
Seminggu berlalu, Violet masih saja diam tanpa ekspresi dan mengurung diri di kamarnya. Ibu Anggi, Carra bahkan Cally datang silih berganti mengunjungi Violet. Dia hanya akan ceria saat mereka ada setelah mereka pulang dia pun kembali sedih dan berdiam diri. Deren bahkan memanggil dokter Eile dan dokter kejiwaan untuk memastikan kesehatan istrinya. Pasalnya Violet makan tidak teratur dan selalu berdiam diri jika tidak di ajak bicara.
Deren yang pusing akan istrinya di tambah urusan perusahaan menjadi sama dengan sang istri yang melupakan jam makan karena saking sibuknya. Mana di tambah lagi dengan informasi yanh ba rt u saja dia terima terkait perusahaan mendiang mertuanya yang ternyata kebangkrutannya hasil sabotase seseorang. Dia ingin mendiskusikannya dengan sang istri tapi kondisi Violet tidak memungkinkan.
Para maid sampai sedih melihat Violet yang kini terlihat kurus, "Sampai kapan nyonya akan berdiam diri begitu?" tanya maid yang melihat Violet hanya diam saja menatap tv di hadapannya yang entah dia tonton atau itu hanya tatapan kosong saja.
Maid satunya menggeleng, "Aku rindu nyonya yang ceria dan masak bareng kita." Timpalnya. Kedua maid itu hanya menghela nafas mereka melihat Violet yang layak patung hidup itu.
***
Deren sudah sejak tiga hari lalu dia kembali bekerja di perusahaan karena perusahaan tidak bisa dia tinggal lama tapi tetap saja Deren selalu berusaha ada untuk istrinya, dia selalu memastikan sebelum ashar sudah tiba di mansion. Sejujurnya Deren sangat lelah dengan keadaan ini tapi dia tetap harus bisa melakukannya. Dia menderita melihat istrinya yang layaknya patung hidup.
Max masuk ke dalam ruangan Deren yang sedang fokus dengan dokumen di hadapannya, "Tuan ini laporan mengenai perusahaan mendiang ayah nyonya. Kami sudah memeriksanya berulang kali dan ternyata memang benar bahwa perusahaan mendiang ayah nyonya di sabotase oleh tuan Carlos dan tuan Suryo." jelas Max menyerahkan laporan itu.
Deren membacanya sekilas, "Apa Morgan tahu semua ini atau mungkin saja dia mendekati Violet hanya karena ini?" tanya Deren memastikan.
__ADS_1
Max menggeleng, "Tidak, tuan Morgan gak tahu sama sekali terkait rencana ayahnya dan hubungannya dengan nyonya Violet benar-benar murni dia menyayangi dan mencintai nyonya. Tidak ada hubungan sama sekali dengan sabotase." jelas Max.
Deren pun mengangguk karena dia sudah menduga hal itu sebab jika Morgan hanya mendekati Violet demi harta sudah pasti perasaan itu gak ada tapi hingga kini mantan kekasih istrinya itu masih sangatlah mencintai istrinya bahkan sulit dia lupakan. Deren yang mengingat pengakuan laki-laki itu lima hari lalu saat mereka bertemu mendiskusikan perusahaan orang tua Morgan. Laki-laki itu hanya di paksa datang untuk menemuinya agar bisa membatalkan investor menarik saham mereka, dia sebenarnya tidak ingin datang tapi begitu mengingat bahwa dengan melakukan itu dia bisa bicara dengan suami wanita yang dia cintai maka dia melakukannya. Dia mengaku tidak datang untuk perusahaan tapi datang untuk cintanya. Akibatnya saat Morgan mengatakan hingga kini masih mencintai Violet langsung saja mendapat bogem mentah dari Deren. Setiap mengingat itu darah Deren mendidih tapi dia juga tidak bisa menghapus perasaan laki-laki itu untuk istrinya. Dia hanya bisa memastikan bahwa sang istri akan selalu ada dalan pengawasannya dan memastikan Morgan tidak akan bisa merebutnya darinya. Violet istrinya, cinta masa kecilnya yang tidak akan pernah rela di miliki orang lain.
"Tuan lalu apa yang akan kita laksanakan sekarang?" tanya Max.
Deren menghela nafasnya, "Aku akan memikirkannya dulu karena ini adalah perusahaan mertuaku. Violet belum bisa di ajak bicara mengenai ini. Aku akan mencoba membicarakan ini dengan Edgar. Hanya dia yang busa di ajak bicara saat ini. Ini adalah milik Ahh aku pusing Max." ucap Deren menutup matanya.
Max pun mengerti akan hal itu, siapa sih yang gak pusing jika memikirkan di rumah ada seorang istri yang bagaikan patung hidup lalu juga harus memikirkan perusahaan. Jika dia yang ada dalam posisi itu mungkin dia tidak akan bisa sekuat Deren, mungkin dia akan mengalami depresi berat.
***
Violet menatap para maid yang juga menatapnya itu, "Saya gak butuh apa-apa kok. Saya hanya mau masak kue saja." Ucap Violet memeriksa apakah bahan-bahan yang akan dia gunakan masih ada atau tidak.
"Nyonya mau buat apa?" Tanya mbak Ratih.
__ADS_1
"Saya hanya mau buat brownis saja. Apa kalian juga mau?" tanya Violet tersenyum.
Bukannya menjawab para maid itu menangis menatap Violet, "Hey, ada apa? Kenapa menangis?" Tanya Violet khawatir.
Para maid itu menggeleng, "Gak apa-apa nyonya. Kami hanya senang nyonya sudah kembali lagi, sudah mau memasak lagi." Jawab salah satu maid mewakili.
Violet terharu mendengar itu, dia terlalu bersedih hingga tidak sadar bahwa banyak yang mengkhawatirkannya, "Maaf yaa saya beberapa hari ini melupakan kalian." ucap Violet.
Lagi-lagi mereka menggeleng, "Gak nyonya, kami mengerti apa yang nyonya rasakan. Hanya saja bisakah nyonya jangan terlalu sedih." ucap salah satu maid lagi.
Violet meneteskan air matanya lalu mengangguk, "Akan saya usahakan. Maaf sudah mengabaikan kalian." ucap Violet merentangkan tangannya meminta di peluk.
Para maid itu pun segera mendekati Violet dan memeluknya, "Jangan sedih lagi nyonya." ucap mereka.
Violet tersenyum lalu mereka segera membantu Violet memasak bahkan Violet hanya di minta duduk saja dan memberi tahu apa yang akan mereka lakukan, hitung-hitung membagi resep dengan mereka begitu kata mereka. Violet pun tidak menolak dia duduk dan hanya mengatakan apa yang harus di buat atau tidak. Dia tertawa bareng maidnya saat membuat brownis itu. Para bodyguard yang melihat itu ikut bahagia bahkan Doni sampai mengambil gambar Violet dan mengirimkannya kepada Deren.
__ADS_1
Deren yang sedang pusing dengan tumpukkan dokumen mendengar ponselnya berbunyi membuka pesan itu dan seketika dia melototkan mata karena melihat sang istri tertawa bersama para maid. Dia membuka video yang juga dikirimkan Doni, seketika air matanya menetes melihat video itu dimana sang istri tertawa walau belum seperti sebelumnya karena masih ada kesedihan di sana. Tapi setidaknya dia bisa melihat senyum itu lagi setelah beberapa hari ini hanya air mata yang dia lihat di wajah cantik itu.
Setelah melihat foto dan video istrinya yang di kirimkan Doni seketika dia kembali bersemangat menyelesaikan dokumen di hadapannya, dia seolah mendapat energi baru hanya karena melihat istrinya tersenyum. Deren bukannya tidak sedih akan kehilangan calon buah hati mereka hanya saja dia mencoba menerima takdir. Selain itu juga jika dia sedih siapa yang akan memberi kekuatan kepada istrinya.