
“Kamu pasti menginginkan jawaban untuk pertanyaanmu dan hanya satu yang saya inginkan yaitu menikahimu.” Ucap Deren setelah menghabiskan minumannya hingga membuat Violet terbelalak dan terbatuk karena dia sedang minum.
Uhuk uhuk uhuk
Violet segera meminum kembali minumannya untuk meredakan batuknya, “Tuan apa yang anda katakan?” Tanya Violet setelah sakit di tenggorokannya sedikit mereda.
“Kamu pasti mendengarnya dengan jelas dan saya tidak perlu mengulanginya. Jadi bagaimana apa kau setuju?” Tanya Deren cuek.
Violet pun segera menatap tajam pria di hadapannya itu, “Kenapa saya harus menyetujuinya sedangkan kita saja baru saling mengenal. Saya menolaknya.” Ucap Violet.
“Kamu tidak punya pilihan selain menerimanya karena jika kau menolak ini maka kau siap-siap saja melihat adikmu patah hati.” Balas Deren.
“Maksudnya? Apa sebenarnya yang ingin anda katakan? Jangan bermain tebak-tebakkan dengan saya, jika memang anda tidak merestui Carra dan Edgar katakan saja tidak perlu melakukan ini.” Ucap Violet.
“Dengar sudah aku katakan aku tidak ingin memisahkan Edgar dan Carra hanya saja jika kau tidak menyetujui ajakanku maka mau tidak mau mereka akan berpisah karena aku akan menikahi Carra.” Ucap Deren.
Lagi-lagi Violet terbelalak kaget mendengar ucapan pria di hadapannya karena bagaimana mungkin orang kakak beradik bisa menikah, “Jangan kaget begitu, saya dan Carra tidak memiliki hubungan darah. Saya adalah anak angkat keluarga itu dan kesehatan mommy akhir-akhir ini menurun hingga meminta saya untuk cepat menikah dan saya hanya di beri waktu satu bulan untuk mencari gadis yang ingin saya nikahi. Jika saya gagal maka mau tak mau harus menerima untuk menikahi Carra wanita yang sudah saya anggap adik saya sendiri.” Jelas Deren.
Violet pun hanya terdiam mendengar penjelasan Deren, “Jadi maksud anda kalian akan di nikahkan jika anda gagal mencari seorang wanita untuk di nikahi?” Tanya Violet seperti orang bodoh.
Deren pun mengangguk, “Jadi bagaimana apa kau setuju untuk menerima ajakan saya?” Tanya Deren.
Violet menggeleng, “Maaf saya tidak bisa melakukannya.” Tolak Violet.
__ADS_1
“Kenapa? Apa ada yang kurang dalam diri saya?” Tanya Deren tidak percaya bahwa akan ada saatnya dia menerima penolakan dari seorang gadis.
“Bukan karena itu semua. Anda terlalu sempurna hingga membuat saya takut. Selain itu juga anda bisa memilih gadis lain di luaran sana yang pasti dengan senang hati menerima anda sebagai suaminya. Jadi carilah yang lain, carilah wanita yang sepadan dengan anda. Ingat saya menolak ini punya alasan sendiri.” Ucap Violet.
“Kau memang benar banyak di luaran sana yang pasti dengan senang hati menikah dengan saya bahkan mungkin mereka sampai berebutan tapi menurut saya hanya kau yang bisa meluluhkan mommy. Mommy saya punya penilaiannya sendiri.” Ucap Deren.
Violet terkekeh mendengar alasan Deren, “Tidak mungkin, saya yakin ada yang salah dengan penilaian anda karena saya tahu persis seperti apa orang tua dari pria seperti anda. Jadi jangan membuat alasan yang membuat saya akhirnya menyetujui ajakan anda karena itu tidak mungkin.” Ucap Violet.
“Aku tahu apa maksudmu tapi jangan samakan mommy dengan ibu-ibu lain di luaran sana karena seperti perkataanku sebelumnya mommy memiliki penilaiannya sendiri dan aku yakin hanya kau yang bisa di terima olehnya.” Ucap Deren.
“Sebenarnya apa maksud anda? Apa anda sudah menyelidiki saya sebelumnya?” Tanya Violet menatap tajam Deren.
“Gak usah menatap saya seperti itu karena apapun masalalumu tidaklah penting untuk saya. Saya datang kesini mengajakmu bicara hanya untuk memberikan penawaran yang sekiranya bisa menguntungkan kita. Jika memang kau menolak menikah dengan saya hanya karena kita tidak saling mencintai itu tidak masalah untuk saya kita bisa berpisah nanti setelah kita menemukan seseorang yang kita cintai. Selain itu juga perlu kau ingat kita melakukan hal ini demi adik-adik kita.” Ucap Deren.
Violet lagi-lagi terbelalak dengan perkataan Deren, “Jadi maksud anda kita menikah kontrak?” Tanya Violet.
“Hahah,, saya tetap menolaknya karena bagi saya pernikahan bukan untuk main-main.” Ucap Violet.
“Kalau begitu kita menikah sungguhan saja.” Ucap Deren tidak mau kalah.
“Gak anda memang sangat sempurna untuk di miliki bahkan mungkin sangatlah sempurnah untuk di jadikan seorang suami tapi sayang kesempurnaan anda itulah yang membuat anda tidak masuk dalam kriteria pilihan saya. Jadi saya tetap menolak ajakan gila anda ini.” Ucap Violet serius.
“Jangan egois kita sama-sama menyayangi adik kita dan kita melakukannya untuk mereka.” Ucap Deren.
__ADS_1
“Saya tetap menolak.” Balas Violet bersikeras.
“Saya memberimu waktu tiga hari untuk memikirkannya. Ini kartu nama saya, kau bisa menghubungi saya atau datang ke alamat yang tertulis di situ jika berubah pikiran.” Ucap Deren menyerahkan kartu namanya ke tangan Violet.
Violet menolaknya, “Jangan menolaknya terlalu cepat, ini adalah pertama kalinya saya memberi kesempatan kepada seseorang.” Sambung Deren.
“Ayo kamu saya antar pulang. Ingat simpan itu baik-baik dan hubungi saya jika berubah pikiran.” Ucap Deren segera berdiri.
“Gak akan.” Gumam Violet tapi masih menyimpan kartu nama Deren itu.
Deren yang melihatnya hanya tersenyum lalu mereka segera keluar dari restoran itu dan menuju mobil Deren. Selama dalam perjalanan menuju rumah Violet hanya keheningan yang terjadi mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Bahkan setelah sampai pun Violet segera keluar lalu hanya mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja tanpa mempersilahkan Deren mampir seperti malam itu. Deren pun segera melajukan mobilnya menuju perusahaannya begitu Violet sudah di pastikan masuk ke rumahnya.
***
Tiga hari berlalu dengan sangat cepat, Violet selama tiga hari ini juga memikirkan ide gila Deren jika melihat Edgar dan Carra pulang bersama. Tapi dia tetap saja masih dengan keputusannya yang menolak ajakan Deren karena menurutnya apapun alasan untuk menikah jika itu di landasi dengan kebohongan maka pasti tidak akan berakhir baik. Selain itu juga Deren termasuk ke golongan pria yang paling dia hindari.
Kini dia seperti biasa setelah mengajar pasti selalu memastikan anak didiknya pulang di jemput oleh keluarga mereka barulah dia pulang. Sesampainya dia di rumah dia melihat Edgar dan Carra yang saling bercanda satu sama lain di ruang tamu yang merangkap ruang keluarga itu.
“Kak Vio kau sudah pulang?” Tanya Carra.
“Iyalah sayang jika kakak belum pulang maka pasti tidak di sini.” Bukan Violet yang menjawab tapi Edgar.
“Iss aku juga tahu kau ini tidak tahu basa-basi sedikit.” Balas Carra. Edgar pun hanya cengesan saja.
__ADS_1
“Kakak kau makanlah di sana ibu tadi sudah memasak dan sekarang dia sedang istirahat.” Ucap Edgar kepada sang kakak.
Violet pun hanya mengangguk, “Emm,, kalau begitu kakak ke kamar dulu untuk ganti pakaian. Kalian lanjutkanlah.” Ucap Violet lalu segera berlalu menuju kamarnya.