Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
37


__ADS_3

Sekitar 10 menit dia masih menelpon nomor Violet tapi tetap saja hanya suara operator yang menjawab hingga dia menerima telepon dari pelayan mommynya, dengan cepat dia segera menjawabnya, “Ada apa?” tanya Deren.


“I-itu tuan nyonya mengalami serangan lagi.” Jawab pelayan itu dengan gugup karena takut akan kena semprot kemarahan dari tuan mudanya.


“Apa? Mommy mengalami serangan?” tanya Deren tidak percaya.


“Iya tuan dan ini kami sudah berada di rumah sakit, nyonya sedang di periksa oleh dokter.” Jawab pelayan itu lagi.


Deren yang mendengar itu pun segera berlari mengambil kunci mobilnya lalu segera menuju garasi untuk ke rumah sakit, “Saya akan kesana. Tolong jaga mommy dengan baik dan jika ada sesuatu segera beritahu saya perkembangannya.” Ucap Deren lalu segera memutuskan sambungan telepon itu.


“Tuan ada mau kemana?” tanya bodyguard penjaga Violet.


“Aku akan ke rumah sakit karena mommy mengalami serangan. Untuk istriku aku serahkan padamu untuk mencarinya dan jika kau sudah menemukannya segera beritahukan kepadanya mommy mengalami serangan dan sudah di rumah sakit.” Pesan Deren segera masuk ke dalam mobil.


“Tuan, apa anda perlu saya sopiri? Saya takut anda akan--” ucap bodyguard itu khawatir.


“Gak usah, aku bisa sendiri. Aku mohon bantu aku mencari istriku.” Ucap Deren lalu segera melajukan mobilnya keluar pintu gerbang menuju rumah sakit.


“Hati-hati tuan.” Ucap bodyguard itu walau sudah tidak bisa di dengar oleh Deren. Setelah itu bodyguard yang di ketahui bernama Doni itu pun segera melakukan tugasnya untuk mencari nyonya mudanya.


***


Sementara di sisi lain, Violet baru saja tiba di sebuah café favoritnya yang selalu menjadi tempat untuknya menenangkan diri jika memiliki masalah tentu saja dengan di temani segelas hot chocolate.

__ADS_1


“Hy girl, lama kita tidak berjumpa. Apa yang membawamu kesini lagi?” sambut Albert ramah.


Violet yang sudah duduk di tempat yang disediakan dan mendengar sambutan Albert pun tertawa, “Kau berlebihan Albert padahal aku sebulan lalu kesini.” Balas Violet.


“Iya juga yaa. Ohiya bagaimana hubunganmu dengan suamimu?” tanya Albert. Yah, Albert mengetahui bahwa wanita di depannya ini sudah menikah bahkan menikah dengan orang nomor satu di Negara ini. Dia juga tahu bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah kontrak, Albert yang awalnya mengetahui itu pun kaget tapi dia berharap bahwa pernikahan Violet ini akan menjadi pernikahan yang sesungguhnya karena dia tidak ingin melihat kesedihan di mata wanita itu yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu.


“Kau tahu semuanya Albert, hubunganku dengannya hanyalah sebuah perjanjian. Jadi jangan pernah berharap bahwa kami akan memiliki hubungan seperti hubungan pernikahan pada umumnya karena itu tidak mungkin terjadi.” Jawab Violet.


“Kenapa kau yakin itu tidak akan terjadi? Apa hidup bersamanya lebih dari sebulan ini belum bisa menggerakkan hatimu atau saat ini kau lagi memiliki masalah dengannya hingga kau datang ke sini?” tanya Albert.


Violet pun menghela nafasnya, “Kenapa yaa aku merasa bahwa kau semakin cerewet Albert.” Ujar Violet.


“Inilah diriku girl. Ada apa sebenarnya?” ulang Albert.


Albert pun mengangguk mengerti, “Ahh aku mengerti, aku hanya bisa berdoa semoga masalahmu dan suamimu segera berakhir tapi aku sarankan setelah dari sini kembalilah. Dia pasti mengkhawatirkanmu.” Ujar Albert.


Violet mengangguk, “Apa perlu hot chocolate?” tanya Albert.


“Kau tahu aku Albert, aku memang sangat membutuhkannya karena suasana hatiku saat ini sedang buruk.” Balas Violet.


Albert pun mengangguk lalu segera berlalu untuk membuatkan segelas hot chocolate untuk Violet. Sementara Violet hanya melihat ponselnya yang dia pakai mode silent itu karena dia tidak ingin di ganggu walaupun ini bukanlah weekend tapi berhubung dia terlambat pergi ke sekolah maka dia ingin memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya tanpa di ganggu sedikit pun mana di tambah lagi dengan perdebatannya dengan Deren hingga menambah moodnya untuk tidak menjawab panggilan telepon dari siapapun hari ini.


Sudah sekitar setengah jam Violet di sana bahkan minumannya pun sudah habis tapi dia masih menikmati tempat itu dengan duduk-duduk bersantai di sana hingga Albert mendekat, “Girl apa kau belum ingin pulang?” tanya Albert.

__ADS_1


Violet pun menatap pria itu, “Apa kau mengusirku Albert?” tanya Violet tajam.


“Aku jawab jujur yaa girl, benar aku mengusirmu untuk hari ini agar kau bisa segera pergi untuk menyelesaikan masalahmu itu. Selain itu juga aku masih sibuk untuk menemanimu jadi lebih baik segeralah pulang. Jika kau memang belum bisa memaafkan suamimu maka lebih baik diam saja dan jangan memandangnya.” Ujar Albert.


Violet menghela nafasnya, “Baiklah aku akan pergi. Kau sangat tidak ramah pada pelangganmu Albert jika saja kau bukan temanku maka aku akan memberimu bintang satu.” Ucap Violet. Albert hanya tertawa mendengar itu.


“Vio, kenapa tidak di jawab?” tanya Albert yang melihat Violet tidak menjawab panggilan masuk di ponselnya.


“Aku masih malas menerima telepon sekarang Albert.” Balas Violet.


“Jawablah Violet sepertinya ada yang penting karena dia mencoba menelpon berulang kali. Bukankah itu juga adikmu?” tanya Albert lagi yang memang melihat bahwa Edgar yang berulang kali menelpon.


“Huh, kau sangat cerewet yaa dan suka ikut campur.” Ucap Violet lalu meraih ponselnya yang terletak di meja dan segera menggeser ikon hijau ponselnya.


“Iya halo, ada apa Edgar? Kenapa kau selalu saja menelpon kakak?” tanya Violet to the point.


“Kau yang kenapa kak? Kenapa tidak mengangkat telepon dari kami. Kau ini sebenarnya di mana?” tanya Edgar.


“Edgar apa kau menelponku hanya untuk ini jika begitu lebih baik aku matikan.” Ucap Violet.


“Huh, kak kau sangat keras kepala. Baiklah aku hanya ingin mengatakan bahwa mommy Grysia mengalami serangan jantung dan kini kami sedang di rumah sakit. Cepatlah datang jika ingin tahu semuanya.” Ucap Edgar dari sana.


Violet yang mendengar itu seketika tulang-tulangnya seperti tidak tersambung, “Edgar aku akan segera kesana.” Ucap Violet langsung meraih tasnya dan segera keluar dari café itu setelah berpamitan dengan Albert yang di jawab dengan anggukan.

__ADS_1


“Aku harap kau tidak akan menyesali ini girl. Semoga saja kau tidak terlambat!” gumam Albert yang melihat punggung Violet.


__ADS_2