis dan dengan sisa kekuatannya dia segera menginjak kaki Riki dan lepas dari kungkungan Riki.


Violet hendak berlari menolong Ronal tapi dia menggeleng, “Pergi nyonya, pergi--” ucap Ronal mencoba menahan serangan walau tenaganya sudah hampir habis.


Violet yang melihat itu pun menangis tapi sepertinya dia tidak punya pilihan lain karena Riki segera mendekat menangkapnya. Violet berlari ke pintu keluar tapi sayang Riki sudah di sana, “Mau kemana nyonya.” Ucap Riki ingin menangkap Violet kembali tapi kemudian pintu itu terbuka dari luar dan Riki yang berada di balik pintu segera jatuh ke depan untung saja Violet menghindar.


“Bawa nyonya pergi Doni.” Teriak Ronal yang mengetahui siapa yang datang.


Doni pun segera menarik Violet ke belakangnya serta Jack dan anak buah yang lain segera masuk ke ruangan itu membantu Ronal yang terdesak. Kini terlihatlah baru seimbang.


“Doni, cepat pergi. Bawa nyonya dari sini.” Perintah Ronal berteriak.


“Nyonya ayo pergi.” ajak Doni segera menarik Violet keluar dari sana. Doni memang baru tiba di sana dan langsung membantu Jack melawan pasukan Siska di luar sebelum masuk membantu Violet dan Ronal di dalam. Doni begitu di obati di Markas lima belas menit kemudian dia segera sadar dan langsung ke lokasi yang dikirimkan Ronal ke ponselnya. Begitu dia tiba Jack hampir kewalahan melawan pasukan Siska untung saja dia datang dengan bala bantuan yang lain hingga baru sepuluh menit sudah tumpas pasukan Siska.


Violet pun berlari mengikuti Doni tapi dia menengok ke belakang, “Kalian harus selamat.” Teriak Violet lalu segera berlari di belakang Doni. Ronal dan Jack serta bodyguard yang lain yang mendengar teriakan Violet itu seolah mendapat semangat baru karena ternyata nyonya mereka sangat menyayangi mereka. Mereka segera melawan serangan pasukan Siska beserta Siska sekalian, sebenarnya pantang bagi mereka melawan seorang wanita hingga hanya melumpuhkan Siska saja.


Sementara di luar, kini Doni dan Violet segera masuk mobil dan Doni segera mengendarainya tapi di tengah jalan ternyata, “Nyonya, rem-nya blong.” Ucap Doni mencoba tidak panik.


Violet yang mendengar itu kaget, “Lalu kita harus apa Doni?” tanya Violet panik.


“Kita harus keluar nyonya. Saya harap nyonya bisa melompat keluar dari mobil. Saya hitung sampai tiga nyonya. Bersiaplah.” Ucap Doni segera membuka pintu mobil, Violet juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


“Siap nyonya, kita keluar sekarang. Satu, dua, tiga--” ucap Doni. Violet dan Doni berhasil melompat dari mobil yang ternyata bukan hanya saja rem-nya blong tapi juga sudah di pasang bom hanya saja Doni tidak mengatakannya kepada Violet karena tidak ingin menambah kepanikan Violet, seketika mobil itu terbakar tepat mereka berhasil keluar.


Violet berhasil keluar tapi sayang dia tidak berhasil melindungi perutnya hingga perutnya menekan jalan, “Ahh sakit!” teriak Violet.


Doni yang mendengar teriakkan Violet seketika melihat Violet dan kaget begitu menyadari bahwa ada darah di kaki Violet, “Nyonya!” ucap Doni segera mendekati Violet.


“Sakit, Don.” Ucap Violet lemah sambil memegang bawah perutnya.


Doni yang melihat itu segera menggendong Violet, biar saja jadi urusan belakang dia akan di pukul oleh Deren karena sudah menggendong istrinya tapi sekarang dia harus menyelamatnya nyonya-nya dulu.


“Tahan nyonya!” ucap Doni bingung mau membawa Violet pakai apa hingga tiba-tiba datanglah mobil, “Tuan Doni ada apa dengan nyonya.” Ucap bodyguard itu yang ternyata bawahan mereka yang hendak membawa Ronal ke rumah sakit karena banyak kehilangan darah.


Doni tanpa basa basi langsung saja membuka pintu mobil, “Cepat ke rumah sakit sekarang. Cepat!” teriak Doni kepada bodyguard yang menjadi supir. Dia pun segera melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.


“Nyonya, nyonya. Bertahanlah. Jangan menutup matamu. Cepat!” teriak Doni frustasi karena dia akan menjadi orang paling bersalah jika terjadi sesuatu pada Violet.


Bodyguard itu pun segera menambah kecepatannya , sekitar 15 menit kemudian akhirnya mereka segera tiba di rumah sakit terdekat. Doni segera menggendong Violet sementara bodyguard segera membawa Ronal. Keduanya langsung di bawa ke UGD. Sekitar 30 menit kemudian tetap saja belum ada dokter yang memeriksa. Mbak Ratih berlari memasuki rumah sakit itu, “Doni, nyonya baik-baik saja kan?” tanya mbak Ratih langsung menatap bodyguard Violet itu, dia segera kesini begitu tahu Violet mengalami penyerangan. Doni hanya menggeleng. Mbak Ratih pun segera menangis karena jangan sampai apa yang dia khawatirkan terjadi.


***


Sementara di bandara, Deren baru saja tiba entah kenapa selama di pesawat dia tidak tenang dan pikirannya tertuju kepada sang istri. Begitu pesawat mendarat dia segera berlari keluar pesawat meninggalkan Max yang mengurus urusan pesawat sekali lagi, “Max, cepat cari tahu di mana istriku sekarang berada.” Ucap Deren sangat khawatir.

__ADS_1


“Ronal mengirim kita lokasi tuan. Sepertinya--” ucap Max tidak melanjutkan perkataanya.


Deren segera merampas ponsel asistennya itu dan membaca laporan Jack, “Ke rumah sakit sekarang Max. Cepat!” teriak Deren begitu membaca pesan yang di kirimkan Ronal dan Jack.


“Sayang, kau harus baik-baik saja. Maafkan aku!” ucap Deren meneteskan air matanya. Max yang melihat itu pun segera menambah kecepatannya hingga hanya dalam 12 menit kini mereka tiba di rumah sakit. Deren lagi-lagi segera keluar dan berlari menuju UGD di mana di sana ada Doni, mbak Ratih dan salah satu anak buahnya.


Doni yang melihat kedatangan Deren dengan Max di belakang menyusul segera berlutut di kaki Deren, “Tuan, maafkan hamba. Hamba tidak becus menjaga nyonya. Dia--” ucap Doni tidak bisa melanjutkan perkataannya.


“Tuan, hukumlah saya. Hamba menerima apapun hukuman anda walaupun itu kematian sekaligus. Hamba siap.” Lanjut Doni.


Deren hanya menatap bodyguard istrinya itu yang di mana ada terdapat luka di sana, dia juga melihat bawahannya yang lain yang juga ada luka di sana, “Di mana istriku?” tanya Deren.


“Di dalam tuan, masih di periksa dokter bersama Ronal.” Jawab Doni.


Deren pun mengangguk, “Berdirilah, segera obati lukamu dulu baru aku akan memikirkan hukuman apa untukmu. Cepatlah sana!” usir Deren.


Doni menengadah menatap Deren seolah tidak ingin berdiri sebelum mendapat kemarahan dari tuannya itu, dia lebih baik Deren segera memukulnya saja daripada diam begitu. Setidaknya jika Deren memukulnya rasa bersalahnya sedikit berkurang, “Max, bawa mereka mengobati luka.” Perintah Deren. Max pun segera melakukan tugasnya membawa Doni mengobati luka lalu setelah itu dia menghubungi Jack yang memang mengurus dalang di balik kekacauan ini.


Tidak lama dokter keluar, “Bagaimana keadaan istri dan asisten saya dok?” tanya Deren.


Dokter menghela nafasnya, “Asisten anda baik-baik saja kami sudah mengobatinya dan juga mengeluarkan peluru di kakinya, dia akan segera di pindahkan ke ruang perawatan. Istri anda juga baik-baik saja, pendarahannya sudah diatasi hanya saja kami tidak bisa menyelamatkan kandungannya.” Jelas dokter.

__ADS_1


Duar


__ADS_2