Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
102


__ADS_3

Tiga hari berlalu dengan sangat cepat. Tidak terasa bahwa pernikahan kedua Violet dan Deren sudah melewati waktu tiga hari. Dalam tiga hari itu pasangan pengantin baru yang tertunda itu selalu melakukan kegiatan panas mereka setiap malam tapi tentu saja Deren selalu melakukan itu jika sang istri mengizinkan. Dia tidak ingin egois kebahagiaan istrinya adalah prioritas untuknya bahkan dalam tiga hari ini dia merasa bersalah kepada sang istri karena keesokannya setelah kembali ke mansion dia kembali bekerja di kantor karena ada rapat penting yang tidak bisa ditunda dan harus dia hadiri hingga membuatnya harus menunda bulan madu bersama istri cantiknya itu. Untung saja Violet sangat pengertian. Dia mengerti situasi Deren yang seorang presdir yang memiliki tanggung jawab besar terhadap karyawannya. Dia juga sebenarnya tidak menginginkan bulan madu karena menurutnya usia mereka tidak cocok untuk itu.


Tapi tentu berbeda dengan Deren dia menginginkan bulan madu bersama sang istri. Dia ingin memberikan kebahagiaan penuh kepada istrinya itu. Dia bahkan sudah merancang bulan madu yang indah untuk istrinya tapi untuk itu dia harus mempersiapkan semua dengan baik terutama terkait perusahaannya. Dia tidak ingin momen bersama istrinya terganggu dengan urusan pekerjaan.


Violet sibuk dengan memasak di dapur untuk makan siang dia dan suaminya. Dia memasak sendiri karena dia mengizinkan para maid membantu. Saking seriusnya dia memasak tidak menyadari kedatangan seseorang. Para maid yang melihat kedatangan orang itu segera menutup mulut mereka begitu mendapat isyarat untuk diam. Mereka juga hanya diam saja lalu segera pergi meninggalkan dapur itu meninggalkan kedua majikan mereka di sana. Violet masih belum sadar hingga tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya dari belakang. Violet sebenarnya kaget akan hal itu tapi begitu wangi parfum yang sangat dia kenali menyeruak ke hidungnya membuatnya tidak jadi memukul tangan itu dengan spatula di tangannya, "Aku merindukanmu sayang." Bisik pria itu di telinga sang istri yang tidak lain tidak bukan itu adalah Deren Brilian Robert suami dari Arelia Violetta Smith.


"Suamiku tolong dong lepasin pelukannya, aku kan lagi memasak." ucap Violet yang merasa pergerakannya terganggu karena Deren yang masih memeluknya.


Deren yang mendengar protes itu bukan melepaskan pelukannya tapi justru semakin memeluk erat istrinya, "Sayang, aku rindu. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi." Bisik Deren parau karena menahan gairahnya. Entah kenapa setiap melihat Violet dia sulit mengontrol nafsunya itu padahal dulu saat mereka belum saling memiliki satu sama lain dia masih bisa mengontrol nafsunya walau kadang-kadang dia juga terganggu tapi ini setelah mereka saling memiliki dia sulit mengontrol gairahnya dan selalu saja ingin bercinta dengan istrinya. Mungkin pengaruh baru merasakan indahnya hubungan itu di usianya ini.


Violet berbalik menatap suaminya, "Apakah sudah tidak bisa di tahan sama sekali? Bukankah semalam sudah melakukannya?" tanya Violet.


Deren tidak menjawabnya tapi langsung menggendong sang istri, "Honey, kompornya belum di matikan." ujar Violet.

__ADS_1


Deren yang mendengar itu, "Mbak Ratih tolong lanjutkan masakan istriku." Pinta Deren kepada kepala maid itu yang kebetulan bertemu dengan mereka.


Mbak Ratih yang mendengar ucapan Deren segera mengangguk dan menuju dapur walaupun dalam benaknya bertanya kenapa sang nyonya di gendong dan tidak menyelesaikan masakan buatannya karena ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tapi begitu dia memahami apa yang terjadi dia hanya tersenyum saja sambil berdoa semoga tuan muda kecil atau nona muda kecil segera hadir di mansion itu. Mbak Ratih segera menyelesaikan masakan Violet yang ternyata tinggal tahap finishing itu. Para maid yang tadinya di usir Deren segera mendekati mbak Ratih yang menggantikan Violet memasak dan tujuan mereka bukan ingin tahu apa yang akan dilakukan tuan dan nyonya mereka karena hal itu sudah bisa mereka tebak. Tujuan mereka yaitu ingin mencicipi masakan Violet yang tidak selesai itu mereka penasaran akan rasanya apa sama atau tidak tapi begitu mereka mencicipinya sama saja tetap lezat seperti biasa. Mereka memuji kehebatan memasak Violet itu seperti biasa.


***


Sementara di kamar sudah pasti yang terjadi seperti keinginan Deren dan pikiran yang ada di dalam otak para maid. Violet dan Deren menghabiskan dua ronde di siang hari itu. Setelah keduanya selesai dengan ritual membahagiakan itu mereka memutuskan mandi bersama, hanya mandi tidak ada yang terjadi selain itu karena Deren juga tidak ingin istrinya itu terlalu lelah.


Kini Deren sedang mengeringkan rambut istrinya dengan hair dryer. Dia memang sangat terampil mengeringkan rambut istrinya itu. Begitu selesai mengeringkan rambut istrinya tiba-tiba perut Violet berbunyi meminta di isi. Violet yang mendengarnya malu, "Suamiku aku lapar." ucap Violet malu.


Violet segera mengangguk lalu keduanya turun dengan keadaan segar mungkin karena pengaruh habis bercinta. Deren segera meminta mbak Ratih untuk mengambilkan makanan buatan istrinya tadi yang tidak sempat selesai. Deren sebenarnya ingin makanan baru atau mungkin makanan yang dipesan saja tapi sepertinya itu butuh waktu sementara sang istri sudah kelaparan. Selain itu juga Violet ingin memakan makanan yang di buatnya tadi.


Mbak Ratih segera menyajikan makanan itu untung saja masih hangat karena memang di letakkan di penghangat makanan. Deren hanya meminta sepiring saja untuk istrinya lalu sisanya di berikan kepada para maid yang langsung di terima mereka dengan senang hati. Deren tahu para maid itu sangat menyukai masakan buatan istrinya, "Honey kok cuma sepiring. Untukmu mana?" tanya Violet.

__ADS_1


"Kamu makanlah dulu sayang. Kamu kan yang lapar. Aku akan menunggu makanan yang sudah aku pesan." jawab Deren yang memang sudah memesan makanan untuknya dan sang istri. Makanan yang di berikannya kepada sang istri hanya untuk mengganjal perut lapar istrinya.


"Kenapa memesan? Bukankah banyak makanan yang aki buat? Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Violet.


Deren segera menggeleng, "Aku menyukai semua makanan buatanmu sayang. Tapi kau juga tahu bahwa para maid itu menyukai masakanmu juga. Untuk hari ini aku berbaik hati membagi masakan buatanmu dengan mereka." ujar Deren.


"Beneran begitu? Bukan karena kau tidak menyukai makanan buatanku kan?" tanya Violet lagi memastikan.


Deren segera mengecup pipi sang istri, "Bukan sayang. Sudah ayo makan. Aku tidak mau kamu sakit karena kelaparan." ucap Deren.


Violet menatap suaminya itu dengan sinis begitu mendengar kalimat suaminya, "Emang siapa juga coba yang membuatku kelaparan." sindir Violet.


Deren tersenyum mendengar sindiran istrinya, "Maaf sayang. Aku khilaf. Namanya juga kebelet jadi gak bisa di tahan. Lain kali aku akan memastikan kau sudah makan sebelum melakukan itu." ujar Deren.

__ADS_1


"Tidak ada lain kali." balas Violet.


Deren hanya tersenyum lalu keduanya saling bersuapan makan makanan buatan Violet itu sambil menunggu pesanan mereka tiba.


__ADS_2