Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
151


__ADS_3

Kini Violet dan Deren sudah berbaring di ranjang dengan Deren memeluk istrinya itu yang masih sedih, "Mas, apa aku masih kurang ikhlas sehingga aku belum juga hamil sampai sekarang? Aku iri mas." ujar Violet.


Deren hanya semakin mengeratkan pelukannya karena sebenarnya dia juga iri dan sangat ingin menjadi seorang ayah hanya saja sepertinya belum waktunya, "Mas, aku ingin memiliki anak." Ucap Violet lagi.


Deren hanya bisa memeluk istrinya itu untuk menghilangkan kesedihan istrinya. Mereka tertidur sambil berpelukan.


Di kamar Carra juga terjadi pembicaraan yang sama, "Menurut kakak bagaimana perasaan kak Vio saat ini? Dia terlihat bahagia menyambut kehamilanku tapi aku tahu dia menyembunyikan kesedihannya dengan sangat rapi sehingga aku pun tidak bisa melihat kesedihan itu di matanya." ucap Carra.


Edgar yang mendengar itu memeluk istrinya, "Sudahlah. Kita ikuti saja kakak. Dia berpura-pura bahagia di depan kita maka kita ikuti saja. Aku juga tahu di balik bahagia kakak itu tersimpan kesedihan tapi dia sudah berusaha untuk menyembunyikannya dari kita maka kita ikuti saja." ucap Edgar.


Carra pun mengangguk setuju karena dia juga tidak ingin menambah kesedihan kakak iparnya itu.


***


Keesokkan paginya setelah melaksanakan subuh Violet dengan semangat empat lima dia segera menuju dapur memasak untuk Carra dan calon keponakannya. Gak masalah jika dia belum hamil namun dia tetap akan ikut bahagia dengan kehamilan adik iparnya walaupun dia harus menyembunyikan kesedihan yang timbul dalam dirinya karena rasa iri ingin hamil juga. Semoga saja kehamilan adik iparnya itu akan menjadi jimat untuknya dan Allah dengan kasih sayangnya akan segera menghadirkan anak kepadanya dan sang suami.


Violet pagi ini memilih memasak makanan yang mengandung asam folat. Carra juga langsung turun di temani oleh Edgar di belakangnya. Dia yang mencium aroma masakan segera menuju dapur dan mendapati Violet yang sedang memasak di temani para maid, "Wah kakak sedang membuat sup." ucap Carra berbinar.


Violet menatap adik iparnya itu dengan tersenyum, "Coba kamu cicipi dek. Apa rasanya sudah pas atau belum?" ucap Violet.

__ADS_1


Carra pun mengangguk lalu dia mengambil sendok dan mencicipi sup buatan Violet itu, "Bagaimana? Sudah pas gak?" tanya Violet.


Carra tersenyum lalu mengangguk, "Sudah pas kak. Lezat deh. Masakan kakak gak pernah gagal" Ucap Carra memuji.


Violet yang mendengar pujian dari adik iparnya itu pun tersenyum, "Kamu bisa aja." ucap Violet lalu dia segera mematikan kompor.


Singkat cerita, kini semua makanan untuk sarapan sudah tersedia di meja makan. Carra dia sudah dari Violet selesai memasak sup dia sudah mulai makan, "Kak, ini untukmu." ucap Carra memberikan mangkuk berisi sup untuk Violet.


Violet menatap Carra dengan heran, "Sudah. Kamu saja yang makan dek. Itu baik untuk kandungan. Kakak kan gak hamil jadi kamu saja yang habiskan." tolak Violet lembut.


"Kak, emang kenapa jika gak hamil. Kakak tetap butuh asam folat kan. Jadi jangan menolak dan makan itu sekarang. Biar para suami kita itu datang sendiri kesini." ucap Carra.


Carra yang mendapat pertanyaan itu hanya tersenyum cengesan, "Hehehh. Maaf kak. Lagian aku tahu kakak pasti akan turun walau aku tidak memanggil. Kan kakak butuh sarapan." ujar Carra.


Edgar pun hanya tersenyum lalu mengacak rambut istrinya itu dan segera duduk di samping Carra.


Sementara Deren dan Violet hanya tersenyum melihat interaksi antara Edgar dan Carra. Kedua adik mereka itu saling menyayangi satu sama lain dan sangat terlihat bahwa Edgar sangat menjaga Carra apalagi saat ini Carra sedang hamil.


Violet segera mengambilkan sarapan untuk Deren begitu juga dengan Carra lalu ke empat orang itu segera berdoa dan memulai acara sarapan pagi itu. Di tengah sarapan tiba-tiba Carra bicara, “Kak, kakak ipar maaf jika apa yang akan aku katakan nanti menyakiti kalian atau membuat kalian tersinggung tapi aku hanya ingin mengatakan saran saja. Aku tahu walau kak Vio tidak mengatakan dan memperlihatkan kesedihan padaku dan Edgar tapi kami tahu kak Vio pasti sedih kan mendengarku hamil? Jujur saja aku juga sedih kak, aku merasa sangat bersalah jika nanti melihatmu bersedih lalu menyembunyikan kesedihanmu itu dari kami. Aku ingin aku bahagia dan kau juga bahagia kakak ipar. ” ucap Carra menghela nafas.

__ADS_1


“Maaf aku katakan sekali lagi jika saran yang Carra berikan nanti akan membuat kalian tersinggung tapi sungguh aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya ingin kakak dan kakak ipar juga bahagia.” Lanjut Carra.


Violet tersenyum mendengar perkataan adik iparnya itu, “Sudah kami tidak akan tersinggung dek. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan.” Ucap Violet diangguki oleh Deren.


“Kak, kenapa kalian tidak ke rumah sakit saja untuk melakukan program. Aku bukan meragukan kalian hanya saja agar bisa lebih cepat dan juga memastikan apa kandungan kakak ipar sudah siap juga agar semuanya berjalan dengan baik. Maaf kak jika--”


“Kami gak marah dek. Kami gak tersinggung kok. Kakak paham apa maksudmu. Kakak juga sudah memikirkan hal ini beberapa hari ini tapi belum membicarakan dengan kakakmu. Kami akan datang ke rumah sakit nanti karena kakak juga ingin segera hamil seperti dirimu.” Ucap Violet tersenyum.


Carra pun akhirnya tersenyum begitu mendengar perkataan Violet, “Gak usah menundanya kak, aku ingin kalian datang hari ini ke rumah sakit. Kakak kau gak usah ke kantor, kalian ke rumah sakit saja. Aku sudah menghubungi dokter Riana dan membuatkan janji temu untuk kalian.” Ucap Carra.


Violet dan Deren yang mendengar ucapan Carra pun hanya bisa saling memandang karena ternyata adik mereka itu mengatakan sarannya sudah dengan persiapan yang sempurna bahkan sudah sampai dengan membuatkan janji temu dengan dengan dokter, “Mau yaa kak, kakak ipar? Jangan menolaknya. Aku ingin kita hamil sama-sama.” Ucap Carra.


Violet pun mengangguk, “Kakak menerimanya dek. Kami akan memenuhi permintaanmu itu. Kami akan segera ke dokter hari ini. Sudah lebih baik ayo kita lanjutkan sarapan. Kau makanlah yang banyak.” Ujar Violet.


Carra pun mengangguk, “Tanpa kau minta pun aku akan menghabiskan semua makanan ini kak. Aku akan menjadi gendut nanti dan kak Edgar tidak bisa lagi menggendongku.” Ucap Carra menatap suaminya.


“Aku akan berolahraga agar tetap bisa menggendongmu sayang. Sudah kau makanlah jangan takut gemuk karena aku akan tetap menyukaimu apapun bentukmu.” Ucap Edgar tersenyum.


Carra pun hanya mendelik ke arah suaminya itu, “Dasar gombal.” Ujar Carra.

__ADS_1


Violet dan Deren pun hanya tertawa melihat hal itu lalu mereka melewati sarapan pagi itu penuh dengan canda tawa dan kebahagiaan.


__ADS_2