Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
45


__ADS_3

Violet pun mengingat tapi tidak ada apapun yang dia ingat, “Huh, hari ini pernikahan mantan kekasihmu. Bukankah kau mendapatkan undangannya? Kenapa kau melupakannya?” tanya Deren.


“Mantan kekasih? Ouh Morgan?” tanya Violet layak orang bodoh yang baru menyadari bahwa hari ini pernikahan mantan kekasihnya itu karena sejujurnya dia benar-benar melupakannya bahkan undangan yang di berikan mantan kekasihnya entah sudah berada di mana.


“Yah Morgan, Morgan Carlos atau jangan-jangan kau memiliki kekasih selain Morgan dan aku gak mengetahuinya?” Deren menatap Violet penuh selidik walau sebenarnya dia tahu bahwa istrinya itu hanya memiliki satu mantan kekasih dan tidak ada yang lain lagi. Jangan tanya kenapa dia tahu karena tentu saja dia sudah menyelidiki semuanya. Saat ini dia hanya ingin mengerjai istrinya itu yang entah kenapa jika dia melakukan itu membuat moodnya kembali baik seolah-olah semua rasa lelahnya dan bebannya akan hilang jika berhasil mengerjai istrinya itu.


“Tuduhan macam apa itu? Ingat yaa tuan Deren aku hanya memiliki satu mantan kekasih dia adalah cinta pertamaku sekaligus seseorang yang menorehkan luka begitu dalam bagiku tapi aku sudah melupakannya.” Ujar Violet lirih di akhir kalimatnya.


“Apa dia masih memiliki tempat di hatimu?” tanya Deren entah kenapa penasaran akan hal itu.


Violet segera menggeleng, “Aku sudah melupakannya karena sejujurnya aku saat ini menyukai seseorang, yang tersisa untuknya hanyalah kebencian saja.” balas Violet yang membuat Deren tersenyum tipis nyaris tidak terlihat.


“Iya kau harus melupakannya karena saat ini kau itu istriku istri seorang pengusaha nomor satu di Negara ini dan juga pengusaha yang memiliki banyak cabang di Negara lain.” Ujar Deren dengan sombong.


Violet pun hanya menghela nafasnya mendengar kesombongan laki-laki itu dan lebih memilih meninggalkan Deren tapi lagi-lagi di tahan pria itu, “Jangan pergi temani saya mencicipi kue buatanmu itu.” pinta Deren yang langsung menggandeng tangan Violet untuk duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu.


“Iss gak usah Deren lebih baik saya keluar saja, saya masih harus memasak untuk makan siang.” Tolak Violet hendak berdiri tapi tentu saja Deren tidak mengizinkannya dan dengan terpaksa Violet duduk kembali.


“Kau mau minum susu, teh atas jus?” Tanya Deren sambil menekan tombol yang tersambung ke dapur.


“Susu saja.” jawab Violet singkat. Deren pun mengangguk dan segera menyuruh maid mengantarkan segelas susu ke ruang kerjanya.


Setelah itu Deren meraih kue buatan Violet dan mulai menggigitnya dan seperti biasa semua buatan Violet tidak pernah gagal baik rasa maupun penataannya, “Bagaimana rasanya? Apa ada yang kurang?” tanya Violet penasaran sambil memandang suaminya lekat.


Deren yang melihat itu tersenyum dan langsung menyuapkan kue bekas gigitannya itu kepada Violet, “Itu adalah kue buatanmu lalu kenapa kau bertanya padaku? Apa kau tidak mencicipinya lebih dulu?” tanya Deren kepada Violet yang mengunyah kue di mulutnya.

__ADS_1


“Aku mencicipinya tadi sepotong.” Jawab Violet setelah menelan kue dimulutnya dan bersamaan dengan susu yang baru saja diantar, Violet langsung meminumnya.


“Sepotong? Kau yang membuatnya dan baru memakan sepotong? Bukankah banyak yang kau buat? Kenapa baru makan sepotong?” tanya Deren.


“Emm aku membuatnya untuk--”


“Para pelayan dan bodyguard lagi?” potong Deren dan Violet mengangguk tersenyum.


Deren segera menggenggam tangan Violet dengan erat dan memandang istrinya itu dalam, “Vio kau itu istriku nyonya rumah ini tapi kenapa aku merasa kau justru pelayan yang melayani semua orang di sini. Aku sudah pernah mengatakan padamu jika memasak sesuatu itu secukupnya saja untuk kita bukan aku tidak ingin kau berbagi dengan mereka tapi mereka di sini itu di gaji dan itu memang pekerjaan mereka. Aku tidak ingin istriku justru melayani para pelayan dan bodyguard di sini, aku mengizinkanmu menyentuh dapur karena aku tahu kau hobi memasak dan itu adalah kesenanganmu tapi aku--” ucap Deren tidak melanjutkan perkataannya.


Violet tersenyum, “Ssttt aku mengerti Deren, aku janji aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Maaf! Hanya saja aku terbiasa bersikap begitu.” Ucap Violet.


“Aku tidak melarangmu memasak tapi aku hanya tidak suka melihatmu seperti ini. Kau mengerti kan apa yang ku maksud?” tanya Deren dan Violet segera mengangguk.


Deren mendekatkan wajahnya pada Violet dan melabuhkan satu kecupan di kening istrinya itu.


“Apa kau begitu menyukai coklat?” tanya Deren menatap istrinya.


Violet segera mengangguk, “Aku sangat menyukainya apalagi coklat panas itu bisa mengembalikan moodku. Coklat ada minuman dan makanan favoritku.” Jawab Violet.


Deren yang gemas dengan Violet mengusap rambut istrinya, “Jika kau menyukainya maka belilah coklat yang kau inginkan dan buatlah minuman kesukaanmu itu.” ucap Deren lembut.


“Sungguh? Apa bisa aku membeli coklat?” tanya Violet berbinar.


Deren lagi-lagi gemas dengan tingkah istrinya itu, “Tentu saja kau bisa membelinya, apa uang yang aku berikan kurang hingga kau tidak sanggup membelinya? Jika kurang ini ambil kartuku.” Ucap Deren menyerahkan kartu hitam miliknya.

__ADS_1


Violet segera menggeleng, “Aku gak butuh ini karena uang yang kau berikan saja tidak kupakai.” Ucap Violet.


“Ya sudah jika begitu, belilah yang kau inginkan jika uangmu tidak cukup mintalah padaku.” Ucap Deren.


Violet mengangguk, “Aku akan meminta mbak Ratih membelikan coklat berhubung juga bahan makanan sudah habis.” Ucap Violet tersenyum dengan mata berbinar mengingat coklat.


“Kemana sikap tegasnya dan keras kepalanya itu?” batin Deren yang gemas dengan tingkah istrinya.


“Vio seperti perkataanku tadi kita akan pergi ke pesta pernikahan Morgan. Bersiaplah!” lanjut Deren.


“Apa kita harus pergi?” tanya Violet dan Deren langsung mengangguk.


“Apa kau tidak siap melihat dia bersanding dengan wanita lain?” tanya Deren balik.


Violet langsung menggeleng, “Aku sudah melupakannya dan mengikhlaskannya untuk takdirnya karena hubungan kami sudah lama berakhir dan aku tidak mungkin masih menyimpan rasa untuknya.” Ujar Violet.


“Yah kau harus melupakannya karena jika tidak kau adalah gadis bodoh yang mengharapkan pria brengsek seperti dia.” Timpal Deren.


“Tapi Deren aku--” ucap Violet mencoba mengutarakan ketakutannya.


Deren langsung menggenggam kembali tangan Violet, “Ada aku mereka tidak akan berani melakukan apapun padamu. Aku akan melindungimu! Kita harus menghadiri pernikahan mantan kekasihmu itu dan ingat perlihatkan wajah bahagia agar mereka yang menyesal karena menolak gadis seperti dirimu hanya demi uang. Kamu terlalu berharga untuk menjadi bagian dari mereka.” Ucap Deren.


Violet mengangguk dan tersenyum, “Baiklah kita akan kesana. Aku akan bersiap-siap. Kita harus menyiapkannya dengan baik bukan?” tanya Violet dan Deren mengangguk sambil tersenyum.


Setelah itu Violet segera keluar dari sana dengan bahagia dan senyum di wajahnya. Deren hanya terkekeh melihat tingkah istrinya itu di usianya yang akan menginjak usia 29 tahun itu ternyata punya sisi anak-anak.

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu dan mencoba membuatmu menangis. Aku akan membunuh mereka yang mencoba melakukan itu diriku pun tidak terkecuali.” Gumam Deren


__ADS_2