
Seperti perkataan Deren sebelumnya bahwa mereka siang ini akan melakukan fitting. Violet segera menuju perusahaan sang suami dengan di antar oleh Doni. Walau sebenarnya Deren ingin menjemput istrinya itu tapi Violet menolaknya karena ingin menghemat waktu. Lagian juga tempat mereka melakukan fitting dekat dengan kantor Deren, jika Deren masih menjemputnya maka akan lama nanti sementara ada Doni yang selalu siap sedia di dekatnya menjaga dari jauh.
Kini Violet sedang dalam lift menuju lantai tiga puluh dimana ruangan sang suami berada. Begitu dia keluar dari lift sudah ada Ronal dan Arini yang menyambut, "Selamat datang nyonya, tuan sudah menunggu di dalam ruangannya." ucap Ronal menyambut Violet. Arini yang tadinya kagum akan kecantikan yang di miliki istri bosnya itu seketika menunduk begitu menyadari kelancangannya yang menatap Violet. Sambil dalam hatinya berkata, "Ternyata aslinya lebih cantik dan sangat menarik." Batin Arini. Yah walau dia sudah mengambil gambar Violet tapi tetap saja melihat secara langsung lebih baik dan satu pendapatnya bahwa nyonya bosnya ini cantik bahkan sangat cantik. Pantas saja bosnya bahkan tidak meliriknya tadi hanya laki-laki yang menyeretnya yang justru memandangnya. Dia saja yang perempuan mengagumi kecantikan nyonya bosnya ini.
Violet yang di sambut oleh asisten suaminya dan seorang gadis yang sudah dia duga gadis yang di ceritakan Doni mematainya dan sang suami. Violet tersenyum menatap keduanya lalu dia melangkahkan kakinya menuju ruangan suaminya. Violet segera masuk dan Deren yang sudah tahu itu sang istri segera berdiri menyambutnya, "Aku merindukanmu sayang. Kenapa menolak ku jemput? Jujur sayang aku cemburu kau di antar oleh Doni. Ingin ku pecat saja dia." ucap Deren segera memeluk sang istri dan menghirup aroma tubuhnya.
Violet pun membalas pelukan suaminya itu untuk beberapa saat lalu dia segera melepas pelukan itu, "Kau tahu kan Doni itu bodyguard yang kau perintahkan untuk menjagaku, aku juga awalnya tidak meminta bodyguard tapi kau yang mengutusnya. Lalu kenapa sekarang kau cemburu padanya dan ingin memecatnya? Aku sih gak masalah kau memecatnya atau tidak tapi setelah itu siapa yang akan kau percayai untuk menjadi bodyguard untukku? Jangan cemburu pada Doni suamiku karena aku hanya mencintaimu saja dan tidak akan berpaling ke yang lain. Selain itu juga aku hanya menganggap Doni seperti Edgar adikku. Dan untuk hari ini aku menolak kau jemput karena tidak ingin kau kelelahan karena aku tahu kau lelah memeriksa dokumen-dokumen itu agar bisa cuti. Selain itu juga agar waktu tidak terbuang sia-sia." Ucap Violet menatap sang suami.
Deren yang mendengar ucapan panjang lebar sang istri hanya kembali meletakan kepalanya di bahu istrinya itu, "Suamiku aku lelah, apa kau ingin membiarkan istrimu ini berdiri dan kelelahan." ujar Violet.
Deren yang mendengar hal itu segera mengangkat kepalanya dan segera menggendong istrinya dan dia dudukan di sofa, "Maaf sayang aku melupakan itu karena terlalu merindukanmu." Ucap Deren segera melepas sepatu istrinya.
"Suamiku apa yang kau lakukan? Aku bisa melepasnya sendiri." Ucap Violet begitu menyadari apa yang dilakukan suaminya itu yang menurutnya kurang pantas dan dia sebagai istri merasa telah merendahkan suaminya.
__ADS_1
"Sudah sayang gak apa-apa. Aku tidak merasa di rendahkan karena hanya melakukan itu, aku justru merasa bangga karena memperlakukan istriku layak ratu." ucap Deren lalu segera mengganti alas kaki istrinya dengan sandal yang memang sudah di sediakan untuk Violet.
"Terima kasih suamiku." ucap Violet lalu melabuhkan kecupan di pipi suaminya. Deren tersenyum mendapatkan kecupan itu karena entah kenapa setiap dia memperlakukan istrinya dengan baik, Violet selalu menghadiahinya dengan kecupan seolah membalas perlakuannya. Deren melakukan itu bukan karena ingin memperoleh kecupan dari sang istri tapi memang benar tulus untuk menyenangkan istrinya. Namun jika perlakuannya itu mendapat apresiasi dari istrinya kenapa harus menolak. Iya kan?
"Suamiku, apa gadis itu yang mematai kita?" tanya Violet kemudian.
Deren yang mendengar ucapan istrinya heran karena dia belum menceritakan apapun terkait ini kepada Violet. Tapi begitu dia menyadari sepertinya ini mulut embernya Doni. Tolong ingatkan dia untuk memberi hukuman kepada bodyguard kepercayaannya yang bermulut ember itu.
"Kau tahu dari siapa? Apa Doni yang mengatakannya?" tanya Deren memastikan walau dia yakin ini memang ulah Doni.
Deren hanya menghela nafasnya kasarnya begitu mendengar jawaban istrinya itu, "Itu namanya bukan sedikit sayang karena apa yang dia katakan adalah keseluruhan ceritanya. Dia sudah merangkumnya dengan baik hingga terdengar singkat." ujar Deren tidak tahu lagi kenapa dia bisa memiliki bodyguard bermulut ember yang bisa dengan mudah merangkum suatu kejadian dengan singkat.
Violet tertawa ketika menyadari itu dan melihat wajah suaminya yang sepertinya tertekan, "Aku gak tahu sayang jika ternyata apa yang di katakan Doni adalah keseluruhan kejadiannya. Hahahh, aku tahu kau sedang tertekan sekarang karena memiliki bodyguard seperti Doni. Makanya honey jika mencari bawahan itu jangan yang ber-IQ tinggi, pusing kan jadinya." Ujar Violet masih tertawa.
__ADS_1
Cup
Deren segera mengecup bibir istrinya bukan karena pusing memikirkan apa yang dilakukan Doni tapi karena senang istrinya itu memanggilnya dengan sebutan sayang dan honey dalam satu kalimatnya. Cukup lama Deren mencium istrinya lalu kemudian melepasnya dan membersihkan sisa saliva di bibir istrinya dengan jarinya.
"Suamiku, kenapa selalu menciumk? Apa kau kecanduan dengan bibirku?" tanya Violet kesal.
Deren tersenyum mendengar hal itu karena protes istrinya itu sangat unik, masa iya harus menanyakan pertanyaan seperti itu tapi Deren akan menjawabnya, "Kau benar sayang. Aku kecanduan akan bibirmu." Jawab Deren tersenyum.
"Ahh terserahlah, aku ingin melihat artikel yang di buat gadis kecil itu. Kau belum merilisnya kan?" tanya Violet segera berdiri.
Deren pun segera ikut berdiri dan mengajak sang istri melihat komputernya, "Periksalah. Aku sudah memeriksanya tadi dan menurutku sudah baik dan menarik tapi jika ada yang menurutmu kurang maka katakan saja aku akan memintanya mengulanginya. Tenang saja dia sudah tahu karena aku sudah mengatakan tadi bahwa jika kau tidak menyetujuinya atau ada yang kurang maka dia siap mengubahnya. Jadi apa pendapatmu nyonya?" ujar Deren.
Violet mengabaikan ucapan suaminya dan fokus membaca artikel tentangnya dan suami yang sebentar lagi akan di rilis itu yang tentu saja harus dengan persetujuannya. Violet mengangguk-ngangguk setelah selesai membaca artikel itu.
__ADS_1
"Suamiku, apa aku bisa bertemu dengannya?"