Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
141


__ADS_3

Acara demi acara resepsi pernikahan Edgar dan Carra satu demi satu mulai selesai. Tamu undangan yang memberikan selamat pun sudah tinggal beberapa, "Ada apa? Sakit?" tanya Edgar yang melihat ekspresi sang istri yang seperti menahan sakit.


Carra mengangguk sambil memegang lengan sang suami erat. Edgar yang melihat sang istri mengangguk langsung segera membantu sang istri duduk lalu dia menunduk dan melepas higheels yang di pakai istrinya itu dan segera meminta Karan sang asisten untuk mengambilkan sepatu di mobilnya, "Memar sayang." ucap Edgar yang memang melihat kaki sang istri yang sudah memerah.


Carra tersenyum memandangi kekasihnya ya kekasih halalnya, "Terima kasih suamiku." ucap Carra lirih.


Edgar yang mendengarnya tersenyum lalu dia kembali duduk menunggu Karan yang masih mengambilkan sepatu untuk sang istri. Edgar menggenggam tangan istrinya itu. Tidak lama Karan kembali dengan paperback di tangannya. Dia segera naik ke pelaminan dan memberikan paperback itu kepada Edgar, "Terima kasih Karan." ucap Edgar mengucapkan terima kasih sambil menerima paperback dari tangan asistennya itu. Karan segera turun begitu Edgar menerima paperback yang dia ambilkan.


Edgar kembali menunduk dan membantu memakaikan sepatu kepada sang istri. Setelah selesai dia kembali duduk bersama istrinya itu, "Terima kasih. Kok bisa bawa sepatu? Kapan membelinya?" tanya Carra yang memang mengetahui bahwa sepatu yang dia pakai itu masih baru dan tentunya mahal.


"Kemarin. Sengaja membelinya untuk keadaan seperti ini." ucap Edgar.


Carra pun tersenyum karena Edgar tidak pernah berubah sedikit pun selalu saja punya persiapan sebelum melakukan sesuatu. Setiap Carra membutuhkan sesuatu barang itu entah kenapa sudah ada.


Edgar laksana bisa membaca apa yang akan terjadi kedepannya, "Kamu suka gak sepatunya?" tanya Edgar sambil berbisik.

__ADS_1


Carra langsung mengangguk tersenyum tanda dia memang sangat menyukai sepatu yang di beli suaminya itu.


Violet dan Deren yang melihat apa yang dilakukan oleh kedua adik mereka di pelaminan tersenyum, "Adikku sangat romantis kan suamiku?" ucap Violet menatap suaminya.


Deren mengangguk, "Kau benar dia sangat romantis. Dia bahkan sudah hafal bahwa Carra tidak mampu lama-lama memakai higheels hingga mempersiapkan sepatu. Tapi aku cemburu dengan perkataanmu sayang." ucap Deren manja lalu segera merangkul istrinya.


Violet yang mendengar itu pun terkekeh, "Gak usah cemburu deh suamiku karena bagiku tetap kau yang paling romantis. Aku akan dimana coba suami yang bahkan menipuku agar bisa menikah dengannya. Aku akan dapat dimana suami yang bahkan rela menahan hasratnya berbulan-bulan hanya karena tidak ingin mengingkari janji yang dia buat kepada istrinya. Aku akan dimana coba suami yang sangat menyayangiku dan bahkan tidak sanggup lama-lama tidak melihatku. Aku beruntung memilikimu sebagai suamiku, honey. Jadi jangan cemburu kepada siapapun karena hanya kau yang aku cintai." ucap Violet.


Deren yang mendengar ucapan sang istri tersenyum senang. Ingin rasanya dia mencium istrinya itu di sini karena saking gemasnya dengan sang istri namun dia masih punya akal dan rasa malu untuk tidak melakukan hal itu di depan banyak orang.


Acara pernikahan Edgar dan Carra tibalah pada pelemparan bunga. Semua muda mudi yang belum memiliki pasangan sudah bersiap untuk mendapatkan lemparan bunga itu. Di sana juga ada Arini, Doni, Max, Karan, Jack bahkan Ronal pun ada tapi jika di lihat-lihat sepertinya Ronal terpaksa ada di sana. Violet yang melihat itu terkekeh, "Suamiku, lihatlah para asistenmu itu. Sepertinya mereka sudah bosan menjomblo hingga antusias mau mendapatkan lemparan bunga itu ahh kecuali kembaranmu itu yang sepertinya terpaksa ada di sana." ucap Violet menunjuk ke arah di mana para bawahan mereka itu berkumpul.


Carra pun segera bersiap melempar bunga dan dalam hitungan ketiga bunga dilempar dan yang mendapatkannya adalah Arini tapi Arini hampir jatuh dan di tahan oleh Doni.


Violet yang melihat itu tersenyum, "Wow, dapat bunganya dapat juga calonnya." ucap Violet yang memang mengetahui bahwa bodyguardnya itu memiliki perasaan kepada asistennya.

__ADS_1


Deren pun tersenyum, "Sepertinya akan ada hubungan di antara kedua bawahanmu itu sayang." ujar Deren. Violet mengangguk membenarkan.


Setelah acara lempar bunga selesai kini acara di lanjutkan dengan dansa berpasangan. Lagu dansa sudah di putar dan ball room hotel pun di kosongkan. Edgar dan Carra sudah turun ke lantai dansa. Deren segera menatap sang istri, "Sayang, ayo kita berdansa." ucap Deren sambil mengulurkan tangannya dengan sedikit membungkuk.


Violet tersenyum dan segera menerima uluran tangan sang suami, "Dengan senang hati suamiku." ucap Violet.


Deren pun tersenyum lalu keduanya segera turun ke lantai dansa di mana di sana sudah ada muda mudi berpasangan dan kedua mempelai yang sudah berdansa. Violet dan Deren pun segera ikut berdansa mengikuti lagu dansa yang di putar.


Di sisi lain ada seseorang yang sedang kesal sambil menatap bunga di tangannya. Walaupun dia mendapatkan bunga lemparan dari pengantin itu tapi dia benci dengan apa yang terjadi tadi yaitu drama dia hampir terjatuh dan di tahan oleh pria yang sering membuatnya kesal, "Arini, maukah berdansa denganku?" ucap seorang pria menunduk sambil mengulurkan tangannya kepada Arini. Arini menatap pria di hadapannya itu dengan bimbang pasalnya dia sedang kesal dengan pria itu dan belum hilang kekesalannya kini pria itu memintanya untuk berdansa bersama. Apakah pria itu waras?


Tapi jika dia menolak kan kasihan kepada pria itu yang sepertinya sudah meletakkan harga dirinya dengan mengajaknya berdansa. Arini pun setelah memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil dia segera meletakkan bunga yang dia dapat di meja lalu menerima uluran tangan pria di hadapannya tanpa menjawab sama sekali apa dia setuju atau tidak.


Doni yang merasa bahwa uluran tangannya di terima langsung tersenyum dia segera mengajak Arini ke lantai dansa. Dia tahu Arini setuju berdansa dengannya walaupun tanpa ada ucapan menerima berdansa itu dengannya tapi gak apa-apa setidaknya gadis itu menerima uluran tangannya hingga tidak membuatnya malu. Doni dan Arini pun mulai berdansa bersama pasangan yang lain mengikuti lagu dansa yang di putar.


Violet dan Deren yang melihat Arini dan Doni di lantai dansa tersenyum, "Sepertinya drama tadi akan berlanjut suamiku." Bisik Violet di telinga sang suami dan tetap keduanya fokus berdansa.

__ADS_1


Deren mengangguk tersenyum, "Kau benar sayang. Kita akan doakan yang terbaik saja untuk mereka karena terlihat hanya Doni yang menyukai gadis itu sedangkan Arini tidak menyukainya sama sekali dan justru terlihat kesal kepada Doni." ucap Deren.


Violet pun tersenyum, "Kau benar. Doni sepertinya harus belajar darimu caranya menaklukan wanita." Ucap Violet yang membuat Deren terkekeh.


__ADS_2