Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
143


__ADS_3

Kini Deren, Violet, Carra, Edgar dan ibu Anggi sudah ada di bandara untuk segera berangkat ke Swiss dengan di antar oleh Max, Ronal, Doni, Arini dan juga Karan. Para asisten mereka itu dipercayakan untuk menjaga perusahaan yang akan di tinggalkan seminggu.


Tidak lama pesawat pribadi keluarga Robert pun lepas landas dan membawa lima orang itu menuju Swiss. Violet dan Deren tentunya duduk berdampingan begitu juga dengan Carra dan Edgar. Ibu Violet memilih berbincang dengan salah satu pramugari yang bertugas dan tidak mengganggu anak-anaknya. Dia sudah bersyukur di ajak berliburan dan menemani anak-anaknya itu berbulan madu.


Perjalanan menuju Swiss menghabis waktu yang tidak sedikit hingga mereka tidur di pesawat dan tentunya juga makan.


Singkat cerita sekitar kurang lebih 18 jam mengudara akhirnya mereka tiba di bandar udara Internasional Zurich tepat pukul setengah empat waktu setempat.


Mereka segera turun dari pesawat dan menghirup udara dingin Swiss di pukul pagi begini apalagi saat ini Swiss sedang musim salju. Mereka sudah terlihat kedinginan padahal sudah memakai pakaian hangat begitu turun dari pesawat. Violet dan Carra segera menggandeng lengan ibu Anggi karena Deren dan Edgar masih mengurus terkait pesawat.


Setengah jam kemudian akhirnya Deren dan Edgar kembali dan keduanya segera mendorong koper masing-masing. Begitu keluar bandara sudah ada mobil yang menunggu mereka untuk di antarkan ke hotel. Sebelum naik ke mobil, "Mau makan dulu atau langsung ke hotel?" tanya Deren.


"Ke hotel aja kak. Soalnya dingin." ucap Carra yang langsung di setujui oleh semuanya.

__ADS_1


Deren pun mengangguk lalu kedua mobil itu segera melaju ke hotel. Ibu Anggi ikut Violet dan Deren di mobil. Sekitar 10 menit kemudian mereka tiba di salah satu hotel terdekat dengan bandara yang sudah di booking oleh Deren sebelumnya. Deren sudah memesan tiga kamar sebelumnya yang saling berdekatan. Begitu mereka tiba di hotel langsung saja di arahkan ke kamar masing-masing. Kamar Edgar dan Carra berhadapan dengan kamar Violet dan Deren. Sementara kamar ibu Anggi tepat di samping kanan kamar Violet dan Deren. Kamar yang mereka pesan sudah pasti yang kelas atas dengan segala fasilitas mewahnya.


Mereka segera masuk ke kamar masing-masing. Deren dan Violet langsung membersihkan diri mereka dengan berendam air hangat karena mengingat udara di luar sana sangat dingin dan juga membantu merilekskan tubuh mereka karena lelah mengudara selama kurang lebih 18 jam itu. Selain itu juga keduanya sengaja tidak tidur lagi karena waktu subuh nanti akan terlewatkan walaupun waktu subuh masih dua jam lagi karena di Swiss waktu subuh untuk musim saat ini biasanya nanti setengah enam baru subuh.


Deren membiarkan istrinya berendam di bathup, dia memilih membersihkan tubuhnya memakai shower saja, "Sayang, kamu belum selesai?" tanya Deren yang melihat sang istri yang masih berendam bahkan menutup matanya.


Violet membuka matanya dan menatap sang suami yang sudah memakai handuk, "Aku masih mau berendam suamiku." Jawab Violet.


Deren pun mengangguk, "Baiklah jika kau memang masih ingin berendam tapi jangan lama yaa sayang. Kita harus makan dulu." ucap Deren mengelus rambut istrinya yang basah lalu segera berjalan keluar. Deren tidak menutup pintu kamar mandi itu hingga dia tetap melihat sang istri yang kini mulai membersihkan dirinya sepertinya sudah puas berendam.


Di kamar ibu Anggi dia juga baru saja selesai mandi dan sekarang sedang membersihkan tubuhnya. Sementara di kamar Edgar dan Carra kegiatan yang mereka lakukan sangat jauh berbeda dengan dua kamar lainnya karena begitu masuk ke kamar hotel Edgar langsung mengajak istrinya itu untuk berbagi peluh bersama. Setengah jam mereka melakukannya barulah setelah selesai mereka mandi bersama, "Kak, lihat deh." ucap Carra kesal karena suaminya itu meninggalkan tanda di lehernya.


Edgar tersenyum lalu mengecup tanda merah yang dia tinggalkan di leher istrinya itu dengan lembut, "Jangan marah sayang. Aku akan merasa bersalah nanti." ucap Edgar.

__ADS_1


"Kakak memang harus merasa bersalah karena sudah mengajakku begituan padahal masih sangat pagi di sini." ucap Carra.


"Maaf sayang namanya juga gak tahan." ucap Edgar lalu membantu istrinya itu mengeringkan rambutnya. Makanan yang di pesan Deren sudah di antarkan 10 menit lalu dengan Edgar yang membukakan pintu untuk pelayan yang mengantar makanan.


Di kamar Violet dan Deren mereka baru saja selesai makan dan kini keduanya saling berpelukan menunggu waktu subuh tiba, "Sayang, kamu senang kita datang kesini?" tanya Deren berbisik sambil memeluk istrinya itu dari belakang.


Violet mengangguk, "Aku suka apalagi aku ingin melihat salju." ucap Violet tersenyum senang lalu dia berbalik menatap sang suami.


Violet melabuhkan ciuman lembut di bibir suaminya sangat lembut. Deren membiarkan apa yang di lakukan istrinya itu karena dia juga sangat menikmati saat istrinya itu menciumnya dengan lembut seperti itu dan saat Violet hendak melepaskan ciuman mereka Deren enggan melepasnya dan mencium Violet dalam. Ciuman lembut Violet di balas dengan ciuman yang dalam dan mulai menundut. Keduanya mulai larut dalam gairah bahkan tangan Deren mulai bergerilya mendaki dua bukit milik istrinya. Violet membiarkan apa yang dilakukan suaminya sambil kadang-kadang dia mendesah tapi begitu sang suami hendak melepas atasannya dia menahannya, "Ke buru subuh suamiku." ucap Violet menahan tangan sang suami.


Deren menatap sang istri dengan kabut gairah di matanya dan juga nafas yang terengah-engah mencoba untuk mengendalikan gairah yang sudah naik di ubun-ubun itu. Violet yang melihat itu menjadi kasihan dengan sang suami. Dia melihat jam di dinding dan menunjukkan masih lima menit pukul lima. Dia juga yang memulai membangkitkan gairah suaminya itu akan sangat berdosa dia jika harus menghentikan gairah suaminya.


Violet pun segera mencium kembali suaminya dan berbisik di telinga suaminya dengan sensual, "Lakukan saja suamiku tapi lakukan dengan cepat dan sekali saja." bisik Violet lalu kembali mencium suaminya.

__ADS_1


Deren yang sudah mendapat lampu hijau dari istrinya segera melanjutkan gairahnya itu. Istrinya memang sangat pengertian. Dia langsung ******* bibir istrinya lalu segera menggendong sang istri menuju ranjang untuk menuntaskan hasrat yang sudah di ujung. Dia meletakkan istrinya dengan sangat lembut lalu terjadilah penyatuan antara dua insan itu. Seperti kesepakatan sebelumnya dilakukan dengan cepat dan hanya satu kali pelepasan Deren pun segera menyudahinya dengan kecupan di kening sang istri, "Terima kasih sayang." ucap Deren lembut.


Tepat sepuluh menit sebelum waktu subuh mereka selesai kegiatan berbagi peluh bersama lalu setelah itu keduanya kembali mandi bersama lalu melaksanakan sholat bersama.


__ADS_2