Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
119


__ADS_3

Deren yang mendengar akhir kata dokter langsung saja badannya goyah hampir saja terjatuh, “Maksud anda kandungan?” tanya Deren masih belum bisa menerima apa yang di pikirkan otaknya.


“Istri anda keguguran tuan karena perutnya mendapat tekanan yang kuat. Kami sudah berusaha tapi sepertinya--”


Deren segera mendekat dan memegang bahu dokter itu, “Istri saya baik-baik saja kan?” tanya Deren mencoba menerima kenyataan yang ada.


“Istri anda baik-baik saja tuan selain kandungannya yang mengalami tekanan. Untuk pemeriksaan lebih lanjut akan kami lakukan setelah dia sadar. Dia akan segera di pindahkan ke ruang perawatan.” Ucap dokter.


Deren menggeleng, “Saya akan membawanya ke rumah sakit Robert.” Ucap Deren kemudian.


Dokter itu pun mengangguk, “Baik tuan anda bisa memindahkan mereka kami akan segera mengurusnya.” Ucap dokter itu segera berlalu.


Seketika lutut Deren melemah hingga kini dia terjatuh. Mbak Ratih yang mendengar dan melihat kondisi Deren hanya bisa menangis, “Dia hamil? Kenapa aku gak tahu?” gumam Deren lemah.


Mbak Ratih segera mendekat kearah Deren, “Nyonya baru mengetahuinya tuan tadi pagi setelah anda pergi.” ucap Mbak Ratih. Tadi dia sudah berjanji kepada Violet untuk tidak mengatakan ini kepada Deren agar menjadi kejutan tapi saat ini dia harus mengatakannya.


Deren yang mendengar itu semakin merasa bersalah, “I-ini semua kesalahanku mbak. Aku pergi meninggalkannya demi rapat. Andai saja aku tidak pergi dan tetap bersamanya ini semua pasti tidak akan terjadi, a-anak kami akan baik-baik saja. Aku pasti menerima kejutannya saat ini tapi sekarang aku harus bagaimana mbak menjelaskan kepadanya bahwa anak kami sudah tidak ada. Aku suami yang gagal mbak.” Ucap Deren menangis.


Mbak Ratih pun hanya bisa ikut menangis, tadi pagi dia sangat ingat bagaimana bahagianya Violet setelah tahu bahwa dia hamil hingga siangnya dia makan nasi goreng dan sangat antusias memeriksa kandungannya lalu pulangnya dengan wajah bahagia menatap foto USG di tangannya. Entah bagaimana jika nyonya tahu bahwa anak yang tadinya dia sambut bahagia kini sudah tiada.


“Tuan, kita akan pikirkan itu nanti. Sekarang kita fokus pemindahan nyonya ke rumah sakit Robert dulu.” Ucap mbak Ratih. Deren pun menghapus air matanya dan segera berdiri mempersiapkan kepindahan Violet dan Ronal ke rumah sakit miliknya.

__ADS_1


***


Singkat cerita, kini Violet sudah ada di ruang perawatan di rumah sakit Deren. Ibu Anggi, Edgar dan Carra segera ke rumah sakit begitu mendengar Violet masuk rumah sakit.


“Nak, apa yang terjadi dengan Vio?” tanya ibu Anggi menatap sang menantu yang berada di luar ruang perawatan Violet dengan wajah memerah terlihat ada bekas air mata di sana.


Deren segera berdiri dan langsung memeluk ibu mertuanya itu, “Maafkan Deren bu, Deren tidak becus menjaga Violet hingga dia harus terbaring di rumah sakit. Maafkan Deren yang tidak bisa menjaga calon cucumu.” Ucap Deren lirih.


Ibu Anggi yang mendengar calon cucu dari perkataan sang menantu segera melepas pelukan Deren dan menatapnya, “Apa maksudmu dengan calon cucu? Apa Vio hamil?” tanya ibu Anggi.


“Tadinya begitu bu tapi sekarang dia sudah tidak ada. Calon anak kami sudah pergi bahkan sebelum aku mengetahuinya. Violet keguguran bu.” Ucap Deren meneteskan air matanya.


Carra yang mendengar itu pun langsung sedih dia tidak bisa membayangkan kesedihan Violet nanti. Walaupun dia baru juga mengetahui kehamilan Violet itu tapi dia yakin Violet akan sangat terpukul dengan kegugurannya ini, “Kak, di mana kakak ipar. Aku ingin menemuinya.” Ucap Carra menekan kesedihannya yang sudah kehilangan calon keponakan sebelum di ketahuinya tapi kesedihannya pasti tidak sebesar kesedihan kakaknya dan kakak iparnya yang kehilangan calon buah hati mereka.


“Di dalam tapi dia belum sadar karena tadi mengalami pendarahan.” Jawab Deren.


Ibu Anggi mencoba kuat dan mendekati Deren karena dia yakin menantunya itu pasti sangat terpukul akan hal ini, “Tenanglah nak. Kita akan lalui ini bersama.” Ujar ibu Anggi yang sudah mulai mengikhlaskan calon cucunya yang sudah pergi itu.


Deren mengangguk, “Tapi bagaimana bu jika dia bertanya? Aku harus mengatakan apa?” tanya Deren meneteskan air matanya lagi.


“Tenang kakak ipar, kita akan menjelaskannya dengan baik-baik walau mungkin kakak akan sangat berat menerimanya tapi kita tidak boleh menyembunyikan ini darinya.” Ucap Edgar menenangkan Deren. Setelah itu ibu Anggi dan Carra segera masuk menemui Violet di dalam.

__ADS_1


Deren dan Edgar menuju ruangan perawatan Ronal yang baru saja sadar untuk menanyakan semua yang terjadi. Sementara Max dan Doni segera menuju markas untuk melihat para tahanan. Doni sebenarnya masih butuh perawatan tapi dia memaksa karena merasa lalai tidak bisa menjaga Violet dengan baik bahkan sampai nyonya-nya itu keguguran.


***


Kini Violet sudah sadar dan dia melihat sekeliling di mana ada ibunya dan Carra di sana, “Ibu, Deren di mana?” tanya Violet begitu membuka suara.


“Aku di sini sayang.” ucap Deren yang masuk dari pintu. Violet menatap suaminya sambil mengulurkan kedua tangannya seperti minta di peluk.


Deren pun segera mendekati sang istri dan memeluknya, “Aku takut suamiku, mereka--” ucap Violet tidak sanggup melanjutkan perkataannya.


Deren yang mendengar itu dan mengetahui ketakutan sang istri semakin mengeratkan pelukannya dan dia merasa menjadi suami paling bodoh karena tidak bisa melindungi istrinya, “Aku di sini sayang. Aku akan melindungimu. Aku akan menjagamu. Jangan takut!” ucap Deren lirih karena menahan tangisnya.


Violet mengangguk dalam pelukan suaminya itu lalu setelah sekitar lima menit berpelukan, Violet melepas pelukannya dia menghapus air mata di pipi suaminya, “Jangan menangis suamiku, aku baik-baik saja bahkan--”


“Maafkan aku sayang.” potong Deren cepat yang sudah menduga apa lanjutan perkataan istrinya. Sungguh dia belum sanggup melihat istrinya terpuruk akan kabar kegugurannya.


Ibu Anggi dan Carra yang duduk di sofa memberikan waktu bagi Violet dan Deren menghela nafas mereka sambil menghapus air mata yang menetes, “Nak, lebih baik kau makan. Ibu sudah membelikan bubur untukmu.” Ucap ibu Anggi mencoba mengalihkan pembicaraan. Violet pun mengangguk lalu segera makan sambil di suapi ibunya tapi dia menggenggam tangan suaminya selalu.


“Suamiku, aku ingin mengatakan sesuatu. Sebenarnya ini kejutan tapi sepertinya aku akan mengatakannya berhubung kalian di sini. Aku ha--”


“Dia sudah gak ada.” Potong Deren.

__ADS_1


__ADS_2