
Saat ini Deren dan Violet sedang ada di kamar bersama sibuk dengan kesibukkan mereka masing-masing. Deren yang sibuk dengan memeriksa beberapa dokumen yang di kirim lewat email maklum yaa Deren pemilik dari perusahaan raksasa jadi waktu libur pun tetap di gunakan untuk mengawasi perusahaannya itu. Selain itu juga dia memang tipe pekerja keras yang gila kerja.
Sementara Violet dia sibuk dengan perawatannya, setelah selesai dengan perawatannya. Violet memandang langit malam dan bulan yang baru menampakkan dirinya di jam yang sudah lumayan larut. Violet mengagumi pemandangan itu hingga dia yang fokus memandangi itu tidak menyadari bahwa Deren berjalan mendekatinya dan baru sadar begitu ada tangan yang melingkar di perutnya, “Cantik!” ucap Deren ambigu entah apa yang dia puji. Entah bulan atau wanita yang tengah di peluknya ini yang di pujinya cantik karena pakaian Violet yang lumayan transparan hingga mengundang sesuatu dalam dirinya.
“Yah pemandangannya memang cantik.” Ucap Violet sambil melepaskan kedua tangan Deren yang memeluk pinggangnya.
“Biarkan dulu seperti ini Vio!” pinta Deren lemah.
“Jangan melewati batas Deren. Aku tidak menyukai ini.” ucap Vio.
Deren yang mendengar itu entah kenapa kesal hingga memutar tubuh Violet hingga mereka saling berhadapan. Violet menunduk tidak berani menatap Deren hingga Deren pun menengahkan wajah Violet dengan jarinya, “Tatap aku!” ucap Deren mendominasi.
Violet pun memberanikan diri menatap mata suaminya yang sejujurnya selalu menghipnotisnya, “Kenapa kau tidak mau ku sentuh?” tanya Deren kembali lembut.
“Kita sudah membahas ini sebelumnya jadi jangan mencoba melanggarnya.” Ucap Violet.
__ADS_1
“Aku tidak peduli dengan hal itu.” ucap Deren menatap wajah Violet dalam terutama bibir istrinya yang mungkin sudah menjadi candunya karena dia memang sering mencuri kecupan dari bibir istrinya itu saat istrinya tertidur. Sementara Violet yang mendengar itu membatin.
“Tapi itu sudah perjanjian yang sudah kita sepakati bersama. Sudah lepaskan aku!” ucap Violet lalu melepaskan kedua tangan Deren yang memegangnya lalu dia segera menuju ranjang.
Deren yang merasa di abaikan dan mungkin harga dirinya sebagai lelaki terluka pun segera mendekati Violet lalu mendorong istrinya itu ke ranjang lalu segera mencuri ciuman di bibir istrinya. Bukan ciuman lembut tapi ciuman yang di dominasi oleh perasaan kesal. Violet mencoba memberontak tapi sayang tenaganya tidak bisa melawan tenaga seorang pria seperti Deren yang rutin olahraga.
Deren melepas ciumannya dan memandangi gadis di hadapannya yang menatapnya tajam, “Anda sudah melewati batas tuan Deren. Kenapa kau melecehkanku.” Teriak Violet kesal.
“Persetan dengan perjanjian itu, aku tidak peduli dan bagian mana aku melecehkanmu, aku tidak melecehkanmu karena kau adalah istriku. Aku adalah suamimu yang sah secara Negara dan agama. Jadi layani aku!” ucap Deren kesal lalu kembali mendekati Violet untuk kembali menciumnya tapi belum sampai Deren melakukan itu sebuah tamparan mendarat di pipinya.
Deren yang merasakan sakit di pipinya karena ternyata tamparan istrinya itu sangat keras hingga membuatnya merasakan sakit. Deren menatap Violet tajam, “Kau berani menamparku! Hah! Kenapa kau melakukan itu? Apa hanya karena kau tidak mau melayaniku? Kau--” ucap Deren kesal hingga dia yang di dominasi oleh perasaan kesal dan amarah tidak mempedulikan Violet dan menciuminya dengan kasar.
“Layani aku sebagai suamimu. Aku ingin meminta hakku.” Ucap Deren mulai menarik pakaian yang membungkus tubuh istrinya. Deren juga sudah melepas kemeja yang dia pakai hingga kini dia bertelanjang dada.
Violet juga yang merasa di rendahkan tentu saja tidak tinggal diam dan terus memberontak. Dia tidak memedulikan lagi kedua asetnya yang sudah terbuka, “Jangan kau pikir aku ****** yang akan melayanimu. Apa kau pikir aku tidak akan melawanmu. Aku bukan budak nafsumu. Aku tahu kau suamiku dan aku adalah istrimu tapi ini adalah pernikahan kontrak.” Teriak Violet mendorong Deren dengan sisa tenaganya.
__ADS_1
Deren yang di dorong oleh Violet sedikit bergerak, “Kau bukan ******, aku tidak pernah menganggapmu seperti itu. Kenapa kau tidak bersedia melayaniku. Apa kau merasa jijik di sentuh olehku yang hanya seorang anak angkat. Hah! Katakan apa alasannya kau menolakku?” ucap Deren frustasi karena kemarahannya kepada gadis itu karena harga dirinya yang merasa terluka dan juga frustasi akan sesuatu yang sudah on di tubuhnya.
“Jawab Vio!” teriak Deren menatap gadis yang bersembunyi di selimut untuk menutup tubuh bagian atasnya yang sudah berhasil Deren buka dan sentuh itu.
Violet hanya diam saja hanya air mata yang bercucuran di kedua pipinya. Dia menangis tanpa suara, Deren yang melihat itu pun berteriak.
“Baiklah aku pergi tapi jangan menangis. Jangan menangis Vio! Berhenti menangis! Aku akan mengurungmu di kamar ini. Pikirkan kesalahanmu.” Ucap Deren lalu segera meraih kemejanya dan pergi keluar menutup pintu dengan keras hingga membuat Violet yang sesegukkan kaget.
Violet menangis lalu dia memperbaiki pakaiannya yang sudah acak-acakan lalu kembali menangis. Dia segera berdiri menuju kamar mandi membersihkan dirinya, entahlah kenapa dia merasa di nodai. Apakah mungkin bayangan wanita seksi yang mendatangi mereka di makam tadi hingga membuatnya seperti itu.
“Hiks, hiks, hiks,, sakit yaa Allah! Apa sebenarnya yang kau rencanakan untukku! Aku adalah istri yang buruk yang tidak melayani suami sendiri bahkan tangan ini sudah menamparnya. Aku memang istri yang buruk! Hiks, hiks, hiks!” tangis Violet mengguyur tubuhnya dengan shower di kamar mandi di kamarnya itu. Perlu di ketahui yaa karena Deren orang kaya tentu saja penginapan yang dia pakai pasti memiliki fasilitas mewah, jadi gak usah bertanya-tanya yaa kenapa ada shower di pantai. Selain itu juga penginapan itu memang penginapan pribadi keluarga mereka karena pantai ini adalah tempat favorit keluarga Deren berlibur.
Violet segera mendudukan tubuhnya di lantai kamar mandi dengan pakaian yang sudah basah tapi dia tidak mempedulikan hal itu dan tetap saja menangis dan memukul tangannya yang sudah menampar Deren tadi, “Aku hanya ingin mendengar dia mengatakan itu, jika saja dia mengatakan hal itu mungkin aku dengan senang hati akan memberikannya. Hiks,, hiks,,” ucap Violet masih menangis.
Sekitar 40 menit Violet menangis di kamar mandi dia baru keluar begitu merasakan tubuhnya sudah sangat kedinginan. Dia keluar dengan batrobe di tubuhnya sambil berharap bahwa Deren kembali ke kamar itu tapi sayang saat dia membuka pintu kamar mandi dia tidak menemukan Deren di kamar itu. Violet pun lagi-lagi menjatuhkan tubuhnya di lantai dan menangis kembali, “Kemana dia pergi! Apa dia pergi mencari wanita itu? Hiks,, hiks,, bagaimana jika dia tidur di luar dan kedinginan. Hiks,, hiks,, aku istri yang jahat.” Tangis Violet lagi menyalahkan dirinya. Mungkin Violet lupa siapa Deren hingga dia mengkhawatirkan pria itu kedinginan.
__ADS_1
Violet yang mungkin lelah menangis pun tertidur dengan memakai batrobe saja tanpa menggantinya karena dia baru tertidur menjelang dini hari karena menangis.