Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
14


__ADS_3

Kini Deren dan Violet sudah ada di ruang privat, “Mau makan dulu atau langsung saja.” Tanya Deren.


“Emm langsung saja.” Jawab Violet.


Deren pun mengangguk lalu segera mengeluarkan tiga dokumen, “Sebelum membacanya pesan dulu sesuatu untuk di minum.” Ucap Deren.


Violet hanya mengangguk lalu segera memesan begitupun dengan Deren. Setelah itu dia mulai membuka dokumen perjanjian mereka. Dia membaca dengan teliti semuanya sesuai dengan tapi tidak dengan poin terakhir.


“Apa maksudnya ini?” tanya Violet menunjuk poin terakhir.


Deren pun membacanya, “Saya yakin kau pasti mengerti apa maksudnya tanpa perlu di jelaskan.” Ucap Deren.


Violet pun menatap Deren malas karena bagaimana tidak poin terakhir itu berisi “Pihak pertama berhak secara penuh mengubah isi perjanjian di atas jika pihak kedua tidak memenuhi kewajibannya dengan baik.” begitulah isi poin itu.


“Bagaimana apa kau setuju?” tanya Deren.


“Hmm,, saya menyetujuinya tapi perlu di tambahkan satu lagi.” Ucap Violet lalu menambahkan satu poin lagi “Sebagai pihak pertama bertanggung jawab penuh atas apa yang mungkin terjadi kepada pihak kedua yang di akibatkan perjanjian di atas.” Lalu Violet segera menandatanganinya dan menyerahkannya kepada Deren.


Deren pun tersenyum membaca poin yang di tambahkan oleh Violet itu lalu dia juga segera menandatanginya, “Tenang saja saya pasti akan bertanggung jawab dengan semuanya termasuk jika kau hamil nanti.” Ucap Deren tersenyum menggoda.


Violet pun terbelalak, “Ingat anda harus menepati perjanjian itu.” Ucap Violet.


“Tentu saja saya akan menepatinya tapi tidak jika saya khilaf begitupun sebaliknya karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Siapa tahu aja kan kau akan jatuh cinta kepada saya nanti.” Goda Deren.


“Gak akan!” jawab Violet cepat.


Deren pun lagi-lagi terkekeh, “Jangan terlalu cepat menolak kau akan malu nanti jika itu terjadi.” Ucap Deren lagi.


“Jangan menggoda saya Deren.” Ucap Violet menekankan nama Deren.


“Bagus akhirnya kau bisa menyebut nama saya tapi tadi itu terlalu kaku biasakan. Ohiya ini semua tentang saya. Kau harus menghafalnya. Kita akan menemui mommy besok.” Ucap Deren.


Violet pun hanya mengangguk lalu mulai membaca dokumen di hadapannya dan saat dia membacanya satu persatu dia menyimpulkan bahwa Deren itu adalah orang yang dengan narsis yang tinggi karena isi dokumen itu menurutnya sama sekali gak penting.

__ADS_1


“Bagaimana? Apa kau sudah sedikit mengingatnya?” tanya deren setelah Violet menutup dokumen.


Violet menangguk, “Tapi menurut saya apa yang tertulis di sana sama sekali gak penting karena tidak mungkin mommy anda menanyakan tinggi serta berat badan anda.” Jawab Violet jujur.


“Hey, mommy saya itu orangnya sangat teliti.” Balas Deren tidak mau di salahkan.


Violet lagi-lagi hanya mengangguk karena dia malas berdebat dengan Deren lagi. Setelah itu mereka makan siang bersama lalu segera pulang, “Terima kasih sudah mengantar saya. Apa anda tidak ingin mampir dulu!” tawar Violet.


Deren hanya tersenyum lalu mengacak rambut Violet gemes, “Nanti saja belum saatnya saya mampir tapi pasti saya akan mampir.” Ucap Deren. Violet pun hanya mengangguk lalu sambil memperbaiki rambutnya yang berantakan.


“Saya pamit!” ucap Deren.


“Hati-hati!” balas Violet, Deren hanya mengangguk lalu segera melajukan mobilnya kembali menuju perusahaannya. Setelah Deren pergi Violet pun segera masuk ke rumahnya.


“Siapa itu kak?” tanya Edgar begitu Violet masuk hingga membuat Violet kaget.


“Ouh astaga dek kau membuat kakak kaget saja. Untung saja kakak tidak punya penyakit jantung.” Ucap Violet sambil mengelus dadanya.


“Gak usah ngalihin topic dek kak, siapa itu? Siapa yang mengantar kakak?” ulang Edgar.


“Yakin teman? Tapi kok mobilnya kayak kenal.” Ucap Edgar berusaha mengingat-ngingat di mana dia melihat mobil yang sama.


“Ada apa ini ribut-ribut? Ee Nak kau sudah pulang?” ucap Ibu Anggi mendekati kedua anaknya.


Violet pun segera menyalami sang ibu lalu memeluknya, “Tau tuh bu Edgar curigaan banget.” Lapor Violet.


Edgar hanya memutar bola matanya malas melihat mode manja kakaknya itu, “Gak usah lapor-lapor segala jika memang tidak ingin menjawab siapa yang mengantar kakak.” Ucap Edgar meninggalkan ibu dan kakaknya itu kemudian duduk di sofa sederhana dalam ruang tamu.


Ibu Anggi pun segera menatap sang putri, “Siapa itu nak? Bukan Morgan kan?” selidik ibu Anggi.


“Ibu bukan kok, itu hanya teman Vio saja dan jika itu kekasih Vio gak mungkin Vio balik dengan pria yang sudah menyakiti Vio.” Jawab Violet.


Ibu Anggi pun bernafas lega lalu segera memeluk sang putri kembali karena dia tidak ingin putrinya itu kembali terpuruk, “Syukur jika begitu. Ingat nak, ibu tidak pernah melarangmu dekat dengan siapapun tapi ibu hanya tidak ingin melihat air mata di pipimu lagi.” Ucap Ibu Anggi.

__ADS_1


Violet pun tersenyum lalu memeluk ibunya itu erat, “Semoga saja tidak akan terjadi lagi.” Batin Violet.


***


Malam harinya di Mansion Robert setelah makan malam Deren segera menemui mommy-nya.


Tok tok tok


“Siapa?” tanya Mommy Grysia dari dalam.


“Deren. Apa bisa Deren masuk?” izin Deren lalu membuka pintu kamar mommy-nya itu.


Mommy Grysia hanya tersenyum melihat putranya yang hanya menongolkan kepalanya di balik pintu, “Masuklah nak!” ucap Mommy Grysia.


Deren pun segera masuk lalu menutup kembali pintu kamar mommy-nya itu, “Ada apa? Apa anda yang ingin kau sampaikan?” tanya Mommy Grysia mengusap rambut sang putra yang di letakkan di pahanya.


“Emm,, Deren sudah menemukan calon menantu untuk mommy tapi,,” ucap Deren ragu


“Tapi kenapa?” tanya Mommy Grysia.


“Deren takut Mommy tidak akan menyetujuinya.” Ucap Deren manja. Entah di mana sikap dingin dan sombongnya jika bersama Mommy Grysia dia akan menjadi sesuatu yang hangat dan manja.


“Hehehhh kau ini lucu. Bagaimana mungkin mommy tidak menyetujuinya jika kau belum membawanya kesini. Ajak dia kemari, mommy ingin melihatnya.” Ucap Mommy Grysia masih mengelus rambut sang putra.


“Deren memang akan mengajaknya kesini besok. Deren harap mommy merestuinya.” Ucap Deren.


Mommy Grysia pun hanya mengangguk, “Kita lihat besok. Kau nggak perlu takut jika memang dia memenuhi kualitas untuk menjadi istrimu maka mommy pasti akan merestuimu.” Ucap Mommy Grysia.


“Emm,, satu hal yang paling penting gadis itu bukanlah gadis sewaan atau karena perjanjian. Dia bukan gadis sewaan kan?” Lanjut Mommy Grysia hingga membuat Deren sedikit takut tapi dia segera mengubah ekspresinya kembali.


“Tentu saja tidak mom. Kami saling mencintai kok walau kami baru bertemu dua bulan yang lalu.” Ucap Deren berbohong. “Maaf Mom!” lanjut batinnya.


“Syukurlah jika begitu. Tapi jika kau sudah mengenalnya dua bulan lalu kenapa tidak segera mengajaknya kesini?” tanya Mommy Grysia.

__ADS_1


“Yah karena Deren masih berusaha untuk mendapatkannya mom dan baru seminggu yang lalu kami menjalin hubungan.” Jawab Deren.


Mommy Grysia pun hanya tersenyum mengerti tetap mengelus rambut Deren. Setelah lama mereka berbincang akhirnya Deren pergi ke kamarnya untuk istirahat karena Mommy Grysia juga akan istirahat.


__ADS_2