Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
116


__ADS_3

Sekitar 10 menit kemudian Jack baru tiba di tempat itu, dia segera turun dan memeriksa keadaan yang ada dia mendapati mobil yang sudah rusak kacanya dan mendapati Doni yang sudah tidak sadarkan diri. Jack memeriksa sekitar untuk mencari Violet tapi sepertinya nyonya-nya itu sudah di culik, “Sial, aku telat.” Umpatnya.


Jack segera menolong Doni dan membawanya ke tempat pengobatan mereka karena jika ke rumah sakit akan memakan waktu yang lama. Dia meninggalkan Doni di markas setelah mengobatinya lalu dia segera kembali untuk membantu Ronal yang sepertinya sudah dalam perjalanan ke sana untuk menyelamatkan Violet.


Jack segera terhubung dengan Ronal, “Nyonya sudah di culik tuan.” Ucap Jack.


“Aku tahu, mereka membawanya ke gedung tua, kita harus menolongnya tapi sebelum itu kita harus merencanakannya dengan baik karena gedung tua itu di keliling oleh banyak penjaga.” Ucap Ronal.


“Baik tuan, kita akan ketemu di sana nanti untuk membahasnya.” Ucap Jack lalu sambungan mereka segera terputus. Jack segera pergi dengan beberapa anak buah yang ikut dengannya tapi anak buah yang ikut dengannya hanyalah anak buah yang baru saja masuk yang masih di latih.


***


Sementara di sisi lain tepatnya di kota B, akhirnya rapatnya selesai tepat ba’da ashar. Deren dan Max kini sudah keluar dari ruang rapat tapi masih ada beberapa relasi bisnis yang ingin bertemu namun Deren sudah gusar karena entah kenapa perasaannya sangat khawatir mengingat sang istri. Max yang menyadari itu mengerti dan menolak relasi bisnis yang ingin mengajak Deren bertemu.


Deren membuka ponselnya dan seketika dia membelalakkan matanya melihat pesan sang istri, “Max, cepat kita kembali.” Ucap Deren tajam lalu segera meninggalkan relasi bisnis itu. Max pun memohon maaf kepada relasi bisnis dan segera berlari menyusul Deren.


“Max, tambah kecepatannya. Istriku dalam bahaya Max.” ucap Deren gusar.

__ADS_1


Asisten Max pun segera melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata menuju bandara. Dia tidak menghiraukan umpatan orang-orang yang mereka lewati karena ini memang sudah jam pulang kantor yang ada dalam pikirannya ada keselamatan nyonya-nya. Karena jika nyonya Violet kenapa-kenapa maka akan berbahaya bagi mereka yang bekerja dengan Deren.


Sekitar 15 menit kemudian kini mereka sudah di bandara dan Max langsung mengurus semua urusan hingga pesawat bisa cepat lepas landas.


***


Di sebuah gedung dua tepatnya di sebuah ruangan gelap, Violet membuka matanya yang terasa sangat pening, “Di mana aku?” tanya Violet pada dirinya sendiri sambil melihat sekeliling yang hanya bisa dia lihat sebuah ruangan gelap di penuhi debu. Seketika Violet tersadar bahwa dia di culik.


“Lepaskan aku!” teriak Violet mencoba membuka borgol di tangannya tapi sayang tidak bisa.


Hingga kemudian ada yang masuk ke ruangan itu, “Jangan teriak-teriak begitu nyonya Deren jika memang kau tidak ingin suaramu ini habis.” Ucap seseorang yang memakai jubah hitam lalu tidak lama dia membuka yang menutupi kepalanya.


Wanita di depannya itu mengangguk, “Yah aku! Apa kau kaget melihatku di sini. Sudahlah aku membawamu kesini karena ingin membicarakan masalah di antara kita.” Ucap Siska segera duduk di kursi yang di sediakan oleh bodyguardnya, orang yang sama yang menculik Cally mengirim videonya kepada Violet.


“Masalah apa? Aku tidak pernah memiliki masalah denganmu Siska, bahkan bajingan Morgan saja sudah menjadi suamimu lalu untuk apa kau menculikku. Apa salahku?” tanya Violet tajam.


“Tenanglah Violet jangan emosi, kau memang tidak memiliki salah terhadap hubunanku dengan Morgan karena memang akulah yang menghancurkan hubungan kalian dan mengambilnya darimu tapi ternyata yang kulakukan justru membuatmu bisa menikah dengan penguasa bisnis sedangkan aku harus rela hidup dengan seorang suami yang masih mencintai masalalunya. Aku membencimu Violet sangat membencimu karena kau aku terus hidup menderita. Apa kau tidak tahu bagaimana rasanya menikah dengan seorang pria yang menyimpan seorang wanita di hatinya bahkan saat berhubungan saja dia hanya menyebut wanita itu. Aku membencimu.” Teriak Siska emosi.

__ADS_1


“Aku tidak peduli akan hal itu dan aku tidak ingin tahu apapun. Kau sudah mengambilnya dariku jadi itu salahmu sendiri dan menjadi tanggung jawabmu sendiri. Sekarang lepaskan aku Siska. Aku tidak memiliki masalah denganmu. Jika kau ingin menuntutnya maka tuntutlah suamimu sendiri yang kenapa dia tidak bisa melupakanku.” Ujar Violet.


“Hahahh,, kau benar Vio aku memang harus meminta pertanggung jawaban suamiku tapi bukan itu saja alasanku menculikmu karena selain itu aku juga memiliki dendam lain padamu. Kau sudah membuat laki-laki yang aku cintai bunuh diri.” Ucap Siska berapi-api.


Violet yang mendengar itu bingung, “Siapa maksudmu?” tanya Violet.


“Kau bahkan sudah melupakannya. Kau memang jahat Vio. Raka memutuskan bunuh diri karena kau menolak cintanya dan sekarang kau berlagak pura-pura tidak tahu. Kau memang sangat hebat Vio.” Ucap Siska sambil bertepuk tangan.


“Raka?” tanya Violet masih belum ingat.


“Ahh Raka Julian, kenapa jadi aku yang salah? Aku menolaknya dengan cara-cara baik bahkan dia juga menerimanya dengan baik. Selain itu juga dia meninggal karena penyakit.” Ucap Violet kemudian mengingat laki-laki yang di maksud Siska. Raka Julian seorang kakak kelas yang jatuh cinta padanya dan mengungkapkan perasaannya tapi dia tolak karena dia memang tidak menyukainya. Selain itu juga dia tahu bahwa ada Siska yang menyukai Raka. Violet dan Siska memang teman SMA sama-sama populer tapi tidak dekat mereka hanya bertemu secara tidak sengaja. Banyak yang mengatakan bahwa kecantikan Violet dan Siska itu sebelas dua belas dan banyak yang mengagumi mereka.


Violet cuek akan hal itu karena baginya hanya bagaimana bisa mendapat nilai terbaik agar bisa membanggakan orang tuanya. Selain itu dia mana peduli, dia bahkan tidak mengenali Siska saat dia bertemu dengan Siska untuk pertama kali setelah mereka lulus di rumah Morgan saat nyonya Carlos mengundangnya hanya untuk di hina.


“Meninggal karena penyakit? Yah itu memang berita yang beredar tapi sebenarnya dia depresi karena kau menolaknya. Dia mengurung dirinya di kamar hingga kami menemukannya dalam keadaan tidak bernyawa dengan memotong nadinya sambil memegang fotomu. Kau jahat Violet, kau sudah membunuh orang yang aku cintai. Apa kau pikir alasan aku merebut Morgan darimu bukanlah bagian balas dendamku? Aku ingin kau merasakan apa rasanya kehilangan. Aku sangat senang melihatmu sedih saat itu bahkan aku berharap kau melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Raka tapi ternyata kau cepat bangkitnya.” Ucap Siska.


Violet yang mendengar itu hanya bisa diam dan kesal bersamaan karena ternyata semua sudah di rencanakan dengan baik. “Lalu apa salahku di sini? Apa kau tahu alasanku menolaknya karena aku tidak menyukainya dan juga tahu bahwa kau menyukainya. Aku tidak ingin bersaing denganmu sejak dulu tapi merekalah yang membuat kita terlihat bersaing. Tidak bisakah kau melupakan masalalu dan hiduplah dengan masa kini.” Ucap Violet lembut karena dia tidak ingin melawan Siska yang tengah emosi dengan emosi juga.

__ADS_1


“Tidak akan, aku tidak akan melupakannya. Kau harus merasakan apa yang aku rasakan.”


__ADS_2